
Aku membeli kandang ayam dengan motor setelah mandi dan membeli lotek sayur, mendadak aku benci dengan ayam. Opor di dapur yang baru matang terasa tidak menarik lagi, tidak enak, dan rasanya pasti sama seperti kala pertama aku mencicipinya dua puluhan tahun yang lalu.
Aku tersenyum iblis sambil melepas tali rafia yang menjadi penahan kandang bambu di bawah pohon rambutan sampai menjadi tontonan beberapa mahasiswa muda yang hendak pergi ke kampus. Mereka bertanya-tanya dan kujawab dengan ringisan serta ucapan selamat belajar adik-adik, hati-hati dijalan, semangat dan jangan penasaran!
Aku akan membuat perangkap untuk ayam sialan yang telah merusak pagiku. Namun apa yang terjadi sekarang? Ayam itu ada di gendongan Dominic ketika aku berusaha menurunkan kandang yang berat ke tanah.
“Buat apa, Ras?” tanyanya ringan sambil mengelus kepala ayam yang memiliki jengger berwarna merah itu. Ia mendekat dari arah samping rumah.
“Buat ngandangin kamu sama ayam itu!” Aku mendengus sambil membuka penutup kandang. Ku saut ayamnya dengan paksa, sejenak ayam itu hendak memberontak saat kumasukkan ke dalam kandang seraya menutupnya. “Urusan ayam selesai sampai di sini!” kataku ketus.
Dominic terkekeh-kekeh, “Masih dendam anaknya, uluh-uluh...” tangannya bekas ayam menempel pipiku, menguyelnya, mencubit-cubit pipi yang sudah aku beri sun screen dan anti aging agar tak cepat menua menghadapi pria semacam Dominic, eh dia malah mengumbar senyum serta menyebarkan gurem ayam ke pipiku tanpa dosa.
“Aku cup-cup sini, aku aja udah biasa-biasa saja, Ras. Malah habis berterima kasih sama ayamnya udah ngasih jalan buat kamu perhatian sama benda sepele yang kita anggap sebagai kepemilikan.” ungkap Dominic dengan nada lembut.
Huahahaha... Aku ingin menangis Pranata, tapi aku juga ingin tertawa. Tolong aku, sadarkan sahabatmu ini dari segala hal-hal yang membuatku nyaris ingin memasukkannya ke dalam kandang bambu agar hidupku tidak pasang surut seperti ini.
Aku tersenyum irit setelah menghela napas panjang. “Oke, pulangin ayam ini ke pemiliknya. Bawa sekalian ini kandangnya ke rumah tetangga sebelah. Ngomong ke dia, jangan di lepas. Biar gak aku jadiin sate!” kataku serius.
Asli, pacaran sama sahabat sendiri nggak bisa manja, nggak bisa kalem, nggak bisa tenang. Dan tak ada teknik apa pun yang ingin aku gunakan untuk membuat Dominic tetap menyukaiku. Sementara seseorang yang kuakui tetap memiliki jiwa yang santai ini mengangguk.
Dominic mengangkat kandang bambunya, dengan tergesa aku membuka pintu gerbang. Kami berdua pergi ke rumah tetangga sebelah yang terpisah satu petak kebun pisang yang rumpun dan berbuah manis, buahnya suka di bikin kolak dan pisang goreng. Meski berfaedah kerap kali kebun pisang ini menjadi bahan lelucon mistis malam Jumat.
“Kebun ini angker, ada pocongnya.” ucap teman Dominic tiba-tiba di suatu malam bulan November kala Pranata, aku, Dominic dan teman-teman kami merayakan ulang tahun kami Paijo bersama-sama. Entah indigo, entah anak indie yang ingin merangkai kata bertema pocong dan pohon pisang. Setiap kali lewat sini sendiri, malam-malam lagi, aku slalu kepikiran dengan ucapan teman kampus kami.
Aku bergidik sembari mempercepat langkahku ke rumah Mbak Yuni. Wajahnya yang cukup judes dan tidak bersahabat langsung tersaji di depan mataku tanpa perlu aku mengetuk pintunya. Rupanya setelah aku tak pernah berkeliling desa untuk menyebarkan undangan, halaman rumahnya masih menjadi tempat menjemur pakaian.
“Ngopo pitikku mbok kandangi?” ( Kenapa ayamku dikandang? ) tanyanya dengan nada cepat. “Pitik golek pangan kok malah dikandang!” ucapnya dengan logat Jawa kasar seraya membuka pintu kandang bambunya. Ayam tadi langsung melesat keluar, berkokok lantang. Ayam itu terlihat gembira bukan main. Lihat saja, kalau nongol di halaman rumah, aku sate beneran.
__ADS_1
Aku menyentuh lengan Dominic, aku tidak mau berdebat, mataku redup. Kali ini, Dominic yang menjawab.
“Jadi gini, bude. Tadi ayamnya hampir masuk ke tempat sampah yang mau di bakar Rastanty, jadi daripada jadi ayam bakar, ayamnya kita masukin ke kandang terus kita bawa ke sini.” urainya lancar.
Setelah basa-basi singkat yang mendebarkan, Mbak Yuni yang tidak percaya mengiyakan penuturan Dominic. Kami cepat-cepat keluar dari rumahnya setelah ia nampak mengusir kami dengan matanya.
Dominic mengalungkan tangannya di leherku, sementara aku berpura-pura tidak melihat senyum penuh arti yang menggantung di bibirnya.
“Kayaknya kita nggak mungkin bisa bikin sate gratis, Ras.” Dominic mengedip hingga tiga kali.
Aku tertawa kecil. Jelaslah, bisa jadi setelah ayamnya Mbak Yuni kita sate bersama, esoknya kami disuruh memuntahkannya. Sakit perut, dan menyisakan dendam yang tak akan usai antara tetangga. Tidakkah seperti ini sering terjadi di pedesaan? Ayam numpang main, nyaman, terus tinggal, dan jadi santapan?
“Udah ah, wes kesel atiku, Dom.” ( udah capek hatiku ) kataku kemudian. “Aku mau beres-beres kamar. Banyak barang lama yang harus aku simpan!”
“Ikut dong.”
Hasratku meninggi untuk melakukannya, tapi nampaknya tidak mungkin terjadi. Orang tuaku membelanya dan aku sudah tidak punya alasan besar untuk menyendiri lagi.
“Buk, Domi ada di kamarku!” kataku memberitahu biar tak jadi salah paham.
Ibu mengiyakan sembari menonton televisi. Sementara tangannya melipat baju. Namun sebelum aku benar-benar menginjak kamar, ibu berteriak, “Dibuatin kopi dulu, Ras.”
Ya elah, belum apa-apa sudah harus melayaninya. Enak bener. Dominic menyunggingkan senyum kemenangan sembari menarik kursi di ruang makan.
“Airnya harus benar-benar mendidih, Ras. Dan aku nggak suka air panas dari dispenser.” ucapnya memberitahu.
Lima belas menit kemudian, kopi hitam tersaji di meja. Dominic mengendus aroma yang berpencar di sekitarnya.
__ADS_1
“Aku tau semua ini nggak seperti dulu, tapi jangan dekat-dekat banget sama aku, Dom!” ungkapku jujur.
Dominic memasang ekspresi penasaran. “Kenapa?”
“Aku geli kita udah harus mirip suami istri.” kataku lirih.
Tawa Dominic terdengar selama beberapa detik sampai membuat air kopi bergoyang-goyang di dalam cangkir. “Latihan, biar nanti waktu kita menikah, kamu udah pinter jadi istri!”
Aku mengecimus ke arahnya. Dominic meringis. “Besok juga boleh kayak gitu di depan wajahku, manyun-manyun.”
Aku kembali kebingungan, menerka-nerka dalam logika yang masih sehat. Dominic sepertinya sudah ingin sekali membina rumah tangga dan melakukan hal-hal... oh ya ampun, aku mendadak teringat gondal-gandulnya. Apa maksudnya gondal-gandul itu, anu? dan kelapa semakin tua semakin kental ada hubungannya dengan pelajaran biologi?
Aku menutup kedua pipiku dengan kedua tangan lalu berbalik. Aku malu, pasti selama ini Dominic punya fantasi sendiri tentangku hanya saja dia pintar menyembunyikannya. Dasar...
Aku masuk ke kamar, tengkurap di kasurku tanpa berminat melihat Dominic sekarang yang jelas mengikutiku ke kamar dan bertanya-tanya aku kenapa.
“Kopimu enak, Ras.” pujinya membuka pembicaraan, aku yakin dia duduk di karpet sambil menikmati suasana pastel ruanganku. Dia juga meluruskan kaki namun tangannya dengan usil mengelus tulang punggungku.
“Kenapa tiba-tiba malu-malu kucing?” tanyanya lembut.
“Kamu pasti udah kebelet kawin?” sahutku cepat. “Geli banget aku setelah ingat-ingat pembicaraanmu yang gondal-gandul itu terus santan kental!” Mataku merayapi langit-langit kamar dengan suara tawa Dominic yang meretakkan kesunyian kost-kostan ini.
“Udah tau sekarang?” Dominic tampak lega, senyum nakalnya sesaat terlihat. “Lagian udah gede masih gak paham-paham. Kamu ini ya.” Dominic mencubit hidungku. “Gemes. Pasti kepikiran to sekarang?”
“Lebih.” Aku mendesah dan mengaku seraya meletakkan tanganku di atas tangannya, namun sebelum lanjut ke hal-hal yang menjadi keromantisan yang berkubang dan mengobok-obok isi kepala Dominic yang kebelet kawin aku mencubit kecil punggung tangannya. “Udah sana keluar, ntar kalau aku udah siap nikah, aku bilang.”
“Kelamaan!” Dominic mendengus sebentar, “Tapi kita yakin to Ras bakal nikah?” Dan perutku tiba-tiba mengencang.
__ADS_1
...🖤 ...