Jogja, Kamu & Kenangan

Jogja, Kamu & Kenangan
Bait Kesebelas


__ADS_3

Ada noda dalam jejakku yang kadangkala membuatku risi sekarang. Dulu cintaku dan Pranata membuat iri, tak jemu melihat kedekatan kami, membuat senyum-senyum sendiri lalu sekarang nelangsa yang belum larut dari raut wajahku terus menerus membuat iba saksi yang memantau kondisi kami yang terbaring tak berdaya di ranjang rumah sakit.


Aku tersenyum geli sambil mengaduk mangkok bakso satunya yang belum kusentuh. Benar kata Dominic, aku perlu membuat perubahan pada diri ini. Perubahan yang mempertontonkan bahwa aku telah bangkit. Rasanya muak terus dipandang seolah-olah aku wanita yang terus-terusan merana.


“Yakin mau aku suapi?” Dominic menganggukkan kepalanya antusias seperti anak kecil bertemu pengasuh yang cocok. Dia menarik kursi lalu memposisikannya di depanku.


Dominic membuka mulutnya. Aku tidak kuasa menahan senyum saat ia membujukku lewat sorot mata yang mendelik lalu mengedip genit.


“Cie...” Paijo mendorong bahu Dominic ketika satu butir bakso berhasil masuk ke mulutnya.


“Pepet terus Dom, jangan kasih kendor, lagian dulu kamu sempat demen to sama Rastanty sebelum di gasak Pranata!” seru Paijo, serta-merta kekehan dan sorakan cie-cie yang seru dan membahana dari teman-teman kami memancing perhatian tamu yang lain.


Dominic tersedak bakso kedua yang masuk ke mulutnya yang memiliki kuah pedas, bukannya buru-buru ia mencari air untuk meredakan rasa pedas yang mengurai di tenggorokannya Dominic menaruh jari telunjuknya di depan mulut Paijo.


“Lamis banget lambemu, rek!” ucapnya kesal.


Paijo terpingkal-pingkal sambil merangkul Dominic yang terlihat begitu tegang sekarang, cemas dia menatapku yang biasa-biasa saja atas ungkapan rasa yang diwaliki Paijo. Perasaan suka itu hal wajar dan tentang waktu yang sudah terjalin di antara kami rasa-rasanya jika perasaan suka tidak ada diantara kami, tidak mungkin kami menjadi sahabat sejati sampai setua ini.


Aku tersenyum selayaknya sahabat yang pengertian, aku tahu Dominic merasa tidak enak karena telah menodai persahabatan ini dengan ucapan Paijo yang ngawur. Tapi aku maklum, namanya juga ketemu teman lama. Ora guyon, ora gayeng. (Tidak bercanda, tidak meriah )


“Udahlah, Dom. Duduk lagi sini. Bukannya kamu tadi bilang luwe banget terus pengen makan gratisan banyak-banyak? Ayolah, nggak usah malu-malu!” Aku menepuk kursi di depanku sambil cengengesan. “Lagian, Jo. Dominic emang suka sama aku daridulu wong di kost-kostan dia sering gangguin aku.” imbuhku memanasi-manasi mereka yang silih berganti pergi ke meja prasmanan lalu kembali lagi ke sini

__ADS_1


“Noh, Dom. Rastanty udah bales rasa sukamu, bentar, aku ambil makanan dulu.” Biang kerok Paijo berlalu.


“Tapi kenapa kamu malah milih Pranata, Ras? Tega ya sampean, aku patah hati lho waktu tau kamu sama Prana jadian.” Dominic sudah duduk lagi di depanku, dia meminta mangkok dan hendak ia makan sendiri. Aku menggeleng sambil menepis tangannya dengan tangan kanan.


“Jatuh cinta tidak harus pada orang yang lebih dulu datang di kehidupan kita, Dom. Lagian salahmu sendiri gak gercep! Kayak Pranata itu lho, dash-desh, perhatian kecil-kecilan tapi rasa sayangnya sedunia.” pujiku hingga membuatnya cemberut.


“Udahlah, nanti Prana makin nggak tenang kita bicarakan terus-terusan.” pungkasku sambil menyuapinya. Ia mengangguk sambil mengunyah bakso dan makanan lainnya yang kami ambil bergantian sebelum rombongan kami yang dulu sering bikin dosen menarik napas dalam-dalam lalu pusing perlahan-lahan membentuk antrian mengular di dekat panggung pelaminan.


”Ntar waktu mereka lempar buket bunga kamu ikutan antri gak, Ras?” tanya Dominic, dia setia di belakangku sambil sesekali menyentuh pinggangku.


“Ikutlah, ikut senang-senang aja gitu maksudnya.”


Aku terbahak tanpa suara, orang satu ini emang kebanyakan halu dan berharap sampai-sampai apa yang dia omongkan slalu jujur dan apa adanya. “Ntarlah, Dom. Buru-buru banget sih kamu. Paijo tadi aja bilang makin tua santannya makin kental. Kamu tau apa maksudnya, Dom? Kok aku nggak mudeng yo... Apa aku tanya bapak?”


“Jangan, Ras!” sergah Dominic cepat-cepat lalu terbahak-bahak sambil membenturkan kepalanya di belakang kepalaku dengan gemas. “Kamu gak usah taulah maksudnya, saru. Kamu malu sendiri nanti.”


“Kok saru? Terus tadi pas di rumah gondal-gandul maksudmu apa, Dom?” tanyaku bisik-bisik.


“Gandulane ati, Rastanty.” Dominic terbahak-bahak sampai semua yang mengantri tak kuasa ikut terbahak-bahak di depan sang pengantin yang ikut nimbrung mendengar cerocos Dominic tentang ucapanku.


“Ya Allah Gusti, Pranata. Aku pengen ngakak tur pengen nangis. Kok bisa Rastanty tanya-tanya itu pas acara nikahan.” Dominic mengusap matanya dengan punggung tangan saking lamanya terbahak sampai matanya berair. “Rasanya aku pengen nyuruh Setyo dan Putri praktek langsung di sini.”

__ADS_1


“Dominic!!!” Setyo merangkulnya sambil terkekeh-kekeh. Dedengkot kampus yang penampilan rambutnya tidak pernah berubah dan suka titip absen itu menghela napas panjang. “Maklumlah, mantannya Pranata bekas cewek kuper. Gak akan tau soal begituan padahal udah jelas makin tua kelapa, santannya makin kental.”


“Kelapa yang mana dulu nih?” sahut Paijo, kontan semua terbahak-bahak di panggung pelaminan.


Aku mengerucut bibir, jujur saja aku tidak terima. Tapi aku memang dulu kuper, sebagai warga Jogja asli mengunjungi tugu Pal Putih yang menjadi bukti iconic sejarah serta garis imajiner kota Jogjakarta yang menghubungkan Pantai Selatan, Keraton Yogyakarta, Tugu Pal Putih serta Gunung Merapi tidak pernah barang sekalipun aku mengunjunginya kecuali saat aku bertemu Pranata. Lelaki dari luar kota yang ingin menikmati Jogja lebih baik, bersamaku yang ia kira bisa menjadi tour guide gratisan, sayangnya ketika ia mengajakku jalan-jalan, aku tak sempat berdusta jika sebenarnya aku adalah akamsi yang tidak tahu segalanya tentang Jogja. Akhirnya mau tak mau, Pranata mengubah kebiasaanku yang hanya menekuri sepanjang rute ke rumah, kampus serta ke pusat perbelanjaan Mirota kampus menjadi jalanan yang bercabang-cabang namun terhubung. Kami menikmati keindahan Jogjakarta dan mendalami keindahannya bersama-sama sampai cinta kami merekah di Malioboro.


“Bercanda, Rastanty. Cuma kamu lucu banget, nanti aku jelasin kalo sudah waktunya itu pun kalo kamu jadi istriku.” ucap Dominic sambil menguyel-uyel pipiku.


Aku melengos turun setelah melepas sepatu jinjit. Kami bersiap-siap menerima lemparan buket bunga dari sepasang pengantin di depan panggung pelaminan dengan banyak jomlowan dan jomlowati yang beredar di sini.


“Siap?” sebut MC dengan nada semangat di atas panggung. “Siji... Loro... Te—”


Buket bunga melayang, Dominic yang sudah kebanyakan energi secara antusias melompat tinggi-tinggi, menyambar buket itu sebelum terjangkau tangan seorang gadis yang lebih kecilnya.


Kaki Dominic menghentak keras di lantai sampai dia menubruk tembok panggung pelaminan. Dominic terbahak dengan bahagia sebelum memberinya padaku di atas rasa sebal gadis yang tak beruntung tadi.


“Terima..., Terima....” sorak Paijo dan kawan-kawan.


Aku berbalik lalu tersenyum lebar. Tidak semudah itu Dominic, mendingan kita main tarik ulur saja, lebih seru sepertinya.


... 🖤...

__ADS_1


__ADS_2