
Aku mengira sulit bernapas hanya saat menapaki jalan terjal di atas dua ribu mdpl sambil menggendong tas gunung full persiapan camping. Ternyata ada yang lebih susah... Bernapas di depan Dominic saat berpose prewedding. Aku kesulitan mengatur napasku saat tatapan kami sering bertemu dekat dan hangat.
Bukan cuma satu kostum konyol yang ia persiapkan dari rumah, tapi tiga, di tiga tempat yang berbeda pula sampai aku sesekali harus menghindar dan menarik napasku dalam-dalam.
“Mbak punya asma?” tanya fotografer sambil mengulurkan tisu.
Aku menggeleng cepat-cepat sambil menyeka keringatku. “Bukan asma mas, tapi asam lambung!”
“Oalah tak kira asma lho, tiwas aku khawatir Mbak daritadi kayake mengkis-mengkis terus, kayak susah napas gitu! Grogi ya Mbak?” Aku mengangguk jujur, siapa bilang tidak, aku hampir pingsan terus-terusan berpose layaknya seorang wanita yang jatuh cinta sejatuh-jatuhnya pada pesona Dominic. Jantungku bergemuruh, aku merinding, mulutku hendak mengomel-omel tapi yang bisa aku lakukan cuma senyum manis dan menatap mesra calon suamiku.
“Aku sering dapat klien seperti Mbak cuma sampean paling lucu!” jelasnya riang dengan kehati-hatian yang fasih.
Aku menatap punggung Dominic yang melenggang ke toilet dengan masih menggunakan kain jarik ketika kami prewedding di daerah Malioboro. Di tonton banyak orang. Atau mereka lebih suka menonton Dominic yang benar-benar bening dan berkharisma sekarang.
“Kami itu sahabatan mas, udah lama banget sampai sama-sama nyaman, dua tahun ini kami jarang pisah, terus tiba-tiba bapakku nyuruh kita harus nikah gara-gara cuma nginep di Parangtritis. Nyebelin to? Padahal aku nggak ngapa-ngapain, kan ngakak tiba-tiba harus mesra sama sahabat sendiri.”
Si fotografer terbahak sambil menggelengkan kepala. “Mbak nggak ngapa-ngapain, tapi Mas'e belum tentu nggak ngapa-ngapain to? Hayo, sudah tanya Mas'e belum, Mas'e ngapa-ngapain nggak waktu itu?”
“Oh iya bener.” Aku meringis. “Tapi aku anaknya cuek-cuek aja, wong dia ini sahabat terbaikku. Nggak neko-neko.”
Kekehan si fotografer meningkat beberapa oktaf. “Pantesan... Mbak.”
“Pantesan? Maksudnya gimana mas? Aneh? Wes biasa.” Aku mengibaskan tangan. “Omongan itu sudah aku telan kemarin-kemarin kalau aku aneh.”
“Pantes Mbak'e lebih grogi daripada Mas'e, wong ternyata Mbak'e yang cuek, mas'e yang perhatian. Beruntung kamu Mbak soalnya biasanya cowok kalau prewedding itu yang kaku, yang susah diajak kompromi!”
“Ya jelas dia luwes mas, mantannya banyak.” sahutku cepat. “Dia sudah ahli, terus kalo tak hitung mantannya selusin ada, mana aku tahu semua namanya, sementara mantanku cuma satu, itu aja di tinggal pergi.”
“Putus?”
“Meninggal, klitih.” Aku tersenyum kecut ketika Dominic melambai padaku. “Buruan woyy, laper.” teriakku sambil ikut melambaikan tangan padanya.
“Dia temannya, sahabat kami, dia yang jagain aku selama ini. Kalau di bilang beruntung, aku sangat-sangat beruntung mas. Cuma aku ini jaim soalnya dulu aku cintanya berlebihan, sekarang aku mau sewajarnya biar sakitnya nggak kebangetan.”
“Gak bisa gitu, Mbak. Itu nggak adil buat Mas'e.” saran si fotografer.
Aku mengangkat bahu. “I really-really do, mas. Aku bisa bales cintanya dengan porsi yang sama besarnya cuma aku lebih nyaman dicintai sekarang. Ngerti to maksudku? Perempuan yang sudah merasa kehilangan dan dikhianati, dicintai seseorang lelaki adalah bonus terbaik.”
“Ngerti Mbak, tapi jangan cuek-cuek terus. Ada waktunya Mbak yang perhatian biar Mas'e juga merasa dimiliki gitu. Susah lho cari yang paket komplit begitu.” ucap si fotografer buru-buru seraya berdiri, menggeser posisi kursi lipat ke dekat Dominic yang baru saja sampai di depanku. Ia menatapku dan si fotografer sambil mengernyit.
“Ngobrolin apa, serius banget.”
“Ini masnya ngira aku punya asma karena mengkis-mengkis daritadi, padahal aku cuma susah bernapas tanpamu.”
Dominic menyunggingkan senyum perlahan-lahan sampai menjadi cengiran lebar. Tangannya mencubit hidungku. “Gemas, efek prewedding ini, kamu tambah pinter merayu, Ras.”
__ADS_1
Aku menyeringai tanpa memberi kesempatan Dominic membalasnya dengan elusan di pipi atau ciuman di wajah.
“Makan dulu ya baru lanjut prewedding-nya.” Aku menggenggam jarinya yang nganggur di depanku sementara satu tangannya menyesap sebatang rokok. “Asam lambungku kayaknya hampir kumat.”
Si fotografer yang menjadi penonton menunduk, melihat layar kameranya sambil tersenyum-senyum.
“Makan di mall atau cari di emperan?” tanyanya sambil membuang rokok ke saluran air.
“Bakso aja yang dekat, udah capek.” Aku menariknya lebih dekat seraya mendongak, Dominic masih memakai blangkon dan kacamata hitamnya menutupi matanya yang indah. “Habis ini kita masih cari kasur, besok masih ambil undangan. Kamu capek nggak?”
“Aku sudah minum multivitamin dan giat olahraga—”
“Kapan?”
“Mengejar-ngejarmu memangnya itu bukan kategori olahraga, Ras?”
“Bukanlah.” Aku membetulkan kain jariknya yang mulai tidak beraturan dengan gemati sementara Dominic memaling wajah dengan pipi merona.
“Kalau kamu nggak capek, aku mau ke bukit bintang atau puncak becici. Nunggu hujan turun atau bintang di daratan, mau?”
Dominic berpikir dengan cepat, sekaligus menebak dan mengali memori apa yang aku sukai.
“Dua-duanya bisa di dapat, kecuali hujan!” Dominic terlihat senang tapi agak cemas. “Hujan di hatimu mungkin masih ada, tapi hujan beneran nggak akan datang seperti keinginanmu, tapi bintang di daratan akan slalu ada kecuali mati listrik!”
“Hadeh, mau aku kasih hadiah tapi banyak orang, Ras. Sabar ya, aku traktir bakso dulu sebagai gantinya.”
Sebagai bintang, dia melenggang santai, menyebrang jalan untuk memesan bakso sementara aku buru-buru menghampiri si fotografer.
“Jangan lupa di foto nanti mas waktu kita makan bakso!”
“Biar apa Mbak? Konsepnya nyeleneh semua ini gak ada yang romantis.”
“Gampang, kita udah sering romantis-romantisan di kost.”
Si fotografer terkejut lalu tersenyum paham.
“Puantess bapak sampean nyuruh cepat-cepat nikah, ternyata... mainnya di kost.”
“Jelas to mas, bapakku yang punya kost-kostan. Domiku juga penghuninya, jadi kami pacaran sambil nyapu halaman, ngepel, masak, cuci piring...”
“Serius Mbak? Pak Dwayne mau melakukan itu?”
“Mau,” Aku mengernyit dengan keheranan tim prewedding hari ini. “Kenapa kak? Nama panggilan Dominic bukan pak Dwayne, Dwayne nama besar keluarga ibunya. Marisa Dwayne.”
Mereka meringis lalu kembali melakukan kesibukan ketika Dominic kembali. Ada yang merapikan peralatan make up, ada yang mengatur cagak lighting dan pura-pura memfoto tanaman.
__ADS_1
“Daritadi aku lihat kamu ngobrol serius waktu aku tinggal, bahas apa?” Dominic mengajakku menjauh ke tempat yang lebih lengang, kebetulan kami sedang berada di luaran gedung kantor pemerintahan.
“Aku sering nulis perjalananku ke berbagai daerah, dan aku sering menyisipkan namamu di sana. Cuma... rasanya aku nggak belum mengenalmu lebih dari sekedar sahabat yang menjagaku, kamu...”
“Banyak rahasia?”
Aku menggeleng. “Aku yang nggak peduli denganmu, aku terlalu tutup mata asal kamu ada di sisiku. Cuma sekarang aku jadi penasaran siapa kamu, pak Dwayne? Kenapa orang-orang kayaknya pada hormat sama kamu?”
Dominic melepas kacamata hitam yang menutupi matanya yang kini berseri-seri.
“Aku cuma anaknya mama dan bapak, Ras.”
“Kamu nggak pernah kerja, tapi uangmu nggak pernah habis.”
“Aku kerja dimana aja, Ras. Lewat laptop.”
“Apa kerjaanmu?”
“Sudah aku bilang habis nikah, nggak sabar banget kamu!”
“Gaklah! Orang-orang pasti pada ngira aku goblok banget nggak tahu siapa kamu sesungguhnya. Padahal aku cuma kurang peka.”
Dominic kembali memakai kacamatanya. “Emang kurang peka, giliran penasaran, tanyanya sudah lebih dari wartawan.”
“Kerjaanku emang wartawan Domi, wartawan pariwisata, kerjaanku ya tanya-tanya pinisepuh, juru kunci, anggota tahura, porter, atau orang-orang yang berkaitan dengan tempat yang aku kunjungi. Cuma sama kamu beda, ini soal karsa dan keseimbangan. Kamu mau jawab?” kataku dengan suara lebih rendah dan manis di kalimat akhir.
Dominic menguap lebar-lebar seraya merenggangkan otot-ototnya. “Jadi ngantuk aku, Ras.”
“Domiii... Jawab.” kataku setengah merajuk.
“Kamu tanya bapak ibuku saja, aku males jawab, kamu nggak sabaran!”
“Idih kampret.” gumamku mangkel. “Gak adil, eh nggak peka berujung malu-maluin.”
Dominic menarik kedua sudut bibirnya seraya berdiri. “Baksomu udah datang, habis itu kita pulang. Udah cukup prewedding kita.”
“Ember, aku juga udah males sok-sokan mesra. Udah di bilang kaku, cuek, dikiranya kena asma, masih di anggap kurang perhatian. Sekarang masih di suruh tidur dengan keadaan penasaran. Hebat benar hari ini.”
Dominic buang muka sembari bersiul-siul seperti cucak ijo kebanyakan gaya tetapi tangannya meraba punggungku dengan hati-hati.
“Pdkt makanya, nanti juga tahu sendiri akhirnya.”
“Oke!” kataku lantang sembari mengangkat dagu.
...🖤...
__ADS_1