
Selama Dominic tetap mengemudikan mobil setelah membeli martabak telur untuk jaga-jaga jika bapakku marah, aku memandangi panorama tengah malam kota Jogja yang lebih tenang dan damai dengan perasaan berdebar-debar.
Selama ini aku cenderung tidak peduli siapa Dominic, cukuplah dia baik dan ada untukku selama aku membutuhkannya itu jauh lebih cukup membahagiakan ketimbang siapa dirinya yang sungguh-sungguh.
”Belum ngantuk, Ras?” Dominic mengusap rambutku sambil mengemudi.
“Aku minum banyak kopi tadi...”
“Mana mungkin?” bantah Dominic, “Kamu cuma beli jus mangga full keju dan choco chips. Nggak ada kandungan kafein di sana cantik...”
“Kamu kafeinnya, Dom!!!” desisku mangkel. “Gak paham-paham.” gerutuku sambil buang muka ke arahnya.
“Oh... Aku jadi kopi sekarang, pahit dong.” balas Dominic dengan tawa. “Apes bener aku jadi kopi, tapi makasih, aku bisa bikin kamu terjaga setiap hari. I promise.”
Kerlingan matanya terlihat nakal sementara yang aku pikirkan bukan itu, dia kafein yang bikin kepalaku jadi penuh tanda tanya besar Yeng berkelebat tanpa jeda seperti habis minum kopi. Pikiranku berkelana, terjerat pada satu nama di sebelahku kini.
“Kerja dimana kamu?” tanyaku akhirnya.
“Cie... ada yang nggak bisa tidur nanti.” ledeknya sembari melepas sabuk pengamannya. Dominic keluar mobil seraya membuka pintu gerbang, sejenak ia menatapku sambil tersenyum seperti yang aku lakukan pertama kali saat menyambut kedatangannya.
“Saranghaeyo, Ras.” Badannya menghentak di jok mobil seraya mengemudikannya beberapa meter sampai ke halaman rumah. Dia tersenyum geli sama seperti waktu aku melihatnya sampai terkagum-kagum melihat manusia setengah bule datang ke kost-kostan ini. Itu kejadian super langka yang pernah terjadi di kost ini sampai sekarang. Tak ada lelaki setampan dia yang mampir dan menjadikan kost ini rumah singgah.
Aku menjentikkan jariku di telinganya. “Udah jangan merayu, kamar bapak nyala. Beliau yang terhormat pasti terbangun dari mimpi indahnya dan menuju mimpi buruk!”
Dominic menahan pergelangan tanganku. “Nggak di balas tadi saranghaeyo-nya?”
“Bapak keburu keluar, aku harus menyambutnya....” Kuraih bungkusan martabak telur buru-buru seraya menjulurkan lidah.
“Kamu kecepatan minta balasan cinta, kalo sayang aku punya banyak untukmu.” Tangan kiriku mendorong pintu mobil. “Malam, Dominic.”
“Jangan kunci kamarmu!”
“Wuhehehe...” Aku melenggang ke arah teras rumah bersamaan dengan terbukanya pintu dari dalam.
“Darimana kamu?” tanya bapak senewen. Kepalanya menengok ke arah mobil yang baru saja berhenti deru mesinnya.
__ADS_1
“Nyobain kasur.” Aku buru-buru menyerahkan martabak telur ke tangan bapak seraya melesat cepat ke kamarku seolah aku mempunyai kekuatan angin.
“Biar mampus itu Dominic jelasin ke bapak nyobain kasur yang gimana maksudnya!” Aku tergelak, punggungku menempel daun pintu setelah tertutup seraya merosot perlahan-lahan. Aku termenung dan mengusap bibirku.
“Berani-beraninya aku cium Dominic. Iuhh... parah, tapi gemes. Pantesan dia suka cium-cium...” Aku memukul kepalaku. “Sadar, Ras. Sadar... bukannya mikir Kendranata kamu malah tambah mengobok-obok pikiran kotormu, eh... kalo aku iya, Dominic pasti tambah parah lagi itu... Ampun, pikiran ini, film tadi... Aku harus tobat.”
Aku merangkak ke tempat tidurku saking tak punya tenaga setelah memikirkan diriku yang mulai seperti mantan-mantan Dominic. Nakal dan murahan.
“Parah banget!” Aku menaruh punggungku dengan hati-hati ke kasur sebelum terperanjat. Ketukan pintu yang serupa gedoran membuatku batal menunaikan mimpi indah.
“Siapa?” tanyaku cemas. “Aku mau mandi, kalo bapak mau marah di pending dulu ajalah, ini udah malam.”
Gedoran kembali membuatku mondar-mandir sembari mengigit jariku. Tapi semakin lama aku biarkan, semakin tidak usai-usai urusan malam ini.
Aku menurunkan gagang pintu dan menariknya. Dominic menyeringai. Aku melebar daun pintu sambil bernapas lega.
“Ngapain?” tanyaku seraya melongok ke lorong kost-kostan, sunyi, hanya samar-samar terdengar musik dari salah satu kamar. “Bapak mana?”
“Dapur, masak air.”
“Buat ngopi?”
“Kurang ajar.”
“Kamu yang kurang ajar! Bisa-bisanya bikin alasan nyobain kasur, mau ndak mau aku harus beli kasur besok buat ngisi kamar kita sini!” Dominic menonyor keningku.
Aku meringis lalu sadar, “Kamu kerja apa?”
“Gak penting, aku nggak mau kamu ngerti terus nggak percaya diri.” Dominic menyelipkan rambutku di belakang telinga. “Kita bisa cari kebahagiaan bareng-bareng.”
“Tapi aku perlu tahu siapa kamu.”
“Maksudmu kenalan lagi, Ras? Lupa kamu sama namaku?”
“Aku serius!”
__ADS_1
“Habis nikah kita bicarakan lagi.”
Aku berdehem seraya mendorongnya keluar kamar.
“Nanti siang aku ikut kamu, sekalian ngomong sama bapak soal biaya kawinan kita.”
“Kawinan kita, hmm.” Dominic meringis geli. “Masih usaha buat kesepakatan, Ras?”
“Masih!” Aku mengangguk tekun. “Dengar... Pertama, jangan paksa aku... Kedua, ehm...” Aku meneguk ludah berkali-kali. “Setiap kita tidur harus gelap-gelapan! Terus...”
“Apa coba?” katanya sambil bersedekap dan bersandar di kusen pintu. “Aku mau dengar semuanya sekarang biar nanti
“Aku... hi... Kamu harus tutup mata.” kataku sambil menutup pipiku yang bersemu.
Dominic menahan senyum lalu seringainya terlihat. “Boleh, aku turuti kemauanmu gadis bocah.”
Kesenangan pudar dari wajahku. “Terus kamu mau sekalian bikin kesepakatan nggak, Dom?”
“Aku hanya ingin membuatmu hangat dengan semua yang aku miliki untukmu.”
“Domi—”
Aku tersenyum saat ia tersentak kaget dan keluar kamar dengan senyum canggungnya.
“Nggih, pak. Pripun?”¹
“Banyune wes² panas, kamu mandi terus makan martabak bareng bapak.”
“Nggih, pak. Nggih.”
Aku menutup pintu kamarku seraya merebahkan diri di kasur. Dominic meninggalkan ciuman selamat pagi sebelum bapak memudarkan kehangatan yang kembali menguasai tubuh ini. Menerbangkan khayalan lalu menjatuhkan lagi ke bumi.
Dominic pasti sedang diintrogasi... Dan itu menyenangkan. “Kita impas, Domiku. Makan itu martabak dan omongan bapak!” Aku tersenyum seraya memejamkan mata.
...🖤...
__ADS_1
¹ Iya, pak. Bagaimana?
² Airnya sudah panas.