Jogja, Kamu & Kenangan

Jogja, Kamu & Kenangan
Teja


__ADS_3

Dua tahun berlalu.


Budiman berlari kecil mengejar kupu-kupu berwarna kuning di halaman rumah sambil berceloteh tentang lucunya hewan itu. Kecintaannya pada hewan membuat rumah ini memiliki hewan edukasi aneka jenis ramah anak. Selain Stacy dan Marinda yang di tarik dari jadwal patrolinya di kantor, ada pula kelinci, kucingku yang berkembang biak dan burung-burung aneka jenis. Tapi satu yang membuatku nyaris ingin memotongnya menjadi ayam goreng.


Ayam potong berwarna-warni yang kami pelihara dari sebesar genggaman tangan kini sudah menjadi segerombolan preman yang menguber-uber semua orang ketika lapar.


Aku menghela napas. Bocah yang mewarisi wajah setengah bule Dominic tetapi kulitnya sepertiku itu berjalan dengan pesona bayinya yang meluluhkan setiap orang melihatnya.


Aku yakin ia akan setampan Dominic dan membuatku was-was. Berapa gadis yang akan naksir padanya? Selusin? Dua lusin? Atau nanti hanya ada satu gadis yang ia kejar-kejar seperti kelakuan bapaknya?


“Mami capek.” Keringat-keringat kecil di keningnya ia keringkan ke dasterku yang menggantung tepat di hadapan wajahnya.


“Mami ke...napa susah sekali tangkap buttelfly? Meleka telbang senang sekali Budi susah tangkapnya.”


“Butterfly punya sayap, dia bisa terbang kamu tidak. Makanya susah, Budi.”


“Budi mau punya sayap.”


“No!” Aku menggeleng cepat. ”Jangan berkhayal, Budiman. Sayap hanya untuk perempuan!”


”Kenapa no?”


Aku menggandeng Budiman seraya mengajakku ke arah Dominic yang sedang mencuci mobil dan memandikan Stacy yang berguling-guling di konblok menerima semburan air dari selang.


“Pap, Budiman pingin punya sayap seperti butterfly...” aduku padanya.


“Yakin boy?” Dominic menyabuni bulu Stacy sembari menatapku dan anaknya. “Kalo kamu punya sayap itu aneh, Budi. Mami dan papi saja tidak punya.”


“Budi pingin main dengan butterfly.”


Dominic menatapku sambil membilas bulu Stacy. Sepuluh menit kami hanya mendengar semburan air sebelum ia menyuruh Pak Tedy mengeringkan bulu Stacy dengan blower.


“Kenapa harus butterfly? Kenapa tidak elang?” ucap Dominic sewaktu menggendongnya.


“Elang?” gumam Budiman. “Apa itu elang?”

__ADS_1


“Rajanya burung.” Dominic tersenyum. “Kamu bisa bermain dengan butterfly sekarang, tapi kamu harus memiliki sayap seperti elang. Kuat!” katanya sungguh-sungguh.


“Baik, papi.” Anggukan kecil Budiman kami tanggapi dengan senyuman.


Dominic menatapku seraya mengulurkan tangannya. Ia mengusap rambutku seolah tahu kadangkala beberapa tingkah Budiman mengkhawatirkan kepolosanku dalam merawatnya.


“Dia sedang mengeksplorasi sesuatu yang baru di sekitarnya. Tenang. Beberapa Minggu lagi kamu juga harus menyiapkan energi untuk melahirkan Teja.” Dominic menenangkan.


Tapi tubuhku semakin lemas. Bukan Diana yang menjadi anak kedua kami, perbuatan di kost-kostan kala itu tidak membuahkan hasil, dokter mengatakan belum rezekinya tapi Teja yang berarti senja karena kami membuatnya sembari menikmati senja. Lucu ya, seindah-indah senja waktu itu kalah dengan keindahan Dominic yang di mabuk kepayang dan kedua feromon kami yang saling mengikat.


Keluarga bilang tak mengapa. Diana masih bisa kami perjuangkan di waktu mendatang. Masih banyak kesempatan selagi masih ada keinginan untuk membuat Diana hadir di kehidupan kami.


“Dominic, Budiman, dan Teja. Tiga laki-laki yang akan mengacaukan hari-hariku. Luar biasa.” kataku sembari melangkah, mendekati Stacy yang siap di ajak jalan-jalan keliling komplek.


“Aku bawa Stacy, Pap. Satu putaran komplek.” kataku sambil menggulung tali harnes di pergelangan tanganku.


Dominic mengangguk sambil mengibaskan tangannya. “Dua putaran juga boleh, biar bagus jalan lahirnya!” serunya seraya terkekeh geli.


Aku memutar mataku sembari mengikuti langkah Stacy yang kegirangan di ajak bermain, tetapi belum genap satu putaran perutku terasa mulas dan Stacy menggonggong di depan rumah yang sama-sama memiliki anjing ras Labrador.


Stacy mengeram. Aku menghela napas seraya menahan perut bawahku dengan tangan kiri.


“Up to you.” Aku yang tidak sanggup berjalan memencet bel rumah itu sekalian. “Help me please.”


Laki-laki tampan setinggi Dominic keluar dari garasi mobil. Ia mengernyit sembari menatapku yang pakai daster batik dan sendal jepit anti selip. Tetapi matanya lebih berlama-lama di perutku.


“Perutku mules, dan anjing kita sepertinya pingin temenan.” ucapku kikuk.


“Lalu?” Dia membuka pintu gerbang, mempertemukan Stacy dengan anjing yang jelas-jelas pejantan. Keduanya saling membaui aroma di bawah ekor seraya memproduksi keturunan yang tidak akan jadi tak jauh dari kami berdiri.


“Stacy steril.” jelasku. ”Tapi ini lebih penting. Maaf aku ganggu lima menit saja!” kataku serius dengan mimik muka tak tenang.


“Aku harus pulang, tapi perutku mulas sekali. Bisa tolong antar ke rumah pak Prambudi, sepertinya saya hampir melahirkan.”


Tarikan napas panjang terlihat di wajah laki-laki itu sebelum mengeluarkan mobil buggy golf dari dalam garasinya.

__ADS_1


“Naiklah.”


“Terus anjingku gimana?”


“Nanti saya antarkan pulang.”


Tanpa pikir panjang aku meninggalkan Stacy yang kurang ajar. Alih-alih lari ke rumah untuk memberitahu Dominic aku sedang kesusahan.


Sesampainya di halaman rumah. Dominic yang masih membersihkan mobil dan membiarkan Budiman memandikan Miranda terkejut melihatku di antar seorang pria dengan menggunakan mobil buggy golf.


“Kenapa, Ras?” Tatapannya sekilas tertuju pada pria rupawan di sampingku. “Apa terjadi sesuatu?”


“Perutnya mules, sementara Stacy sedang melepas hasrat di halaman rumah saya dengan Labrador milik saya. Nomer 15A.”


Dominic membantuku keluar dari mobil buggy itu seraya memegang perutku. “Kencang. Kamu panik sekali pasti.” Dominic menyurukkan kepalaku ke dadanya.


“Terima kasih tetangga, titip Stacy sampai saya pulang dari rumah sakit.” ucapnya seraya mengantarku ke dalam mobil yang baru saja ia cuci, masih basah dan berbusa.


“Tahan sebentar, Ras.” Ia gegas masuk ke dalam rumah, memanggil Mbak Iyah dan juniornya, memanggil pengasuh Budiman dan Pak Tedy untuk menyelesaikan tugas memandikan Miranda.


Sepuluh menit yang cepat. Mobil yang aku tumpangi penuh sesak dengan orang-orang pendukung proses melahirkan Teja. Sementara buggy golf sudah pergi sejak Dominic pontang-panting menyiapkan keperluan melahirkan.


Dominic menggenggam tanganku. “Sabar ya, tahan setengah jam. Aku pasti menemanimu berjuang.”


Ucapan Dominic menghadirkan sebuah ketenangan yang asri, yang mampu membuatku menarik napas dan mengeluarkan dengan santai. Tetapi seperempat jam kemudian, desakan kuat terjadi di perutku.


Aku meremas otot bisep Dominic sembari menahan napas. “Buruan, Dom!”


“Papi!” Ia mendesis kesal seakan menahan rasa sakit di lengan atasnya. “Ini juga udah ngebut woy...”


“Tambah lagi kecepatannya... Kalau enggak, kalau enggak...” Aku mengerang kesakitan setelah ketuban pecah. “Ini sudah hampir keluar, Dom! Huh ... Huh ... buruan.”


Dominic terkekeh sepanjang perjalanan yang rasanya tidak habis-habis itu. Dia membayangkan Teja keluar di dalam mobil dan itu benar-benar terjadi tepat ketika mobil berhenti di depan pintu rumah sakit.


^^^(⁠✿⁠ ⁠♡⁠‿⁠♡⁠)^^^

__ADS_1


__ADS_2