Jogja, Kamu & Kenangan

Jogja, Kamu & Kenangan
Bait ke-44


__ADS_3

Aku mengulurkan dua cangkir kopi hitam untuk Dominic dan bapak yang sedang menghabiskan pagi hari di teras rumah sambil mencatat daftar tamu undangan.


Bapak menatapku sadis sampai aku kehilangan minat untuk bergabung dengan mereka. Aku memalingkan wajah ke ayam yang berkokok sambil ngacir ke halaman sebelah seolah ayam itu terkoneksi dengan pikiranku.


”Bapak pikir kamu bisa di percaya, ternyata... masalah kemarin belum selesai kamu bikin masalah lagi. Nggak puas hidupmu banyak masalah?”


Aku mengempaskan tubuhku di kursi seraya mencubit kecil pantat Dominic.


“Kalau gitu bapak jangan nambah masalahku to, udah tahu anaknya banyak masalah. Bapak ikut-ikutan nambah masalahku dengan terus-terusan marah. Tahu gitu aku nggak pulang!”


“Maaf Ras, bapak wajib tahu!” sahut Dominic, mengumbar keprihatinan dengan menggelengkan kepala.


Wajib tahu! Atau caper?


Dihampiri perasaan bersalah karena ndablek aku membuang napas lalu menatap bapakku.


“Iya aku salah, aku datang ke rumah Pranata bareng Romi. Wong aku mikirnya aku akan menghadapi bapak ibunya sekalian minta maaf. Syukur-syukur di terima biar bebanku berkurang, tahunya lain. Itu juga karena aku nggak tahu menahu, Pak. Coba kalau tahu, aku pasti nurut sama bapak!”


“Terus maumu gimana sekarang, Ras? Bapak ini sudah sepuh, sudah pingin hidup tenang.”


“Maksud bapak, bapak sudah pingin nyusul Pranata ke surga?” Aku mendelik ketika kakiku diinjak Dominic, ia tekan dengan sekuat tenaga sampai aku mengelus punggungnya sambil tersenyum kecut.


“Bukan tenang yang abadi, Rastanty. Gobl...” Dominic menghela napas, raut wajahnya tercengang ketika ia hampir keceplosan.


“Bapak pingin tenang yang bukan banyak pikiran, Ras!” imbuhnya lebih tenang.


“Oh, ngomong pak.” Aku tersenyum kecut meski dalam hati, gelombang rasa penasaran itu menggedor-gedor benakku.


Kapan Dominic bisa ketahuan belangnya. Hari ini rasanya tenang banget, dia nggak seperti habis dimarahi bapak karena semalam ketahuan menciumku. Enak bener.


“Sekarang bapak tanya sama kamu, Ras. Kamu mau gimana?”


“Gak gimana-gimana, kan semuanya sudah di atur bapak sama mas Dominic. Aku sekarang pasti nurut wes, janji.” kataku pasrah daripada panjang urusannya. Isi kepalaku saja masih oleng belum di tambah urusan persiapan pernikahan yang masih 25%.


“Apa kamu bisa tidak mengambil keputusan bodoh jika Kendranata datang ke sini?” Bapak bertanya serius, kerutan di wajahnya terpampang jelas.


“Mungkin hatiku yang terus bertanya-tanya, Pak. Dia Kendranata atau Pranata. Soalnya banyak pertanyaan yang ingin Rastanty tanyakan kalo aku berhalusinasi dia Pranata. Makanya aku butuh Dominic sekarang sampai aku nikah nanti, boleh to? Bapak izinkan calon mantu bapak di sini?” Aku menjawab dengan suara yang sengaja aku rendahkan.


Senyum samar terlihat di wajah Dominic meskipun ia tampak acuh tak acuh dengan pernyataanku barusan.


Bapak menatapku dan Dominic bergantian. “Bapak pasti izinkan, tapi bapak tidak ingin melihat kalian seperti tadi malam. Bisa kalian berdua berjanji pada bapak?”


Aku mendesah tidak berdaya saat Dominic mengajakku bersalaman.


“Aku berjanji tidak akan mengulangi kejadian semalam, Ras. Maafkan aku, aku khilaf.”


Aku mendelik, lamis banget lambene.¹ Tapi aku mengangguk biar bapak tenang, ayem tentram terus nggak marah-marah. Kacau nanti kalau bapak nggak ada.


“Kami berjanji, pak. Tapi setelah nikah nanti beda ceritanya to, pak?” tanya Dominic setelahnya.


Bapak sedikit mencondongkan tubuh.


“Kamu jelas sudah tahu, le.” ucapnya setengah berbisik, sementara kupingku masih sangat normal.


Aku berdehem-dehem, Dominic menarik ujung kaosku sebelum aku beranjak.


“Kita pergi ke hotel lagi, Ras. Meeting. Kamu ganti baju, yang lucu kalo ada.”

__ADS_1


“Mau aku pakai kostum badut sekalian?” tukasku sambil menunjuk kopi di meja. “Paijo ngomong kopi enak di minum waktu hangat-hangat, jadi minum! Aku mau mandi.” Sinis aku menatap Dominic lalu bapak sebelum masuk ke rumah.


“Mereka berdua pasti bikin rencana... rencana gila.” Aku menggertakkan kaki sambil menaruh nampan di kepala. “Aku yakin.” ucapku sambil melenggang ke kamar, menyiapkan baju lucu yang entah lucu yang bagaimana. Apa lelaki memang suka aneh-aneh permintaannya?


Aku mematut diri di cermin setelah mengenakan gaun midi berwarna kuning cerah dengan corak bunga-bunga kecil tanpa lengan. Sepatu platform yang dulu di belikan Dominic menunjang penampilanku yang sangat berbeda dari kemarin.


“Mungkin ini lucu baginya, kalo nggak lucu, bodoh amat.”


Aku keluar dari kamar setelah mendengar berulang kali klakson mobil terdengar.


“Brisik banget kamu, Dom!” kataku gak sabar sembari masuk ke mobil.


“Widih... tumben pakai baju warna-warni.” Dominic tiba-tiba mengangkat lenganku. “Anjirrr, jadi beneran kamu kemarin sempat waxing bareng Michelle?”


“Gitu aja perlu kamu nanya?” Aku menurunkan lenganku cepat-cepat. “Lagian sinting juga kamu, kenapa tiba-tiba lihat ketiak!”


“Semuanya di waxing?” Senyum di wajah Dominic nampak geli.


Aku menjentikkan jari di mulutnya. “Gak usah tanya-tanya!”


“Penasaran.” Dominic menyeringai. “Tapi aku berusaha berpikir positif sekarang.” Dominic mendesah pelan. Matanya menatap spion luar sebelum mengeluarkan mobil milik hotel dari pekarangan kost-kostan.


Sesampainya kami di hotel yang tampak di penuhi bus pariwisata di halaman parkirannya, Dominic memakai jas kerja yang dia gantungkan di jok penumpang.


“Siap, Ras?”


“Siap-siap aja, tapi... kamu udah bicara sama bapak soal biayanya?”


“Sudah.”


“Terus bapak udah kasih uangnya?”


“Oke, biar nanti uang mukanya aku aja sebagai tanda jadi.”


“Cie yang optimis mau nikah.”


“Yaiya—lah.” Aku menguncupkan bibir. “Bisa ada yang ngamuk dan ngambek kalau gagal.”


“Aku sama bapakmu?”


Aku mengangguk bersamaan dengannya yang sudah menyisir rambut dan memakai parfum. Dominic mengalungkan tas selempangnya lalu mengumbar senyumnya yang manis.


“Aku udah janji sama bapak nggak cium bibir kamu, tapi aku masih bisa cium keningmu, pipimu, dan hidungmu.” Dominic mewujudkannya dalam satu tarikan napas di seluruh wajahku.


“Turun, Ras.”


Aku tidak tahu bagaimana harus merespon, selama ini aku tidak terbiasa dengan sentuhan fisik dengan lawan jenis, apalagi sahabatku sendiri. Meski rasa nyaman dan tidak itu berada seimbang di sekujur tubuhku.


Kami memasuki hotel dan langsung menuju ke ruang marketing manager yang nampaknya lebih sigap menyambut kedatangan Dominic lebih dulu.


“Kita langsung mulai saja.” kata Dominic seolah ia sedang memulai rapat seperti yang dilakukan bapaknya. Sadar, aku langsung mengamatinya dari kursi paling ujung dengan mata menyipit. Jangan-jangan? Aku menepuk-nepuk pipiku, dia akan meneruskan usaha keluarga. Jadi bos. Waduh... Backpacker vs bos?


Kami mendengar penjelasan dari tim makeup dan bridal style mengenai tema apa yang ingin kami pilih.


“Saya ingin memakai adat Jawa Dodotan untuk resepsi.” kata Dominic telak. “Untuk akad saya ingin serba putih.”


“Baik, untuk riasan pengantin wanita ingin yang bagaimana?”

__ADS_1


“Apa saja asal membuat Rastanty tambah cantik.”


Aku tercenung. Tidak pernah ia memujiku di depan orang banyak seperti ini. Dan andai aku punya sayap, aku ingin mendekat tanpa gerakan yang dia ketahui untuk sekedar meremas bibirnya yang membuatku merona dan salah tingkah.


Tim make up dan bridal style mengangguk dan menuliskan pilihan kami.


“Fitting kebaya akad bisa di lakukan hari ini untuk mempercepat persiapan. Apakah bapak dan ibu Dwayne memiliki waktu luang? Kira-kira satu jam?” Pia namanya menatapku dan Dominic.


“Sekalian saja saya ingin prewedding. I little naughty but romantic and classic. Indoor.” ucapnya tampak bersemangat.


Aku meneguk ludah berkali-kali. Mulai banyak maunya, mulai menjadi-jadi, padahal aku cuma bawa uang muka enam juta hasil tabunganku selama ini.


Dominic mengeluarkan segepok uang tanpa dia hitung dari tasnya seraya dia ulurkan pada marketing manager.


“Sebagai mukanya.”


“Eh aku aja.” Aku bangkit sembari membuka tas kecilku. Aku ikut menaruh uangku di samping uang Dominic yang lebih tinggi dua kali lipat dari punyaku. “Kurangnya nunggu bapak mas.” kataku lirih lalu merangkul pundak Dominic.


“Ambil duitmu cepat! Urusan Jogja urusan bapakku!”


“Itu buat bayar sewa hotel keluargaku nanti yee.” Dominic menyeringai, tangannya mendorong keseluruhan uang itu.. “Akumulasikan dan berikan saya rincian biayanya.”


“Saya akan kirim secepatnya.” Si marketing manager mengangguk.


“Mari, kita langsung ke salon dan bridal.” ajak Pia bersama timnya yang sudah berdiri.


Kurang dari setengah jam, kami sudah tiba di sebuah bangunan salon dan bridal di pusat kota Jogjakarta yang memiliki studio foto. Kami berdua memulainya dengan fitting kebaya akad sebelum ke proses prewedding i little naughty but romantic and classic.


Aku tidak tahu itu konsep apa yang dipilih Dominic, cuma ngawur juga kalau kami harus sedikit nakal dalam berpose alih-alih biasa saja dan lumrah dilakukan pasangan mau nikah.


“Dom, maksudmu apa sih gini amat konsepnya?”


“Biar langka dan lucu.”


“Terus kudu banget aku pakai piyama, kamu koloran? Sinting kok ngajak-ngajak.”


“Konsepnya kan sedikit nakal tapi romantis dan klasik. Ini memenuhi keinginanku Ras, anggap aja gambaran kita habis nikah.”


“Gendeng!”


Dominic terkekeh-kekeh lalu menatap sekujur tubuhku dari atas ke bawah secara terang-terangan.


“Pokoknya kamu kudu menunjukkan ekspresimu waktu jengkel sama aku, bisa, Ras?” pintanya saat bersabar menungguku di dandani.


“Bisa banget.” Penata rambut yang sedang membuat rambutku berantakan mengulum senyum.


“Sudah kak.”


Yeyy, lama sudah aku berada di depan cermin rias. Aku berdiri seraya merenggangkan otot-ototku sebelum mendekati Dominic. Ia tersenyum sambil menyentuh pinggangku dengan sebelah tangan.


“Kau cantik hari ini dan aku suka. Kau lain sekali...” Dominic bersenandung sambil menatapku lekat dengan senyum tertahan.


“Aku nggak akan lupa paras gadis sembilan belas tahun tanpa make up yang lihat aku sampai melongo dan sekarang gadis itu sudah benar-benar dewasa, memukau dan—”


Aku menjulurkan lidah sembari memutar mata. “Kamu jangan bikin aku malu apalagi salting!”


“Aku coba.” Dominic mencium pipiku lalu mendekap lama tubuhku sampai membuat seluruh staff make up di ruangan ini memalingkan muka dengan rona merah di pipi mereka.

__ADS_1


...🖤...


__ADS_2