Jogja, Kamu & Kenangan

Jogja, Kamu & Kenangan
Bait Ketujuh


__ADS_3

Ibu dan bapakku mengulum senyum sambil melihatku dengan binar mata yang menatapku penuh cinta setelah ku ceritakan tempat-tempat yang kudatangi selama pergi dari rumah. Aku leluasa berbagi cerita kepada mereka yang sepuh lebih cepat sampai matahari benar-benar memancarkan cahaya di luasnya cakrawala.


Nampaknya pergiku dan kesedihanku mereka rasakan sama beratnya seperti yang aku rasakan ketika Pranata tiada. Lukaku menjadi luka mereka, jahat benar aku tapi jika aku tidak pergi dari rumah aku lebih kasian lagi pada mereka yang harus menghadapi tingkahku di level frustasi.


“Sekarang istirahat dulu, Ras. Ibu mau mandi terus masak.” Ibu melongok isi plastik yang aku bawa, dia tersenyum sambil mengeleng pelan.


“Kamu ini sebenarnya tidak niat pulang to?” tukas ibu.


Tidak berniat membuat ibuku kepikiran lagi akan hadirku di sini. Aku menggeleng cepat.


“Aku cuma kurang prepare, Buk. Bukannya nggak niat.”


Bapak dan ibuku menghela napas. “Yang penting kamu sudah pulang, sehat, bapak dan ibu pengen kamu di rumah ini waktu kami sudah tua.”


Aku mengangguk meski jiwaku menolak. Bertahun-tahun aku bertahan di kamarku, di samping kamar Pranata yang selama lima tahun dia tinggali tanpa jeda. Tercecer banyak kenangan di rumah ini. Namun aku tak mampu pergi lagi ketika ku dapati mata bapakku yang letih, berkerut menatapku penuh yakin dan itu berdampak pada pekerjaanku.


Aku jadi ingat, marahnya mereka kepadaku sewaktu aku menginginkan agar rumah ini di jual saja agar kami bertiga pergi bersama-sama. Bapak marah sambil menggebrak meja.


“Terus kalo tanah ini bapak jual kita tinggal dimana, Nduk? Ngawur kamu.”


“Beli perumahan di pinggir kota, Pak. Aku udah nggak mau tinggal di sini lagi, Pranata nggak ada!”


“Terus kamu anggap bapak dan ibumu ini apa, Rastanty?” sentak bapak. Rahangnya mengeras, tangannya mencengkram pinggiran meja dengan badan yang mencondongkan ke arahku.


Aku menatap bapakku. Sikap kehilangan yang diselimuti amarah membuat pikiranku sempit. Aku pergi ke kamarku lalu memasukkan pakaianku sekenanya ke dalam tas seraya keluar dari rumah diiringi tangisan ibuku yang histeris.


“Rastanty, Ras... Mau ke mana kamu, Nduk?” teriak ibuku yang kudengar terakhir kalinya sebelum aku keluar dari rumah menggunakan motor Pranata.


***

__ADS_1


Aku bergeming di depan kamarku. Aku tidak tahu harus melakukan apa saat ibu mengibaskan tangannya, memintaku untuk membukanya dan melekatkan diri pada kasur yang pernah menjadi saksi bisu aku dan Pranata merebahkan diri sambil menghitung sticker bintang glow in the dark yang kami beli dan pasang bersama sewaktu senandung hujan di atas genting sedang asyik-asyiknya melenyapkan kekehan kami sebelum dia terlelap di sampingku. Lelah menghitung bintang yang sudah jelas seratus jumlahnya.


“Masuk aja, Ras. Tidak apa-apa.” bujuk ibu sambil tersenyum.


“Iya, buk.” Aku memegang gagang pintu dengan hati yang berdebar. Pranata Pamungkas adalah jarum yang patah dalam benakku, sosoknya masih melayang-layang dan tetap menghantui pikirku terlebih saat memiliki waktu luang, namun baik aku, ibu dan bapak tidak ada yang membahasnya kala kami bertiga beradu pandang.


Panjang pendek aku menarik napas sebelum menurunkan gagang pintu.


“Prana.” panggilku ketika pintu berhasil kubuka hati-hati. Namun mataku terkejut dengan seonggok daging manusia yang masih utuh dengan jiwa dan bernapas tenang bergelung di bawah selimut.


“Dominic.” Hatiku kaget bukan main.


“Dini hari datangnya, Ras. Ketinggalan kereta katanya.” seru ibu.


Kontan aku menurunkan tas semi carrier ku dari punggung seraya menimpuknya berkali-kali. Sukurin, rasain.


Dominic tergeragap dengan ekspresi tak karuan. “Rasta. Hei cantik,” Senyumnya merekah dengan malas.


Tangan Dominic terulur. “Perutku sakit, Ras. Mules banget.” Aku menarik tangan sahabatku, membantunya duduk. Dikuasai rasa kantuk dan keterkejutan yang banyak, ia terdiam sambil mengerjakan mata sebelum menguap lebar-lebar.


“Sumpah, Ras. Kamu paham rasanya belum puas di toilet gimana. Ganjel gitu, nggak nyaman!”


Aku berkacak pinggang, pantesan bapak dan ibuku tidak begitu kaget dan speechless waktu aku pulang dan cerita aku bersama siapa saat pelarianku.


“Ya udah sekarang keluar. Aku ngantuk parah, Dom. Susah tidur aku tadi malam.”


“Sik!” (Bentar) Dominic menahan tanganku yang hendak membereskan barangnya. Aku menatapnya.


“Kenapa?”

__ADS_1


“Kemana kamu semalam?”


“Hostel dekat stasiun!”


“Oh Tuhan, aku pikir kamu bakal kabur lagi, Ras. Aku panik lho kamu gak ada waktu aku sampai di sini.” ucap Dominic dengan khawatir sambil menatapku lepas. “Gimana rasamu sekarang?” Dia melepas tanganku seraya berdiri.


Aku mengendikkan bahu. Koleksi perasaanku di rumah ini sukar aku jabarkan namun aku sudah kuat. Anak pertama, perempuan satu-satunya, slalu diajak mempertimbangkan hal-hal panjang, berat dan hebat. Urusan move on hanya perlu waktu dan aku tetap menamai ini rumah.


“Akan slalu ada cara untuk bahagia, Dom. Cuma aku belum sanggup menemukan caranya.” Aku tersenyum sambil memberesi barang-barangnya. “Keluar sono.”


Kaki Dominic melangkah setelah menerima jaket, topi, dan tas dariku sebelum berbalik di ambang pintu. “Buruan move on deh, Ras.” sarannya. “Aku takut.” urainya sendu.


“Takut kenapa?” tanyaku heran.


“Kamu jadi perawan tua!”


“DOMINIC!!!!” Aku melepas sepatuku dan melemparnya. Sepatu itu melayang dan menubruk punggungnya. Ia mengaduh keras seraya memungut sepatuku yang terdampar di lantai.


“Apakah ini sepatu Cinderella? Tapi kok...” Dominic mengendusnya seraya melemparnya dengan ekspresi jijik, “Sepatumu mirip ikan busuk, Rastanty.”


Mataku membelalak, laki-laki tiga puluh lima tahun itu jelas-jelas menabuh genderang perang di saat suasana hatiku sedang melankolis. “Kampret!” Aku menyaut sepatuku dan melengos masuk ke kamar seraya menutup pintu dengan keras. “Prana, kenapa kamu tega menitipkan aku pada sahabatmu yang koplak itu. Apakah kamu lupa Dominic kayak apa?”


Aku mengelus tembok yang memisahkan kami ketika marah, mesra dan putus asa.


“Andai aku berani membobol tembok ini dengan palu untuk melihat bekas peninggalanmu yang tercecer di dalam sana, Pra. Aku akan melakukannya, Prana. Tapi aku takut dengan bapakku.”


“Apa gunanya pintu, Rassss!!!” Tawa Dominic membuat ruangan ini ramai, ia terbahak-bahak sampai pening telingaku mendengarnya. Aku membuka pintu, ingin sekali aku mengeluarkan sumpah serapah tapi Dominic adalah pelipur laraku yang setia dengan bibirnya yang slalu menyunggingkan senyum.


“Kok nggak ngomel-ngomel, Ras?” tanyanya heran sambil menelusuri raut wajahku.

__ADS_1


Aku memeluknya sekilas sebelum kembali masuk ke kamarku. Dominic terlihat kaget lalu menggedor pintu.


... 🖤...


__ADS_2