Jogja, Kamu & Kenangan

Jogja, Kamu & Kenangan
Bait Ke-31


__ADS_3

Dinginnya udara kota Malang sebelum subuh berkumandang membuatku menempelkan kedua telapak tangan di depan teras stasiun.


“Mobil jemputan bentar lagi datang, Ras.” Dominic menenangkan sambil mengantar hangat di kedua pipiku dengan telapak tangannya.


Aku tersenyum jengah di hadapan bapak ibuku yang kalut akan pemandangan ini. Mereka bersumpah akan mengejar restu orang tua Dominic untuk menikahkan kami berdua.


“Aku menggigil dari dalam, Dom.” kataku bergetar.


“Widihh... Kalau itu aku nggak bisa bantu, Ras. Kecuali...”


Terpogoh-pogoh sopir keluarga Dominic yang memakai jaket boomber hitam dan tudung kepala mengejutkan Dominic dengan panggilannya yang lantang.


“Mobil sudah siap mas, mari.” Dua kardus oleh-oleh dari Jogja dia angkut bersama langkahnya yang kembali keluar dari teras stasiun.


Kakiku melangkah dengan perasaan cemas. Bagaimana bisa kami pulang ke Jogja sebentar lalu kembali ke Malang minta tunangan. Aku heran dengan doa orang tua kami yang dikabulkan secepat ini. Kok bisa ya kesalahan yang berulang-ulang kami lakukan dibayar tunai sekali jadi. Memang harus kuakui, melewati malam di bawah langit Parangtritis malam paling fatal kami lakukan.


“Mama pasti happy kamu jadi mantunya, Ras.” hibur Dominic sewaktu aku terdiam sambil menautkan kedua jemariku di atas pangkuan tanpa berminat berbaur obrolan dengan Pak Tedy.


Bahuku mengedik sedikit. “Kamu yakin? Gimana kalau mama berubah pikiran?”


“Nggak juga.” Dominic menggeleng. “Mama tahu aku suka kamu, jadi... Santai Ras, sampai rumah nanti bisa tidur lagi.”


Bapak berdehem-dehem sampai Pak Tedy nyengir kuda. Kepalanya sedikit menoleh ke belakang.


“Mbak Rasta dan Mas Domi sudah biasa tidur bareng di rumah Malang pak, nonton film sama kucing mereka namanya Moni.”


Ambyar... Pikiranku langsung tersangkut pada banyak hal. Pak Tedy yang mulutnya ember, kelakuan kami yang sering dikira sepasang kekasih, terus bapakku yang menonton wajah kami dengan muka mengandung bara api dan aku sendiri yang langsung tertunduk diam. Aku benar-benar akan menikahi sahabatku sendiri, membangun rumah tangga bersamanya dan melahirkan anaknya. Eits, tapi proses bagaimana anak itu akan lahir adalah yang aku takutkan.


Aku menghela napas, seperempat jam kemudian, mobil sampai di halaman rumah Dominic yang sering kusebut rumahku juga. Aku bebas keluar masuk ke rumah ini, berbaur dengan keluarga Dominic yang membuka tangannya lebar-lebar untukku.


“Yakin bapak mau melamar Dominic? ” tanyaku sebelum bapak keluar mobil. Aku menahan jaketnya seperti anak kecil yang enggan ditinggalkan.


“Bapak harus musyawarah dengan orang tua Dominic, kelakuan kalian semakin lama kalo dibiarkan semakin tidak ada adab! Mau sampai kapan seperti itu?”


Pintu mobil dan bagasi terbuka semua, terpaksa aku yang duduk dengan Dominic di bangku belakang keluar lewat pintu bagasi mobil SUV yang kerap aku bawa berpetualang.


Orang tua Dominic keluar menyambut, menggunakan setelan necis seperti kedatangan tamu spesial padahal ini masih gelap.

__ADS_1


“Welcome, nice to meet you again, Rasta.” Marisa memelukku lalu menangkup kedua pipiku. “Kamu tegang banget, darling. Why, Dominic nakal?” tanyanya dengan mata menyipit tapi senyumnya menggelikan.


“Rastanty kedinginan, mam.” sahut Dominic sambil mencium pipi ibunya. “Aku bawa orang tua Rastanty, mama lobby biar aku urus Rastanty sebentar.”


“Good.” Marisa menepuk bahuku, “Masuk sayang, kamarmu sudah rapi.”


Aku diserang rikuh yang berkepanjangan sewaktu memasuki rumah Dominic. Rasanya ada yang berbeda, aku tidak tenang berada di sini dengan status sekarang, aku suka menjadi sahabat Dominic sebab tidak ada calon istri yang sudah menjajal ranjang calon suaminya sebelum malam pernikahan terjadi.


Sementara aku? Sudah ratusan kali glundang-glundung di kasurnya.


“Jangan lupa napas biar aku nggak perlu ngasih kamu napas buatan, Ras. Tegang banget.”


Aku merasakan pergelangan tanganku di pegang, “Nggak sampe hati aku maksa kamu buat nikah sama aku, tapi kamu akan terlalu jahat kalau sampai nolak aku sebagai pendampingmu.”


“Iya.” Kami menaiki anak tangga yang menuju lantai dua dan tiga. Dominic memiliki dua kamar, kamar yang aku tempati dan kamar pribadinya di lantai tiga. Tak jauh dari kamarku ada kamar adik perempuan dan adik laki-lakinya, sementara ia adalah anak sulung.


Dominic mendorong pintu kamar yang setengah terbuka, kucingku dan kandangnya tetap menempati posisi yang sama seperti kemarin sebelum aku tinggal. Dia mengeoongg panjang saat melihatku.


“Aku tinggal berdua?” Dominic memecah keheningan saat aku menggendong kucingku bak bayi yang kurindukan. Aku menggeleng. “Tunggu sebentar buru-buru mau ngapain.”


Dominic membasahi bibirnya lalu tersenyum samar. “Aku mau, ehm, ke kamarku sendiri setelah menemui orang tua kita.”


“Yakin, wajahmu beda. Kamu pasti mikir yang lain.” tukasku sambil menahan daun pintu dengan tubuhku.


“Aku perlu tanya sesuatu ke mereka, serius, sebelum acara keluarga di mulai.”


“Apa?”


“Cincin apa yang perlu aku berikan untukmu!” kata Dominic malu sembari mendekat.


Aku memberikan senyum tertahan saat tubuhnya menahan tubuhku di daun pintu.


“Aku nggak suka emas.”


“Terus?” Dominic memegang daguku dan menaikkannya hingga tatapan kami bertemu.


“Beri waktu sebulan sebelum tanggal pernikahan ditentukan, plis.” kataku berharap.

__ADS_1


Dominic berdehem seolah sudah menduga permintaanku yang satu ini dan setiap kali memiliki kesempatan, Dominic menempatkan bibirnya pada bibirku dengan lembut dan gemas.


Aku memukul punggungnya pelan. Bibirnya yang menjalin hubungan dengan lidahku berhenti, ketukan pintu kamar terdengar. Dominic menguncupkan bibir.


“Yes, mam.” Dominic menarik daun pintu sementara aku sudah melesat cepat masuk ke kamar mandi, membasuh muka dan mengusap bibirku dengan air.


“Kau apakan Rastanty? Kenapa orang tuanya meminta pertanggungjawaban dengan buru-buru?”


“Rastanty still virgin, i know. I just... kiss the lips so long and we're sleeping together at hotel, not kost-kostan!”


“So?”


“We must get married.”


“Ouhhh, God.” Marisa terdengar menghela napas. “Kenapa tidak daridulu saja, Dom.” Marisa berdecak.


“Waktunya baru pas kemarin, mam.”


Aku bergabung setelah selesai mengeringkan wajahku. Marisa tersenyum geli saat menatapku dan anaknya.


“Oke, jam sepuluh nanti kita mulai acara keluarga dan maaf Rastanty kamu harus terima keputusan ini.” Ekor mata Marisa mengarah ke pintu.


“Mama tutup dan mama pastikan orang tuamu tidak tahu.”


“Oh, no... no... no... Mam...” Dominic memajukan sebelah kakinya, menahan daun pintu. “Rastanty terlalu kaku untuk hal ini. Dia bukan gadis bule yang bisa merayu semudah mama merayu bapak.” ucap Dominic sambil tersenyum lebar.


“I just help you.” aku Marisa sambil merangkul pinggang Dominic saat menjauh keluar kamar.


“Belum saatnya, mam. Kemarin aku sudah ditampar hanya karena bilang aku pernah membawa seorang gadis ke kamar kost.”


“Wow, Rastanty akan menjadi partner yang penuh tantangan nanti, Dom. Luar biasa.”


Dominic terkekeh. Aku menarik kepalaku masuk ke dalam kamar.


“Luar biasanya apanya?”


...🖤...

__ADS_1


__ADS_2