
Aku menatap bibir Dominic yang benar-benar terlihat jontor setelah semalam aku menghabiskan waktu di rumah Priska dan baru pulang di pukul delapan pagi.
“Perlu ke rumah sakit?” tanyaku di depan kamarnya sambil melepas jaket dan sepatu.
Dominic berusaha berbaring lalu menutup bibirnya dengan selimut. ”Priska tadi pagi bukaan lima setelah uhmmm... sama suaminya. Aku nanti mau ke sana. Kamu mau sekalian periksa, Dom?”
“Nggak usah, bapak sudah antar aku ke klinik dokter Afifah.” ucapnya samar-samar.
“Udah makan?”
“Aku sudah makan bubur buatan ibu!”
“Senangnya udah ada yang ngasih perhatian sama kamu.” Aku menyunggingkan senyum dengan malas seraya masuk ke kamarnya.
Obat-obatan klinik seperti Paracetamol dan anti peradangan berada di bawah lampu meja berdampingan dengan segelas air putih, dan teh hangat.
“Malam yang suram?” Aku menyugar rambutnya yang menutupi kening ke belakang. “Priska tadi nanya kita butuh pagar ayu dan pagar bagus nggak, kalau butuh anak-anak kampus mau tapi dicariin seragam.”
“Tumben cepat ngambeknya?” Dominic menyipitkan mata dengan suara samar dari balik selimut. Ia tidak nampak antusias dan hanya menerima kedatanganku dengan senyum tipis.
Punggung jariku menyapu wajahnya seraya menyingkirkan selimut yang menutup setengah wajahnya dengan hati-hati. Senyumku timbul ketika bibirnya nampak menggemaskan.
“Gak lucu, Ras.” dengusnya mangkel. “Aku yakin Kendranata nggak pulang ke Surakarta sebelum mukanya sembuh.”
“Aku nggak peduli.” Telunjukku meraba bibirnya hati-hati. “Mungkin ini pertanda kamu memang nggak boleh cium aku dulu sebelum kita nikah, tapi bibirmu gemesin, Dom.”
Telapak tangan Dominic menahan keningku sampai alisku ke tarik.
”Sebelum bibirmu tambah bikin bibirku sengsara, kamu kenapa? Dapat pencerahan apa kamu di rumah Priska?” tanya Dominic penasaran.
Aku yakin hal-hal yang semalam terucapkan sampai membuat Priska dan suaminya yang ternyata dosen kita sendiri ternganga sedikit mengubah cara berpikirku yang setipis kertas.
Meminta kejujuran Dominic harus menggunakan trik. Tapi sungguh aku jijik dan geli dengan trik yang mereka sampaikan.
“Dominic itu setengah bule, Rasta. Nakal sitik baginya wajar, wong pasti dia tanggung jawab.” ucap pak dosen yang umurnya hampir setengah abad lima tahun lagi.
“Bapakku sudah wanti-wanti nggak boleh nakal, Pak. Nanti aku tambah di cap ndablek!” dengusku kesal.
__ADS_1
“Perhatian yang berlebihan seperti bukan kelakuanmu yang dulu-dulu bagi Dominic itu sudah bisa di bilang nakal sedikit, Rastanty. Kamu sudah seumuran Priska, ajarin temanmu itu, dik.” Pak dosen keluar rumah sambil memakai sarung.
Priska terbahak-bahak sambil mengelus-elus perutnya. Dan pelajaran singkat dari pasutri kampret semalam aku praktek hari ini. Aku keluar dari zona nyamanku untuk melebur pada raga yang telah memberiku satu kenyamanan dan kemudahan.
“Pencerahan yang bagus-bagus, nggak terima kamu?” desakku sambil merebahkan dengan posisi membelakangi. Aku mengambil hp Dominic seraya mencari fitur kamera.
Dominic menopangkan dagunya di kepalaku.
Tatapannya terlihat di kamera saat aku mengambil kenangan bibirnya yang jontor.
“Aku nggak bisa langsung percaya, tapi terserah kamu.” Tangan Dominic melingkar di pinggangku seraya menekannya lebih rapat ke fisiknya. Kakinya mengungkung kakiku. “Daripada aku putus asa.”
Aku memutar tubuhku di bawah kuasa Dominic. Ia tersenyum geli setelah mendengus jengkel.
“Bukannya ini baru awal buat kita? Cepat banget kamu putus asa.”
“Awal buat kamu, bukan buatku, Ras!” tukasnya malas.
“Awal buat kita!” kataku tegas, “Level posesifmu jauh meningkat dari status sahabat!”
“Yes, mam. How are you?” Dominic mencium keningku dengan hati-hati sebelum bangkit dari tempat tidur. Dia duduk membungkuk di tepi kasur.
“Prepare sudah semuanya, mam. Cuma itu, seragam resepsi dan seserahan mam atur dari Malang, aku tidak ada waktu banyak sekarang.”
“Kau yakin tidak punya waktu, Dominic? Kau pasti sekarang hanya leha-leha di kamarmu itu!”
“Yes, mam. Aku di kamar, lagi capek habis prewedding.”
“Prewedd, oh wow, pasti cute.” Marisa tertawa gemas di sana. “Semangat ya, malam pertama sudah di depan mata, Nak. Kamu harus ke salon, potong rambut, bersih-bersih bulu dan potong kuku. Kau harus bikin Rastanty nyaman.”
Mataku membesar perlahan sampai dadaku sesak napas. Malam pertama memantul-mantul di kepala sementara Dominic meringis aneh ketika mengetahui aku begitu terpukau karena ucapan itu.
“Siap, mam. Aku telepon nanti lagi, Rastanty baru ada di kamar.”
“Oh wait... wait... wait... tanyakan sekalian ukuran semua pakaiannya dan ukuran sepatunya, Nak. Kebetulan mama nanti mau shopping.” ucap Marisa yang diakhiri dengan semangat menggebu-gebu.
“Bicara sendiri sama Rasta, mam. Ukuran bikin kepalaku tambah keruh.”
__ADS_1
“Males... mama ingin kalian tahu ukuran pakaian masing-masing!”
Dominic menatap layar ponselnya yang meredup. Aku beringsut mundur sambil tersenyum kaku.
“Aku akan jawab nggak perlu kamu tanya.” Aku minta hpnya sambil tersenyum santai.
Dominic mengangkat bahu sambil kembali merebahkan diri lagi. Tangannya melingkar di perutku sementara aku mulai menulis ukuran semua pakaianku.
“Aku udah, nanti kalau mama masih bingung telepon aja. Kamu gimana? Mau tulis sekalian gak?”
“Mama sudah tahu!”
“Tapi aku belum.” Aku menaruh ponselnya di tangan. “Kata pak dosen kamu pasti gede, aku di suruh hati-hati.”
Dominic tergelak sambil berusaha mengigit punggung bawahku. “Jadi tadi malam kalian bahas apa saja kok sampai gede-gede di bahas?”
“Apa saja yang bagus-bagus, udah aku bilang nggak percaya!”
Dominic menghidupkan hpnya. Tawanya yang sudah reda kembali meledak-ledak ketika membaca semua yang aku tulis.
“Aku yakin mama nggak peduli dengan permintaanmu, mama cuma butuh ukuranmu ya walaupun sebenarnya mama bisa lihat langsung di lemari kamarmu. Mama cuma iseng, Rasta.” Dominic menggeleng kepala dengan senyum geli yang membuatku menguncupkan bibir.
“Biarin yang penting udah kujawab.” Aku mengembuskan napas panjang sebelum mengungkapkan apa yang telah aku tahan-tahan sejak semalam, “Kamu kecewa tadi malam, Dom?”
Dominic tersenyum kecil. “Kamu yang akan kecewa, Ras. Tapi aku jengkel, cewek kalo nggak cari masalah ya cari perhatian. Gitu terus, muter-muter di masalah yang sama, biar hidup nggak bosen. Apa nggak ada gitu yang minat lihat masa depan aja!”
“Aku minat lihat masa depanku di sini.” Kepalaku merunduk, mataku terpatri di matanya yang indah, hidungku menghirup dalam aroma obat merah di wajahnya, mataku memejam. Bibirku hendak memusnahkan jarak di antara bibir kami, tapi bersamaan dengan itu, kami tersentak oleh suara pintu yang terbanting keras.
“Ras... Bapakmu datang... Buruan keluar, nak-anak kost bisa kena semprot ntar!” ucap Romi menggebu-gebu.
Aku langsung mencelat dari kasur seraya memunguti sepatu dan jaketku di lantai. Aku kembali menghampiri Dominic untuk membelai pipinya dan menggunakan sisa waktu yang aku punya.
“Bye, Domi.” Tanpa mempedulikan Romi dan bibirnya yang bengkak, jarak dibibir kamu lenyap. “Rumahku.”
Dominic tersenyum, kapan pun itu, senyumnya akan slalu membuatku kembali ke pelukannya karena ia tempatku pulang.
...🖤...
__ADS_1