
Stacy, Marinda dan orang-orang yang bekerja dengan Dominic. Aku terus mengingat nama-nama itu kendati aku melekat di pelukan Dominic semalaman.
Dan dalam sekejap mata. Aku langsung merasakan semangatku meredup. Jelas sudah itu wanita-wanita yang mengerubungi Dominic di kantor.
Aku menyingkirkan tangannya dari pelukanku dengan hati-hati ketika matahari mulai mengintai kamar dengan cahayanya.
Aku menyaksikannya masih terlelap di bawah selimut sembari mengganti baju tidurku dengan kaos dan celana kombor sebelum keluar kamar.
“Chell, bapak mana?” tanyaku ketika ia menuruni anak tangga sembari menguap lebar-lebar.
“Kamar, biasa keluar jam setengah tujuh!”
Aku mengikutinya ke dapur, Michelle membuat dua susu tinggi kalsium seraya mengajakku santai di teras belakang.
Tanpa keluhan, aku ikut menikmatinya sampai lirikan tajam Michelle membuatku memiringkan tubuh seraya ganti meliriknya tajam.
”Ngopo kon?” tanyaku sinis.
“Ngopo kon, ngono kon.” Michelle mendesis. “Mbak yang kenapa di sini, bukan di atas nyiapin baju mas Domi kerja!”
“Lah, emang harus?”
“Ya harus dong, Mbak. Mama jam segini ngurus papa berangkat kerja, Mbak juga harus gitu. Belajar, nenek masih ada di sini. Gaswat kalo Mbak nggak manjain Mas Domi. Kena omel, kapok kon!”
Aku menyeringai dalam hati. Bisa-bisanya aku harus bertekuk lutut di depan Dominic sementara dua tahun ini aku slalu diratukan olehnya. Baiklah-baiklah, keadaan sudah berubah.
“Oke aku balik ke kamar.” kataku, berdiri dari kursi kayu. ”Eh tapi aku penasaran, Chell. Irish chat kamu tanya-tanya mas Domi nggak? Dia bilang apa dia?”
“Rahasyiaaa...” Michelle menjulurkan lidahnya dengan sengaja. “Sampean ke atas sana, nggak usah ngurus janda internasional, nggak penting. Mendingan slay, mas Dominic sukanya cewek suci.”
Cewek suci! ┐( ̄ヘ ̄)┌
Aku menandaskan isi segelas seraya menghela napas. “Kelakuan mas mu aja jauh dari kata suci, Chell.”
“Satu poin dari mama dan papa untuk mantu mereka harus the real perjaka dan perawan, Mbak. Nggak terima bekas yang lain. Dahlah enough, keburu jam kantor.” Michelle mendesis tajam sambil mendorongku gemas. ”Mangkel aku, mas Domi kerja hari ini mulai kerja di kantor!”
“Kebetulan.” Aku menyeringai seraya berjalan ke kamar dengan riang. “Hari ini aku juga kerja. Bebas dari nenek silver sebentar.”
Aku melakukan selebrasi sebelum masuk ke kamar. Membuka tirai yang membatasi pencahayaan alami dari luar.
__ADS_1
Bibirku tersenyum akan parasnya yang tenang tetapi bibirnya melongo. Kendati begitu, aku yang tetap mendekatinya dengan senang hati.
“Mi ayam, kata Michelle kamu mulai kerja. Bangun deh, kamu harus rajin dan kita harus kompak.” kataku sambil melirik lubang hidungnya. “Bulu di hidungmu banyak, mau di rapikan nanti?”
Napas Dominic tertahan, lalu perlahan-lahan matanya mulai terbuka hingga sanggup menyesuaikan cahaya di kamar.
“Udah ke bawah kamu, Ras? Kenapa nggak nunggu aku?” tangannya membelai pipiku. “Aku masuk jam sembilan, pulang bisa menyesuaikan. Kamu bisa tanpa aku sebentar?”
“Bisa nggak bisa... Aku usahakan. Tapi bukannya kemarin kamu bisa kerja dari rumah. Kenapa setelah nikah kamu milih kerja di kantor? Ada masalahnya?”
Dominic menyunggingkan senyum, lalu sadar pakaianku sudah berbeda dari semalam.
“Masalahnya sekarang aku punya kamu yang bisa diajak seneng-seneng, Ras. Terus lupa kerjaan.”
“Alasan kamu aja yang nggak bisa fokus!”
Dominic menyunggingkan senyum seadaanya lalu bangkit dari kasur. “Dua tahun aku harus jaga kamu, itu sudah cukup buat aku jarang ke kantor, Ras. Sekarang, perlu formalitas, hidung harus kelihatan di depan anak buah nggak cuma di depan kamu.”
Setelah menjawil hidungku yang lebih pesek darinya, Dominic mengambil air putih yang wajib ada di meja lampu di sebelah tempat tidurnya.
“Aku harap kamu ngerti, Ras. Putusnya bisnis dengan Kendra kemarin cukup berimbas dan belum bapak tangani karena kita sibuk persiapan ngunduh mantu.” kata Dominic serius.
Dominic menepuk pahanya, giliran begini aku merasa status persahabatan kita mulai menghilang secara kecil-kecilan.
Kedua tanganku bergantung di lehernya. “Michelle tadi ngomong aku perlu siapin baju kerjamu, harus gitu ya? Aku mau dengar dari sendiri dari kamu, Dom.” ucapku memberitahu.
Dominic memainkan ujung rambutku seraya menaruhnya di bawah hidung seolah itu kumisnya.
“Kalo kamu mau, lakukan, kalo enggak santai, Ras. Gampang kok carinya. Cukup celana panjang kain atau jins yang belum luntur warnanya, kemeja, jas, atau rompi. Urusan dalam kamu tahu aku suka pake apa?”
”Nggak suka pakai apa-apa. Eh...” Aku menyeringai. Keceplosan, anjir... Ini jalangg genit nggak ilang-ilang dari tubuh.
Dominic tahu-tahu memeluk dan menepuk punggungku. “Itu kan sama kamu, Ras. Di kantor jelas beda.”
“Iya.” Dan tahu-tahu ia melepas pengait bra ku dan menyeringai sembari menarik kaosku melewati kepala. “So soft, or faster?” ucapnya membisik.
Badanku menjadi lunglai, serangan pagi hari aku minta dengan cepat sebab di bawah pasti nenek dan Marisa sudah menunggu kami untuk sarapan dan bertanya sudah? Lalu berlagak seperti nyonya penuh otoriter.
Meski kali ini aku dan Dominic sepakat hanya mengangguk lalu menyunggingkan senyum.
__ADS_1
Sarapan dengan sayur-sayuran dan buah-buahan adalah menu wajib di lagi atas permintaan grandma untuk menjaga kesehatan dan kami bertujuh tidak perlu berlama-lama di meja makan.
Bapak mertuaku merapikan dasinya sambil menatapku yang memberi kode dengan menggerakkan lidahku di dalam pipi kanan.
”Bapak rasa kamu harus tahu Dom, Rastanty mulai kerja di kantor hari ini. Ikut kamu.” ucap Prambudi, sementara bapak dan ibuku sudah pulang semalam.
Dominic meletakkan cangkir kopinya dengan kening berkerut sambil menatapku.
“Untuk kerja bagian apa?”
“Untuk lihat kamu kerja—”
“Dan memastikan Stacy, Marinda dan cewek-cewek apel manalagi tidak ada yang ganggu kamu.” sambungku dengan nada mengancam.
Prambudi mengangguk pasrah seraya mengusap-usap punggung Dominic.
“Sudah dengar anak bapak?”
“Iya, iya.” Dominic mengangguk sama pasrahnya dengan bapaknya.
“Bagus! Sekarang kalian siap-siap, bapak tunggu di teras. Kita berangkat bersama.”
Eksistensi Prambudi menghilang dari meja makan, sementara grandma sudah di bawa ke taman belakang oleh anaknya sebelum bapak mengumumkan mauku.
Dominic menatapku seolah hendak mengigit. Sesaat aku berharap dia tidak mangkel, tapi dia terlihat menghela napas.
“Seperti yang aku minta tadi, seminggu apa dua Minggu. Aku tidak biasa nganggur dan jadi nona manis. Apalagi berlama-lama pisah kamu. Ndak mampu aku diam saja.”
“Tapi kita lagi usaha untuk bisa jadi bapak dan ibu sebentar lagi, Ras. Di kantor nggak mirip di rumah apalagi hutan.”
”Justru itu, Dom. Aku harus membiasakan diri jadi anak kantoran. Aku mau berhenti jadi traveler blogger dan wartawan pariwisata!” ucapkan dengan volume rendah. “Sebab aku nggak butuh pelarian lagi, kan?”
Mataku perlahan bergerak ke atas setelah hanya mampu melihat celananya yang aku pilihkan tadi di ruang ganti.
“Aku harus ngurus kamu.” lanjutku mengukuhkan.
Dominic sekonyong-konyong mengangkat tatapanku, beradu dengan tatapannya. Tidak sepatah kata pun dia ucapan, tetapi Dominic mengangguk.
“Bagus, kamu punya kesadaran langsung untuk berhenti. Tapi di kantor aku jamin kamu nggak betah. Kamu cari perkara sendiri, Ras.”
__ADS_1
...(╥﹏╥)...