Jogja, Kamu & Kenangan

Jogja, Kamu & Kenangan
Bait Keenambelas


__ADS_3

Aku duduk di sebelah timur, sebab pot bunga yang berisi suket teki ada di sebelah barat. Bibirku terdiam, tak diperbolehkan protes ketika Dominic menanamnya di bawah rembulan yang sedang bersinar remang-remang di tengah awan malam yang bergumul mengelilinginya.


“Bentar, Ras. Bentar!” Dominic menyuruhku menunggu, dia menyaksikan wajahku sambil berjalan pelan-pelan masuk ke bangunan kost-kostan.


Kini aku terusik, kenapa dia lama sekali sementara nyamuk kebun mulai mengerubungi kulitku. Aku menggaruk betisku sambil menatap pohon rambutan yang menaungiku. Satu persatu getir tumbuh di tempat yang paling aku hindari dan kini malam terlalu muram untuk kembali ke kamar, berada berdampingan dengan kenangan Pranata. Aku memutuskan berpindah hati malam ini, aku berusaha mencintai sahabatmu, melupakan khayalanmu dan hal-hal yang hampir terjadi lainnya. Meski di sisi lain dalam benakku bertanya setelah lebih dari dua tahun, apakah orang tua Pranata masih membenciku atas cinta putranya yang berlebihan hingga terpaksa merelakan Pranata dimakamkan di desaku?


Kepalaku menoleh. Dominic terbirit-birit sambil membawa spidol permanen yang dia lempar-lempar ke udara. Ampun, tingkahnya sudah mirip cacing kremi! Mengganggu, sulit di basmi. Tapi mungkin itu alasannya, dia memeriahkan hidupku lebih dari sekedar kembang api tahun baru dan kini aku yang kebingungan.


Dominic menulis dengan mata menjureng, ‘Rumput Domi dan Rasta, jangan disenggol!’ Dia tersenyum kemudian, “Udah, Ras. Ayo masuk. Kita tinggal aja, dia kuat!”


Dia? Kuat? Aku mengangkat pandang dan tersenyum. Dominic menggambarkan siapa. Apa maksudnya dia menggambarkan dirinya seperti rumput itu? Dia kuat diinjak, dia tumbuh tanpa diminta, tanpa dipupuk, kehujanan, kepanasan, dan diterpa riuhnya situasi seperti yang dia alami selama ini. Atau dia menggambarkan aku? Kekasihnya? Ya ampun, kenapa harus suket teki yang bisa kujumpai dimana saja. Kenapa bukan edelweis di puncak gunung yang sulit aku jumpai?


Aku akan bermetamorfosa, janjiku pada diri sendiri sambil berjalan kaki ke dalam rumah. Dominic menutup pintu lalu mendorong kedua bahuku dengan ceria melewati lorong kost-kostan yang penuh dengan nada sumbang para penyanyi dadakan. Nyanyinya frustasi, asal-asalan, yang penting hati plong. Tak berkesudahan rasanya aroma kegagalan dalam pengajuan judul skripsi, bab 1 dan seterusnya di kost-kostan ini.


“Tidur sendirian dulu, Ras! Kapan-kapan baru aku temani.” Dominic tersenyum nakal. Pandangan matanya jatuh ke bibirku. “Hi...” Ia meringis saat kugaplok bahunya, belum apa-apa pikiran sudah kemana-mana ini laki.


“Canda, Ras. Canda... Met tidur pacarku, buahahaha. Geli banget. Sumpah...” Dominic sontak menggelinjang kegirangan di sepanjang lorong kost-kostan setelah mengucapkannya.


Dia masuk ke dalam kamar tanpa meredakan suara tawanya yang membuat penghuni kost lain protes. Aku menggeleng sambil memegang gagang pintu. “Tetap waras, Ras. Tetap waras. Tapi RSJ dekat.”


Aku masuk ke kamar yang temaram lampu tidurnya kini tak pernah mati. Aku terduduk di tepi meja kerja sembari mendorong pintu kamar.

__ADS_1


Bersama bayangmu, Pranata. Aku masih terjaga sekarang sementara kutahu, Dominic pasti sedang mandi lalu ngopi. Beberapa kondisi kadang membuatnya sulit tidur dan aku berat sebelah. Di sini, aku mengisahkan kenangan yang menyobek batin yang sudah berupaya bersenang-senang hari ini, Prana.


Bersediakah kamu menerima keadaan ini, aku dan Dominic bersama sampai tua? Ragaku telah lama mengenalnya, mataku telah sering melihatnya setengah polos namun juga tampan rupawan, dan batinku diguncang bintang-bintang kala senyum dan tawanya yang tulus memenuhi gendang telingaku.


Bagaimana denganmu jika kami bahagia? Sedih pasti ya harus seperti ini, pedihnya tak hilang-hilang pasti tapi kamu harus yakin aku telah sanggup menerima permintaan terakhirmu.


***


“Rastanty... Ras!!!” Ibuku berteriak dari depan jendela kamar sambil mengetuk-mengetuknya, maka sebelum aku benar-benar mengumpulkan nyawa aku sudah mendorong kaca jendela dengan telapak tangan.


“Kenapa, buk? Burjo pak Deni lewat?” sahutku antusias. Ibu mengibaskan tangannya di depan hidung. “Hah...” Aku meniup bau mulutku ke telapak tangan, bau jigong kontan membuatku mendengus. Ibu mengernyit jijik seraya mengibaskan tangannya di depan muka. Sejenak tangannya menunjuk ke bawah pohon rambutan.


Bingung, bingung, bingung... aku keluar kamar lalu melesat cepat melewati dapur yang sedang beraroma opor, menubruk kursi tamu dan menarik gagang pintu utama.


Di teras, aku menatap ayam putih milik tetangga sebelah yang masih mencakar-cakar tanah dan mematuk daun langsing rumput itu.


“Dominic pasti nelangsa...” Tanpa alas kaki aku melangkah pagi-pagi, sebelum pukul enam, mengusir ayam itu dengan kibasan tangan. “Tak sate kamu, lihat saja!” omelku sambil berjongkok. Ayam itu kocar-kacir sambil berkokok-kokok. Melompat pagar lalu mengeluarkan pupuk alami ke daun pandan.


Aku menatap suket teki yang sudah mengenaskan di tanah, kotor, berantakan, mungkin sudah tak bernyawa, sudah tak kuat lagi sepertinya.


“Kenapa nggak di taruh di kamar aja, Dom!” Aku mengusap wajahku, “Harus cari gantinya ini.”

__ADS_1


Aku ngacir ke rumah, mengambil kunci motor seraya membawa kendaraan beroda dua ini kembali ke alun-alun kidul sekalian tak lupa tadi aku membawa potnya langsung.


Sesampainya di tempat ini, aku memarkir asal-asalan. Aku menghirup udara segar pagi ini untuk pertama kalinya dalam hidupku serajin ini piknik di antara banyak orang yang berlari-lari, penjual bubur pagi hari serta sate ayam yang sedang mengeluarkan kepulan asap aku memohon ampun, menyembah serta memohon maaf sebelum mencabut suket teki yang agak mirip dengan rumput semalam.


Buru-buru aku memasukkannya ke pot sebelum kegilaan ini dilihat banyak orang. Setelah yakin urusan ini lebih cepat dari mimpi indah Dominic, aku kembali menggeber motor ke rumah seperti dikejar polisi lalu lintas.


Aku terengah-engah di halaman rumah. Deg-degan banget. Langsung lapar, pagi-pagi sudah di beri kejutan mana sebelum aku benar-benar berlagak merawat tanaman ini, seseorang membuka pintu bangunan kost-kostan. Aku menyaut suket teki yang sudah mati lalu meremasnya keras dan menjejalkannya ke saku celana tidurku.


“Ras, udah bangun?” Dominic tersenyum melihatku memegang potnya.


Aku balas tersenyum lebar sampai pipiku kaku. Dalam batin aku berharap, jangan sampai dia curiga dengan rumputnya baru ini, jangan sampai dia tahu ini sudah kuganti.


“Udah, he. Kamu tumben bangun pagi?” tanyaku dengan nada aneh, ekspresiku pun sama. Dominic mengernyit, “Biasanya juga bangun lebih pagi dari kamu, Ras. Kenapa wajahmu kaget? Aku berubah? Kangen?”


Ini yang menyita logika berpikirku, aku lupa, Dominic sudah mengerti berbagai macam ekspresi wajahku.


“Gak kaget, cuma—cuma...”


“Rastanty habis pergi ke alun-alun kidul, Dom. Suketmu tadi disenggol ayam!” teriak ibu sambil membuang sampah dari samping rumah.


...🖤...

__ADS_1


__ADS_2