
Dominic mempercepat langkahnya ke lantai tiga ketika Stacy berputar-putar kegirangan seraya berlonjak-lonjak dan menerjang tubuhnya ketika Dominic berjongkok dan mengulurkan tangan.
Kedua makhluk ciptaan Tuhan itu bercengkrama lewat radar kebahagiaan yang terpancar dari tubuh mereka dengan leluasa di lantai. Dominic merebahkan diri dengan betina berkaki empat yang mengangkang di atasnya. Pipi Dominic dijilati lidah panjang berliur berulang kali sementara Dominic menguyel-uyel badannya yang bagus penuh bulu yang lembut.
Aku mengernyit dan sesak napas. Aku tidak pernah separah itu memuja kelezatan kulit Dominic dan sekarang aku harus berbagi pipi Dominic dengan seekor anjing?
Tunggu... Tunggu..., dua ekor. Marinda datang menyusul bersama Prambudi yang mengendikkan bahu sembari menatapku dengan cengiran lebar.
“Stacy dan Marinda anjing penjaga yang diminta Marisa untuk menjaga kami. Jenis Labrador.”
Penjelasan itu langsung membuatku yakin jika kegilaan Dominic dalam memujaku atau kegilaan Prambudi dalam memuja Marisa adalah buah dari kerja keras Marisa dalam mendedikasikan dirinya demi cinta yang berimbas pada kegilaan mereka sekarang. Ciamik memang anak nenek berambut silver itu.
“Kalo gitu keberadaanku nggak guna dong, pak?” kataku sambil angkat tangan.
“Stop Stacy, Marinda. Stopped.” Dominic mendorong kepala kedua anjing itu seraya berdiri dengan tergesa-gesa. Ia memasang wajah jengkel-jengkel bahagia saat menatapku. “Mandiin, Ras.” katanya dengan nada bahagia yang teramat kentara.
Aku nyengir perlahan sembari tetap mempertahankan tangan terangkat. “Gak berani, penjagamu terlalu ganas dan liar mana gigit lagi, aku nggak berani.”
“Stacy, Marinda, that's my wife, my women, and my feromon. Don't bite.” kata Dominic sambil menunjukku.
Dua anjing itu sontak mengikuti arah telunjuk Dominic, menatapku, tampak mengamati, mengenali, membaui, lalu lidahnya menjulur keluar seolah tahu beberapa bagian di tubuhku sudah melekat aroma Dominic.
Aku mendelik. “Don't bite me, don't lick me!” seruku ketika langkah mereka dan tatapan itu hendak mendekati dengan lincah.
Dominic terkekeh seraya bertepuk tangan. “Stop Stacy, Marinda. Go to bed.”
Aku memejamkan mata saat lidah Stacy dan wajah sangarnya hendak menyentuh lututku sebelum ia melengos mengikuti suara ajakan Dominic yang menggiurkan.
“Slamet... Slamet...,” Aku mengelus dadaku sembari terengah-engah. “Asam lambungku hampir naik, yungalah. Cobaan apa ini...”
Prambudi terkekeh seraya melambaikan tangannya. “Ikut bapak.”
__ADS_1
Semenit kemudian, aku sudah berada di ruangan yang lengang, meja kerja serta rak pajangan berisi koleksi - koleksi barang yang mungkin di simpan di gudang menjadi satu-satunya benda yang bisa di temukan di sini selain itu lengang, ruangan ini nampak jarang di gunakan untuk berlama-lama singgah kala senggang atau banyak kerjaan.
“Dominic itu mirip Marisa, Ras. Semua love laugh live dan love language serta embel-embelnya baik pait maupun bahagia harus nyata terlihat makanya mereka nggak punya malu.” ucap Prambudi yang duduk di tepi meja.
Aku mengangguk sambil mengamati kegiatan di gudang, ternyata fungsinya kaca ini, memantau diam-diam pekerja tanpa membuat mereka terganggu.
“Dua anjing itu juga bukti perhatian Marisa, alasan awalnya untuk jaga wilayah biar nggak kemalingan, terus lama-lama jaga bapak biar nggak di ganggu karyawan perempuan. Masio memang ada yang ganggu, bapak nggak tertarik wong mereka ngincar duitku.” Bapak menyeringai. ”Akhirnya bapak iya-iya aja, wong kalo bule ngambek, ngerayunya tekor, Ras. Piknik, jajan di mall Surabaya. Mentok-mentok lari ke Bali.”
Bapak geleng-geleng kepala meski senyumnya tidak surut.
“Terus maksudnya bapak gimana ngomong gitu ke aku? Ada maksud pasti.” tukasku seraya menyandarkan tubuh di tembok.
“Bapak pingin kamu bener-bener jadi istri yang baik buat Dominic. Bapak nelengsa, Ras. Dominic terbelenggu kesalahan yang tidak dia buat setelah Pranata mati. Terserah kamulah bagaimana caranya, bapak nggak ngatur, juga nggak nuntut kamu harus sempurna sebagai mantu. Bapak cuma mau kalian berdua sama-sama bahagia bareng-bareng.” Bapak memberi pendapat dengan suara yang besar dan berat.
Aku menengadah, mengalami sentuhan emosional yang kuat, ternyata selama ini tidak cuma aku yang nelangsa. Bertahun-tahun semua orang diam-diam merasakan perkara itu secara merata, dan tidak adil. Aku yakin dua tahun ini bukan cuma aku yang berpikir harus bagaimana ini, tapi mereka yang ada di sekitarku juga memikirkan nasib-nasib di masa depan.
Aku mengangguk setelahnya, mulutku terasa kering.
Bapak mengangguk lagi diikuti senyum miring. “Bapak seneng kamu jujur, Ras.”
“Aku juga seneng kalo bapak jujur daripada aku bingung terus.” sahutku seraya melihat gudang. “Bapak seberapa kaya? Terus kenapa ngasih restu ke Rastanty jadi mantu bapak sementara banyak to kolega-kolega bisnis yang pingin mengikat mas Dominic jadi rekan keluarga.”
Prambudi duduk lebih tegak seraya berkata. “Hartaku cuma titipan, Rastanty. Sedangkan cinta itu akan abadi. Percuma Bapak punya harta banyak tapi anak-anakku tidak bahagia, buat apa? Seumpama hati sudah hancur, perusahaan sebagus apapun akan ikut mati alon-alon sebab itu pilihan Dominic siapapun keluarga terima.”
“Tapi Michelle tadi bilang cuma yang perawan sama perjaka yang bapak terima.” kataku mencari jawab.
“Jauh lebih baik begitu, walaupun Bapak santai, Bapak tetap pemilih. Bapak juga ngerti kenapa Irish yang datang kemarin daripada ibunya, dia tahu Dominic semakin berwibawa dan kaya.” Prambudi tergelak.
“Namanya nenek silver, Pasty Stanton Dwayne. Bapak kasih saran, turuti saja kemauannya.. Sudah uzur, takut banyak pikiran terus susah pulang ke rahmatullah.”
“Bapak lho ngawur...” Aku terbahak dan sebagian beban terangkat dari tubuhku. ”tapi bener, dosa kita buat nenek-nenek kepikiran. Tapi Pak... Kalo seumpama Rastanty belum bisa hamil dalam waktu dekat, apa nenek bisa terima? Bapak sama mama juga sabar nunggunya?”
__ADS_1
“Los... Ras. Nenek internasional lebih gaul dengan perkembangan kesehatan, tapi juga cerdik. Itu yang perlu kamu persiapkan.”
Aku menyeringai bersamaan dengan pintu yang terbuka.
”Sebenarnya Stacy sama Marinda itu walaupun di kebiri tetap butuh pelampiasan, Pak. Apa mama nggak niat beli anjing pejantan?” Dominic menatapku dan bapaknya bergantian lalu menyeringai perlahan-lahan.
“Aku habis mandi, bukan mainan sama mereka.”
Aku mendesis, ”Ya bener kamu habis mandi, cuma pipimu bekas dicium-cium betina kaki empat. Aku jadi pikir-pikir kalo mau dekat-dekat kamu. Aku merasa tidak percaya diri.”
Bapak menyentuh bahuku dan Dominic seraya melambaikan tangan dan menutup pintu. Detik itu juga kami tinggal berdua.
Dominic berdiri di sampingku sambil melihat aktivitas yang sama di depan gudang yang kedatangan truk pengangkut pasokan beras.
“Gimana rasanya dihantui perasaan semalaman, Ras? Yummy?”
“Agak gimana gitu, Stacy, Marinda? Aku pikir mereka sejenisku dan jauh lebih keren, apalagi kamu dulu suka lihat-lihat cewek seksi. Pikiranku mikirnya itu. Ternyata... mereka tidak akan mengkhianatiku dan itu kabar yang bisa di anggap baik, tapi setengah buruk.” Aku menguncupkan bibir.
“Gimana maksudmu?”
”Kamu bakal memanfaatkan mereka kalo nggak mau di ganggu. Dan itu cerdik, kamu mirip Pasty Stanton Dwayne. Banyak akal.”
Dominic melingkarkan lengan ke pinggangku. “Itu alasan kenapa aku jadi cucu favoritnya, Ras. Kami banyak akal.”
Tak tahan, aku menarik napas dalam-dalam sembari menatap Dominic lebih cermat. “Terus sekarang kamu punya niat buat ngakalin aku?”
Dominic menyunggingkan senyum dan jari telunjuknya saat ini sedang membelai santai bagian rahangku dan turun ke leherku.
”Aku haus, Ras. Kita ke dapur terus keliling semua divisi, aku pikir kamu perlu tahu tempat ini sekalian aku mau ajak jalan-jalan my hot dog. Mereka lagi semangat banget ketemu suamimu!”
Batalkan permintaanmu tadi, Ras. Percuma udah kamu kalah saing.
__ADS_1
...(ー_ー゛)...