
Fajar menyingsing, elang menyongsong. Kami sekeluarga bersiap pergi ke hotel dengan raut wajah bersuka cinta.
“Oyyy... jangan lupa ntar sore pada datang. Bilang penghuni kost pak Budi.” teriakku di lorong kost-kostan sambil menggendong tas gunung.
Seruanku mengakibat penyambutan riuh penghuni kost-kostan saat keluar kamar. ”Makan gratis, oyyy, makan gratis. Prasmanan. Yihaayyy, kenyang guys...”
Romi terbahak-bahak sembari mengantarku ke depan rumah. “Ras, ente mau malam pertama apa mau ngapain bawa tas gunung segala ke hotel?”
“Justru ini alat tempurnya.” Aku menyeringai sebelum masuk ke mobil penjemput.
Aku tersenyum setibanya di hotel. “Ibu sama bapak ngikutin orang hotel aja yang antar ke kamar. Aku mau ke ball room, langsung gladi resik.”
Ibuku yang terkagum-kagum dengan hotel yang baru pertama kali dia datangi menganggukkan kepala tanpa memandangku. Dalam hati, aku yakin, ibu antara betah dan tidak betah nanti. Dia tidak betah AC dan perabotan hotel pasti akan menyulitkan, sementara bapakku, ha-ha-ha... Marah nggak bisa, bahagia juga belum bisa... Wajahnya terlihat serba salah dan kagok, tapi ngomong-ngomong biaya pernikahan kami sudah beliau lunasi dengan menjual sepetak sawah. Sisa uangnya bapak ngomong untuk renovasi rumah biar gak malu sama besan.
Lebar langkahku tak berkurang sewaktu menghampiri Dominic yang telah memisahkan diri dariku lima hari yang lalu.
Setelah menjelajahi hotel dan berhenti di pintu ballroom.
“Mi Amore.” seruku.
Dominic berbalik seraya menatapku dengan ekspresi geli dan tercengang.
“Mi Amore, Mi Amore. Biasanya juga mi ayam, Ras.” Dominic merentangkan tangan, alih-alih memelukku ia malah mengangkatku ke udara seraya memutar tubuhnya hingga membuatku keliyengan.
“Udah makan?” tanyanya setelah menurunkanku kembali ke bumi.
“Belum. Aku susah makan, kepikiran hari ini.” Aku menyeringai. Dominic mendengus sembari menarik tali tas gunungku menuju restoran hotel.
__ADS_1
“Jangan rusak rencana pernikahan kita gara-gara asam lambungmu naik, Rastanty. Nggak lucu, makan!” katanya tegas sambil menyeret kursi dengan tangan kirinya.
“Ini juga tasmu kenapa tas gunung bawanya? Gak punya koper kon, mbok kira hotel ini bisa kamu daki apa? Gak ada kabut apalagi badai di sini, mi ayammm... Adanya cuma kasur, aku dan fantasiku!!!” Tas gunungku dia turunkan dari tubuh seraya menghela napas panjang.
“Mi ayamm, mi ayam. Mi Amore, Domiiii...”
“Halah, giliran mau nikah mi amore, dulu-dulu saranghaeyo-ku aja nggak kamu bales.”
Aku duduk semanis setelah mempelajari sikap sopan seorang istri pebisnis muda. Ya ampun aku sedikit tertekan, lagian dia mulutnya kenapa tambah cerewet. Oh ya, Dominic pasti gugup. Aku menyeringai dalam hati sambil merangkul lututnya.
”Terus sekarang kamu maunya aku gimana? Mau punya panggilan sayang to kamu? Giliran tak panggil mi amore gak terima.” protesku yang dibalas dengan elusan di kepala.
“Waktunya terlalu cepat, aku nggak percaya!”
Walah. Untung urat maluku sudah aku tinggal di rumah.
Dominic mengulum senyum sembari pergi untuk memesan sarapan. Aku memandanginya tanpa sedikitpun jeda yang terlewatkan sampai dia kembali lagi di sisiku.
“Ada yang pingin kamu sampaikan, Ras?” Dominic mengamati ekspresiku. “Bapak chat aku lima hari kemarin kamu jarang senyum, suka menyendiri, terus sekarang jadi aneh begini? Kamu tahu artinya mi amore apa?”
“Tahu...” Aku mengangguk ringan. “Lima hari kemarin aku lagi serius belajar, makanya aku jarang senyum. Pelajaranku susah.”
“Belajar apaan, masak? Dandan? Pakai high heels? Bapak laporan tiap hari sama aku lho kegiatanmu di rumah, kamu cuma mainan hp!”
Aku tercengang, namun aku sanggup menutupinya dengan senyuman. Enak banget jadi Dominic, niat hati sepakat untuk di pingit, ternyata, bapak... Aku menghela napas sambil memijit keningku.
“Aku belajar table manner, belajar pakai high heels, belajar duduk anggun, tapi ini yang paling susah. Aku belajar romantis, tapi ampun... susah banget, dua tahun aku jadi preman dan nggak bisa jadi Cinderella!”
__ADS_1
Dominic membenturkan kepalanya di meja, seraya memukul-mukul meja sambil terbahak-bahak.
“Ancoorrrrr, punya calon bojo gini amat ya Allah. Saking lamanya saya ndonga Rastanty bisa berubah, ndilalah dikabulkan cuma butuh lima hari. Ya Allah... ini lucu, aku nggak sanggup nggak ketawa... Ya Allah, ini lucu. Nanti aku ndonga lagi, aku minta Rastanty bukan berubah sikapnya, tapi hatinya. Ampun, Gusti... Berikan aku petunjukmu dan kesabaran tinggi sampai langit ke tujuh.”
Aku ikut terbahak, bisa-bisanya malah dikira aku ngelawak. Aku ini serius lho setelah mengingat penghianatan Pranata, aku mulai perlu mengubah sikapku.
“Itu bagus lho, Dom. Berawal dari sikap terus sampai hati yang berubah. Kamu malah minta ampun, dikira aku bercanda apa?”
Dominic mengusap matanya yang basah sambil menatapku. “Ini aku lagi bahagia banget, Ras. Kamu baru aku tinggal lima hari sudah mulai bertingkah seenak jidatmu.” Tawa Dominic kembali terdengar.
Aku menguncupkan bibir sambil menginjak kakinya dengan sepatu gunung sementara dia hanya memakai sendal hotel tipis yang membuatnya meringis lebar menahan sakit.
“Aku bakal nikah sama bisnisman, mau nggak mau aku belajar biar nggak malu-maluin kamu. Eh tahunya kamu malah curiga. Sedih aku, nggak jadi senang. Sambutanmu jelek, kamu pasti mikir aku aneh-aneh!” ucapku ngambek.
Aroma soto dan baceman usus ayam menggugah selera ketika pelayan restoran menaruh pesanan Dominic di meja kaca yang resik dan memantulkan lampu kristal di atas.
“Udah makan dulu, sekalian aku mau lihat tabel manner-mu berhasil nggak, Ras. Biar aku bantu kalo ada yang salah.” ucap Dominic tersengal oleh sisa tawa yang sesekali dia tahan dengan menggigit bibirnya.
“Emang lebih enak jadi orang bodoh amat.” Aku mendengus dan mulai sarapan, hari ini aku harus makan banyak, aku harus menyiapkan energi untuk melewati badai malam pertama yang terus menghantuiku sebulan terakhir ini.
Di dalam tas gunungku sudah ada tali tambang, itu bisa aku gunakan untuk mengikat kaki Dominic kalau dia macam-macam. Ada pula bubuk merica kalau dia mulai mata keranjang dan satu lagi obat tidur. Senjata terakhir agar jangan malam ini aku melihat teripang polos miliknya.
Aku belum siap pemirsa. Teripang miliknya pasti sanggup menyemburkan cairan lengket seperti teripang laut pada umumnya dan itu membuatku geli. Sementara pak dosen dan Priska sudah wanti-wanti agar tidak memancing hawa panas di kamar. Makanya sudah aku siapkan baju tidur kesukaanku, boxer dan kaos.
Aku yakin seribu yakin malam ini akan gagal malam fantasi yang Dominic idam-idamkan. Aku sangat yakin walau di dasar hatiku paling dalam aku tidak yakin aku tega melakukan semua yang aku jabarkan di atas dengan baik.
...🖤...
__ADS_1