Jogja, Kamu & Kenangan

Jogja, Kamu & Kenangan
Bintang Baru


__ADS_3

Aku melepas sepatu jinjit di ruang tamu kamarku yang dipenuhi pakaian untuk gelaran resepsi setelah magrib berakhir.


“Mau langsung ganti atau makan dulu kak? Ibu Marisa berpesan agar tidak melupakan pesan penting tersebut.” ucap perias yang nampak susah menyembunyikan senyumnya sewaktu mengkordinir acara dengan Dominic.


“Langsung ganti saja kak, tapi tolong sebelum matahari tenggelam ganti baju resepsinya sudah selesai!” pungkas Dominic dari belakangku setelah ia melepas sendiri keris, blangkon, dan kebaya akad yang dia pakai sendiri di kamar mandi.


Aku menggeleng sembari menelan ludah dengan susah payah, “Jangan buru-buru kali, Dom. Ntar nggak bagus hasilnya.” kataku lembut.


“Bisa di atur, Ras. Mereka profesional.” Dominic menyentuh kedua bahuku, “Aku pingin hanya ada kita berdua saat matahari tenggelam.”


“Kenapa memangnya harus berdua? Kamu mau cosplay jadi vampir terus nggak mau ada orang yang tahu?”


“Betul banget bojoku, pinter kamu sini aku kasih bonus.” sahutnya ceria sembari memutar tubuhku.


“Aku bisa cosplay jadi vampir yang bisa gigit leher kamu!”


“Dih....” Aku melirik ke samping tempat perias sedang menghubungi tim-nya lewat ht. “Jangan gitu, pesonamu banyak yang tahu! Jangan ganjen apalagi tp-tp. Seneng banget bikin senewen.”


Dominic menyeringai sembari menyentuh pinggangku. “Aku ngerti kamu mulai punya hati sama aku, Ras. Dan aku tambah mabuk kepayang sekarang.”


Si perias berbalik ketika aku berdehem-dehem lebih dari tiga kali. “Kita mulai ganti bajunya kak.” pintaku.


“Siap kak. Mari...” Si perias tampak kagok ketika Dominic tetap menahan pinggangku tanpa sedikitpun menyurutkan senyuman nakalnya.


Gawat, otaknya sudah kemana-mana pasti.


Aku menyentuh pipi Dominic setelah menarik-ulur napasku. “Udah kali, Dom. Jangan kelihatan kek kurang belaian seumur hidup!”


Dominic melengos seraya mencomot brownies kukus di piring.


“Kita selesaikan acaranya lebih cepat! No party, no problem.” dengusnya sembari membuka pintu kamar.


Tiga orang tim make up langsung gegas mengubah penampilan kami sesuai instruksi yang ketua perias katakan.


Sesekali mereka terlihat kelabakan tapi benar saja sebelum matahari benar-benar tenggelam aku dan Dominic sudah berdua di kamar.

__ADS_1


Dominic menggeser pintu kaca yang lantas mengundang udara luar masuk ke dalam kamar.


Dominic meraih tanganku yang kupangku dengan anggun sementara matanya terlihat mengekspos bahuku yang terbuka.


“Gak usah gitu lihatnya, kayak nggak pernah liat yang terbuka!”


“Muka dan punggung tanganmu kelihatan gosong tapi yang ini beda.” Dominic mencium bahuku dengan bibirnya yang hangat dan menggelikan. “Mulus.”


Hidungku membesar, privasi yang dia minta membuatku sulit berpikir positif. Sebentar-sebentar dia cuek, sebentar-sebentar dia mesra. Sementara alat tempurku masih belum berguna, payah.


Dominic menggandeng tanganku seraya menuju balkon, kami menghirup udara bebas sembari memejamkan mata dalam balutan busana adat Jawa Dodotan.


“Aku nggak tahu harus memulai malam pertama kita, Ras. Rasanya campur aduk, antara pingin, geli, malu, terus nggak tega sama kamu.”


Ucapan Dominic cukup melegakan hatiku, tapi aku juga teringat, sesuatu yang mendesaknya dari dalam pasti akan menyusahkannya.


Aku mencengkram palang balkon dan meliriknya. “Terserah kamu aja mau gimana, nggak sekarang juga nggak masalah, Dom. Aku ngerti, jarak kita yang melompat tinggi ke jenjang suami istri pasti menyulitkan kita untuk bersikap. Tapi aku justru seneng banget Dom kalau di undur malam pertamanya. Jadi kita nggak perlu tempur dan adu skill krav maga!”


Aku menatap Dominic, diamnya menimbulkan banyak tanya.


“Maksudku nggak usah buru-buru gitu, kita bisa melakukannya sewajarnya, nunggu pingin dulu mungkin!”


“Aku antara heran dan geli sama kamu, Ras. Tapi sumpah, kamu lucu. Dan nggak usah nunggu pingin, aku sudah pingin banget dari kita sering camping berdua dan traveling bareng. Cuma ndak mungkin aku merusak dirimu. Kamu cantik, istriku.” Dominic mengecup bahuku.


Pelukan Dominic mengetat di tubuhku, dia mengayunkan tubuh kami sambil bernyanyi sepenggal lirik lagu dari Adele - Make You Fell My Love.


When the evening shadows and the stars appear. And there is no one there to dry your tears. I could hold you for a million years. To make you feel my love.


Hatiku menghangat mendengar suaranya yang berat dan menghayati bersama pudarnya sinar matahari di ufuk timur.


Dominic melonggarkan pelukannya. “Besok kita kunjungi makam Pranata untuk pamitan. Janjiku sudah lunas.”


“Aku setuju!”


Dalam gelapnya malam dan gerimis yang tiba-tiba datang. Kami berdua perlahan tapi pasti kembali ke ballroom untuk melaksanakan resepsi yang di awali dengan sambutan dari bapak mertuaku untuk tamu-tamu bisnisnya.

__ADS_1


Pria-pria perlente dan ibu-ibu anggun jelita tampak menghiasi kursi-kursi berhias pita yang tersedia dengan senyum kebanggaan mereka.


“Perkenalkan ini anak mantuku Rastanty Adena, hobinya naik gunung sama off-road, Bapak-Ibu. Wes bening to sekarang kok Dominic jarang ke kantor, pak Prambudi? Arek ini anakku lanang, lagi senang nguber-uber perawan, Pak, Bu. Sampai ke puncak gunung dia sanggupi. Ndilalah, wes koyo manuk pingin gawe sarang¹, Dominic juga senang. Komplit pengharapan kami sebagai orang tua anak lanang ketemu jodoh yang seneng susah bisa bareng-bareng menyelesaikan masalah mergo ora ono ing dunyo iki mulyo tanpo rekoso².” Beberapa orang menganggukkan kepala, tanda setuju.


”Jadi Bapak-Ibu kalau butuh berpetualang di alam bisa lho ajak-ajak anakku ini. Di jamin aman, wong luwih galak seko macan masio ora luwe.”³


Beberapa tamu undangan tergelak, bapak mertuaku tersenyum lebar sembari menyuruh kami berdiri setelah meminta para hadirin yang berbahagia dan terhormat berkenalan dengan keluarga barunya.


Aku tersenyum malu sambil menundukkan kepala, kupikir bapak mertuaku ini kok seperti cerminan istri dan anaknya. Sekalinya ngomong suka njawil ati.⁴


Dominic mengelus punggungku yang berkeringat dingin.


“Bapakku kita antara stand up comedy sama ngasih wejangan hidup beda tipis yo, Ras. Pantes aku kadang bingung mau ngelawak apa serius, ternyata turunan dan nggak bisa di ganggu gugat!” selorohnya di kupingku.


Aku mengangguk sambil memandanginya.


Dari mataku, Dominic seakan tahu aku gugup. Sementara satu persatu tamu yang terhormat dari kalangan borjuis mulai naik ke panggung pelaminan.


“Angkat kepalamu dan senyum yang manis, Mrs. Domiamore.” ucapnya menggebu sembari meninggalkan kecupan di kening.


Aku sebisa mungkin tersenyum manis meski aku yakin wajahku—pikiranku—logikaku kali ini sangat pasrah menjadi bintang baru di keluarga Dwayne Group.


*


*


*


translate 😊


¹Kebetulan, sudah seperti burung yang ingin membuat sarang.


²Karena nggak ada hidup di dunia ini makmur tanpa berusaha payah.


³Lebih galak dari macan walaupun tidak lapar

__ADS_1


⁴Nyenggol Hati.


( nguber-uber : mengejar-ngejar, tp-tp : tebar pesona )


__ADS_2