Jogja, Kamu & Kenangan

Jogja, Kamu & Kenangan
Menemukan Cinta


__ADS_3

Walau banyak yang baru aku tahu, aku sudah jauh lebih tenang mengawali hari-hariku. Aku siap beradu dengan kenyataan dan harapan serta beribu-ribu masalah yang akan datang lebih sabar. Aku akan melihat ke depan, ke samping, juga ke belakang bersama Dominic yang menjadi tempatku ngamuk sejadi-jadinya tanpa perlu menjadi seseorang yang lain.


Dan satu saja pelukan dari Irish di tubuhnya masih bisa aku terima. Itu pelukan perpisahan orang kebarat-baratan, aku akan mengerti walau sekali dua kali aku memanyunkan bibir melihat keduanya berpisah seperti menjadi pertemuan terakhir, penuh kalimat-kalimat ungkapan dari Irish yang nampaknya tidak lagi sanggup menyembunyikannya di hari terakhir ia di kota Malang.


Marisa menyenggol lenganku dengan sikunya. “Kamu cemburu, Ras?”


Aku nyengir seraya menggeleng. “Biasa saja!” gerutuku.


“Kau harus cemburu, kalo tidak nenek rambut silver itu akan terus ganggu kamu siang malam, Ras. Dia menyebalkan, serius. Dulu waktu aku memilih Prambudi, dia tidak setuju. Prambudi di suruh menunjukkan cinta yang berlebihan, terang-terangan sampai nenek itu lihat sendiri, Prambudi tergila-gila padaku.” Marisa berbisik yang luar biasanya terdengar sangat menggelikan di telingaku.


Cengiranku melebar. Dia curhat woi, ckckck. Pasti sangat menyusahkan sekali menghadapi nenek waktu muda dan bersahaja. Tapi ada benarnya juga aku harus menunjukkan rasa was-wasku dengan kedekatan Irish dan Dominic.


“Oke mam, aku akan cemburu. Walaupun muka ku pasti tidak lucu.”


“Ya, semangat!” Marisa mendorong bahuku sewaktu aku masih mencari ekspresi yang tepat untuk cemburu. “Sudah sana kasih tampang sedih, pegang lengannya!”


Aku menoleh sambil berjalan maju. Mama sama gilanya seperti nenek.


Irish menolehkan kepala saat aku mendekat sembari memanggil Dominic sementara ia sudah tahu kedatanganku.

__ADS_1


“Dominic tidak berkhianat, jangan marah padanya.” ucap Dominic dalam bahasa Inggris.


“Aku tahu kamu dilema, Irish. Tapi lama-lama Domi berkhianat kalo pamitnya kelamaan.” Aku memasang wajah sedih. “Sudahlah, kamu pulang ke kampung halaman, di sana lebih banyak yang besar dan bagus dan tidak beristri.”


Dominic mengulum senyum lalu melempar tatapannya ke langit. Tangannya merangkulku, tanganku merangkul pinggangnya.


“Tolonglah tahan perasaanmu, aku baru mulai jatuh cinta lagi dan status ini membuatku nyaris bipolar.” kataku serius. “Cintaku sama Dominic sudah jadi cinta gorila, gede, galak, dan mendominasi.”


“Tapi aku tidak seburuk dugaanmu.” sahut Irish.


“Betul, makanya daripada aku semakin berpikir buruk tentang kalian. Pamitannya sudah!” aku menurunkan tangan Dominic dari bahuku. “Salaman, terus bilang hati-hati di jalan. Itu aja!”


“Udah woy!” Aku memisah mereka berdua buru-buru dengan sekuat tenaga. “Doyan juga kamu di peluk!” Aku mendorong bahu Dominic dan tajam menatapnya. “Najis.”


Aku tertegun melihat Dominic menyeringai lembut lalu membalas kelakuannya dengan mendekatkan wajahnya dan tubuhnya padaku. Ia menyentuh bibirku dengan lembut dan lama sampai Irish memilih pergi dari taman belakang.


Detik itu juga ketika hanya aku dan Dominic di taman, dia menatapku sambil menjureng.


“Stacy, Marinda, dan orang-orang di kantor yang kerja bareng aku bakal kamu labrak juga Ras?” Dominic berdehem.

__ADS_1


Aku menggerak-gerakkan rahangku. “Memangnya siapa mereka? Ganggu kamu juga? Suka sama kamu juga?” tanyaku beruntun.


“Aku nggak tahu, cuma mereka salah satu kumpulan dari apel kemarin.” Dominic menghela napas.


Aku tak habis pikir, sebanyak apa cewek-cewek yang suka dengan pria ini Tuhan. Seberapa sabar yang perlu aku siapkan.


Terbungkuk di atas rumput, aku melangkah mundur seraya menceburkan diri di kolam renang. Aku mengambang dengan posisi telentang.


Aku ingat saat pertama kali jatuh cinta, itu mudah sekali dan ketika aku sudah menemukannya setelah kegelapan berlangsung, jatuh cinta untuk kedua kalinya ternyata butuh effort yang lebih keras.


Dominic menceburkan diri lima menit setelahnya. Dia memercikkan air dari kibasan rambut di wajahku.


Aku menyelam tiba-tiba, menurunkan celananya sebelum mengambil air di udara.


Aku menyeringai. “Kita bisa mencobanya di sini. Tidak berkeringat dan bau.”


Dominic menyerangku dengan senyum di bibirnya yang merekah, kami menyelam bersama seraya mengambil udara di pinggir kolam. Dia mengukuhkan posisinya dengan baik sebelum aku menyeringai di depan Marisa yang memiringkan jari telunjuknya di pelipis kanan.


...🖤...

__ADS_1


__ADS_2