
Perubahan status kami membuatku berat rasanya berada di salah satu kamar paling elite di penginapan sederhana pinggir pantai bersama Dominic yang sedang mandi.
Bunyi jebarrr—jebuurrr dari air yang ia gunakan untuk mengguyur sekujur tubuhnya yang mulai lengket dan semakin bau tak ikut mengguyur kegelisahanku sekarang meski jelas di depan mataku ada kartun anak-anak yang sedang menghibur jiwa kekanak-kanakanku.
Dominic bersiul-siul seusai selesai mandi, bunyi pintu berderit. Aku mengambil tarikan napas dalam-dalam seraya menahannya di dada. Ini nggak normal, harusnya perdebatan tadi aku menangkan dengan mandi di toilet umum. Bukan di kamar penginapan yang mengurungku dengan lelaki berbalut handuk merah muda hasil perburuan kami dari warung ke warung.
“Bentar, bentar. Aku ambil baju gantiku dulu sebelum marah-marah lagi.” Dominic mengucapkan permisi sambil menyahut baju gantinya di dekat televisi.
Terkekeh dia menutup pintu kamar mandi lagi sementara aku yang melirik pergerakannya dengan tajam menghela napas panjang.
”Bener-bener edan kalau sampai berani pakai baju di depan mataku!” gerutuku lantang.
“Enggak, Ras. Enggak, santai. Momen itu kita pakai waktu malam pertama!” sambung Dominic dari kamar mandi.
Aku berdecak dengan bulu romaku yang tegak semua. Bagaimana mungkin malam pertama aku habiskan dengan Dominic? Aku ketar-ketir, belum apa-apa aku sudah ingin pingsan membayangkannya polos tanpa sehelai benang pun. Sekujur tubuhku mendadak menegang. Bagaimana bisa ini terjadi. Bayangan akan polosnya Dominic tersaji di depan mataku yang membesar. Ya ampun, aku memukul kepalaku.
“Wowww....” seru Dominic, derap kakinya mendekat cepat. “Kenapa lagi, Ras?” tanyanya khawatir.
“Gak—gak.” Aku menggeleng cepat sebelum serbuan pertanyaan dia todongkan, tapi parahnya pipiku bersemu merah dan aku berharap Dominic tak mengetahuinya. “Mana handuknya?” tanyaku tanpa menatapnya.
“Di kamar mand—” Buru-buru aku menyahut pakaianku di atas meja televisi dan melesat ke kamar mandi tanpa berminat melihat Dominic yang menatapku heran. Aku menutup daun pintu dengan tergesa sampai terdengar seperti orang marah.
“Ras, kamu kenapa lagi? Aku buat salah apa?” seru Dominic lembut sementara aku sedang melepas satu persatu pakaianku.
“Ras...” Kutumpuk pakaianku di atas tumpukan baju Dominic yang membuatku perutku mengeras. Sesuatu terlihat mencolok di atas kemeja putihnya.
“Aku gak papa-papa, Dom. Bentar sepuluh menit, jauh-jauh, jangan dengarkan aku mandi.”
”Kenapa?” serunya.
“Fantasimu!” Suara air gemericik setengah menelan suaraku. ”Atau sebenarnya fantasiku sendiri yang kacau? Parah.”
Aku mengguyur tubuhku dengan sebanyak-banyaknya air untuk meredam fantasiku yang terpancing candaan Dominic. Malam pertama, menggaung di kepalaku lengkap dengan lelaki yang menungguku sambil bersedekap di depan pintu kamar mandi.
__ADS_1
“Kok nggak pergi?” tanyaku senormal mungkin setelah badai di kamar mandi aku redam dengan susah payah.
“Kamu mandi mirip orang kesurupan!” Dominic menyunggingkan senyum riang. “Aku cuma jaga-jaga kalau seumpama kamu kenapa-kenapa aku siap tolong secepat mungkin.”
Senyuman di bibirnya menjadi senyuman nakal. Darah kebarat-baratan seolah sedang tumbuh lebat di benaknya saat berduaan denganku di kamar. Entah kamarku, atau kamarnya.
“Aku cuma membersihkan apa yang harus aku buang bersama air cepat-cepat.” kataku pelan.
“Apa itu?” tanyanya penasaran sambil mengikuti langkahku dari depan. Matanya penuh selidik dan tangannya memegang bahuku.
Aku memberanikan diri menatapnya sebelum berkata, “Pikiran kotorku!”
Dominic tercengang sekaligus tak kuasa menahan senyumnya yang lega. Dia memelukku seolah lega, ada sebait dua bait paragraf puisi yang bertengger di kepalaku dengan judul nama dirinya.
Dominic yang nakal.
Dominic si mantan playboy.
Dominic si baik hati.
“Semoga kita nggak bosen seperti ini sampai tua nanti, Ras. Udah banyak banget hari-hari yang sudah kita lewati bareng-bareng. Dan kemunculan kalimat tadi jadi fase baru bagimu. Cie... Punya pikiran kotor sekarang, selamat ya. Kamu udah dewasa.” Dominic menyalamiku.
Buset... ngawur banget ucapannya. Memangnya harus di beri selamat gitu saja. Aku mendengus seraya mengambil sebuah snack di meja televisi dan naik ke atas kasur. “Habis ini keluar, aku pinjam hpmu buat mengabadikan momen!” kataku telak.
Dominic ikut naik ke kasur, buru-buru aku memberi jarak dengan menaruh kasur di sisiku.
“Ya elah, Rastanty. Takut banget sama aku.” Dominic mencibir sambil membuang bantal ke lantai. “Asyikin aja lagi. Sebentar.” Dominic meluruskan kakiku yang bersila sebelum merebahkan kepalanya di pahaku. Aku tercengang, sial.
“Jujur aku nggak suka kartun. Aku sukanya lihat kamu, Ras.”
Aku membuka snack dan melahapnya, mempedulikan ucapan Dominic hanya akan menambah berat bebanku saat ini. Terlebih baju baru yang belum di cuci ini membuatku semakin tidak nyaman.
Kepalaku tertunduk. Dominic terus menatapku dari bawah daguku yang mulai kaku, kunyahan di mulutku semakin lama semakin tak berselera.
__ADS_1
“Kamu nggak muak lihat aku begitu terus?” tanyaku sinis.
“Aku nyaman.” Dominic tersenyum, “Kamu gimana?”
“Kelihatannya? Bukannya aku patung yang harus menerima tatapan mata seseorang yang memujaku sekarang?”
“Buahahaha, Rastanty — Rastanty. Kamu ngajak aku ngelawak?” Aku memasukkan keripik kentang ke mulutnya supaya diam. Dominic memiringkan kepalanya, mengunyah sambil menatap perutku dengan tubuh meringkuk.
“Perutmu gimana, sembuh belum?” tanyanya perhatian.
“Lumayan, cuma aku bakal kena kram perut kalau kamu kayak ini terus. Bangun...”
Dominic beringsut, dia menyandarkan tubuhnya di tembok bercat biru laut sama sepertiku. Kaki kami selonjoran dan sesekali tepi kaki kami bersentuhan sementara kartun anak-anak masih memeriahkan suasana kamar ini.
Dominic mengalungkan tangan kanannya di leherku, jemarinya ikut masuk ke bungkusan snack kentang gurih yang masih kucemal-cemil, tapi bukannya mengambil keripik kentang dan melahapnya. Jemarinya mengisi celah-celah di jemariku seraya menggenggam punggung tanganku. Otomatis, tubuhku tertahan di posisi yang sama seperti di pinggir pantai untuk kedua kalinya.
“Mau apa? Sesak.”
“Kita ulang yang batal tadi.” bisiknya lembut, desir napas Dominic menerpa wajahku sementara tangan kanannya bergerak keluar dari bungkusan snack, sikunya menekuk semakin merapatkan tubuhku di badannya.
“Ras...” Mataku terkejut melihatnya menyesap jari telunjukku yang berlumuran bumbu gurih keripik kentang. Dominic mengulum senyum dan dengan jarak yang sedemikian dekat. Matanya mengerling dan terpaku pada bibirku.
Aku menggeleng. “Yang batal biarkan batal, kita sudah di hukum tadi. Tas ku hilang!” ucapku mengingatkan.
Dominic mengecup leherku dan mengistirahatkan wajahnya di sana. “Sebentar.”
Hangat menyebar perlahan di leherku. Dia seakan terlena dengan suasana sementara tangan kiriku mau tak mau dengan kaku memeluk pinggangnya.
“Jangan lama-lama, aku geli.”
“Tapi, Ras. Yang perlu kamu lakukan itu berusaha nyaman denganku. Bukan geli, memangnya aku ngapain kamu sampe kamu geli?”
Di dalam rengkuhan lengan Dominic yang memelukku, aku tergagap.
__ADS_1
...🖤...