
Panas dingin. Perut mules. Mulut kering.
Tenggorokan gatal. Napas tersendat.
Jantung berdebar. Ngantuk parah.
Aku nyaris tak percaya kebaya putih pernikahan dan kain jarik motif sidomukti benar-benar melekat di tubuhku. Rambutku di sanggul rapi nyaris tak ada cela sementara lima tusuk konde bertengger manis di kepalaku.
Aku mematut diri di cermin, aku seperti bukan Rastanty yang hanya suka memakai sun screen dan penghitam bulu mata. Aku benar-benar seperti pengantin wanita yang kena sirep.
Aku melemparkan pandanganku ke samping sembari menghela napas. Dominic duduk tegap dengan senyum terbaiknya yang diumbar ke seluruh manusia.
Dominic tampak riang dan bahagia, rasanya menggelikan juga melegakan dia yang slalu ada untukku dalam suka duka akan sepenuhnya menjadi milikku, menjadi teman hidup yang mengesankan, kaya akan emosi dan substansi meski sekarang ia sedang menungguku sambil sesekali menelepon pagar bagusnya, Paijo dkk.
Ekspresiku awalnya girang karena pernikahan kita tidak akan tegang sekali dengan kehadiran mereka, tapi mengingat teman-teman kampus kami adalah saksi hidup perjalanan cintaku yang hancur lebur dan kini justru bersanding dengan mantan playboy cap kadal, lengkap sudah perasaan di benakku.
“Sudah selesai kak, tapi kalau ada yang kurang nyaman atau make up-nya pingin di touch up lagi bilang ya. Saya mau bersih-bersih dulu sebentar.” ucap tukang make up yang nampak gugup waktu merias wajah Dominic.
Aku menggeleng samar, “Terima kasih kak, nanti aja gampang. Ini udah bagus, ya kan Dom?”
“Coba lihat dari dekat, udah minus kayaknya mataku, Ras.” Dominic menaruh ponselnya di meja yang dihiasi teh hangat, jajanan pasar dan makan sore.
Tukang make up menghilang ke kamar mandi sementara Dominic gegas menghampiriku sambil melototi wajahku.
“Seperti nggak kenal, kayak baru ketemu pertama kali.” selorohnya sembari mencondongkan tubuh, dia mengedipkan mata lalu menyunggingkan senyum. “Mau kenalan, dik?”
“Gak usah bercanda, Dom!” Wajahku memerah, tapi Dominic tidak melihat reaksiku yang ini. Dia mengulurkan tangannya setelah membantuku berdiri.
“Ayo kenalan...” Perlahan senyum mengembang di wajahnya, matanya berbinar. Permintaan Dominic terdengar tidak penting sekaligus memaksaku mengangkat tangan.
Aku mengangguk sembari menatapnya. Segalanya terasa terbolak-balik sekarang, aku yang tak peka dengan perasaannya sekarang justru memikirkan segalanya yang ada di masa depan bersama laki-laki yang menyebut nama dan profesinya.
“Dominic Prambudi Dwayne, direktur utama di Dwayne Group, perusahaan keluarga. Selamat datang di duniaku, Rastanty Adena.” Senyumnya merekah sempurna.
__ADS_1
Aku tidak tahu jawaban persis untuk menjawab pernyataannya selain menganggukkan kepala. Namun profesi Dominic terngiang-ngiang di kepala sampai aku hanya bergeming di hadapannya yang menanti jawabku dengan kerlingan mata.
“Kamu nggak mau menyebutkan namamu? Kita baru kenalan.” ucapnya tenang.
Aku menarik-ulur napasku, Dominic mengerling jail.
“Rastanty,” kataku malu sampai aku yakin blush on di pipiku luntur karena pipiku yang merona sampai ke level terparah di hidupku. Aku menunduk eh tapi kondeku malah membentur dagu Dominic.
“Maaf... maaf... nggak sengaja.” Aku mundur selangkah. “Udah, Dom. Aku bisa pingsan beneran ini daritadi udah hampir kehabisan oksigen!”
“Oh santai, Rastanty. Aku siap memberi setengah napasku untukmu.”
Aku tersenyum sekenanya saat ia memegang daguku sampai rasanya aku hampir tersedak saking tak adanya ludah di tenggorokanku.
“Beberapa rekan bisnis keluargaku nanti datang, bersikaplah yang manis mi amore.”
Dalam benakku langsung saja teringat segala pelajaran yang hanya aku pelajari selama lima hari, tapi apa itu cukup. Yungalah, repot banget jadi bojo bisnisman.
“Pinter...” Dominic hampir mencium bibirku jika saja suara pintu yang terbuka tidak terdengar di telinganya. “Kita siap-siap ke bawah untuk ijab kabul... Tapi makan sama minum dulu kamu.”
Aku menghirup udara di kamarku dalam-dalam seraya menyantap apapun yang di sediakan. Hari ini akan menjadi hari yang melelahkan sementara pembicaraan sepanjang makan sore didominasi oleh Dominic dan beberapa staff yang mengatur jalannya pernikahan kami.
Hatiku bergolak perasaan baru kemarin aku memutuskan menyerahkan diriku ke pelukan Dominic, sekarang di pukul empat sore di tengah dekorasi pelaminan yang syahdu akan bunga-bunga warna putih dan pastel. Dihadapan tamu undangan yang hadir, Dominic yang di temani para saksi dan keluarga kami dengan mantap dan takzim mempersuntingku.
Aku menundukkan kepala, tanpa terasa mataku menghangat. Takdir telah mengikatku pada keluarga Dwayne, si konglomerat yang hampir-hampir membuat suasana pernikahan ini seperti area yang wajib di lindungi polisi dan pengawal.
*
*
*
Babak baru dimulai, selesai menandatangani surat nikah aku dan Dominic menghadapi situasi yang membuat pipiku kelu. Hari ini aku sudah terlalu banyak tersenyum sementara bagaikan baterai baru Dominic masih sangat berenergi terlebih pagar bagus yang dia belikan baju adat naik ke atas panggung pelaminan.
__ADS_1
“Kawin ora kawin sakkarepmu, kawin ora kawin sakkarepmu. Kawin karepmu, ora kawin karepmu. Gusti Allah wes ngerti karepmu.”¹
Dominic terbahak-bahak sambil menerima pelukan persahabatan dari Paijo dkk. Sementara tamu undangan yang mendengar yel-yel kompak yang menyita perhatian tak kuasa menahan tawa, apalagi Marisa. Jabang bayi mertuaku ikutan joget.
“Yel-yel model opo iki, Rek. Isin aku.” Dominic merangkul pundakku sementara aku pingin sekali minggat dari tempat ini. Tidak perlu resepsi, opening pesta pernikahan ini sudah bikin perutku tegang saking seringnya menahan diri untuk tidak tertawa.
“Santai lho, Ras. Mukamu tegang banget, bahaya Dom!” celetuk Paijo hingga membuat Dominic memerhatikan wajahku.
Aku menunduk cepat-cepat. Ajur jum. Mati kutu aku.
“Bener guys, bojoku tegang banget. Perlu di pijit ini biar lemes.”
Semua terbahak. Marisa yang ikut nimbrung terkekeh geli.
“My son, sssttt... jangan bahas-bahas itu sekarang. Nanti pestanya jadi lawakan lho, mau kamu yang makan pada nyembur semua gara-gara nggak tahan ketawa.” Marisa mengingatkan seraya mendesis meski dia sepuh paling semangat mengikuti yel-yel.
Tawa di atas pelaminan surut perlahan-lahan berganti tatapan penuh haru membiru dari Paijo dkk.
“Congrats, bro. Your dreams come true.”
Dominic membalas pelukan satu persatu teman kami sementara aku sebal, Priska tidak datang, hanya pak dosen yang tersenyum-senyum geli di antara anak didiknya dulu.
“Apa kita bisa mulai kuliah sore anak-anak?” guraunya sambil menyahut mic.
“Kaboorrrrr.....” Paijo dkk kabur dari panggung pelaminan seperti rombongan bebek yang disabet pak gembala bebek seraya berbaur dengan tamu-tamu dari keluargaku.
“Masih ada satu jam sebelum resepsi, kalian bisa istirahat sambil ganti baju.” ucap perias yang stand by tak jauh dari kami
Dominic mengulurkan tangannya. “Ayo ganti baju, mi amore.”
Aku menutup wajahku dengan sebelah tangan. Sirene tanda bahaya meraung keras di kepalaku.
...🖤...
__ADS_1