Jogja, Kamu & Kenangan

Jogja, Kamu & Kenangan
Bait Ke-34


__ADS_3

Tak secuil pun aku setuju pulang ke Jogjakarta tanpa Dominic, aku meminta negosiasi waktu, namun sama sekali orang tua kami tak mengizinkan kami memperlama temu penuh harap ini. Aku mengakhiri malam dengan tangis yang ku sembunyikan di boneka beruang yang sengaja Dominic semprot dengan parfumnya.


“Parfum ini tahan lama, kamu bisa peluk boneka ini kalau kangen aku Ras.” Dominic menaruh boneka itu ke dadaku, boneka yang dia belikan sekalian mengantarku ke stasiun.


Aku mengusap wajahku lalu melihat cincin pertunangan di jariku. Aku cuek bukan berarti tak perhatian, aku polos bukan berarti tak mengerti, aku membuat jarak bukan berarti ingin berpisah. Sedih aku karena sejujurnya aku juga menginginkan Dominic terus di sampingku ketika kereta malam melaju ke tanah kelahiranku.


“Pranata akan menjadi sejarah, Ras. Setibanya di rumah, semua barang-barangnya bapak keluarkan dari kamarnya!” kata bapakku sewaktu kereta berhenti di stasiun Lempuyangan.


“Aku nggak minta bapak nyimpan barang Pranata kok, aku dulu cuma belum siap kehilangan semua peninggalannya waktu itu.” balasku malas lalu menggendong tas semi carrier ku. “Kalau bapak mau buang ya buang aja. Besok mobilnya aku antar ke rumahnya di Surakarta.”


“Gak usah macem-macem, mau sakit hati kamu ketemu bapak ibunya.” tukas Bapak seraya beranjak, menurunkan dua tas ransel dari bagasi kereta lalu membangunkan ibuku.


“Sudah untung orang tua Dominic menerima keluarga kita, kamu masih mau cari gara-gara. Kurang asem apa hidupmu, Ras?”


Kurang asem apa hidupmu, Ras. Asem banget pak.


Aku mendengus, “Kita di terima karena Dominic cinta sama aku, pak. Kalau nggak, mana bisa aku selama ini numpang hidup sama dia.”


“Nah itu nyadar kamu. Kurang baik gimana Dominic sama kamu! Buka ati ae susah, tapi gelem turu bareng!”


Aku mendengus sembari melipat selimut ibuku, sementara bapakku memang canggih menyalahkan semua yang bisa di salahkan walau separuh dari apa yang dibicarakan benar.


Aku keluar dari kereta, menghirup udara pagi lalu membelah angin dengan langkahku.


Belum apa-apa aku sudah frustasi harus membongkar kamar Pranata, belum membuat surat kehilangan dan mengurus semua kartu-kartuku yang di telan samudra Hindia tanpa Dominic.


Kebiasaan baru ini masih sulit aku terima dan aku menggerutu terus kenapa harus setelah tunangan pisahnya. Status ini membuatku resah. Padahal setiap kali dia memuji gadis-gadis cantik dan seksi yang seliweran di mata kami, aku biasa-biasa saja. Tapi sekarang. Ampun. Pada titik ini, hidupku tidak lagi sesederhana aku bisa leluasa bercerita apa saja atau glundang-glundung di kamarnya. Aku dihantui rasa curiga, cemas dan sebuah perasaan yang sulit aku tampik ketika sadar aku bertunangan dengan mantan playboy cap kadal.


*


*


*

__ADS_1


“Yakin kamu nggak perlu bapak bantu?”


Aku menggeleng sembari membuka gembok yang terpasang di pintu kamar Pranata seolah tempat ini benar-benar tersegel sampai kiamat datang.


“Yowes, bapak tinggal. Kalau kamu nyerah bapak ada di depan.”


Aku berdehem, masih malas berdamai dengan bapakku. Dimana tadi pagi sewaktu kami sampai di rumah aku langsung di wanti-wanti untuk membuang barang pemberian Pranata yang masih aku sembunyikan. Sementara sekarang di depan kamarnya yang pengap dan jarang di bersihkan, aku perlu menarik napas dalam-dalam sebelum menghidupkan lampu.


Situasi mendadak mengiris hati sewaktu aku menyerap kenangan yang menguap begitu pekat di kamar ini.


Tawa Pranata, ranjang peninggalannya, sikap serius di meja belajarnya, lembaran-lembaran kertas menguning tertumpuk di depan komputernya. Nyaris tak tersentuh dan berdebu.


Aku menarik kursi belajarnya yang masih bisa digunakan seraya memandang sekeliling. Jejak-jejak Pranata masih tertinggal pada setiap goresan di dinding, macam-macam tempelan kritikan dan program kegiatan yang ingin dia lakukan.


“Gagal jadi sarjana dan aktivis kamu, Pra. Sedih pasti kamu, sama kayak aku.”


Bau apek menguar dari tumpukan baju-bajunya di lemari sewaktu aku mencari jaket almamaternya. Bangga kami dulu mengenakannya meski Pranata dan Dominic sudah pernah mengenyam pendidikan D3 sebelum bertemu aku.


“Bersama terbukanya kamarmu ini, aku akan mengumumkan kabar kalau aku akan menikah, Pra. Pergilah bersama bau apek kamarmu dan beberapa rahasia yang kamu sembunyikan dariku.”


Setelah beberapa saat, remasan di jas almamaternya melonggar. Aku memutuskan langsung membersihkan kamar Pranata. Mengeluarkan kasur busa dan bantal gulingnya keluar. Sampai akhirnya kegiatanku memancing beberapa penghuni kost-kostan, mereka berbondong-bondong membantuku mengeluarkan barang Pranata yang bagi sebagian penghuni kost adalah harta karun.


Mereka mengambil apa yang mereka inginkan. Dari pakaian yang masih layak pakai. Seperangkat komputer yang akan di servis oleh calon teknisi komputer. Kasur busa yang akan di bawa ke sarang tongkrongan, serta beberapa benda yang tidak aku tanggapi dengan perasaan berlebihan.


Semua benda peninggalan dari Pranata tercerai-berai, harusnya perasaanku wajib seperti itu. Bubar jalan bersamaan dengan waktu.


“Aku keluar dulu cari mi ayam, ntar kalo masih ada barang bagus punya alm. Kalian embat atau kasih siapa. Semakin cepat semua barang-barangnya hilang semakin bagus.” kataku sambil naik ke motor. “Ada yang mau titip barang?”


“Rokok, Ras.”


Aku mengangguk dan menggeber motorku keluar rumah. Hari pertama tanpa Dominic aku habiskan dengan mengosongkannya kamar Pranata sebelum besok ku minta tukang untuk membersihkan dan memberi warna baru kamar itu.


“Ras, ada kang paket tadi kirim sesuatu.” Romi mengulurkan paper bag.

__ADS_1


“Oke, nih sekalian pada di makan. Rokoknya di dalam.”


Kami bertukar barang sebelum aku masuk ke kamar setelah melihat siapa pengirimnya dari secarik kertas kuitansi.


‘Dominic, calon suami yang sanggup menanggung beban keluarga berserta tagihannya.’


Aku menarik sudut bibir sambil meraih isinya. Sudah kutebak hp, sama seperti punyaku kemarin, hanya saja nomernya berbeda. Dominic seolah sudah menyiapkan ini lebih cepat daripada tagihan yang aku lakukan.


Aku tersenyum. Perlu beberapa saat sebelum aku sanggup mengoperasikan hp ini dan menulis nomer hp Dominic di luar kepala.


“Kok kucel, jelek? Habis nyapu halaman apa ngepel, Ras?” tanya Dominic setelah wajahnya terlihat di layar hp.


“Aku habis beres-beres kamar Pranata.”


“Serius?”


“Kamu suka?”


“Kejutan.” Dominic menyunggingkan senyum. “Tapi kamu nggak sedih atau jadi lemes?”


“Nggak juga, aku marah.”


“Kenapa?”


“Aku marah karena nggak ada kamu.”


Dominic tertawa lepas sampai wajahnya terlihat bergoyang di layar hpku. “Sumpah, Ras. Kamu nggak cocok ngerayu aku, uanehh... tapi makasih untuk kabarnya dan keberanianmu hari ini. Aku tahu kamu cuma takut sama bapakmu.”


“Enggak, bukan itu, Dom.” Aku menggeleng kuat-kuat. “Aku cuma baru sadar, aku susah buka hati tapi mau tidur bareng kamu. Maaf, ini rumit, tapi bapak bener. Aku sama kayak kamu, geleman.”


Dominic tergelak sampai aku mendengus saking lamanya dia meredakan tawa.


...🖤...

__ADS_1


__ADS_2