
Dominic menyerahkan ponselnya yang aku inginkan untuk mengabadikan momen matahari tenggelam di pantai Parangtritis setelah kami kembali menginjak pasir hitam tanpa alas kaki.
“Aku bakal video kamu.” kataku sambil menyeting kameranya ke versi video hd, “Nanti kamu jalan ke arah matahari tenggelam, jangan lihat aku.”
“Siap, baby.” Aku mendesis. “Yang lain! Aku bukan bayi, aku Rastanty Adena.”
“Istriku?” sambung Dominic. Aku mendongak, dia menelengkan kepala sambil tersenyum hangat. Rupanya dia sedang jatuh cinta, entah jatuh cinta ke berapa kalinya kepadaku tapi kuakui matanya sekarang penuh dengan tanda cinta.
“Aku harap begitu...” aku merekahkan senyum. “Tapi aku nggak suka kamu kayak tadi, kamu ngerti alasannya.”
Kerlingan di matanya terlihat. “Cuma bentar gelinya, masih amanlah, buktinya kamu masih baik-baik aja sekarang.”
“Cuma buat jaga-jaga, kamu mantan playboy cap kadal. Suka berubah-ubah sesuai lawan mainnya!”
Dominic menyelipkan rambutku di belakang telinga. “Aku jaga kamu, tapi ya sedikit ambil pemanasan. Takutnya nanti kamu kaget terus kita malah adu silat waktu malam pertama.” ucapnya cengengesan.
Malam pertama lagi, baru juga pikiran-pikiran itu berangsur menghilang, Dominic meruncingkan kembali urusan malam pertama yang tidak tahu kapan terwujudnya.
Aku mendengus. “Udah bahas malam pertamanya, aku capek, Dom. Isi kepalaku kotor terus gara-gara kamu!”
“Kotor gimana maksudnya?” Dominic memegang kedua sisi kepalaku. Dia sontak meniup ubun-ubunku berkali-kali. “Udah hilang belum kotorannya?”
“Kamu kira debu?” Aku menginjak kakinya.
“Udah buruan sana jadi model, yang bagus. Nanti aku kasih royalti kalau videonya banyak yang lihat!”
“Ya kali, Ras. Hp aja nebeng, gayamu selangit!” Jari telunjuk Dominic menonyor keningku tiba-tiba. Aku meringis, aku suka Dominic kembali berperan sebagai sahabatku bukan terus-terusan mengukuhkan diri sebagai pacar baru.
“Oke, take your time, Dom!” seruku sembari mulai merekamnya.
Dominic melangkah dengan santai di bibir pantai, memijak pasir basah berair yang memantulkan cahaya keemasan matahari tenggelam, membiarkan ombak menerjang kakinya yang jenjang dan berbulu lumayan. Aku tersenyum saat andong melewatinya dengan suara derap kaki kuda yang lincah. Transportasi tradisional ini juga ada di sini termasuk ATV untuk mempermudah wisatawan menjelajahi luasnya pantai Parangtritis tanpa perlu membuat kakimu pegal-pegal.
Dominic memutar tubuhnya dengan dramatis seolah memandang keseluruhan pantai ini. Ia menghirup aroma laut dan keindahan tempat ini seraya menatapku. Langkahnya perlahan bergerak. Pelan dan seksi sebelum langkahnya mulai lebar dan yakin. Aku melangkah mundur, senyumnya di kamera seolah memiliki arti.
Dominic mengulurkan telapak tangannya. “Menikahlah denganku, Rastanty Adena?”
Mataku melebar. Dominic menekuk lututnya tanpa sedikit pun menarik kembali uluran tangannya.
Aku terpukau, gugup melandaku, debar jantungku berpacu dengan keindahan sinar keemasan yang memiliki magic, satu persatu mata yang mengabadikan momen matahari tenggelam justru terusik penasaran dengan tingkah Dominic.
“Apa ini nggak terlalu cepat, Dom?” tanyaku, aku tampak ragu.
__ADS_1
“Udah terima aja, aku keburu malu kalo kamu nggak terima, Ras.” Dominic menyeringai, “Ini lamaranku yang pertama, yang belum resmi secara kekeluargaan. Kamu bisa tolak aku, tapi terima uluran tanganku.” desaknya dengan ekspresi wajah lucu.
Aku tertawa seraya menarik tangannya, lenganku merengkuh tubuh lelaki yang kusebut terlalu berani melamarku di tempat penuh legenda dan misteri seperti ini di waktu nyaris magrib lagi.
“Aku terima, tapi jangan cepat-cepat menentukan tanggal pernikahannya.” Tangan kananku yang memegang hp mengubah rekaman video menjadi kamera depan. Aku tersenyum melihat lelaki ini mengistirahatkan kepalanya di bahuku dengan napas yang kembali meraba leherku.
“Makasih, Ras.”
Cahaya keemasan yang berbalut semburat jingga perlahan-lahan tenggelam di perairan seolah lautan itu menyedot pemilik cahaya kehidupan yang menyita perhatian. Aku memejamkan mata, bibirku hendak terbuka, namun secepatnya juga tertutup. Posisi kami bahkan tak bergerak seolah-olah kami membeku setelah cahaya itu pergi.
Dari tempat sama. Dikepung angin pantai, dan keremangan cahaya alam. Dadaku teraliri air hangat dari mata kepala yang masih beristirahat di bahuku.
“Dom? Nangis?” ucapku bergetar.
“I call your name every night before i sleep.”
(aku memanggil namamu setiap malam sebelum aku tidur )
“Berapa lama?”
“Tak terhitung seperti bintang malam ini.”
Kami mendongkak bersamaan, langit Parangtritis kosong tanpa bintang. Aku dan Dominic terkekeh geli sambil melepas pelukan terlebih hp Dominic berkali-kali bergetar.
“Nggak penting.” Dominic menggandeng tanganku. “Cari makan dulu terus kita hitung bintang nanti agak malam di sini.”
“Lah kurang kerjaan.” gerutuku. Dominic mengayunkan tangannya, “Lagian siapa yang bisa ngitung jumlah bintang. Nggak ada, andai pun ada pasti salah jumlahnya.”
“Bintang kehidupanku cuma kamu, keluargaku, bisnisku, dan anak-anak kita nanti. Kecil banget ngitungnya, Ras.” Dominic menjentikkan jarinya.
Kesombongan Dominic membuatku menyenggol lengannya dengan keras. “Iya-iya percaya, lulusan terbaik, calon ketua BEM gagal mejeng, tukang tebar pesona, banyak mantannya, punya banyak bayi di kampus, apalagi?” sindirku terang-terangan.
“Kompetisi, Ras. Aku perlu menjadi terbaik untuk bisa dibanggakan kelak.”
Detik demi detik berjalan. Kami tiba di rumah makan yang menjajakan olahan ikan laut. Dominic menarik kursi plastik berwarna merah pudar untukku.
“Makasih, Dom. Makanannya sama, minumannya juga.” pintaku senang.
“Tunggu.” Dia menggesek-gesek rambutku dengan telapaknya sebelum masuk ke rumah warga lebih dalam. Selang setengah jam yang kami habiskan dengan mengobrol, patin bakar jumbo yang diiris jeruk nipis di atasnya menggugah selera, empat porsi nasi juga tersaji berikut sambal, lalapan dan dua air putih hangat di meja bertaplak karpet sintetis.
“Kamu masih nggak boleh makan sambel. Ini buatku.” Dominic menggeser sambal ke depannya, dia tersenyum. “Selamat makan malam, Rastanty.”
__ADS_1
Tenang, Dominic mulai melahap makan malamnya seolah dia benar-benar kelaparan setelah mengucapkan lamaran yang tidak aku duga-duga.
“Kok diam? Makan, Ras. Nanti asam lambungmu naik lagi!” Aku terkejut mendengar ketegasan dari ucapan Dominic.
“Iya aku makan.” Dia tersenyum lega, patin bakar jumbo di atas piring putih lonjong pun tandas setengah jam kemudian.
Tanganku mengelus perut. Dua porsi nasi masuk ke lambungku. Salah benar aku mengucapkan permintaan makan yang sama.
Sementara Dominic masuk ke rumah penjualnya, membayar, lalu keluar dengan mulut yang menekan sebatang rokok.
Aku beranjak, mengikutinya ke warung kelontong. Dia membeli es krim dan beberapa jajanan ringan lagi yang dimasukkan ke kresek hitam.
“Kita jadi nginep di sini?” tanyaku cemas.
“Aku pengen lihat sunrise sebelum pisah sama kamu.” Dominic kembali melangkah ke arah pantai.
Aku menatap punggungnya yang menjauh.
“Kamu yakin mau ke Malang secepatnya? Gak mau nemenin aku dulu?” ucapku sambil menyusulnya. “Gimana kalau aku kangen, aku nggak bisa berdiri seimbang tanpa kamu, Dom?”
“Kamu tahu rumahku, nomer hp ku, emailku, dan keburukanku. Cari aku kapan pun di rumah Malang, aku slalu ada di kamarku dengan kucingmu.” Dominic mengulum senyum.
Aku menguncupkan bibir. “Janji slalu ada waktu aku hubungi kamu?”
Dominic menyentuh bibirku dengan es krim cone yang dia keluarkan. “Kamu makan ini daripada berisik mirip cewek-cewek takut kehilanganku!”
Aku memegangnya seraya duduk di atas permadani pasir dengan angin yang sembribit aku mulai menjilati tumpukan es krim stroberi.
Dominic menoleh setelah menghabiskan sisa rokoknya. “Enak?” dia menatapku penasaran.
“Seperti biasanya.” Aku tersenyum senang.
“Coba sedikit.” Aku mengulurkan tanganku ke depan mulutnya, Dominic menggigit cone dalam jumlah besar lalu mengunyah kuat-kuat. “Nggak enak, Ras. Kurang banyak kayaknya.” Dia kembali menggigitnya dalam jumlah banyak hingga nyaris setengah Dominic habiskan sendiri.
“Kok tetap nggak enak, Ras.” Dominic mengernyit sambil memegang tanganku yang memegang es krimnya. Aku pun ikut mengernyit heran. “Masa iya nggak enak?” Aku mencondongkan badan berusaha untuk mencecap manisnya vanila dan lelehan pasta stoberi dalam kelembutan es krim, tak dinyana Dominic ikut mencondongkan badannya hingga mulut kami bersentuhan di atas dinginnya es krim dan crunchy-nya cone.
Dominic tersenyum, ia menurunkan tangannya seraya mengganti es krim yang ku harap sebagai penengah bibir kami dengan sentuhan lembut bibirnya di bibirku yang terpukau.
Dominic menarik diri, senyumnya merebak bagai kuncup bunga yang mekar di terpa matahari pagi. Aku menunduk, sial lagi-lagi aku teperdaya dengan mantan playboy cap kadal ini.
Dominic mengusap rambutku. “Lebih enak dari es krim manapun, bibirmu, tunanganku.”
__ADS_1
...🖤...