Jogja, Kamu & Kenangan

Jogja, Kamu & Kenangan
Mendakimu


__ADS_3

Dalam kondisi setengah sadar, dinginnya ruangan membuatku merapatkan dekapanku pada guling yang terasa lebih besar dan hangat dari biasanya. Aku menyamankan posisiku, tetapi seperti ada yang aneh hidungku menyentuh ujung rambut dan aroma sampo yang menggelikan. Namun seperti halnya mimpi yang serupa fantasi aku tidak peduli, aku semakin menyamankan posisiku.


“Enak, Ras?”


Untuk waktu yang cepat dan menegangkan.


Mataku langsung membeliak. Terpampang jelas di depan mataku lekukan leher Dominic


tempatku mengistirahatkan kepalaku, brewok di rahangnya yang di cukur, kuping yang peka dan sisi pipinya yang kokoh.


Mataku lari ke bawah, tanganku mendekap dadanya, sebelah kakiku nangkring di atas tubuhnya yang mengganjal di tengah pangkal paha.


Mampus, ketempelan jalangg darimana aku. Gini amat kelakuanku.


Aku memejamkan mata lalu mengangkat sebelah tangan dan kakiku perlahan-lahan seolah yang aku lakukan hanyalah ketidaksengajaan orang tidur. Nggak tahu apa-apa dan nggak mau tahu apa yang sudah terjadi.


Aku memunggunginya seraya meringkuk dan menarik selimut untuk menutupi seluruh tubuhku yang kagok.


”Ini sudah jam delapan, mi amore. Bapak dan ibu kita sudah pergi piknik. Kamu masih mau tidur lagi?” Aku ternganga ketika ia ikut bergabung dalam selimut dan mendekapku dari belakang setelahnya.


Dominic mengecup ubun-ubunku. “Wake up, mi amore.” bisiknya, dengan kelakuan sama ia mencari posisi nyaman sampai baju tidur kain satin yang aku gunakan tersingkap perlahan. Tangan Dominic membelai pinggangku.


Aku mencengkram punggung tangannya dari atas selimut. “Mau apa?” tanyaku serak ketika beberapa centi lagi jarinya akan mendakiku.


“Maaf aku tadi nggak sengaja, aku nggak sadar. Jangan balas kelakuanku, balas aja nanti malam kalau kita tidur.” kataku memohon. “Itu pasti nggak nyaman.”


“Benar.” Dominic melingkar kakinya ke atas kakiku. “Aku nggak bangun lebih dulu kalo kamu nggak menganggapku guling yang kamu peluk-peluk pakai perasaan, Ras.”


Dominic menyapu rambut dari wajahku sementara aku di serbu ketegangan yang berasal dari tubuhnya yang melekat di pinggangku.


“Aku pakai rasa tapi non logika, Dom.”


“Kamu hanya perlu merasakannya...”


“Mimpiku jadi resah setelah kamu bikin mataku ternodai.” Aku memutar tubuhku, menghadap matanya yang indah yang kini sesekali menggelap dan berseri-seri.


“Kamu jangan melakukannya sekarang tapi kita bisa mulai dari yang kecil-kecilan.”

__ADS_1


“Nggak ada itu yang namanya kecil-kecilan, cintaku dan milikku besar.” kata Dominic ketus.


Aku menguncupkan bibir dan beralih membelai bibir bawahnya. “Kecil-kecilan dulu kali, maksa benar kamu.”


Dominic tersenyum sembari menyentuhkan bibirnya ke bibirku. ”Aku terima, jadi maksudmu kecil-kecilan yang gimana, Ras?”


“Kamu paham apa kurang pinter!” Aku mendesis sebal. “Kamu ngerti aku gimana, aku sekarang juga baru ngerti ternyata kamu gimana... udah ah, kita buat ini mudah! Aku akan terima status kita lebih dari sahabat cuma kamu kalau kurang ajar aku marah, apalagi serampangan.”


“Jadi bisa aku mulai mesra-mesraan yang kecil-kecilan dulu?” tanyanya dengan polos.


“He'eh.” Aku mengangguk sambil menatap Dominic dengan sorot aneh ketika ia melepas kaosnya. “Mari kita coba.”


Dia terlihat sibuk dengan sesuatu di balik selimut sementara aku mulai terkejut ketika ia menarik celana satin pendekku sekali jadi.


Aku bergeming ketika menyadari tangannya membelaiku sampai gaun tidur dengan panjang sepinggang dan terbuat dari bahan yang super lembut terlepas begitu halus melewati kepalaku.


“Kita...” kataku gugup lalu mengigit bibir. “Kita masih sembunyi di dalam selimut kan, Dom? Kamu nggak niat buang barang ini ke lantai kan?” tanyaku sambil menatapnya sendu.


“Nggak, mi amore.” Dominic menggeleng, “Kita bisa merasakannya tanpa melihat.” Tangannya menyapu rambut di wajahku dengan penuh cinta saat aku masih memberanikan diri menatapnya.


Dominic tersenyum sambil merengkuhku dan tibalah raga kami bersinggungan. Aku di pelukannya yang hangat dan penuh kehendak. Kekar dan meradang seolah telah lama menanti hadirnya kepuasan ragawi dan harapan selama berbulan-bulan.


“Sedikit berlebihan dan... canggung.” Napasku tersentak ketika sensasi yang dihantarkan Dominic terasa menggoda sekaligus memancing.


“Aku tidak menolerir tanganmu sampai ke bawah, Dom. Aku gadis yang baik.” kataku setengah mengiba.


“Aku juga pria baik.” Dominic melingkarkan tangannya di pinggangku. “Aromamu, pelukanmu dan kehangatan tubuhmu bukan sesuatu yang biasa bagiku, Ras. Ini luar biasa.”


Selimut mendarat ke lantai, aku yang terlalu malu dengan situasi ini langsung tengkurap.


Sial, salah posisi, rutukku dalam hati namun sudah terlanjur jadi.


Dominic meraba punggungku dengan lidahnya. “Pengalaman pertama yang berbeda.” Ia menjelajahi sudut-sudut punggungku dengan usapan lembut.


“Kita mesra-mesraan, Ras.”


Sentuhannya yang ahli dan menggoda membuatku menggila. Dominic memusnahkan jarak di antara tubuh kami. Segalanya menjadi terbuka dan mendamba. Kami mulai menjalin, memerah dan mengunci kehendak ragawi dalam satu irama yang teratur dan rekat. Setelah itu berakhir, aku dan Dominic terkulai lemas dengan peluh yang merembes dari setiap pori-pori kulit.

__ADS_1


Dominic membungkuk seraya menutup tubuh kami dengan selimut. Dia mengusap rambutku yang lembab dengan ekspresi campur aduk. “Maaf kebablasan, mi amore."


Aku berdehem sembari menyembunyikan wajahku di dadanya lembab.


“Aku pikir kamu emang sengaja bikin aku seneng terus kamu sendiri bisa ambil kesempatan.” kataku hati-hati.


“Emang gitu maksudnya, Rastanty! Baru tahu ya, kasian... Ada kesempatan, sikat! Bisnis juga begitu, ada kesempatan sikat... Untung rugi bisa di kelola pelan-pelan. Kamu ngerti sekarang gimana aku menahan diri selama ini?”


“Iya,” Dominic menjawil hidungku tanpa sedikitpun memperlihatkan aura pemimpin yang membuatku terpesona dan teperdaya. Sekarang terlihat hanyalah Dominic yang lebih relaks dan seperti biasanya. Usil.


“Kamu seneng?” tanyaku.


“Seneng!” Dominic mengangguk, “Tapi itu hanya pelengkap Rastanty, aku lebih senang kamu mencintaiku seluas jagat raya ini.” ucapnya penuh khayal.


“Itu pasti.” Aku menyentuh pipinya. “Kita baru mulai dan aku lagi bersiap-siap untuk jatuh cinta sama kamu. Tapi Dom, sekarang aku lapar, mau makan juga mau tas gunungku. Kita harus ke makam Pranata bukan?” tanyaku mengingatkan.


“Kita tunda dua jam, aku masih ingin merasakan euforia pagi pertama kita di sini, bentar...” Dominic menghubungi Paijo lewat ponsel. Serentetan alasan dia berikan, mau tak mau Paijo yang sudah tahu alasan Dominic apa tetap patuh seraya mengaku akan menunggu di kedai kopi di daerah Prawirotaman.


“Mama tadi chat kunci lemari sudah ada di tas pakaian semalam, coba aku lihat dulu Ras.” Dominic turun dari ranjang sembari membuka resleting tas satu persatu dan menuangkannya ke lantai. Bunyi benda logam jatuh membuatku mendesis.


“Kok bisa baru ngasih tahu aku sekarang? Coba lihat hpmu!” Sedetik kemudian aku melotot. “Tuh, mama udah tadi malam ngomongnya. Kamu pasti sengaja biar aku pakai baju tidur ini.” Aku mencampakkan baju tidur satin lace ke lantai.


Dominic mengernyit sembari membuka lemari, dia mengeluarkan tas gunungku seraya membawanya ke tempat tidur.


”Bawa logistik nggak?” tanyanya sambil membuka tas.


Aku mengangguk sembari teringat dengan bubuk merica, obat tidur dan tali tambang. Tiga benda itu selalu aku bawa ke mana saja hanya saja fungsinya di kamar ini jadi berbeda.


Sekali lagi Dominic melakukan hal yang sama, dia menuang isi tas gunungku ke lantai. Dominic terbahak sambil menggelengkan kepala.


“Komplit banget isi tasmu, Ras. Pantes mama curiga kamu mau kabur. Ini lagi tali tambang di bawa-bawa. Emang benar, selain aku harus menikahimu karena aku cinta, aku juga harus menerima keanehanmu dengan lapang dada.”


“Ngaca dulu kali siapa yang aneh sekarang...” Aku melemparinya celana yang mendarat di punggungnya lalu ke lantai, “Kamu terlalu percaya diri dan sinting, Dom!” makiku seolah pergulatan ragawi yang terjadi tidak menyurutkan semangatku menggerutu.


“Sorry, mi amore. Rasanya seperti menghirup udara bebas...” Ia menyeringai sembari mengenakan celananya lalu membungkuk, memungut plastik logistik dan plastik pakaian gantiku.


“Mari kita kemah di hotel, rasanya pasti aneh!” guraunya sembari mengecup keningku dengan seringai komedinya yang tak hilang-hilang dari wajahnya meski aku sudah bersembunyi di balik selimut.

__ADS_1


...🖤...


__ADS_2