
Aku tidak pernah membayangkan dalam hidupku akan mengalami hal yang tak terduga di Surakarta. Harusnya semua sudah selesai, mulus, tanpa guncangan dan hanya menyisakan siksa penolakan yang sudah aku cicip sejak lama. Hal itu mudah aku singkirkan. Namun hari itu Kendranata mampir di hidupku dan mengobrak-abrik segala sesuatu yang sudah aku sepakati sebagai jalan akhir melupakan Pranata.
Aku menggeber motorku pergi ke rumah Paijo. Sebab dari sekian banyaknya alumni mahasiswa yang asli dan menetap di Jogja, cuma dia yang dekat akrab dengan Dominic dan Pranata.
“Oi... Ras...” Paijo melambaikan tangannya dari samping rumah bergaya Jawa lawasan yang sebagian temboknya masih terbuat dari kayu yang mengkilat akan sentuhan pernis kayu.
“Klasik banget rumahmu, Jo. Keren...” kataku sambil turun dari motor. “Dulu terakhir ke sini masih industrial banget.”
“Gedek maksudmu?”
Aku tergelak dan menyalaminya. “Bercanda.”
Paijo menyuruhku duduk setelah dia melesat ke warung tetangganya dan membawa pulang dua botol kopi kemasan.
“Dominic ngasih kabar kamu mau ke sini. Apa ada, Ras? Penting sampai kurang turu gitu.” Paijo mengeluarkan rokok kretek dari saku celananya.
Lamat-lamat aku mencicip rasa kopi dari botol kemasan ini. “Kopi susu, Jo?”
“He'eh, emang doyan kopi item?”
“Kebetulan, aku pingin. Dominic sering nyuruh aku minum kopi item biar ngerti ada yang lebih pahit dari kenangan.”
“Oualahhh... Jadi maksudmu kamu mau ketemu aku cuma pingin ngajak ngopi bareng?” tukasnya penasaran.
“Lebih dari itu, Jo.” Aku menatapnya penuh harap dan mengangguk serius. “Aku pingin tahu gimana rasa pahitnya!”
Setelah melakukan pertimbangan ketat di atas motor. Aku dan Paijo resmi mendatangi kopi klotok di kawasan pakembinangun, jalan Kaliurang.
“Yakin, Jo. Di sini bisa pesan kopi sepahit kenangan?” tanyaku setelah berbisik.
Tanpa membuang waktu, Paijo menuliskan pesanannya di meja kasir lalu mengajakku di area terbuka yang berudara sejuk.
“Aku bikin laporan dulu biar nggak ada yang salah paham.”
__ADS_1
Aku tertegun. “Maksudmu ngasih kabar Dominic?”
“Iya to, Ras. Dia udah bikin pengumuman, sebulan lagi kawin sama kamu di WhatsApp keluarga alumni. Kalo sekarang ada yang lihat kamu jalan sama cowok lain terus ngasih kabar Dominic setengah-setengah, kamu sendiri yang repot!”
“Buset dah, ngebet banget kawin. Padahal aku belum datang ke percetakan buat bikin undangan.”
“Halah gampang, bikin undangan digital!” Paijo menundukkan kepala seraya mengetik sesuatu di hpnya dengan cepat.
“Aku yakin kedatanganmu gak cuma pingin minum kopi item. Ada apa, Ras?” tanya Paijo setelahnya.
“Aku kemarin ketemu kembaran Pranata.”
Mata Paijo melebar. Dia melepas ponselnya ke meja lalu menatapku dengan tatapan menerka.
“Dimana?”
“Rumahnya, Surakarta.”
Paijo mengusap wajahnya dengan kedua tangan. Dia mendesah lelah lalu menyerahkan ponselnya kepadaku.
“Kenapa? Gak ada penjelasan spesifikasi lain daripada sebuah foto, Jo?” Mataku menyipit. “Sekarang aku jadi yakin kenapa cuma kamu yang aku tuju setelah ketemu Kendranata, aku masih takut bicara dengan Dominic.” kataku jujur.
“Ya Allah, Ras. Becik ketitik ala ketara.” Paijo melipat kedua tangannya di dada.
Aku mendengus, falsafah Jawa itu menasihatiku bahwa perbuatan baik dan buruk akan terungkap pada akhirnya.
“Aku bakal bilang, Jo. Sumpah. Tapi sekarang jelasin dulu semuanya! Aku yakin kamu tempat sampah kejujuran Dominic dan Pranata. Kamu tau Kendranata!” ungkapku mengandung bara yang menyengat dadaku sendiri.
Paijo menunjuk ke bawah dengan ekspresi malu banget. “Turunkan suaramu, Ras. Jian... Suaramu kayak Tarzan keluar hutan... Braok.”
“Ben!” ucapku, memberengut.
Air muka Paijo perlahan berubah setelah tahu mataku berkaca-kaca.
__ADS_1
“Minum dulu itu kopinya, terus ngomong ke Dominic kalau kamu udah ngerti rasanya kopi hitam murni gimana!”
Aku termenung, kopi yang tersaji di dalam gelas belimbing ditemani sepiring pisang goreng yang sama-sama mengepulkan asap hangat itu memikat. Sederhana.
“Bisa di minum dingin, tapi hangat lebih nikmat.” saran Paijo lebih tenang.
Aku mengangguk, mengumpulkan keberanian untuk meneguk kopi hitam murni yang pekatnya serupa keadaan yang pernah aku jumpai setelah kematian Pranata.
Mulutku mendekat ke bibir gelas, hidungku menghirup aroma kopi yang di sangrai dengan level dark roast untuk memuaskan dahagaku. Kopi hitam.
Aku memejamkan mata dan mengambil alih sebagian kopi hitam dalam gelas cangkir belimbing ke mulutku hingga perlahan mengalir ke tenggorokan dan lambungku bersamaan dengan mengucurnya air mata dari pelupuk mataku.
“Pahit, sepat.” Paijo mengambil alih gelas yang kucengkram lalu tersenyum getir. “Tahunan aku hidup dengan rahasia pacar-pacarmu, Ras. Dominic, Pranata, terus sekarang Kendranata.” Paijo menarik sudut bibirnya.
“Kalau bisa diibaratkan kalian seperti menjalani cinta segiempat. Pranata dan Kendranata memang jauh, tapi ikatan batin anak kembar siapa yang tahu. Aku yakin, Dominic sengaja menyembunyikan keberadaan Kendranata demi kamu, demi cintanya ke kamu yang bertahun-tahun justru ke pupuk rasa iba. Kupingku Ras sampe gatel dengar dia curhat kelakuan Pranata dan gobloknya kamu yang nggak mudeng-mudeng terus dengan kelakuan Pranata. Terus sekarang, runyam...”
Paijo menghela napas. “Ada yang lebih pahit dari kopi yang kamu minum, Ras. Bukan cuma kenangan, bukan cuma kehilangan. Namun seseorang yang sudah bersedia membuka tangannya lebar-lebar untuk membantumu, menerimamu, membawamu bersenang-senang tapi masih harus berjuang membuatmu bahagia, membuatmu jatuh cinta, belum lagi mengikis masa lalumu. Pahit jadi Dominic, Ras. Dia cakep, sugih, SUV off-road yang dia beli itu alasannya apa kalau bukan untuk memenuhi adrenalinmu.”
Penjelasan itu mengejutkanku. Tapi itu belum cukup. Masih ada rahasia besar yang Paijo ketahui.
“Terus apalagi?” tanyaku dengan suara tersekat.
“Nggak ada cowok segila Dominic yang mau sama kamu, Ras. Kalau mau bisa dapat artis dia, aku aja lho kalau cewek udah tak sosor dari dulu dia, cuma aku laki, udah tunangan juga.” Paijo menyunggingkan senyum bangga sembari menunjuk cincin di jari kirinya. “Dominic tahu, janji yang terucap seorang laki-laki harus dia tepati apapun risikonya. Yo bisa di anggap, memang ada penyesalan di hati Dominic sampai Pranata harus mati kayak gitu, makanya keluarga Pranata setahuku juga memutus hubungan bisnis dan kekeluargaan dengan keluarga Dominic setelah tahu alasan anaknya keluyuran malam karena apa.”
“Maksudmu mereka ada dendam sama Dominic?”
“Bisa jadi,” Paijo mengendikkan bahu. “Dominic harus secepatnya tahu kamu ketemu Kendranata. Dia pebisnis, seorang anak, saudara kembar Pranata, dia tahu celah lebar untuk balas dendam apalagi ibunya katamu depresi setelah kematian Pranata dan wasiat yang bikin masalah makin repot itu. Aku yakin Kendranata sebelas dua belas dengan Pranata, punya ambisi besar apalagi kedatanganmu membangkitkan rasa penasarannya.”
Aku menghabiskan kopi yang masih tersisa di gelas. “Kayaknya mulai sekarang aku harus nurut sama bapakku, Jo. Berkali-kali aku kena apes gara-gara cuma nurutin egoku daripada omongan kecut bapakku.”
Paijo mencomot pisang goreng dan mengunyahnya.
“Kalau dulu kamu yang hampir gila, mungkin sekarang keadaan itu bisa menimpa Dominic kalau kamu malah nguber-uber Kendranata hanya karena mirip Pranata, Ras. Jangan sinting! Udah saatnya kamu benar-benar buka hati buat Dominic.”
__ADS_1
Aku mencomot pisang goreng dan mengunyahnya. Segelas kopi hitam murni itu membuat perutku bergelembung dan meningkatkan kecemasan yang berlebih di benakku.
...🖤...