
Berjuta-juta terka menghampiri kami berempat di depan dokter yang selesai mengecek bayi sejuta harapan ini. Ia tersenyum-senyum dan melipat kedua tangannya di depan dada setelah mendengar permintaan Marisa.
”Jadi saya hanya perlu memberi jawaban di kertas rahasia? Di beri amplop begitu tanpa memberi tahu jenis kelaminnya terlebih dahulu?” tanya si dokter memastikan.
Marisa langsung menggelengkan kepala sambil menumpukan tangannya di tepi meja. Tubuhnya condong ke depan.
“Jangan katakan apapun selain cucuku sehat dan kuat.” katanya serius bukan main, ”Kami akan membawa surat itu ke tukang dekor, biar menjadi suprise karena nama cucu dan cicit Prambudi Dwayne yang pertama penuh pertimbangan, ya, tolong. Ini penting, kejutan ini sangat-sangat berarti bagi kami sekeluarga.”
“Baik... Sebentar.” Si dokter mengangguk.
Saking asyiknya bekerja dan tahu betul keanehan kami dokter tersebut mengambil kertas lalu seperti murid pintar di kelas yang tidak ingin di contek ia mendelik dan menatap kami dengan muka pelit.
Aku yakin seratus persen sampai anak ini lahir, dokter ini dan asistennya akan mengingat kami sebagai pasien paling ambyar, paling ramai, dan paling banyak permintaan.
“Silakan.” Dokter menyerahkan amplop yang langsung disambar Marisa. “Mudah-mudahan, Diana.” ucapnya berupa gumaman diiringi helaan napas.
Nenek mencebikkan bibir sambil menarik ujung gaun satin premium dengan detail rampel di bagian pinggangnya. “Semuanya harus kau syukuri, Risa. Diana anggun, Budiman berkharisma! Kau terima saja berkah dari Tuhan!” katanya menasihati.
Si dokter mengulum senyum sembari menyibukkan diri mencatat vitamin tambahan dan beberapa hasil pemeriksaan ultrasonografi di buku riwayat kunjungan kesehatan. “Selamat berbahagia.”
Aku menerima buku kesehatan ibu dan anak seraya menggandeng mama yang tampak was-was sebelum mengucapkan permisi dan terima kasih. Dominic mendorong kursi roda mama dengan wajah tanpa ekspresi.
Aku menyeringai dalam hati, semua bungkam gak dapat protes. Nama anak kami sudah di tentukan dan tibalah setengah jam kemudian setelah Dominic mengemudikan mobil dengan santai kami tiba di tempat jasa dekorasi pesta gender reveal. Upaya membuat surprise bagi kami serumah nampaknya berimbas pada mood kami beberapa hari kemudian sampai ibu dan bapakku serta Paijo dkk datang ke rumah.
Aku berbahagia atas kedatangan mereka. Bapakku tahu aku hamil dan ia berangsur-angsur mengurangi tatapan mengandung baranya padaku. Sementara ibuku biasa, cuek, santai, pokoknya apapun yang terjadi hidup terus berlanjut.
Paijo menyeringai sembari berkacak pinggang. Baju koko putih serta peci hitam membuatnya terlihat seperti remaja masjid paling senior.
“Ajegileee... tengil banget, bisa ae nikah langsung bunting. Bener-bener dah... ikut seneng.” Paijo berdecak kagum sambil geleng-geleng kepala.
__ADS_1
Dominic membusungkan dadanya seraya menepuk-nepuknya. Bangga sekali dia dengan pujian itu. “Semburannya kencang, bro. Gas, rem blong.”
Paijo mencebikkan bibir. Aku yakin pikirannya langsung loncat-loncat seperti kodok. Sementara di teras, Michelle yang meninggalkan sejenak pakaian modis dan trendy-nya memakai gaun panjang tertutup putih tulang dan scarf yang dia ikat di bawah dagunya.
“Adikmu, Dom?” tanya Paijo tiba-tiba, binar matanya seperti habis melihat artis idola lewat.
Aku mencebikkan bibir. “Gak usah melotot gitu kali, Jo. Ingat tunanganmu, Puspita!” kataku galak.
“Cuma kenalan doang apa salahnya, Ras. Lagian punya adik cakep nggak di kenalin. Pelit banget kamu, Dom!”
Dominic merangkul pundaknya sembari berjalan. “Aku nggak pelit, Jo. Kamu tahu aku ini gimana? Makan sering aku traktir, bensin kadang aku beliin, uang kuliah juga sering aku tomboki... Kurang gimana aku jadi sahabatmu?” Dominic menyeringai sambil melepas sandalnya di keset. ”Masalahnya itu ini lho, adikku belum tentu mau kenalan sama pribumi sepertimu!”
“Cocote...” maki Paijo terang-terangan sambil mencampakkan tangan Dominic dari pundaknya. “Mentang-mentang blesteran Michigan, Singapura plus Malang, kenalan we milih-milih!”
Michelle mengerutkan kening. ”Temanmu luwe mas kok nesu-nesu bae?”
Dominic kepayahan mengurangi suara tawanya. “Paijo pingin kenalan sama kamu, Chelle.”
“Wadoh... di tolak mubasir, kenalan di kira main hati.” Paijo menggerutu tetapi telapak tangannya melekat di telapak tangan Michelle. Si jail yang memakai kuku palsu dan berwarna dusty pink itu mengelus punggung tangan Paijo dengan sengaja sembari berbisik manja namanya. “Michelle...”
Mata Paijo kedip-kedip dan rahang bawah yang bergetar.
”Puspita... maafin kangmas.” Paijo memejamkan mata tetapi penghayatannya menjadi-jadi Dominic memisahkan tangan keduanya.
“Cukup...”
Paijo mendengus. “Alus banget tangane, Dom. Pasti adikmu nggak pernah nyuci baju sendiri pake tangan apalagi nyapu ngepel.”
Michelle sengaja terbahak-bahak dengan sengaja. ”Pasti temanmu pekerjaan keras mas, jari telunjuknya kapalan.”
__ADS_1
Dominic menggandeng tanganku dan memilih masuk ke rumah. Dia menghela napas setelah duduk bersila di karpet.
“Kita biarkan mereka kenalan, Ras. Lihat cewek bening dikit melengos. Gak setia paling-paling si Paijo.”
Aku merapikan scarf yang menutupi rambutku seraya tersenyum pada bapak dan ibuku yang duduk di depan kami.
“Yang penting acara kita segera di mulai, Dom. Aku nggak sabar pingin tahu anak kita Cinderella apa Gatotkaca.”
“Jangan Gatotkaca, Ras. Balung wesi, keras. Kasian ceweknya nanti.” Dominic menggeleng.
Bapak berdehem-dehem dengan suara berat. “Bisa acara kita mulai?”
Semua orang yang terlibat dalam acara ini mulai khusyuk bersikap, menaruh ponsel dan memandang kami dengan ragam senyuman.
Prambudi mengawali pesta empat bulanan dengan membaca beberapa kebahagiaan yang tak terperi sebelum dilanjutkan dengan membaca doa-doa.
Sekujur tubuhnya di selimuti kebahagiaan. Cinta dan damai yang melekat berangsur-angsur menjadi debar yang tak terperikan. Tak jauh dari tempat kami melangsungkan doa bersama, tempat untuk melakukan gender reveal dihiasi balon warna biru dan merah muda. Ada pula satu kotak besar berisi balon yang nantinya akan menjawab kegundahan kami sekeluarga.
Dominic mengusap punggungku sembari tersenyum. Rupawan. Baik memakai busana apapun dia slalu menyita perhatian dan sekarang dia memakai baju koko shanghai berwarna merah muda. Sementara gaun panjangku berwarna biru muda. Adil.
“Kita mulai acara utama, Ras.” Ia membantuku berdiri.
Di depan kotak tinggal kami tarik tali pengikatnya yang tampak kendur ini semua akan terjawab. Semua keluarga ini menanti dengan wajah harap-harap cemas.
“Apapun berkah ini kita harus bahagia, Dom. Walau sejujurnya aku geli.” Ia mengangguk, kami pun lantas memegang satu ujung tali dan saling menatap.
”Budiman or Diana will be extraordinary.” Kami berdua menarik tali bersamaan. Tali terlepas, balon biru menyembul ke udara bebas. Memecahkan tawa yang terdengar bercampur baur dengan tepuk tangan bahagia.
Aku dan Dominic terkekeh seraya berpelukan. Kami berbahagia, kelak terhitung kurang lebih lima bulan lagi. Pangeran kecil di istana megah ini yang di penuhi canda dan kasih akan terlahir. Mengisi sepi menjadi hibur yang enggan pergi.
__ADS_1
“Budiman Edoardo Dwayne. The winner!”
...🖤( ˘ ³˘)♥...