Jogja, Kamu & Kenangan

Jogja, Kamu & Kenangan
Getir Paling Ikhlas


__ADS_3

Di atas segala yang pernah terjadi, aku dan Dominic sama-sama tahu Pranata dan gunung kesalahannya adalah buah dari ambisi orang tua dan dirinya sendiri. Meski lebih jauh dari itu, sejatinya letak kesalahan tetap ada di hatinya yang berkhianat, menipu dan menyakitiku dengan sangat lembut sekaligus kejam dan atas kematiannya dengan cara yang tragis semata-mata hanyalah takdir yang tidak bagus.


Aku meyakinkan diri sekarang dengan teramat payah dan bersusah hati jika memang itu adalah akhir dari masa penipuannya.


Yang merasa menyesali, terluka, ambruk, titik hijau yang kabur, namun ini bukan melulu tentang patah sepatah-patahnya, patah empat sisi ‘aku, Dominic, Pranata, Hetty’, ada satu sisi dimana ada yang lebih keras dari itu. Memaafkan.


Aku menggenggam tangan Dominic setelah mobil sewaan dari hotel tiba di pelataran parkir pemakaman yang sudah di isi rentetan motor dan mobil kawan-kawan yang menyempatkan diri menjenguk Pranata.


“Sanggup, mi amore?” tanya Dominic sambil menatapku hangat. “Kalo nggak mau, kamu bisa tunggu di sini. Sejam mungkin sudah selesai.”


Aku menggeleng samar. “Aku mau lihat dia, lagian aku dulu sering bilang butuh waktu dan aku sudah punya satu-satunya dukungan sekarang.”


“Wah,” Dominic mengelus pipiku dengan punggung tangannya. “Itu keren, Ras.”


Aku menyunggingkan senyum sembari memajukan wajahku ke wajahnya. “Makasih ya.” Dominic memalingkan wajah dengan pipi yang merona.


“Ada orang, Ras.” akunya tapi sekilas mencuri ciuman sebelum kami keluar mobil.


Persoalan Pranata, mempertebal emosiku kepada Dominic. Aku menggandeng tangannya, memilikinya dengan terang-terangan meski wajahku terlihat jengah di tonton banyak orang.


“Sorry guys, pengantin anyar baru datang.” Dominic mengepalkan tangannya, satu persatu Paijo dkk meninju kepalan tangan Dominic.


“Kita ngerti, bro. Enak?” Paijo nyengir di depan wajahku. Lalu melempar cengirannya ke Dominic. “Lebih enak dari kopi hitam pastinya.”


Dominic menekuk sikunya seraya mencium punggung tanganku. “Lebih dari kopi dan kenangan.”


“Cieilehhh, manten anyar.” Paijo bersiul, “Kumpul dulu woy, kita mulai acaranya.”


Aku semakin takut bersikap manakala Hetty yang tak kuketahui ujung hidungnya keluar dari sedan hitam yang terparkir di paling ujung sembari menggandeng tangan seorang laki-laki cilik yang mewarisi wajah Pranata. Dia lucu, terlihat tenang seakan telah memahami ayahnya sudah tiada.


Sakit aku melihatnya, bukan sakit yang meninju dadaku akibat perselingkuhan Pranata dengan Hetty, aku sakit melihat bocah itu tumbuh sebelum melihat dan merasakan kasih sayang ayahnya.


Hetty tersenyum sedih saat melihatku.


“Selamat untuk pernikahan kalian, kami turut berbahagia dan maaf tidak bisa datang di acara kalian kemarin.” ucapnya lembut dengan pesona yang tidak luntur meski dia seorang janda.


Dominic mengacak-acak rambut pria kecil yang dipanggilnya dengan sebutan ‘Prana cilik’ seraya menggendongnya.


“Bisa di maklumi.” Dominic tersenyum. “Ayo masuk, tapi aku bawa tamu istimewa sekarang yang merasa paling tersakiti dan susah move on.” Hetty menatapku sembari tersenyum lalu mengangguk.


Aku menguncupkan bibir dan merasa genggaman tangannya yang hilang membuatku terseok-seok dan tidak seimbang ketika melangkah masuk ke area pemakaman hingga tibalah rombongan kami di sebuah prasasti yang menaungi pusara Pranata.


Tungkaiku lemas, aku terduduk tanpa aba-aba di tanah di belakang Dominic yang nampak sudah tidak asing dengan tempat ini.


“Kita datang, Pra. Maaf kalo Rastanty perlu waktu lama untuk mengunjungimu di sini, tetapi janjiku sudah lunas, aku akan jaga Rastanty sampai dia bisa marah-marah di depanmu langsung. Sementara anakmu sudah dapat separuh dari warisanmu. Kamu yang tenang sekarang, jangan gentayangan di mimpiku lagi. Aku nggak tenang.”


Aku mendaratkan sisi wajahku di punggung Dominic. Terpukul oleh kenyataan yang lebih pedih dari sekedar kehilangan. Banyak yang lebih perih kisahnya. Ada Hetty yang lebih lara bertubi-tubi dari kisahku, ada anaknya yang perlu bertemu figur bapak baru. Ada Dominic yang menelan rasa salah dan keluarga Pranata yang kehilangan begitu satir.


“Jangan nangis.” gumamku.

__ADS_1


“Aku dan Rastanty sudah nikah, anakmu pasti bahagia, Hetty tetap memilihmu sebagai cinta terakhirnya, urusanmu sekarang hanya dengan saudaramu, Kendranata. Selamat jalan, Pra... Sampai kita berjumpa lagi sebab masing-masing dari kita pasti akan pulang sepertimu.”


Mawar putih yang kami bawa merebah bersama kumpulan kelopak mawar merah yang segar seolah telah ada yang datang sebelum kami sementara bunga kesukaan yang di maksud Dominic adalah Hetty, dia bunga Pranata. Tempatnya mengisap dan meninggalkan sari-sarinya.


Aku memejamkan mata, teman kami melantunkan doa-doa setelahnya. Membawa makna yang mengudara untuk menyentuh jiwanya di keabadian.


Dominic memalingkan wajahnya sembari mengusap pipiku begitu tangisku yang membasahi kemejanya berhenti.


“Malu sama anaknya.” selorohnya, masih memangku Pranata cilik.


Aku mengerucut bibir. “Ini bukan soal air mata, Dom.” kataku serak.


“Iya...” Dominic mengangkat tubuh Pranata cilik, bocah itu di terima ibunya dengan senyum manis. “Salam sama papa, besok kita ke sini lagi.” pinta Hetty.


Pranata cilik mencium prasasti ayahnya lalu memeluk ibunya.


Aku kembali menyembunyikan wajahku di punggung Dominic. “Sedih.”


Dominic menarik kedua tanganku agar memeluknya. “Mungkin kamu perlu lepasin unek-unek kamu Ras sebelum kita balik ke Malang?”


“Nggak perlu.”


“Setidaknya cukup bagimu untuk melepas semuanya, tanpa perlu ada yang mendengarnya termasuk aku.”


“Aku... sepuluh menit boleh?” tanyaku penuh kehati-hatian.


Aku tersenyum sembari membiarkannya berjalan di antara makam-makam keluarga besar universitas bersama Hetty dan anaknya.


Aku mengusap wajahku di bawah pohon kamboja yang saban angin berhembus, menggugurkan satu bunga di atas pusarannya.


“Kamu seperti gerimis, Pra. Tidak membuatku basah hanya membuatku resah.”


Aku mencium nisannya sebab tidak perlu permainan kata untuk mengungkapkan perasaan hari ini di depan pusarannya. Semua... yang aku lewati dua tahun itu telah diketahui Dominic dan mungkin kamu.


“Yang tenang, Pra. Aku datang untuk pertama kalinya dan untuk terakhirnya karena mungkin hanya doa-doaku yang akan menemanimu. Selamat tinggal.”


Aku mengusap nisannya seraya berdiri, menjauh, sesaat aku menoleh melihat pusaranya yang penuh bunga dan resik lalu tersenyum.


“Dom...” panggilku seraya mempercepat langkahku.


“Mi amore.” Dia meraihku ke pelukannya. “Cukup?”


“Yups.” Aku tersenyum sambil menatapnya. Dominic merundukkan kepala seraya mencium pipiku.


“Widiwww, yang jomblo-jomblo kabur dululah daripada mupeng.” Paijo mengibaskan tangannya.


Kami melonggarkan pelukan, tetapi Dominic mundur selangkah dan muka bingungku langsung terjawab.


“Ras... bisa kita bicara sebentar?” ucap Hetty.

__ADS_1


Aku menatap Dominic, meminta persetujuannya. Ia mengangguk lalu mendorong bahuku lembut untuk mengikuti Hetty ke arah mobilnya. Pranata cilik masuk ke mobil bertemu seorang wanita paruh baya yang langsung memeluknya.


Aku menatap Hetty canggung ketika ia menjangkau tangan kananku. Menggenggamnya erat sambil tersenyum sedih.


“Maaf sudah menyakitimu.” katanya tanpa basa-basi. ”Aku dan Pranata melakukan kesalahan yang telah melukaimu sekarang. Tapi Pranata bukan milik siapa-siapa sekarang Ras, hidupku hancur dia pergi ninggalin anak dan kamu masih beruntung mempunyai Dominic yang setia nemenin kamu di hari-hari terpuruk kita.” Hetty menatap bojoku sambil tersenyum hangat.


“Dia membantuku mengambil apa yang akan menjadi milik Pranata cilik, setengah dari warisan Pranata di Surakarta.” Hetty mengambil jeda untuk menghela napas panjang. “Keluarganya tidak mau mengakui anak kami sebagai keturunan mereka, tapi suamimu jadi saksi gimana aku dan Pranata dulu bergaul sampai keluargaku memenangkan gugatan pembagian warisan. Lumayan Ras, karena hanya itu yang bisa aku miliki selain rasa kecewa dan perjuangan besar membesarkan anak kami seorang diri.”


Hetty tersenyum kepadaku sambil mengendikkan bahu. “Anggaplah ini karma buat aku, Ras. Kamu yang bahagia bareng Dominic. Sekalian bentar, aku ada sesuatu buat kamu. Ini dulu dari Pranata, mau di kasih ke kamu, tapi aku minta.”


Hetty melepas tanganku seraya membuka pintu mobil, dia mengeluarkan kotak boks hijau pupus yang langsung diberikan padaku tanpa dia buka lagi untuk menyerap kenangan yang ada di dalamnya.


“Sudah usang tapi ini mungkin akan mmm... bikin kamu ngerti kalau Pranata sebenarnya juga masih mikirin kamu walaupun ada aku.”


“Makasih.” Aku tersenyum sekenanya sambil menerimanya kotaknya. “Aku...” mataku beralih pada mobil yang pernah kami tumpangi bergantian. Sedan merah.


Dominic berlari ke arahku bersamaan pintu mobil yang terbuka.


“Pranata.” Hetty terhuyung ke belakang sampai membentur badan mobil. “Nggak mungkin.” Ia menggeleng kepala.


“Dia Kendranata, kembaran pranata.” kataku.


Sontak langkah-langkah kecil yang ragu memutus jarak antara Hetty dan Kendranata. Tubuh pria itu tersentak mendapatkan pelukan tak terduga dari seorang wanita yang pasti dia kenali siapa.


“Aku... kangen, Pra.”


Aku menatap Dominic atas keadaan di depan mataku.


“Kita harus gimana sekarang?”


“Kita pergi.” Dominic mengalungkan lengannya di leherku, meninggalkan Kendranata yang menatap kami dengan ekspresi datar sementara Pranata cilik berlari kecil, memanggil seseorang yang dia panggil papa dan memeluk kakinya.


Kendranata membeku dihadapan mantan kekasih kembaran juga keponakannya sendiri.


“Apa yang akan di lakukan Kendra dan Hetty setelah ketemu hari ini, Dom?” tanyaku saat mobil melaju, mengikuti rombongan Paijo dkk ke pinggir kota.


Dominic menurunkan kaca mobil seraya membuang kotak hijau pupus tepat di tong sampah pinggir jalan.


“Nggak usah di simpan!”


Aku menatap kotak itu untuk terakhir kalinya sebelum mobil berbelok, meninggalkan satu kenangan terakhir dari Pranata yang meresahkan di atas tumpukan sampah yang membusuk.


“Iya.” Aku menyandarkan kepalaku di lengannya. “Bawa aku keliling Jogja, Dom. Untuk terakhir kalinya.”


“Tentu saja.” Ia mencium keningku seraya meminta sopir berhenti dan menyuruhnya pulang ke hotel dengan menyewa alat transportasi umum.


Seharian kami berada di luar hotel, menjelajahi sudut-sudut teristimewa dari kota Jogjakarta yang punya konon katanya mempunyai magis tersendiri untuk memancing rindu agar kembali ke kota ini, meski sebenarnya perjalanan menjadi terkenang dan teringat di kepala bukan soal dengan siapa kamu melewatinya, tapi perpaduan semuanya. Kotanya, panoramanya, situasinya, keramahtamahan warganya dan hasil akhir dari zero expectation dengan orang pertama yang menemani memang susah terlupakan. Namun sekarang mengunjungi tempat-tempat yang sama dengan seseorang yang berbeda yang jauh lebih mencintaimu dan bersumpah akan menjadikanmu dunianya adalah salah satu perjalanan paling oke. Dominic-ku.


...🖤...

__ADS_1


__ADS_2