Jogja, Kamu & Kenangan

Jogja, Kamu & Kenangan
Bait Ke-49


__ADS_3

Dua hari sesudah kami rutin berkunjung ke rumah sakit untuk menjenguk Priska dan anak pak dosen yang berjenis kelamin perempuan. Hari ke tiga mereka di perbolehkan pulang ke rumah.


Aku dan Dominic menyeringai sewaktu pak dosen menutup kamarnya sewaktu Priska hendak mengasihi putrinya.


“Sudah sana kalian pulang, mau nikah kok masih senang keluyuran.” usir pak dosen sembari merangkul pundak Dominic.


“Ada yang takut di ganggu, Ras. Ceileh... Bapak anyar.” guraunya seraya memakai sepatu di undakan. Senyumnya kembali terang seakan percikan api dari Kendranata hanyalah bara kecil yang menerjang benaknya karena baginya api besar yang sesungguhnya adalah aku.


“Masih rawan lho, pak. Ti-ati, nanti check in lagi di rumah sa—eh... eh...”


“Ngomong apa kamu itu!” sentak pak dosen sembari menjewer telinga Dominic. “Dikurang-kurangi kamu bandelnya, Dom. Rastanty anak baik-baik, itung-itungannya masih simpel!”


“Nggih, pak.” Dominic mengusap telapak tangannya di sweater biru navy cepat-cepat setelah mendengus mangkel.“ Pamit dulu nggih, jangan lupa lho datang ke nikahan kami pak!” Ia mengingatkan sembari meraih helm dari stang motor sebelum memasangkan di kepalaku.


“Gampang wes, kalian yang kompak jangan gelut terus!” Pak dosen menepuk bahuku setelah aku naik ke atas motor. “Semangat, Rasta. Yang kamu bonceng abot ini.”


Tangan Dominic menyentuh pinggangku. “Aku siap, Ras.”


Aku tak pernah membayangkan mendapatkan hukuman dari bapak menjadi tukang ojek bagi yang mulia mantu idamannya ke mana saja. Ini sungguh menghinaku sebagai anak kandung tapi aku bisa apa, protes salah, ngambek aneh, nurut berat hati. Keributan kemarin membuat jendela kaca pecah, satu kursi rusak, pernak-pernik ibuku yang sebagian dari keramik hancur, entah pergulatan fisik seperti apa yang dilakukan Dominic dan Kendranata, mungkin mereka mempraktekkan gerakan krav maga yang mereka pelajari dan sekarang ruang tamu sedang di renovasi.


“Ngacir dulu, pak. Bye... bye... Besok aku kuliah lagi.” seruku sambil menggeber motorku keluar dari gerbang hijau kuning yang tingginya hampir setinggi Dominic.


“Sok akrab.” gumamnya sambil menyandarkan dagunya di bahuku. “Kita mau ke mana hari ini, Ras?”


“Melewati perjalanan berkilo-kilo ke daerah Bantul!” Aku bisa melihat senyumnya dari spion motor meredup. “Aku mau kamu jujur hari ini sebelum besok kita prepare for the wedding! Aku mau bangun dari kebingunganku mencari makna dan kejujuranmu, Dom! Kamu, Kendranata dan Pranata punya cerita apa? Kamu tahu kan, aku bukan hanya kehilangan Pranata, tapi juga ke cebur di sumur dusta!”


Aku menggertakkan gigi, tak peduli kepedihan apa yang akan menguap dari mulut Dominic nanti karena sejujurnya aku lelah menyembunyikan diri dari ketenangan wajahku yang terkesan cerah dan ceria.


Ingat waktu tak akan menunggumu berdamai dengan diri sendiri. Berhentilah bersikap baik-baik saja, kamu tidak sendiri dan mulailah berjalan, hadapi.


Dominic melingkarkan tangannya di pinggangku. “Stay with me while we grow together, Ras.”


“Gak! Males,” kataku memberengut, “ngomong dulu, baru ngarep kita menua bersama!”


Dominic mengerang pelan sambil menggeliat di atas motor yang melaju. “Perih. Mending tidak usah di bahas-bahas, Ras! Mending tidak usah mengusik kenangan yang terpendam.”


Aku menyalip beberapa kendaraan di depanku seraya masuk ke lahan pom bensin.

__ADS_1


“Kamu ngerti kan kita lagi dimana? Menyalakan api di sini terlalu riskan, tapi kamu tahu kejujuranmu yang serupa bara api penting buatku menghanguskan Pranata di hidupku!” Dominic turun dari motor seraya pergi ke bibir lahan pom bensin, dia menungguku antri mengisi bensin dengan muka cemberut.


“Naik!”


“Iya.”


Dominic bersedekap sepanjang perjalanan yang berubah hening tanpa suara.


Setengah jam berselang, kami harus melewati medan menanjak dengan jalanan yang mulai mengecil, berkelok, sekali dua kali bus pariwisata melintas membuat detak jantungku meningkat karena beberapa rute yang kami lalui diselingi selarik panjang jurang yang menghujam ke dasar lereng.


Motor berhenti dan aku menoleh. Aku memberitahu Dominic betapa masa lalu Pranata bercampur dengan perasaanku setelah kami berhenti di lahan parkir puncak becici yang di penuhi vegetasi pohon pinus yang teduh dan sejuk.


Alih-alih mengangguk, Dominic melengos pergi. Ia membayar tiket yang sangat ramah di kantong dan kami pun mulai menjelajahi puncak becici dengan menapaki tanah merah khas Jogja lantai dua setelah membeli makanan.


“Camping di sini kayaknya seru, Ras. Nggak perlu di puncak gunung.” tanya Dominic saat kita melewati camping ground, beberapa tenda berwarna kuning nampak berhadapan dengan fly sheet hitam yang menaungi tenda dengan tali yang terpancang di batang pohon.


“Sensasinya beda.” kataku ketus. “Badainya, kabutnya dan perjuangannya. Tempat seperti ini cocoknya buat camping keluarga dan barbeque-an. Bukan tempat pelarian!”


Dominic memegangi tali ayunan seraya menariknya ke belakang. Tubuhku berayun, mengikuti udara yang berembus, rambutku terurai. Dominic mendorong bahuku sampai aku puas berayun-ayun.


“Apa bedanya?” ucap Dominic. “Lebih penting mana masa lalu Pranata atau kehadiran Kendra di hidup kamu sekarang?”


“Terus setelah aku ngasih tahu semuanya, kamu mau ngomong apa sama aku, mau kabur, nggak langsung percaya?” Ayunan berhenti, aku turun dengan kepala yang terasa berputar-putar sembari berjalan mengikuti Dominic. Ia memuntahkan unek-uneknya seraya berhenti berjalan dan berbalik, dia menghadapku, menghalangi jalanku sembari mengulurkan air mineralnya.


“Jawab, Ras.”


“Kalian melibatkanku, sekarang apa salahnya aku tahu.” Aku tersenyum kecut, “Yang gentle dong. Kita nggak mungkin pisah hanya gara-gara rahasiamu, kan?”


Dominic ikut tersenyum kecut lalu memegang daguku. “Kamu buang-buang waktu hanya untuk berkontemplasi, Ras. Aku nggak seburuk dugaanmu!”


“Makannya bilang!” Aku menurunkan tangannya dari daguku dan menatapnya berani. “Anggap aku sahabatmu sekarang, nggak usah peduli bagaimana perasaanku setelah kamu ngomong ke aku!”


“Tapi kamu bakal nangis diam-diam di punggungku.” Dominic tersenyum meremehkan. “Aku sering menghadapimu seperti ini, kamu nggak akan maju-maju kalo terus menekuri Pranata. Rugi doang ujungnya!”


“Udah biasa.” Aku menelengkan kepala, Dominic menyandarkan tubuhnya di batang pohon pinus sambil bersedekap.


“My crush landing of you for the first time i saw you, cute.” Dominic tersenyum lalu menghela napas. Dia mendongak menatap pepohonan yang bergoyang diterpa angin.

__ADS_1


“Berawal dari kasian karena hubunganmu dan Pranata. Kayaknya seru kalo Kendra tahu siapa pacar Prana yang sebenarnya, biar dia dihantui perasaan was-was atas kebohongan yang dia lakukan dan mutusin kamu. Itu yang aku inginkan dulu. Aku nggak bisa membohongi diriku, pingin banget kamu cepat-cepat sadar kalo ambisi Pranata nggak akan sampai menjadikan Hetty alatnya, jauh lebih panas dari itu. Makanya aku ngasih info Kendra, ngirim dia foto dan beberapa video biar makin panas perseteruan mereka di Surakarta.” Dominic memandangku.


“Ingat waktu dia izin nggak balik ke kost dua Minggu, ngakunya kangen keluarga? Dia lagi musuhan sama aku gara-gara bocorin rahasianya. Lucu banget, Ras. Dia marah, dia takut, dan sebagai sahabat baik apa kesalahanku nggak ada seratus persen . Pranata sadar dia salah tapi nggak bisa mutusin kamu tanpa alasan akhirnya alasan demi alasan dia tumpuk untuk menutupi kebohongannya dan untuk kasus Kendranata, sekalipun dia nggak pernah hadir di hidupmu sebelum pertemuan tak terduga kemarin, dia sudah tahu kamu sejak lama. Itu ketakutanku, Ras. Dia punya rencana mendekatimu, makanya bapak dan ibumu membiarkanmu pergi dari rumah sampai dua tahun.”


Aku bersedekap dengan ekspresi datar. “Terus...”


”Kendra lebih mumpuni dari Pranata, kami punya bisnis di bidang yang sama sampai kontrak kerjasama selesai kemarin. Bagus sih, jadi aku nggak perlu susah-susah pamer bojo dan putus hubungan bisnis walaupun hubungan kita sebenarnya baik-baik saja setelah masalah Pranata clear, tapi karena dia tahu aku akan menikahimu, Kendra mungkin tidak terima. Tapi itu bukan masalah besar, aku bisa handle. Dan... dan ini rahasia terakhir Pranata, tolong setelah ini stop tanya-tanya lagi, Ras. Aku muak!”


Dominic membenturkan kepala belakangnya di dahan pohon sambil memejamkan mata. Nampak dia begitu sulit mengungkapkannya sampai-sampai butuh sekitar sepuluh menit Dominic bicara.


“Keluarga Hetty mati-matian menjebloskan pelaku begal ke penjara dan minta tanggung jawab keluarga Bu Indri karena Hetty punya anak dari Pranata!”


“Tutup mulutmu!” kataku berang.


“Aku serius, Ras. Dia ambil cuti setelah kematian Pranata karena kehamilannya nggak bisa di tutupi dan membahayakan posisi bapaknya.”


“Oke, fine!” Aku angkat tangan. “Aku nggak akan bahas-bahas Pranata lagi, dia sudah mati dan sepertinya aku nggak rugi-rugi banget sekalipun kehilangan dia sesakit ini!”


Aku membalikkan tubuh, memeluk batang pohon dan merebahkan kepalaku di sana. Aku tidak tahu seberapa bodohnya aku dan seberapa cintanya aku pada Pranata dulu, tapi seolah sudah komplit rasa penasaranku dengan teka-teki kenapa Hetty sering memamerkan foto bersama pria kecil yang memiliki mata dan hidung mirip Pranata di sosial media, kenapa Kendranata tidak asing dengan diriku dan kenapa Dominic dan orang tuaku slalu kompak. Semua sudah komplit, termasuk rasa sakit ini.


Tanganku mengepal, marah aku memukuli batang pohon berulang kali menafsirkan rasa sakit ku sampai buku jariku terasa perih.


“Kamu marah karena Pranata mengkhianatimu atau kamu merasa bodoh, cintamu merugikan dirimu sendiri sekarang?”


Dominic meraih tanganku, memegangi, dan meniupnya pelan-pelan.


“Lemaskan jarimu, dan jangan sampai darah amarah ini mengotori cincin pertunangan kita! Aku tidak suka dan aku perlu menggantinya jika itu terjadi!”


Aku menarik tanganku dan melihat jariku yang lecet sebelum mengusap darah yang merembes keluar dengan blouseku.


“Terima kasih sudah ngomong, sudah jadi teman baik dan bakal jadi suamiku, Dom. Aku pikir semuanya akan salah di mataku, tapi ternyata... devil in my mind, angel in your heart.”


Dominic membungkuk, mencium punggung tanganku yang terluka. “Kamu mungkin nggak akan mengira, tapi sekarang segala-galanya sudah berakhir, Ras. Ikhlaskan.”


Aku menatap selarik jejak cahaya yang menerobos batang-batang pohon pinus.


“Iya.” Aku mengangguk. Aku semestinya lega, rahasia itu sudah terungkap dan menjadi milik bersama, tapi rasanya pengkhianatan itu baru terjadi kemarin dan terasa nyata. Luka segar itu timbul di hatiku dan memberi tahuku agar terus waspada dan berhati-hati.

__ADS_1


...🖤...


__ADS_2