Jogja, Kamu & Kenangan

Jogja, Kamu & Kenangan
Bait Ke-29


__ADS_3

Dominic mengguncang bahuku, “Ras... Rastanty...”


“Kebo betina...”


“Tunanganku...”


“Bangun, weleh... weleh... Nyaman banget kamu tidur di sisiku sampai jam segini belum bangun.”


Dominic merunduk di atas sisi wajahku, aroma pasta gigi terendus hidungku kala ia masih bersikukuh untuk membuatku membuka mata.


“Ini udah jam setengah lima, wake up darling. Aku tagih janjimu buat nemenin aku lihat sunrise.” desaknya sambil menggoyangkan pinggulku.


Aku mengomel dalam hati atas cerocosan mulut Dominic yang membangunkanku. Aku tahu ini jam berapa, aku bahkan sulit tertidur lelap di sampingnya. Jadi sekarang untuk bergerak saja aku malas, apalagi menatap matanya. Si pencuri ulung yang bisa-bisanya mencuri segala keperawanan di wajahku.


“Ras, ayolah bangun. Atau aku gigit telingamu sekarang?” ancamnya dengan nada mendesak.


Ambyar... Aku tergesa-gesa bangkit dari kasur double pegas nyaman dan selimut tebal dengan rambutku yang tak karuan. Aku mengusap wajahku, menghilangkan kantuk yang enggan pergi.


“Oke, aku cuci muka dulu sama gosok gigi bentar.” kataku dengan nada serak bergelombang. Satu persatu kakiku turun dari kasur seraya berjalan gontai ke kamar mandi.


“Seksi.” Dominic bergeming di depan kamar mandi sambil memegang cangkir kopi saat aku mengeringkan wajah dengan handuk kecil di depannya. “Mau sarapan dulu?”


“Terlalu pagi!” Aku beringsut menjauh darinya lalu mencari sisir di meja televisi yang berantakan, penuh jajanan ringan dan botol minuman. “Dom, nggak beli sisir kamu?” tanyaku sambil mengobrak-abrik isi plastik dan tasnya.


“Nggak lah, mana ingat aku beli sisir. Adanya parfum.”


Aku tahu, “Ya udah, minta tolong sisir rambutku.” Aku pindah ke tepi kasur, duduk menunduk sembari sesekali memejamkan mata.


“Manja banget.” Dominic menaruh cangkir kopinya di dekat televisi sebelum duduk mengangkang di belakangku sampai kakinya menjuntai ke bawah, menahan sekujur tubuhku dengan tubuhnya sementara aku langsung paham, mantan playboy satu ini sedang ingin menyiasati kesempatan.

__ADS_1


Dominic membagi rambutku menjadi dua bagian sesuai garis rambut dengan jemarinya, merapikan gumpalan rambut yang terjalin bundet seraya menyugarnya perlahan-lahan.


“Aku males keluar pagi-pagi begini Dom, dingin.” aku jujur. “Pengen di sini aja, nonton tv atau tidur lagi. Bukannya itu jauh lebih enak untuk memenuhi fantasimu?” Dominic menggaruk kepalanya.


“Aku lebih suka matahari terbit daripada matahari tenggelam, Ras. Matahari tenggelam seperti pancaran hasrat yang menggelora, sedang matahari terbit adalah pancaran tenang yang menyenangkan. Hangat yang tidak menyakitkan, tapi menyehatkan.”


“Ya ampun, drama.” gerutuku. ”Omonganmu bikin aku geli, Dom. Sok idih banget, habis lihat hikayat di mana kamu?” kataku sambil mencubit gemas pahanya. Dominic memberi tengkukku tawa sebelum bibirnya mengecup sekejap lekukan yang memancing geli yang menggelitik bulu roma.


“Bibirmu lama-lama pengen aku kareti, Dom. Sumpah, gak bisa apa kamu tahan dulu sebelum kita nikah!”


“Ya kali di tahan, boker aja nggak bisa tahan aku. Apalagi ini. Ngaco kamu, Ras.” Dominic merebahkan sebagian wajahnya di tengkukku. “Hangat? Mau gini aja sampai kita pulang nanti?” tawarnya dengan suara rendah.


“Lebih baik kita lihat matahari yang menyehatkan dan menghirup udara segar lautan. Itu jauh lebih baik daripada kamu terus-terusan mencuri keperawanan di tubuhku!” kataku telak.


Tawa Dominic kembali terdengar sementara tangannya kembali menyugar rambutku dan menjalinnya dalam satu kepangan rambut. Dominic menahan kerapian kepangannya dengan karet bekas pembungkus bakmi Jawa yang kita beli semalam.


“Gini aja suka?”


Pada titik ini, aku melihat senyum bangga di wajah Dominic dari pantulan layar televisi saat ia kembali mengistirahatkan dagunya di bahuku.


“Mau minum susu dulu?” tawarnya perhatian.


“Kok aku lama-lama jadi mirip anak kecil bagimu, Dom? Aku bisa cari sendiri dan bikin sendiri.” aku menyentuh pahanya, ”Tapi terima kasih untuk tawarannya.”


Dominic tertawa. “Aku sudah bilang perhatianku akan besar-besaran. Tapi bagiku kamu emang mirip anak kecil Ras, gampang ditipu!”


“DOMINIC!!!! Maksudmu apa?” aku mencengkram kedua pahanya sampai ia mengeram. “Ralat ucapanmu!” kataku saat berbalik, menatapnya dari atas sampai bisa kulihat semua wajahnya yang berseri-seri.


“Ralat nggak?” kataku berapi-api.

__ADS_1


“Nggak, kamu emang gampang di tipu.”


“Terus kamu mau nipu aku sekarang setelah kamu tahu semua masa laluku?” Aku menelan ludah.


“Gak ada hubungannya sama masa lalumu, Ras.” Dominic menegakkan tubuhnya, “Kamu gampang di tipu oleh bujuk rayuku semalam.”


Aku mendesis seraya keluar kamar, pintu berdebat dengan tembok begitu keras. Aku menyusuri lorong kurang cahaya seraya menekuri anak tangga dengan perasaan kesal.


“Maksudnya apa dia ngomong kayak gitu.” Aku menoleh ke belakang. Sepi membuatku gegas bergerak ke tepi pantai.


Selang sepuluh menit, Dominic menyusulku di bawah langit Parangtritis yang rupawan bagai canvas gelap yang dinodai taburan awan-awan.


“Aku gak nipu kamu, Ras. Aku cuma ya, membicarakan sedikit masa lalumu dengan Pranata.” Aku sontak menatap Dominic dengan muka malas.


“Terus kamu sekarang mau ikut-ikutan dia? Oh pantes sahabat karib.” Aku kembali membuang muka.


“Ras... wajar aku anggap kamu anak kecil. Aku lebih banyak pengalaman dari kamu, dan apa yang terjadi tadi malam adalah hal yang harus kamu hindari ketika bertemu laki-laki selain aku!” Dominic menyentuh lenganku. “Aku bercanda tadi, bukan maksud menipumu.”


Aku melipat kedua tangan sambil berjalan menjauhinya, berjalan ke arah yang akan menghadap matahari terbit.


Aku terdiam meski semilir angin segar mulai datang, membius kulitku yang terbuka. Dominic menyejajarkan tubuhnya di sampingku.


“Aku masih bingung dengan tingkahmu, sebentar-sebentar mau menerimaku sebagai kekasihmu, sebentar-sebentar candaanku yang biasanya kamu terima dengan lapang dada malah berubah menjadi bencana.”


“Karena aku belum tahu sepenuhnya tentang rahasia Pranata yang kamu sembunyikan.” sahutku marah, mukaku memasam. ”Aku selama ini di tipu, mungkin benar, Pranata tidak benar-benar memanfaatkan Hetty, tapi Pranata memanfaatkan kepolosanku saat mencintainya!”


Dominic mengelus punggungku. “Hetty menanggung beban yang sama sepertimu. Kehilangan, tapi dia tidak punya sahabat sebaik aku saat menemanimu.”


Aku menyandarkan kepalaku di lengan Dominic. Perlahan tapi pasti, bergulirnya waktu dan rotasi bumi membuat matahari pagi mulai terbit. Dominic tersenyum, tetapi aku yang kembali diremas perasaan sendu menitihkan air mata tanpa bisa aku sembunyikan.

__ADS_1


“Ada saatnya kita nggak perlu tahu semua rahasia yang telah disembunyikan, Ras. Demi kebaikan kita sendiri dan sesuatu yang telah pergi. Pranata mungkin salah, sama halnya aku yang menyembunyikan rahasianya kepadamu. Tapi kepergiannya sudah cukup sebagai balasan atas apa yang kita rahasiakan. Maafkan kami, aku, Pranata dan mungkin Hetty tak lebih dari orang brengsek yang memanfaatkan kepolosanmu dan kebaikanmu. Maafkan kami.”


...🖤...


__ADS_2