
Aku mengaduk-aduk makananku sambil sesekali mengelus perutku yang membesar secara bertahap, keajaiban sedang berkembang pesat-pesatnya di rahimku dan sebentar lagi akan memeriahkan suasana rumah.
“Mam, makannya udah ya.” Menu main course aku singkirkan, menggantinya dengan menu pencuci mulut. Semangkuk yogurt dan buah-buahan. ”Perutku dari semalam sakit, mules, pingin bab tapi nggak keluar-keluar, susah.”
Marisa tersentak tanpa meletakkan sendok dan garpunya. “Kau bicara panggilan alam di meja makan, wow, wow... Amazing...”
Nenek mendorong bahunya. “Rastanty bisa saja mulai kontraksi, Risa. Kau ini maklumi saja, cucuku blak-blakan.”
Marisa melanjutkan makan siangnya sampai selesai dengan muka masam. Dia membersihkan tepi bibirnya dengan serbet.
“Apa itu konsisten rasanya? Atau hanya datang sesekali?” tanyanya kemudian setelah menghabiskan air putihnya.
Aku meletakkan sendok makan lalu... malu, “Hanya sesekali datang setelah...” Aku menunduk dan kembali menyantap menu pencuci mulut.
Marisa berdecak, aku yakin dia sudah paham. Dominic kerap merebahkanku di dunianya yang romantis dan penuh kejutan.
“Sebaiknya kalian berdua kurang-kurangilah, mama tahu kalian baru mesra-mesranya, tetapi kasian Budiman.”
“Aku bersedia, mam. Tapi mas Domi mungkin enggak.”
“Cucuku memang seperti kakeknya, tahu kemana harus mencari kesenangan duniawi.” timpal nenek.
Marisa membuang muka sembari mencibir ibunya dengan gumaman absurd. Pasty Dwayne melempar serbet ke punggungnya. “Papa kau itu!” desisnya mangkel.
Aku mengunyah buah terakhir sembari merasakan nyeri yang mendadak muncul di punggungku. Aku menundukkan kepala sembari mencengkram dasterku.
“Mam, Nek... Rastanty ke kamar ya.” kataku terbata. “Pingin rebahan.” Kedua tanganku bertumpu pada tepi meja dan ketika aku berdiri, mengucur deras air dari pangkal pahaku. Aku mendelik. Bunyi gemericik itu lantas membuat Marisa membungkuk. Melewati bawah meja ia melihat air ketubanku berjatuhan.
__ADS_1
Marisa menjerit-jerit di tengah kepanikanku yang tak terperi.
“MBAK... IYAH... PAK... TEDY... SIAGA AWAS!”
Dua orang itu menggeruduk ruang makan dengan terpogoh-pogoh. Pak Tedy membawa arit dan memakai caping, Mbak Iyah membawa jemuran.
“HENTIKAN PERKEJAAN KALIAN! KITA KE RUMAH SAKIT!”
Tetapi ketika semua orang berkeliaran menyibukkan diri dengan mencari barang-barang untuk di bawa ke rumah sakit. Aku masih terpaku di tempat.
“Kau kenapa, Ras?” tanya nenek heran sambil menggoyangkan tanganku.
“Aku takut jalan, Nek. Aku takut kalo aku jalan bayinya keluar sendiri.”
Pasty Dwayne terbahak-bahak cukup lama hingga matanya berair. Aku mengernyit sembari melihatnya heran. Apanya yang lucu? Aku menguncupkan bibir dengan kecut.
“Kalo nenek bersedia meminjamkan aku mau, kalo enggak aku ngesot saja atau pakai matras yoga biar pak Tedy yang nyeret keluar.”
“Oh my goodness, Risa... Turun! Kau tidak perlu berdandan lama-lama!” teriak nenek yang memekakkan seisi rumah.
Sepuluh menit kemudian, Marisa turun dengan gaun glossy black dengan potongan A Line. Tas tenteng guci dan kaca mata hitam yang menutupi semua mata dan alisnya.
Pasty Dwayne berdecak kesal. “Kau ini akan menjadi nenek, bukan pergi ke arisan Risaaaa... Yungalah... Cucuku takut jalan, takut bayinya keluar sendiri, kau dan Tedy bantu mama masuk ke mobil dan gunakan kursi roda ini untuk membawanya!”
Perintah nenek melahirkan senyum kecut di bibir Marisa. Dia mendorong kursi rodanya keluar rumah. Tak lama pak Tedy datang, dia menyeringai geli lalu memintaku untuk duduk santai.
”Jelas aku nggak bisa santai, Pak. Ini lebih ngeri daripada melewati tanjakan cinta di depan Ranu Kumbolo gunung Semeru. Aku bakal melahirkan dalam waktu dekat!” cerocosku sembari menahan perut bagian bawah sementara pak Tedy mulai membawaku ke halaman rumah.
__ADS_1
“Sabar, Budiman. Papa baru kerja, kamu keluarnya nanti di rumah sakit!” kataku sembari tertatih-tatih masuk ke dalam mobil.
“Sudah... sudah... tenang... mama sudah telepon Dominic untuk nyusul ke rumah sakit.” Marisa menutup pintu mobil, ia menghela napas dan masuk ke kursi penumpang. Tetapi belum sempat mobil melaju, dari spion terlihat Mbak Iyah terpogoh-pogoh seraya memukul-mukul kaca belakang mobil setelah menjatuhkan barang bawaannya.
“Barang-barangnya, Bu. Ya Allah, ngos-ngosan.” Mbak Iyah membungkuk sembari mengatur napasnya yang panjang pendek.
“Ya ampun lupa guys, hampir saja harta paling berharga di keluarga kita ketinggalan. Bisa gaswat ini kalo sampai ketinggalan...” Marisa menyuruh pak Tedy keluar, membantu Mbak Iyah memasukkan barang keperluanku dan Budiman di rumah sakit sebelum mobil yang dikemudikan Pak Tedy melakukan atraksi di tengah jalan.
Aku mendesis, semenjak hamil aku sudah jarang off road dan sensasi kebut-kebutan ini membuat nyalinya rontok.
Pantas Dominic sering maki-maki sendiri.
Sejenak aku terhibur dengan sensasi geli yang menjalari dari dalam. Di kemudian menit sensasi menegangkan kembali terasa di perut dan punggung bagian bawah.
Aku membuang napas kasar berulangkali dari mulut.
“Lebih cepat, Pak. Budiman sudah mau keluar.” desakku cepat seperti desakkan yang terjadi dari dalam.
Pak Tedy mencengkram kemudi dan mengangguk. Setengah jam berlalu dalam ketegangan yang berapi-api, mobil berhenti dengan hentakkan kuat di depan lobi rumah sakit.
Tergesa Marisa turun dari mobil, memanggil perawat untuk membantuku langsung ke ruang persalinan dengan menggunakan kursi roda.
“Aku pingin nunggu Dominic datang dulu, Dokter. Jangan di induksi. Tunggu sahabatku dulu biar dia lihat aku melahirkan anak kami di depan matanya.”
Beberapa dokter memandangiku dengan tatapan heran, tetapi sekali lagi tak memutuskan untuk bertanya lebih. Satu dokter keluar bersamaan dengan Dominic yang datang dengan ekspresi cemas dan semangat. Dadanya naik turun sebelum tersenyum hangat.
“Anak papa ayo keluar...”
__ADS_1