Jogja, Kamu & Kenangan

Jogja, Kamu & Kenangan
Jalan Tengah


__ADS_3

Pasty Dwayne menyambutku dengan senyum terbaiknya sebelum aku dan Dominic benar-benar masuk ke dalam rumah.


Di teras yang memiliki lampu gantung oval berwarna jingga bagai menunggu seseorang yang telah dia nanti tanpa sabar dan ia yakini akan memberi satu kebahagiaan yang tak terperi merentangkan kedua tangannya.


Dominic hendak memeluknya tetapi Pasty langsung mengibaskan tangan dan menggerutu. “Kau nanti saja.”


Dominic nyengir sambil mengendikkan bahu. Ia beringsut setelah diusir neneknya.


“Nenek mau Rastanty!”


Aku terbahak dalam hati seraya memeluknya. Grandma mendekapku lalu bernyanyi bintang kecil dengan suaranya yang tersendat-sendat dalam bahasa Inggris. Kebahagiaan sama sekali tidak bersembunyi di raganya yang sayu.


Aku menegakkan tubuh setelah seharian Dominic puas mengurungku di suatu kamar hotel. Memperhatikan perutku sambil tersenyum-senyum sendiri lalu memamerkan kebahagiaannya pada Paijo dkk lewat sambungan telepon. Mereka berjanji akan datang ke sini waktu aku sudah mengandung empat bulan nanti.


“Kita lanjut di dalam nenek.” kataku sembari melebarkan pintu.


“Marvelous... Nenek bisa mimpi indah sekarang, Rastanty.” ucapnya sambil memencet tombol kursi rodanya. Dominic mendorongnya sembari tersenyum geli.


“Memang nenek slalu mimpi buruk kemarin-kemarin?” godanya. “Ngeri sekali, wow...”


Nenek mengangguk tanpa ragu. “Pasti Dominic! Nenek tidak tenang keturunan Marisa berhenti di kamu dan adik-adikmu... Tapi lupakan...” Ia mengibaskan tangan, ”Sekarang sudah bagus.”


Nenek melambaikan tangan pada Mbak Iyah yang membawa dua piring ceper berisi ikan bakar ke ruang makan..


Mbak Iyah terseok-seok dengan tumbuh yang membungkuk ke depan nenek setelah mengelap tangannya di celemek.


“Ada yang bisa saya bantu, bu?” tanyanya kagok.


“Ambilkan dompet di kamar.”


Terseok-seok pula Mbak Iyah masuk ke kamar nenek di dekat ruang keluarga.


Aku menyeringai sembari menanti seratus dollar lagi memenuhi isi dompetku dengan semringah.


Dominic menjulurkan lidah dengan mata setengah tertutup, aku yakin dia iri. Pasti. Xixixi.


“Patah hati sekali, dimanja berkali-kali. Bejo banget kamu, Ras.” Dominic membungkuk, memindahkan neneknya ke kursi di ruang makan.


“Ini, Bu.” Sopan, Mbak Iyah menaruh dompet putih seperti menyerahkan harta yang paling berbahaya baginya jika hilang selembar saja kertas di dalam tas tangan itu.


“Kau pastikan membeli vitamin yang bagus-bagus, Ras. Kalau perlu beli dari luar negeri.”

__ADS_1


Aku menerima lima lembar uang pecahan seratus dollar. Dominic ternganga lalu berjongkok di depan neneknya.


“Hanya Rastanty?” tanyanya pedih lengkap dengan gelagat lara yang dibuat-buat.


“Kau sudah bawa dua ribu dollar! Kau gila jika memeras uang nenek, Dominic!” Pasty Dwayne memukul lengan Dominic yang kekar dengan tas tangannya. “Sudah, bangun. Makan!”


Aku menjejalkan uangku ke dalam tas seraya berusaha mengangkat Dominic dengan menyusupkan tanganku di bawah ketiaknya. Namun sekarang giliran bahuku yang di pukul nenek.


“Tidak usah dimanja, Rastanty. Kau tidak diperbolehkan mengangkat yang berat-berat!” ucapnya serius.


“Tuh dengar, Dom. Nggak usah manja!” Aku mendesis, “Bangun gih, kita makan-makan. Nanti aku kasih kamu dua puluh persen! Suer.”


Dominic bangkit lalu duduk, setengah ngambek dia melipat kedua tangannya di atas meja macam karyawan sedang mendengarkan bos bicara.


Aku membunyikan lonceng, tanda makan sudah siap. Tetapi kelima kalinya lonceng berbunyi, tidak ada orang yang menuruni anak tangga.


“Orang-orang pada keluar, Rastanty. Pada sibuk cari keperluan sambutan anak kau. Heboh sekali di rumah, bahkan, ya, nama anak kau sudah kami pikirkan.” jelas nenek menggebu-gebu.


Aku menatap Dominic yang hendak mengeluarkan protes. Aku mengerti pasti apa yang ingin ia utarakan. Cicilan nama anak kami dari mereka pasti membuatnya risau.


”Sudah, makan. Tidak usah memikirkan Marisa dan Prambudi, mereka sudah makan pasti.” lanjut nenek tegas.


Aku menyiapkan makan malam keduanya ke piring-piring keramik putih seraya menatap kedua orang itu dengan senyum ikhlas yang tak terperikan.


Usai makan malam, aku menyerahkan kopian hasil USG ke nenek sebelum menyeret Dominic yang memasang wajah mangkel ke kamar yang pindah di lantai dasar. Amazing, seperti sulap barang-barang kami di lantai tiga sudah pindah di sini.


”Uluhh... uluh... bayi besar mulai sensitif.” Aku menguyel-uyel wajah Dominic, “Mulai sebel sama nenek sendiri?” Aku cekikikan di dadanya seraya menggandeng tangannya ke tepi ranjang.


Dominic duduk dengan malas sambil membuang muka. Aku melebarkan gaun yang aku pakai, membenamkan wajahnya di kulit perutku. ”Kamu punya dia 24/7, Dom.”


Ia melingkarkan tangannya di pahaku, mendekap, merasakan sensasi kehangatan kulit perutku dengan usapan pipinya yang menjamah kenyamanan. Dominic meruntuhkan kekuatan kakiku yang menahan tubuhku dan setengah bobotnya.


“Udah, jangan ke bawah... bawah...” aku menahan bahunya lalu melangkah mundur, gaunku tersibak sebelum luruh menyentuh kulit pahaku.


Dominic mendengus sembari merebahkan diri dengan kaki yang tetap memijak lantai. Sepatunya kulepas, sebelum ikut berbaring di sampingnya. Langit-langit dikamar ini menerima pencahayaan dari lampu bohlam lonjong vintage.


“Bapak pernah ngomong kita harus cari bahagianya bareng-bareng. Di jalan tengah. Aku yakin, kita bisa usahakan ikut iuran namanya, Dom.” kataku menenangkan. “Kamu yang tenang.”


“Gak akan tenang...”


“Hanya nama...”

__ADS_1


“Meskipun hanya nama, aku bapaknya!”


“Iya.”


Aku membiarkannya berlarut dalam kegundahan hati. Dan segalanya menjadi seperti rangkaian normal sepasang suami istri yang merayakan kemesraan sekaligus kegundahan secara malas-malasan.


Dominic menyeka keringatku ketika ia tuntas melampiaskan kegundahannya pada setiap desah dan erang. Bayangkan betapa gagah dan lucunya ia sekarang meski wajahnya sedang cemberut.


Aku menangkup pipinya. “Udah kali ngambeknya... Ih, kayak bukan Dominic yang aku kenal. Yang tabah dan teduh, yang sabar dan menerima. Kamu kenapa, Dom?”


“Di luar hujan, di dalam hangat.” Dominic beranjak, ia membuka jendela kamar lalu meraih selimut untuk menutupi tubuh kami.


Aku tersenyum sambil mengangguk. “Kamu butuh udara segar?”


“Aku butuh pendapatmu, Ras.”


“Iya apa?” Aku mematikan lampu dengan remote. Kamar menjadi remang-remang, tanganku mencari posisi tangan Dominic untuk kukunci di dekapanku.


“Kita usahakan nama pertama anak kita adalah pilihan kita, urusan nama besar kita serahkan kepada Bapak-Ibu. Kamu setuju?”


“Boleh... Aku sekarang jadi anak baik kok, aku tidak keras kepala.” selorohku menggodanya.


Dominic mencubit gemas perutku sampai aku mendesis.


“Berapa uang sudah kamu terima dari nenek?”


“Lumayan...”


“Bagi-bagi, Ras. Tambah-tambah modal di kantor.” bujuknya penuh siasat.


Aku mendesis seraya mengubah posisiku. Aku menatap Dominic serius, berbeda dari semenit yang lalu. “Usahamu beneran lagi ada masalah, Dom? Masih imbas dari Kendranata?”


“GAK!” Dominic memamerkan giginya. ”Buat beli makan Stacy sama Marinda, sekalian adopsi anjing jantan. Ya?”


Aku kembali membalikkan badanku, memunggunginya seraya meraih tas selempang mini di lantai di bawah tumpukan pakaian kami.


“Dua ratus dollar kamu, sisanya buat aku, Mbak Iyah dan Pak Tedy.”


Dominic semringah sambil menatap uangnya. “Akhirnya di usiaku sekarang aku masih di anggap manusia. Bukan bank yang banyak uangnya.” Ia cekikikan seraya membetot tubuhku ke tubuhnya. ”Makasih, Rastanty.”


Aku memejamkan matanya dan mencebikkan bibir. Kurang asem.

__ADS_1


...🖤🤣...


__ADS_2