
Komitmen dan target. Aku bersumpah bisa menyelesaikan misiku berdamai dengan kenangan ini walau aku harus bekerja keras untuk seseorang yang telah berjuang demi aku entah ia kehendaki kepenuhan hati atau atas dasar janji. Rasa-rasanya misi ini serupa pertaruhan pikiran, logika dan perasaan yang bercampur dengan keadaan sekarang. Dan pertaruhan harus ada hasilnya. Entah sempurna atau tidak, yang penting usaha. Sebab selumrahnya manusia, tidak ada yang sepenuhnya lupa atas kenangan mantan segesit atau selambat apapun kita mencobanya.
Nggak percaya? Masa sih? Pasti adakan satu di antara kalian yang mendadak mengingat si dia yang pernah mencuri hati? Bedanya sekarang momen itu sudah biasa-biasa saja, gak istimewa sama sekali bahkan mungkin kamu justru sadar jika yang lalu bukanlah yang terbaik bagimu. Terimalah putusnya hubungan itu dan rangkullah masa depanmu. Setidaknya fase baru ini juga sedang aku putuskan matang-matang.
Aku membuka penutup mata berwarna hitam yang di pakai Dominic, ekspresinya langsung berseri-seri sesaat setelah ia mengerjapkan mata lalu tersenyum menghadap kamera yang aku pegang.
“Andai Pranata ada di sini, Ras. Dia pasti lega aku udah memenuhi keinginannya!” seru Dominic. Aku mengangguk, senyumnya pasti menyinari banyak harapan.
Dan di tengah-tengah pohon beringin kembar yang melegenda bernama Kyai Daru dan Nyai Daru pun mitos masangin yang menjadi daya tarik wisatawan baru saja Dominic selesaikan dengan daya juang. Konon katanya, siapa yang sanggup melewatinya pengharapan akan terwujudkan. Kendati begitu, segalanya kembali pada yang telah menggariskan takdir. Namun bagi Dominic yang sedang beruntung, setiap langkah dan intuisinya untuk bisa berada di depan mataku sekarang dia akhiri dengan beberapa kalimat pengharapan yang dia panjatkan dengan mata terpejam.
“Amin.” Dominic mengusapkan telapak tangannya di wajah.
Aku mengernyit, doa apa yang dia panjatkan? Kok aku jadi penasaran kenapa dia begitu khusyuk.
“Kenapa, Ras?”Dominic menggaruk sikunya sambil menatapku.
“Doa apa kamu tadi?” tanyaku menyelidiki.
__ADS_1
“Ckckck.... Mau tau aja apa mau tau banget...” selorohnya lalu meniup poniku. “Doa yang baiklah, apalagi, masa doa masuk neraka!”
“Gak lucu.” Aku mengerucut bibir sembari menyimpan ponselku di tas. “Apa pun doanya aku pengen tau, Dom!” desakku, menatapnya tanpa ragu.
Dominic balas menatapku dengan mata indahnya. Sudut bibirnya terangkat, aku mengira dia pasti berpikir macam-macam. Pengganggu satu ini kan selain kurang waras juga kurang ajar. Tak terhitung banyaknya gadis yang menjadi incarannya sewaktu kuliah. Mana mungkin sanggup jomblo lama.
Aku dan Pranata bahkan menghitung jumlah gadis-gadisnya, tahu rumahnya juga. Kupikir setelah Pranata pergi, dia insyaf, ternyata ada rahasia di balik insyafnya Dominic yang sering membuatku terheran-heran kenapa cuma aku tempat yang dia tuju.
“Aku cuma berharap kita gak usah lama-lama mencoba penjajakan ini, Ras. Gitu aja kok.” Dominic menunjuk sekerumunan pedagang kaki lima yang menjajakan makanan dan minuman aneka jenis dengan tatapannya. “Mau ke sana?”
Dominic terbahak sambil menyentuh kepalaku. “Nggak terima? Protes aja sana sama Pranata, Ras.” suruhnya sembari meninggalkanku dengan gaya, Dominic berjalan, menginjak rerumputan dan gadis-gadis manis seusia anak SMA menatapnya dengan wajah semringah.
Aku menghela napas, di depan mataku. Dia terang-terangan memesona mereka, dan aku merasa gimana gitu pasalnya Dominic hanya memakai celana jins panjang yang di potong asal-asalan menjadi celana tiga perempat dan kaos panjang yang mengesankan ia seperti cowok-cowok rock and roll, ini gimana kalau dia pakai jas kerja klimis, ingin sekali aku menyalak tetapi aku hanya melangkah, mengikuti Dominic yang cuek banget. Wajahnya lurus-lurus amat seperti tiang listrik.
“Kenapa kamu nggak protes waktu Pranata ngasih wasiat itu, sementara bisa jadi kamu nggak mau?” tanyaku setelah berada di samping Dominic, ia menggandeng tanganku saat menyebrang sebelum tatapannya menusuk manik mataku di depan tenda penjual jagung bakar. Bahkan riuhnya situasi sore ini membeku. Menghanyutkan aku.
“Kenapa aku nggak protes?” Dominic menajamkan matanya. “Aku nggak sinting seperti yang sering kamu bilang, Ras. Kita sama-sama tau gimana kondisi Pranata waktu di keroyok pelaku klitih...” Dominic menepuk-nepuk dadanya dengan mata yang mendadak berkaca-kaca, “sakit aku Ras, Pranata harus mati seperti itu karena seharusnya aku yang pergi ke rumah Setiawan untuk diskusi open forum kemahasiswaan.”
__ADS_1
Dominic menghela napas dengan keras. “Aku yang seharusnya mati, Rastanty. Pranata gantiin aku karena aku—”
“Kamu cacar air!” lanjutku karena Dominic tak sanggup melanjutkan ucapannya. Tenggorokannya tersendat tangis yang ia tahan-tahan.
“Aku minta maaf buat kita berdua.” kataku sambil mengelus lengannya. “Aku tahu maaf tak akan menyembuhkan penyesalanmu, Dom. Dan Pranata mungkin juga gak tahu akan seperti itu nasibnya.” Aku berusaha tersenyum untuk Dominic.
“Ternyata nggak cuma aku yang harus move on, maaf ya.” Aku mengusap punggungnya.
“Andai kamu dengar sendiri, Ras. Mungkin kamu bakal protes atau malah pingsan duluan.” cibir Dominic dengan senyum nakalnya.
“Aku pingsan berkali-kali!” kataku mengoreksinya sebelum langkah-langkah kami mulai bergerak. Mengantri membeli dimsum, es krim wafel dan mencari tempat yang lengang sambil menghadap ke ufuk barat yang berlangit jingga.
Barangkali luka datang karena kita terlalu bahagia. Barangkali bahagia datang setelah luka yang bertubi-tubi. Makanya beberapa pujangga mengatakan, cintailah pasanganmu seadanya, jangan berlebihan, agar sakitnya juga tidak berlebihan.
Aku tersenyum. Sudah lama namun masih sama rasanya senja di tempat ini, memaku tatapanku dalam hening yang aku nikmati dengan orang yang sama sebab masih kurawat kenangan indah di sini bersama Pranata dan Dominic, dua sahabatku, laki-laki yang diminta bapak untuk menjaga Rastanty meski hanya sedikit batas antara sedih dan bahagia aku malah tersenyum geli.
...🖤...
__ADS_1