
Aku mendorong pintu gerbang ketika sampai di halaman rumah. Bapakku yang terlihat duduk di kursi teras berdiri setelah melipat koran di tangannya.
“Darimana kalian?” Mataku melebar mendengar ketegasan dari suaranya. Tumben.
Aku mencium punggung tangannya setelah menaruh helm di meja seraya menoleh ke arah Dominic yang baru saja memarkirkan motorku di samping mobil Pranata.
“Darimana, Dom?” ulang bapakku dengan ketegasan yang sama.
Dominic mencium punggung tangan bapakku setelah berdiri santai di depannya. “Cuma jalan-jalan ke pantai, pak.”
“Nginep kalian berdua? Dimana?” Bapakku menyentakkan dagu ke arah kami bersamaan.
Sontak aku dan Dominic saling pandang.
Jangan jujur, jangan. Aku menggeleng samar. Sorot mataku meredup saat Dominic mengiyakan dengan anggukan kepala.
“Domi bisa jelasin, pak.” imbuhnya sungguh-sungguh.
“Paijo sore kemarin bawa mobil itu pulang, dia ngomong sama bapak kalian pergi sebelum acara reuni selesai. Sekarang kalian pulang pagi-pagi, mata Rastanty merah, kalian ganti baju, kalian ngapain? Nginep di mana?” ucap bapakku mengandung bara api.
“Parangtritis, pak.” Dominic tersenyum masam.
“Wes, wes... ora bener iki.” ( udah, udah... nggak benar ini ) Bapak menggeleng. “Masuk kalian, bapak tunggu di ruang keluarga!” Tak ada remahan kata dari suara bapakku yang lebih tegas.
Mampus. Aku menatap Dominic waktu bapak membuka pintu rumah utama. Suara kursi terdengar bergeser dengan kasar dari dalam rumah.
“Kamu mau bilang apa sama bapak, Dom?” tanyaku gusar.
“Sejujurnya, biar aku nggak terus-terusan kamu anggap cowok brengsek, Ras. Aku bakal tanggung jawab!”
Di kursi sebelah bapak, Dominic duduk sembari membuang napas perlahan. Sementara aku terpaku di tempat dudukku sembari mendekap kresek hitam dan putih berisi sisa jajanan dan baju reuni kami.
Bapak menatapku, menegakkan tubuh yang bersandar di kusen sandaran kursi. “Dua tahun bapak dan ibumu tidak tahu kelakuanmu bagaimana di luar sana, Ras. Apa seperti ini? Keluyuran, nginep berduaan. ” Bapak mencengkram pentolan sandaran tangan.
“Bapak yakin kamu dan Dominic nggak cuma tidur berdua, Ras. Bapak yakin kalian sudah macam-macam. Bikin malu!” tukas bapak berat.
Aku meneguk ludah yang syarat akan rasa garam, bagaimana bapak bisa tahu rahasia besar semalam? Apa jangan-jangan pernah mengalaminya waktu muda.
Aku menunduk, mendengar penjelasan Dominic yang sejujurnya sampai aku tidak berani melihat bapak. Ini diluar kendaliku. Dominic mengakui semuanya meski sedikit ada yang di sembunyikan.
“Bapak tidak mau tahu, kalian berdua harus mempertanggung jawabkan kelakuan kalian selama bapak tidak tahu.” Kalimat telak itu membekuk nyaliku. Bapakku berdiri. ”Bawa kami ke rumahmu, Dom. Bapak perlu bicara dengan orang tuamu.”
__ADS_1
“Sendiko dhawuh, pak.” Dominic mengangguk lemah. Mataku membesar, sendiko dhawuh? Dominic pikir ini di kerajaan?
Aku melirik bapak yang pergi ke dalam dapur, bapak memanggil ibuku yang baru dangdutan di dapur.
“Kamu siap-siap pilih baju, nanti malam kita berangkat ke Malang!”
“Lho, kenapa to mas?” Suara radio menghilang.
“Rastanty sama Dominic nginep bareng di hotel Parangtritis, wes jelas mereka kebablasan! Mereka harus nikah.” ucap bapakku masih dengan nada mengandung bara api.
Tirai pembatas ruang makan dan ruang keluarga tersibak, wajah ibuku melongok kemudian. “Benar, Ras?”
“Bener, bu.” Dominic menjawab.
Tirai kembali tertutup, suara radio kembali terdengar. Ibu dan bapakku entah berbuat apa karena tidak ada lagi suara mereka.
Aku mengusap kedua mataku, aku sudah lelah menangis sebelum pulang ke sini. Sekarang dengan teramat mengejutkan bapakku memutuskan sepihak kedatangan mereka ke rumah orang tua Dominic di Malang.
Tidak perlu dijelaskan aku tahu maksudnya. Hubungan persahabatan ini perlu di perjelas ke jenjang yang sangat serius.
“Maaf, Ras. Ini udah paling bener untuk hubungan kita daripada nanti bapakmu marah sama aku dan nggak percaya sama aku lagi. Kamu bisa kehilangan sahabat, sekaligus tunangan.” ucap Dominic menghibur.
Aku mengusap mataku yang berkaca-kaca. “Bukan itu masalahnya, Dom. Aku belum bisa memastikan hatiku ke kamu gimana.”
“Aku... aku cuma takut kamu kecewa.” kataku terbata. Terbesit rasa takut mendalam yang menyusup ke dadaku saat menerima lamaran Dominic. Dia sudah terlalu nakal untukku yang dicap polos dan mudah dimanfaatkan, namun dia juga terlalu baik untuk dijadikan suami bagiku yang belum sembuh total.
“Aku serius, aku takut kamu kecewa karena reaksiku.” imbuhku saat Dominic cuma tersenyum geli.
“Santai aja, reaksimu masih wajar kecuali kalo kamu sampai tendang bolaku.” bisik Dominic lalu mencium pipiku sekilas. “Kesempatan terakhir, gunakan baik-baik.”
Mataku hendak mencelat saking lebarnya melotot.
Kok jadi aku sendiri yang tersudutkan.
Aku menyaksikan Dominic masuk ke ruang makan yang tembus ke dapur lalu ke lorong bangunan kost-kostan. Dia jelas masuk ke kamarnya sementara aku, lemas tak berdaya.
Aku tidak punya pilihan lain selain pasrah sebab berkenalan dengan laki-laki lain akan menambah persoalan baru di hidupku yang sudah ambyar ini hingga siang hingga sore, aku berdiam diri di kamar setelah memilih baju mana yang aku gunakan untuk lamaran besok sementara ku intip dari bolongan pintu kamar Dominic, dia justru terlelap nyenyak.
Aku mendengus kesal, bagaimana dia bisa tidur enak sementara merem pun aku tidak bisa. Kepalang tanggung, aku masuk ke kamarnya yang sejuk tanpa pencahayaan yang terang. Aku duduk bersimpuh di depan wajahnya seraya melancarkan aksi balas dendam.
Aku membangunkan tidurnya dengan menggelitik hidungnya dengan ujung rambutku.
__ADS_1
“Bangun heh kebo lanang, aku butuh kamu.”
“Aaaahhh,” Dominic mendesah kesal. “Naik sini, kunci dulu pintunya.”
“Terus kamu mau bapakku nyatroni kita tidur bareng? Bangun, aku mau ngomong serius sama kamu!”
Perlahan-lahan mata indah itu terbuka, aku tersenyum. “Apa?” tanyanya.
“Kita serius bakal nikah?”
“Rastanty!” Dominic memejamkan matanya lagi. “Aku tidur jam segini biar nanti malam bisa jagain kamu tidur, ini malah ganggu terus tanya-tanya pertanyaan yang sudah jelas jawabannya. Aku serius.”
“Terus apa kita bisa buat kesepakatan waktu malam pertama?”
Dominic tersenyum tipis. “Kesepakatan gimana?”
“Kamu jawab dulu setuju apa tidak?”
“Jelas tidak! Kesepakatanmu itu pasti ngawur Ras. Udah sana keluar, nyapu-nyapu halaman gitu daripada ganggu aku!” usirnya sambil mendorong kepalaku dengan gemas.
“Semprul.” Aku menetap di kamar Dominic sampai dia tergugah untuk bangun sendiri.
“Kenapa lagi?” Dominic mencium ubun-ubunku.
“Orang tuamu menerimaku?” kataku ragu-ragu. “Kamu dan Pranata keturunan priyayi, sedangkan aku—”
“Bapakku priyayi, ibuku bule. Kombinasi itu apa kurang cukup membuatmu lega bahwasanya mereka berdua nggak mikir kamu keturunan siapa. Santai, Ras. Keluarga Pranata memang priyayi tulen, sedangkan keluargaku tidak. Gimana-gimana memang enak sama aku kok, lebih gede.”
“Apanya?”
“Perasaanku ke kamu.”
“Tapi wajahmu aneh.”
Dominic menyunggingkan senyum. “Itu aja yang mau kamu tanya?”
“Iya.” Aku meluruskan kaki lalu menengadah di bawah wajah Dominic yang menaungi wajahku. “Kamu seneng bapakku mempercepat lamaranmu?”
Tanpa berkata-kata apa-apa, gagang pintu bergerak dan seseorang membukanya. Aku sontak membuat jarak dengan Dominic.
“Amore turus. Kebiasaan!” Bapak mendengus. “Mandi terus siap-siap ke stasiun.”
__ADS_1
...🖤...