Jogja, Kamu & Kenangan

Jogja, Kamu & Kenangan
Bait Ke-delapan


__ADS_3

Selamat pagi di Jogjakarta. Secangkir kopi hitam dan merdunya senandung hujan di pagi hari membuatku berdiam diri di depan pintu kamar Pranata. Mengamati dengan lamat namanya yang kujahit sekenanya dengan kain flanel hidroponik warna-warni setelah ia genap seminggu tinggal di atap yang sama bersama kami penghuni kost-kostan Pak Budi dengan suasana rumah yang hangat penuh kata-kata bijak serta makian dari mahasiswa abadi yang ingin segera menyabet toga wisuda.


Aku menyempatkan tersenyum pada penghuni kost yang baru saja keluar dari kamar dan melihatku dengan raut wajah mengira-ngira.


“Mbak siapa?”


“Pacarnya Pranata.” Aku menunjukkan kamar di depanku.


“Oh, Mbak Rastanty. Gimana sehat?”


“Memangnya aku gendeng!” sahutku setengah kesal meski sebenarnya aku penasaran gosip apa yang bertebaran di rumah setelah aku pergi.


“Walah Mbak masih sadis saja nih, tapi ngomong-ngomong Mbak Rastanty terkenal lho di kost-kostan ini. Galaknya melebihi ibu kost!” serunya dengan wajah cengengesan.


Aku memaki dalam hati. Benar aku ini galak melebihi ibuku sendiri, ibu kost-kostan yang menganggap semua penghuni kost adalah anak laki-lakinya sementara aku hanyalah anak perempuan satu-satunya yang bisa di andalkan dalam bersih-bersih rumah tangga. Pernah suatu kali aku sedang mengepel lantai sembari memakai handphone. Dendang lagu yang menambah semangat membuatku tak sadar seorang Pranata melangkah tanpa dosa dengan sepatunya yang berlumur lumpur.


Aku menjerit, mengomelinya dengan serentetan lelahnya jiwaku menjadi asisten ibu kost-kostan sampai kubuang pel lantai dengan kesal. Sementara ia dengan santainya memperparah lantai basah dengan melonjakkan kakinya ke sana kemari.


Lututku lemas, kupandangi jejak sepatunya yang mengarah ke kamarnya yang mulai mengeluarkan suara radio. Untuk apa Pranata, kamu ini mau apa?


“Udah nggak di gaji sama ibu, dianiaya terus sama anak gadungan ibu. Enak bener jadi ajak kost!” protesku lantang.


Lima penghuni senior yang tahu aturan tak tertulis melongok bersamaan dari kamar paling ujung. Jelas mereka sudah patuh jika sudah waktunya aku ngepel dan beres-beres. Cuma yang satu ini bikin tegang syaraf kepalaku.


“Belum tau sama peraturanmu dia, Ras. Udahlah, pel lagi aja. Atau mau abang bantu?” tawar mahasiswa dari Betawi.


“Nggak perlu!” Pranata keluar dari kamar tanpa memakai baju seraya membungkuk, mengambil gagang pel lalu menatapku dengan ekspresi datar. “Keluar sana. Biar aku bersihin!”


“Emoh.” Aku menggeleng, “Nanti kamu bilang ibuku aku yang bikin aturan main kayak kemarin.” Aku menyaut gagang pel dari tangannya.


Pranata menarik ke dua sudut bibirnya. “Bagus dong, penghuni kost adalah raja dan kamu adalah dayangnya.”


Lima orang di kamar paling ujung terbahak hingga membuat dadaku mendidih.


“Gabung sini aja, Pra. Anaknya emang rawrrrr dari lahir...” teriak salah satunya.


“Rawrrrr, gundulmu.” Aku menjejalkan kain pel di ember hitam lalu memerasnya dengan emosi. Sementara Pranata tetap diam di tempat sambil menatapku dengan ketidakacuhannya. Aku menatapnya marah, “Malah ngapain kamu?”

__ADS_1


“Lihat dayangku bersih-bersih!”


Ohohoho, kurang ajar benar orang ini tapi aku harus menyudahi acara bersih-bersih ini, aku menggerakkan kain pel dari jejak pertama sepatu Pranata sambil mengeraskan hati. Satu jam lagi aku harus kuliah, mana di luar hujan lagi. Sungguh-sungguh cobaan ini tidak kunjung usai.


“Awas kalau kamu gerak sedikit aja sebelum lantai ini kering!” ancamku di depan wajahnya. Pranata mengangguk tanpa suara seraya menopang berat tubuhku ketika aku terpeleset tiba-tiba. Air dari ember tumpah ruah ke lantai, kerjaanku nggak selesai-selesai. Aku mengenaskan di depan matanya.


Pranata tersenyum. “Tolong camkan ini cewek galak, lebih hati-hati ya.” Wajahnya memenuhi wajahku.


“Semua ini tuh gara-gara kamu ngerti!” ungkapku frustasi. Aku menegakkan tubuhku lalu pergi dengan angkuh. Setengah jam kemudian, aku menatap lantai kost-kostan yang sudah bersih dan Pranata duduk-duduk di parkiran dengan badan mandi keringat dan air.


Aku menunduk dan tersenyum saat ini, wajahnya membuai mimpiku semalam, singkat namun lambat pun semalam ibu bilang cuaca di Jogja sedang memasuki musim setengah rendeng. Sebentar-sebentar hujan, sebentar-sebentar panas hingga membuat banyak orang meriang «merindukan kasih sayang»


Mengapa begini?


Aku menyeruput kopiku selagi Dominic baru keluar dari kamarnya, senyumnya merekah saat mendapati matanya menemukanku.


“Pagi, Rasta.”


Namanya yang kurangkai dengan flanel hidroponik tetap ada di pintu kamar kostnya, entah kenapa bapak dan ibu tidak melepasnya.


“Pagi, Dominic.”


“Jam enam.”


“Terus dari jam enam kamu cuma di sini?” tanyanya dengan sebelah alis yang terangkat.


“Gaklah, aku udah nyapu halaman sama cuci piring tadi.”


Dominic menguap lalu tatapannya tertuju pada pintu sahabatnya. “Kangen aku, Pra.” gumamnya.


Aku memeluk lututku lalu menyandarkan kepala di lutut. Mataku menangkap seluruh wajah Dominic yang kusut dan matang. Hidungnya mancung dan rambutnya sedikit pirang.


“Nggak capek kamu kayak gini terus, Dom?”


“Maksudmu?” Dominic ikut memeluk lututnya dan menyandarkan kepala di lututnya, dia menatapku. “Capek gimana, Ras?”


“Kayak gini, persahabatan kita dan kamu gak pengen menemukan kebahagiaanmu sendiri gitu? Cari istri atau kerjaan yang seperti cita-citamu?”

__ADS_1


Dominic mengacak-acak rambutku dengan gemas sembari tersenyum kecil, matanya tidak memancarkan kekecewaan atas pertanyaanku yang mungkin melukainya.


“Tumben perhatian sama masa depanku, Ras. Kenapa nih? Apa ada hubungannya sama pelukanmu kemarin?”


“Karena kamu juga peduli dengan masa depanku.” kataku tulus.


Dominic meluruskan kakinya setelah menyandarkan tubuhnya di dinding. Sekali lagi matanya menatap kamar Pranata. Ada kepedihan yang dia perlihatkan untuknya.


“Aku bisa mendapatkannya dengan cepat, Ras. Aku tampan, kaya, dan humble.” pujinya dengan ekspresi congkak yang dibuat-buat.


“Sekarang yang masih dalam tahap mengkhawatirkan itu kamu lho, mau sampai kapan kayak gini? Ibu dan bapakmu udah pengen cucu.”


“Kata siapa?” sahutku ekspresif.


“Culture!”


Aku menyunggingkan senyum lalu menatap kamar Pranata.


“Aku sedang mencoba berdamai dengan kenanganku, Dom.”


“Mau nangis di pundakku?” tawar Dominic.


Aku mendorongnya sampai badannya miring. “Aku udah puas nangis di pundakmu, lagian mandi dulu sono. Habis ini kita kondangan.”


Dominic terbahak. “Bajumu udah ada belum?”


”Baju?” Aku mengernyit.


“Kamu pikir kondangan pakai sepatu busukmu itu sama celana jeans? Mikir Rasta, Mikir.” Dominic menusuk-nusuk pelipisku gemas dengan jari telunjuknya.


Aku menepuk jidat. Bodohnya, aku lupa kondangan harus pakai baju bagus sementara kostumku adalah kostum backpacker-an.


“Oke, aku mau ke pasar cari kebaya. ” kataku sambil beranjak.


“Aku antar sekalian mengenang masa-masa bulan puasa.” Dia mendengus, “Gak bantuin cari belanjaan, nggak dapat jatah buka puasa sama sahur. Sekarang siapa yang mirip kompeni, Ras?” cibir Dominic sambil merangkul pundakku.


Aku tersenyum geli sambil mencubit punggungnya.

__ADS_1


......🖤......


__ADS_2