
“Dom, Dom...” Aku menarik kain jarik ke atas yang kukenakan seraya berjalan terburu-buru di koridor kost-kostan lalu mengetuk pintu kamar kost paling ujung. Brutal aku mengetuk daun pintu yang penuh dengan tanda tangan alumni kost-kostan.
Sepasang mataku jelalatan mencari tanda tangan Pranata namun tak ada. Kemana? Pra? Mentang-mentang kamu sudah tiada tanda tanganmu juga tidak ada, padahal tercecer di pintu ini kata-kata persahabatan kita bertiga lengkap dengan tanda tangan pengesahan.
“Dom... Mana tanda tangan Pranata?” seruku menggebu-gebu dengan hati yang membiru. Tanganku menggantung di udara sewaktu pintu terpentang cepat.
“Ras—” kalimat Dominic terpenggal perlahan, dia menatapku takjub juga kesal. “Aku baru ganti baju, Rastanty. Kamu mau nungguin di dalam?” ajaknya cengengesan.
Aku mengerucut bibir sambil memalingkan wajah. Dominic hanya memakai handuk dan terkadang senyumnya yang menyebalkan itu terlihat nakal.
“Cepetan, jangan lama-lama!” dengusku kesal. Bisa-bisanya dia tega memberiku pemandangan absurd pagi menjelang siang begini. Mana belum sarapan lagi. Mual rasanya melihatnya setengah polos.
Aku bersedekap. “Udah belum?” tanyaku saat tak ada suara pintu yang tertutup.
Mungkinkah Dominic merasakan hal yang sama, dia canggung atau ... Tunggu dulu, dia kan bule gendeng, boro-boro canggung berdiri setengah polos di depanku, dulu saja dia mencium pacarnya di depanku dan Pranata nggak malu-malunya. Aku mendesis.
“Kenapa kamu desis-desis mirip ular, Ras? Sebel kenapa?” Dominic memegang bahuku seraya memutarnya. Matanya menyipit. “Mikir apa kamu?”
“Gak ada.” dustaku sambil menatapnya tepat di matanya yang mirip dengan mata ibunya. Dan tak ada yang tahu matanya yang indah kecuali aku dan mantan pacarnya.
Sudut kanan bibirnya terangkat. ”Pembohong!”
Aku meringis, wahai cermin di seluruh wilayah Jogjakarta, bisakah hilang sementara waktu, aku tidak ingin melihat wajahku sekarang. Ini pasti memalukan.
“Aku cuma inget yang udah lewat.” Kedua tanganku melepas tangannya dari bahuku. Tak ada satu pun kata yang terucap saat tangannya aku tempelkan di tubuhnya namun tatapan Dominic mendesakku bicara.
“Pokoknya yang nyebelin dan nggak punya malu bikin aku mendesis-desis mirip ular, Dom.” akuku akhirnya, padahal geli sekali aku mengakui desisanku mirip ular.
“Pasti itu aku, Ras!” katanya riang.
Dasar gendeng. Aku melengeh, meski begitu tatapan Dominic tidak pindah dari sekujur tubuhmu.
“Indah kok, Ras. Prana bisa iri sama aku lihat kamu pake kebaya sementara dia cuma lihat kamu pakai kaos sama celana jins terus-terusan. Cuma ini...” Lenganku otomatis terangkat sewaktu ia hendak merapikan kebaya dan kain jarik yang aku pakai asal-asalan tadi saking gelinya dengan pakaian ini meski sejatinya aku harus mulai membiasakannya.
__ADS_1
Dominic mendongkak setelah selesai membetulkan kain jarikku sambil berjongkok. “Sebentar, aku punya suprise.”
Dia merangkak ke dalam kamarnya, lalu melongok ke bawah dipan. Tangannya terulur untuk menggapai... Aku mengernyit. Kotak sepatu.
“Pakai ini!” Dominic mengeluarkan sepatu jinjit dari dalam kotak sepatu yang membuatku berkedip-kedip. Entah dia menguntitnya kapan dan darimana karena kita hanya pergi ke pasar tadi, tetapi sepatu itu mengesankan tentang keanggunan seorang wanita tulen. Sedangkan aku, kepada Dominic yang menatapku penuh harap aku beringsut. Sepatu jinjit itu mengerikan.
“Buruan Ras di pake. Nggak menghargai usahaku lho udah bela-belain beli tadi malam biar kamu nggak pake sepatu busukmu itu terus malu-maluin usahamu sendiri yang pengen move on dari Pranata.”
“Bukan itu masalahnya, Dom!” Aku menunjuk sepatunya, “Haknya terlalu tinggi, aku bisa jatuh terus tambah malu-maluin usahaku!”
“Buahahaha... Iyo yo, Ras. Aku lupa kamu jalannya pecicilan!” Dominic terbahak-bahak. “Tapi gak apa-apa, kamu bisa pegang lenganku terus jalannya pelan-pelan, mirip model gitu. Pelan-pelan aja, nggak usah buru-buru. Wong kita cuma kondangan bukan lomba balap karung!”
Semprul... Dominic menahan pergelangan kaki kananku seraya mengangkatnya sedikit maksa sebelum memasukkan kakiku ke dalam sepatu.
“Satunya, Ras. Buruan biar kelihatan cakep!”
Ya, oke. Aku membuatnya lega setelah berhasil memakai sepasang sepatu yang membuatku malu. Ini gimana, rasa-rasanya kebebasanku terbelenggu.
Jeda sesaat. Dominic berdiri seraya membersihkannya celananya sebelum tatapannya berlari ke sekujur tubuhku.
Dominic mengembuskan napas dengan keras lalu tersenyum.
“Gini dong. Patah hati boleh, tapi cantik tetap harus, Rastanty!” Dominic mencubit pipiku sebelum masuk ke kamar, dia mengambil tas selempangnya sebelum menutup pintu. “Ayo budal cari makanan gratisan.”
“Kan kita tetap nyumbang to? Gratisan darimana, enakmen hidupmu maunya gratisan.” cibirku.
“Anggap aja all you can eat Ras, nyumbang di awal makan di akhir. Wes, ayo budal.”
Aku terbahak sambil menabok bahunya sebelum menaruh tanganku di lengannya.
Orang bilang memiliki sahabat sejatinya adalah anugerah terindah yang bisa kita miliki dengan segala kelebihan serta kekurangan. Dan aku serius mengakui Dominic adalah pria sejati yang lebih dari sekedar sahabat. Aku tidak seimbang jika laki-laki yang sedang menuntunku dengan sabar dan hati-hati menemukan tambatan hati lalu meninggalkanku.
“Pra, kita cabut dulu ke nikahan Setyo en' Putri. Ntar aku bawain lemper sama souvernir buat kamu!” pamit Dominic di depan kamar Pranata. “Terus jangan cemberut, cewekmu gandeng lenganku.”
__ADS_1
Aku meliriknya, haruskah bilang begitu seakan-akan Pranata sanggup mendengarnya. Lagian kita sudah berpisah, hanya memang Pranata berarti bagiku juga bagi Dominic. Namun setelah dua tahun berlalu, bagaimana mungkin aku masih menjadi cewek Pranata. Tidak mungkin, aku hanya perlu jatuh cinta lagi untuk lebih baik demi cinta yang ada untukku.
“Kayaknya Pranata udah cuek sama kamu, Ras. Dia diam aja. Kasian deh kamu!” ledek Dominic.
Aku mengeratkan genggaman tanganku di lengannya sambil mendengus. Lagian kalau Pranata sanggup menjawabnya bukannya itu malah ngeri. Dasar...
“Pakai motor aja, biar sat-set, udah telat setengah jam kita!” kataku sebelum dia membuka penutup mobil Pranata yang tertinggal di garasi rumah.
“Oke deh, lagian lebih romantis pake motor.”
Aku memakai helm sementara Dominic kembali masuk ke rumah seraya memanggil ibuku, meminta kunci motor.
“Ati-ati, Dom, Ras.” seru ibuku dari kolong jendela yang ia dorong dari dalam.
“Beres, Buk. Rastanty aman denganku!” sahut Dominic percaya diri.
“Ndang dirabeni to, Le.” (buruan dinikahi aja, Nak) desak ibuku. “Kasian bocah itu, luntang-lantung terus ora pasti.”
Aku melotot. Kenapa para orang tua menyuruh kami menikah, memangnya ada cinta dari sorot mata kami sampai-sampai mereka menyuruh kita menikah. Tiba-tiba tubuhku menjadi tegang, memangnya kedekatan kami amat dekat?
“Santai, Buk. Meski punyaku juga gondal-gandul terus ora pasti, aku yakin ada waktunya nanti.” Dominic memakai helm seraya duduk di jok sambil tersenyum. “Naik, Ras. Duduknya miring!” Dia menurunkan pijakan kaki.
Aku menatapnya, menyerap perhatian yang dia berikan dan aku mulai khawatir kami mulai dekat lebih dari sahabat.
“Dom...,” kataku untuk—
“Pegangan, Ras. Ntar jatuh terus amnesia, bakal senang banget aku!”
“Dark banget jokemu, Dom!” Tangan kananku melingkar di pinggangnya sebelum mencubit perutnya. “Doamu jelek banget!”
“Mungkin.” Dominic menyentuh punggung tanganku seraya mengencangkannya erat.
...🖤...
__ADS_1