
*
*
*
“Sudah aku katakan kepada kalian semua bahwa mereka adalah bintangnya.” seru Marisa di bawah anak tangga sambil menyambut dengan tangan terbuka kedatangan kami saat menuruni anak tangga sambil bergandengan tangan bak Cinderella turun dari khayalan ditemani oleh pengawal.
Aku meringis lebar, memamerkan gigiku seraya menjura beberapa kali kepada semua bule-bule yang bertepuk tangan dengan meriah sambil menatapku.
Pesta apa ini, pesta apa, aku berasa jadi artis dadakan. Semprul, masih sore asam lambungku hampir naik. Belum nanti malam harus menjamu manusia paling percaya diri di kamar. Ampun, hidupku bagaikan bunga mawar yang tidak mempropagandakan harumnya, namun keharumannya sendiri menyebar melalui sekitar. ‘Quote Presiden Sukarno’
Dominic mengelus punggungku seraya mengenalkan satu persatu namaku kepada sanak keluarganya yang berbahagia dan mengamatiku terang-terangan bahkan satu pinisepuh yang memiliki rambut silver lurus mencubit pipiku.
“Saya neneknya.” ucapnya dalam bahasa Indonesia yang kaku.
Aku langsung tercengang lalu kembali memamerkan gigiku. Edan, ini nenek-nenek lebih gaul dan stylish outfitnya daripada aku. Parah! Seberapa kaya keluarga Dwayne dan Prambudi ini. Sumpah aku beneran pingin lompat-lompat terus ngumpet di semak-semak kalau begini.
“Saya mau kamu temani saya di taman, di sini terlalu ramai.”
Segalanya langsung menjadi tambah canggung dan lagi-lagi aku harus mencari persetujuan Dominic, mencari ketenangan di sorot matanya yang mengatakan ini semua akan berjalan baik.
Aku mengangguk seraya mendorong kursi roda nenek berambut silver yang tersenyum simpul ketika dengan perasaan dingin dan cenderung grogi aku mengantarnya ke taman belakang seorang diri.
“Kamu mencintai cucuku?” tanyanya sewaktu aku melepas sepatu flatshoes-nya karena beliau ingin merasakan sensasi di gelitik ujung rumput. Ada-ada saja kemauan orang kaya, batinku seraya meringis.
“Kenapa kau sering sekali begitu, gigimu bagus?”
Aku melepaskan tawa yang sudah aku tahan-tahan sejak ia mengomeli Marisa yang menyuruhnya tetap awesome walaupun sudah tua dan harus beraktivitas di atas kursi roda.
“Dominic menyuruh saya begini dan semua akan baik-baik saja, nenek.”
“Grandma.” Beliau langsung mengoreksi ucapanku. “Dominic cucu favorit saya.” imbuhnya dengan nada bangga sekalipun matanya yang indah sudah di makan usia.
Mampus kamu, Ras. Kamu berhadapan dengan nenek yang siap berada di garis terdepan dalam mengatur kebahagiaan cucu favoritnya.
“Lalu, saya serius, saya penasaran kenapa grandma mengajakku ke sini. Bukannya di dalam banyak makanan enak?” gurauku untuk mencairkan suasana, tapi sayangnya sama sekali tidak cair. Nenek berambut silver yang mewariskan kepada Dominic mata indah itu menatapku serius.
Aku tersenyum lebih baik sambil menerka-nerka apa yang ingin diungkapkan nenek.
__ADS_1
”Kau mencintai Dominic?”
Ya Allah... ungkapku dengan penebalan suara dalam benak. Kenapa cinta melulu yang ditagih sementara gelora ragawi telah berulang kali terjadi.
Aku yang tidak mau nenek ini kecewa langsung menjelaskan situasinya seperti pak dosen ketika sedang mengajar. Dari mulai masa kuliah, patah hati paling kejam, rahasia-rahasia yang tersembunyi, pendakian gunung berulang kali, off-road, takut kehilangan, menyayangi sahabat sendiri, tidur bersama dan berakhir dengan pernikahan. Begitu selanjutnya tanpa bumbu yang aku tambahkan biar enak. Semua yang ada di benakku plong, los, bahkan beberapa makian terlontar dari mulutku tanpa sempat aku buang.
Si nenek tersenyum-senyum. “Kau sudah mencintainya sejak kau mengatakan bahwa cucuku adalah satu-satunya lelaki yang kamu harapkan terus ada di duniamu.” ucapnya tersendat-sendat oleh aksen yang lebih kental dari negaranya.
“Masa bisa gitu doang di bilang cinta, eh...” aku tersenyum lebar. “Maaf.” Aku menjura untuk ketidaksopanan yang terlepas dari mulutku.
“Bisa saja itu di bilang cinta karena kau sudah mengatakan tanda bawah kau ingin mengikat cucuku agar terus bersamamu dengan memintanya ada di duniamu. Ada di duniamu yang tidak tahu berakhir kapan!” tandasnya telak.
Aku tergelak. Tapi aku tidak membantah. Nenek-nenek ini pasti sudah makan asam garam kehidupan sekaligus semua rasa di dunia ini.
“Begitu ternyata... ” aku mengumbar sisa tawa sebelum kepalaku di elus-elusnya sebab aku duduk di rumput, di samping kursi rodanya.
“Kau temani cucuku dengan baik, dulu dia punya cita-cita ingin memberiku cicit yang lucu-lucu dan menemani masa tuaku. Tapi aku sudah setua ini tidak ada keturunan Marisa dan Prambudi yang memberiku cicit!”
Mampus kamu, Ras.
Aku mengangguk, gampang batinku. Marisa pasti akan mencari pengasuh untuk cucunya sekaligus cicit yang akan membahagiakannya yang ternyata selama ini sudah di teror oleh ibunya ini. Pantas juga tadi Michelle kegirangan bukan main. Ternyata, biang keladinya ada bersamaku.
Nenek yang menginginkan cicit dari cucu setengah bulenya. Huahaha... Komedi sekali isi rumah ini.
“Sudahlah, kita jangan formal macam rapat di perusahaan. Kita bisa berteman karena saya akan tinggal di sini sampai kau positif.”
Aku kembali terbahak sambil meremas rumput dengan kedua tanganku yang menyangga tubuh.
“Pokoknya aku siap temenan sama grandma, tapi aku lapar, aku ambil makanan sama minuman sebentar grandma. Boleh?” kataku setengah merengek.
“Pergilah...” Dia mengibaskan tangan.
Gegas aku masuk ke dalam rumah setelah melewati batuan yang di tata rapi di tanah. Mataku mencari-cari Dominic yang ternyata sedang bercakap-cakap dengan satu bule wanita di sofa.
“Mi ayam...” panggilku sambil melambaikan tangan.
“Mi amore.” Dominic beranjak, tetapi tangan si bule wanita itu menahan lengannya. “Kita belum selesai.” ucapnya dalam bahasa Inggris.
“Nanti lagi, Irish.” Dominic menyingkirkan tangannya dari lengan sebelum menghampiriku.
__ADS_1
“Siapa dia pegang-pegang kamu?” tanyaku setelah menaiki anak tangga, aku mengajaknya ke lantai atas dengan buru-buru.
“Irish, anak teman mama yang nggak bisa datang, Ras.”
“Oh—” Aku berkacak pinggang setelah tidak ada satupun orang yang terlihat di sini.
“Nenekmu bilang kita harus bikin cicit buat dia secepatnya karena belum ada satupun di keluargamu yang ngasih beliau cicit. Terus kata hatiku bilang, bapak dan mama ngasih jalan bagus buat kita karena itu? Tekanan dari nenek kamu?”
Dominic membekap mulutku. “Kita ngobrol di kamar.”
Aku menginjak kakinya seraya mendorong lengannya. “Aku bisa diam sendiri!”
“Iya...”
Kami pergi ke kamar, dari sini, aku bisa melihat nenek Dominic masih menikmati halaman belakang seorang diri.
“Aku udah bilang tadi satu-satunya jalan untuk membahagiakan orang tuanya memang menikah, Ras. Terus punya anak karena seperti yang baru kamu tahu, nenekku pengin cicit dari aku dan adik-adikku sebelum beliau meninggal.” ucap Dominic di belakangku sambil memegang pinggangku.
“Terus aku jadi alat keluargamu?”
“Nggak, Rastanty!” Dominic memutar tubuhnya, kini ia didepan mataku sambil menangkup wajahku.
“Kita sudah bareng-bareng lama, Ras. Hal seperti ini harusnya gampang buat kita atur.”
“Tapi gimana kalo aku nggak positif dalam waktu dekat ini sementara nenekmu akan tinggal di sini sampai aku positif.” kataku murung.
“Tinggal kita buat lagi dan menikmatinya, nenek pasti ngerti untuk jadi cicit yang lucu-lucu butuh perjuangan dan kesabaran. Kenapa sih jadi resah gini?”
“Karena nenekmu bilang aku sudah mencintaimu sejak aku bilang aku tidak mau kehilanganmu. Terus kalo seumpama aku susah hamil gara-gara dua tahun ini stress dan olahraga ekstrim gimana? Kamu pasti di suruh cari penggantiku dan aku nggak mau!”
Air muka Dominic berubah drastis, ia menatapku lurus sembari menggeleng. “Nggak ada kata pisah, Ras. Udah tenang dulu sekarang kita punya keluarga yang harus kita temani. Plis, be a my angel, setidaknya sampai mereka pulang.”
“Janji nggak ninggalin aku?”
“Sumpah pocong pun aku mau, Ras.”
“Aku pegang kata-katamu.” Aku mengecup bibir Dominic seraya menghela napas. “Aku ke bawah dulu, terus kamu jangan dekat-dekat cewek itu! Aku bakal minta bapakku buat mengawasimu.”
“Boleh, Ras. Boleh, terserah kamulah cuma jangan marah-marah terus, kelihatan tua kamu.”
__ADS_1
Aku mengamatinya dengan mata menjureng. “Omong kosong.”
...🖤...