
Dominic mengembuskan napas pelan setelah tarikan napasnya yang berulang lagi terdengar berat di telingaku.
Aku meliriknya, meliriknya terus sampai akhirnya aku menatapnya heran di depan wajahnya langsung. Kegelisahan tampak jernih di wajahnya, sorot matanya mengendur serupa bahunya yang merosot. Ia tak pernah seperti itu sebelumnya. Langkahnya slalu mantap dan tegap. Tetapi kali ini setelah Morgan tersenyum padaku dan memberi dua kaleng camilan sehat dan enak yang kumakan dengan lahap, dia berubah.
“Kenapa?” tanyaku, menyentuh sedikit hidungnya dengan ujung jariku. “Kamu sedih, Dom? Tumben-tumbenan lho... Kalau kata nenek ini sih amazing, Rastanty... Wow, perfect.”
“Tidak lucu.” Dominic mendengus.
“Emang siapa yang ngelucu, gak ada tuh. Wong aku bukan badut yang lagi menghiburmu.” Aku menjulurkan lidah. “Aku istrimu Dominic, istrimu yang kamu uber-uber mirip soang pak Rahmat yang hobinya nyosor orang lewat. Aku istrimu yang tanya kamu kenapa cemberut begitu? Pelayananku kurang, cintaku kurang besar, apa aku kurang seksi?”
Memejamkan mata, Dominic menggelengkan kepala seraya menyentuh kedua lututku dan mencengkeramnya lembut.
”Kamu nggak cantik, tapi Morgan cukup tertarik padamu, Ras.”
“Itu doang masalahnya? Yungalah, Domi... Sintingmu ternyata kambuh.” Aku menyentuh keningnya. ”Tanda-tandanya memang nggak demam, tapi cemberut, napas susah, lemas dan susah makan. Pantesan dari tadi siang kamu mogok makan. Yungalah, sayang.”
Dengan lembut aku menangkup kedua pipinya meski tawaku mengisi seluruh isi kamar. Beberapa detik setelahnya aku berubah satu tingkat lebih serius.
“Kamu cemburu sama Morgan?”
“Cuihh, makan itu kata cemburu, Ras.” katanya mangkel.
”Kamu dong harusnya yang makan, aku kenyang banget.” Aku mendengus sambil menahan tatapannya agar melihatku terus. “Yakin kamu nggak mau jujur? Kamu cemburu kan sama Morgan? Aku jujur ya, dia cakep banget woyyy. Sebelas dua belas sama kamu cakepnya.”
Dominic menggeram, melepas sentuhan tanganku di pipinya dengan kesal. Laki-laki itu bangkit sampai menjatuhkan kursi yang didudukinya.
”Kamu memuji pria lain di depanku langsung, Ras? Kamu bener-bener menjatuhkan tahi cicak di wajahku, ngerti?” Bahuku ia dorong dengan tatapan kesal menuju dinding kamar yang berhias foto prewedding kami yang menjadi perbincangan panas di rumah setiap hari setiap tak ada lelucon yang hadir.
Aku menyeringai sembari mengangguk. “Dia tampan, senyumnya asing tapi menggemaskan, Dom. Nggak kayak senyum kamu, kamu pamer-pamerkan ke semua karyawanmu dengan ramah, setiap hari, setiap jam dan... dia tersenyum sekali buat aku. Mantap bukan pesona mamah muda sepertiku.”
“RASTANTYYYYYY....” Dominic mengguncang bahuku sampai kepalaku bergoyang maju-mundur, mataku merem melek. Tapi aku menikmati marahnya dia, rasa cemburunya yang tidak pernah aku ketahui setelah menjadi istrinya. Pada kenangan Pranata, ia hanya akan tersenyum maklum dan memberi kenyamanan tutur kata seperti biasanya. Pada Morgan yang hanya mampir tanpa memberi kesan selain urusan anjing kami yang jatuh cinta ia terlihat kesurupan. Cemburunya meledakkan cinta dan posesif yang nyata.
Aku tak akan lupa caranya sabar menghadapiku, aku tak akan lupa bagaimana kami mengarungi kehidupan bersama, semua tertata di hatiku, dari dasar hingga permukaan, dari pagi sampai malam, dari muda hingga tua. Dominic memang yang terbaik tapi aku suka menggodanya agar ledakkan cemburu dan rasa cintanya itu slalu ada.
Nggak mungkin juga to rasa cemburu itu mati di usia awal pernikahan kami. Huehehe, thank Morgan. Laki-laki di depanku cemburu.
Dominic menangkup wajahku dengan kedua tangannya yang hangat dan lembab. Matanya seperti tombak yang ingin menghunus matamu. Tajam tak berkedip.
“Sadar kamu ngomong apa, ha? Bisa kamu ralat ocehanmu barusan!” desaknya tak sabar.
__ADS_1
“Aku jujur kok, kenapa harus aku ralat.” bantahku sengaja.
“Kamu ngomong saja, aku satu-satunya laki-laki tertampan pemilik senyuman yang mantap di matamu. Aku satu-satunya, Ras.”
”Lah... terus masa Budi dan Teja jelek, tidak tampan. Senyum mereka kecut... Parah kamu, Dom.” Aku mendorong sebelah bahunya.
“Kamu ngomong ajalah kalo cemburu, aku bakal senang kalo kamu jawab iya.” kataku lembut sambil memegang pinggangnya.
Dominic berdecak, sekali lagi dia tidak ingin mengakui bahwa ia cemburu. Dia gengsi, dia tidak mau kalah dan nyatanya hal itu menambah satu daftar kelakuan Dominic yang baru aku tahu hari ini. Cemburunya tidak sabaran, dan ia ingin slalu menjadi yang teristimewa buatku.
Aku tersenyum ketika ia mengistirahatkan wajahnya di bahuku. “Jangan gitu, Ras. Jangan buat aku sedih.” katanya muram.
“Bercanda doang aku, Dom. Selama kita nikah kamu nggak pernah cemburu, aku cuma menggunakan kehadiran Morgan untuk bikin dadamu panas.” kataku menjelaskan biar gak salah paham.
“Ngawur.” gumamnya seraya menyesap leherku lama.
Aku mendengus, kelakuan!!! Dan kemudian Dominic tersenyum sambil menatapku. ”Ada yang lebih gampang bikin aku cemburu, Ras. Atau bikin dadaku panas.”
“Apa?”
“Kamu pakai bikini di belakang rumah terus di lihat Reno diam-diam.”
”Gak pernah aku pakai bikini di kolam renang.”
“Makanya aku kasih tahu dulu sebelum itu terjadi.” Dominic menyeringai.
Gak penting. Banyak alasan. Ngomong aja jangan sampai bikin aku cemburu, Ras!
Aku mengangguk paham, alih-alih kembali menggodanya, bahasa tubuhnya sekarang sudah berkata lain.
“Tapi benar to kamu cemburu?” pungkasku sembari mencari ancang-ancang untuk kabur.
Dominic tampak berpikir-pikir sebelum mengangguk. ”Karena kamu senang aku cemburu, aku bakal mengakuinya Ras. Aku sedikit cemburu. Serius, aku cemburu.”
Sudut bibirku bergerak membentuk lengkungan ke atas, meski tatapanku terlihat malas menatap Dominic. Ngaku kok keberatan. Huuu...
Dominic menyeringai sambil memutus jarak di antara raga kami. Ia mendekapku erat seolah enggan melepas harap yang ia kejar sepenuh hati.
“I'll always by your side no matter what and you have me to trust.”
__ADS_1
Dominic mengulum bibirku hingga napas kami tak beraturan. Aku tahu ia tak ingin menghentikan apa yang sedang kami lakukan tetapi ketukan pintu sebanyak lima kali membuatnya merapikan pakaianku.
“Kenapa, Nek?” Dominic membuka setengah pintu.
“Stacy mencarimu, dia mungkin ingin pamitan.”
“Oalah asu...” Dominic menyugar rambutnya dengan kasar seraya mengajakku keluar. Dia mengikat rambutku seperti ekor kuda seraya memeriksa bekas kecupannya tadi.
”Morgan akan jijik padamu, Ras.” Ia menyeringai senang.
Jijik... jijik... Kalau kebalikannya gimana?
Kami keluar rumah, Stacy dan Dev kejar-kejaran dengan lincah di taman sebelum mata Stacy melihat Dominic.
Anjing itu berlari ke arahnya dan menubruk pria yang berjongkok menyambutnya.
“Kau anjing paling nakal, Stac...” Dominic menggosok-gosok bulu Labrador dengan penuh kasih sayang sebelum ia dihujani dengan jilatan lidah di pipinya. ”Pergilah sebelum mama pulang dari Michigan, kau tahu, dia akan pingsan jika melihatmu bertingkah genit sepertinya dan memilih tuan baru daripada setia kepadanya.”
Aku mendelik, ujung sendalku menendang pantatnya berulang kali sebelum dia menangis dan membuat Morgan tertawa geli. “Udah kali pamitannya. Drama banget di tinggal anjing doang.”
Stacy menggonggong di depanku seolah protes bahwa ia bukan anjing biasa sebelum melengos, mengikuti Dev dan Morgan yang menunggunya di dalam mobil.
Lima klakson terdengar sebelum mobil 4x4 off road terbuka miliknya hilang dari pandangan.
Dominic memasang wajah sedih di tengah gelapnya malam. ”Stacy nggak setia sama aku, Ras. Kamu jangan sampai sepertinya!”
“Oooo, sinting. Kamu pikir aku ini anjing apa kamu sama-samain sama Stacy. Parah!” sergahku tak terima sambil menginjak kakinya.
Dominic mengejarku ke dalam rumah seraya menahan pergelangan tanganku.
Kami bertatapan dan aku mendengus jijik melihat pipinya berliur.
“I love you.” katanya pelan. “Jangan tinggalin aku.”
”GAK AKAN!” teriakku agar telinganya sanggup mencerna dengan baik.
“Sempurna.”
...♥️...
__ADS_1