Jogja, Kamu & Kenangan

Jogja, Kamu & Kenangan
Rumahku


__ADS_3

Kota Malang.


Pintu terbuka dengan suara pelan seolah Dominic sedang menghindari sesuatu yang kusebut terkejut, tetapi langkahnya yang semakin mendekat ikut mempertajam aroma parfumnya sebelum ia mengejutkan bahuku saat aku sedang asyik bersila sembari mengetik sesuatu di laptopku di balkon kamar yang sejuk dan memiliki pemandangan pepohonan di belakang rumah.


”Nggak kaget, Ras?” tanyanya saat aku menoleh dengan ekspresi datar.


“Gimana mau kaget, kamu pakai parfum sebotol!” Aku merangkul lehernya dengan muka meledek. “Mau ke mana udah rapi begini?” tanyaku setelah mengamati pakaiannya yang rapi sembari menyipit mata. “Sudah mau kerja?”


“Belum, aku harus antar mama ambil baju party dan jemput saudara-saudaranya di Bandara. Mau ikut? Mereka nggak sabar lihat kamu.”


Aku menggeleng. ”Capek.”


Tatapan kami bertumbukan. Dominic tersenyum penuh arti sembari merekatkan bibir kami dalam beberapa kali kecupan panjang yang penuh semangat, tetapi aku bertekad Dominic tidak akan melakukan hal yang sama seperti yang dia lakukan berulang-ulang sejak kemarin kami tiba di kota kelahirannya. Tempatku memulai hidup yang baru. Hidupku bersama lelaki yang masih terus menjadi bahan


Aku menarik diri ketika ia menyibak kaos untuk menjarah dan memeras sesuatu yang disebut tempat terbaiknya mencari kesenangan ragawi.


“Berangkat gih.” Ibu jariku membelai pipinya.


Dominic menangkup tanganku sambil menguncupkan bibirnya. “Tambah susah aku jauh-jauh dari kamu, Ras. Kamu... enak, seperti madu, tapi juga seperti jeruk, manis, asem dan segar.” Dominic berdecak sambil menggelengkan kepala.


Aku terkekeh sambil mendorong lututnya yang berjongkok di belakangku. Dominic nyaris terjengkang namun ia sanggup menjaga keseimbangan dengan telapak tangan kirinya.


“Kamu udah bilang kulitku belang-belang alias gosong sebagian, sekarang jeruk dan madu, besok apa lagi? Kodok?”


”That's good, mi ayam...” Dominic terbahak, “kadang-kadang kamu sering jadi kodok yang nangkring di atasku. Pintarnya...” Dominic menarik pipiku sampai pelipisku membentur tulang dadanya.


Aku memutar mataku lalu mendekapnya. “Jangan ngomong-ngomong ke siapa-siapa, apalagi mama! Awas kamu!”


”Kenapa emangnya?”


“Ya kali nanti satu rumah tahu aku jadi kodok di atasmu!”


“Tapi aku dengar—”


Aku dan Dominic buru-buru menoleh ke dalam kamar. “Michelle!” ucap kami bersamaan. Dia meringis dalam posisi duduk manis di tepi kasur.


“Aku nggak nguping kok, aku cuma nunggu mas Domi selesai uwel-uwelan sama Mbak.” akunya dengan muka penuh canda.


“Uwel-uwelan,” Dominic membeo sembari mencium pipiku sebelum beranjak. Dia menaruh jari telunjuknya di depan bibir ketika menghampiri Michelle.


“Kamu diam, nanti Rastanty lompat-lompat terus ngumpet karena malu.”


Michelle menjulurkan lidah dengan kelopak mata yang terlihat putihnya saja. Dominic menjentikkan jarinya di telinganya. Michelle mendengus sembari mengusap telinga kirinya.

__ADS_1


“Lagian mas Domi pamer juga ngawur, kunci kamarnya kek baru uwel-uwelan masio sudah nikah terus blak-blakan!” Kembali Michelle menjulurkan lidahnya yang mempunyai tindik. ”Di tunggu mama, terus aku di suruh nemenin kak Rasta.”


“Hmm...” Alih-alih cuma menoleh dan melambaikan tangan, Dominic mengulur waktu dengan mengulurkan tangannya di depan wajahku. “Cium tangan suamimu, Ras.”


Aku menarik kedua sudut bibirku seraya mencium punggung tangannya sekaligus menghadiahinya dengan gigitan kecil di ujung jarinya.


”Gigitan cinta.” Dominic menyeringai lalu pergi sebelum Michelle menutup pintu seraya menguncinya. Dia mendekat, menutup layar laptop lalu menyuruhku menatapnya.


“Mbak udah making love sama mas?” tanyanya seperti detektif, “Kapan, dimana, terus gimana, uenakkk nggak?”


Aku nyengir... kalau bukan jadi partner paling enak di rumah ini sudah aku tonyor sejadi-jadinya dia. Privasi itu woyyy, yungalah.


aku menghela napas.


“Udah waktu di hotel Jogja.” Pipiku menjadi kelu dan merona. “Enak.” kataku singkat, itupun langsung diberondong pertanyaan bertubi-tubi sampai membuatku susah bernapas.


“Pokoknya enak, melampaui batas kesenangan duniawi!” Dan seterusnya potong demi potong kalimat susah keluar dari mulutku. Ini memalukan, aku membuka privasiku kepada seseorang paling ceriwis di rumah ini. Bayangkan jika informasi ini bocor. Mukaku harus aku tutup pakai apa? Daun kelor?


Michelle tersenyum penuh kemenangan nyaris berteriak saking senangnya, dan ketika berdiri dia melakukan selebrasi dengan berlonjak-lonjak. ”Aku bakal ngomong ke papa kalo sembilan bulan lagi mereka punya cucu. Yes... yes... Aku bebas...”


“Heh...” Aku berusaha menggapainya namun tungkaiku yang lemah dan pegal malah membuatku terjatuh di lantai saat berdiri. ”Chell, jangan ngomong-ngomong sampean. Chell. Itu nggak lucu, sumpah.” teriakku saat ia membuka pintu dengan wajah cengengesan.


“Santai Mbak, ini nggak tabu di keluarga kita. Dah tidur yang nyenyak, mas Domi pasti minta imbuh terus,” Michelle cekikikan, “Beruntung sampean Mbak, mas Domi itu idola semua umat wanita di kantor, banyak yang pingin icip-icip mas!”


Aku mendesis. Yungalah. Susah banget punya privasi di rumah ini. Kakiku merangkak, naik ke kasur lalu tetap dalam posisi tengkurap aku sembunyi di bawah bantal. Tetapi informasi yang aku dengar baru saja membuatku terjaga meski mataku terpejam.


“Aku tidur dulu berhubung pengganggu baru pergi, lumayan... habis itu baru cari info lowker di kantor Dwayne Group.” Aku tersenyum lega seraya merebahkan diri dengan posisi nyaman di atas bantal Dominic. Menyelami sisa-sisa aroma parfum, sampo, dan ilernya yang beradu menjadi kenyamanan telak yang menipu logikaku. Aku terlelap.


*


*


*


Dominic membungkuk kecil ketika aku baru terbangun dari tidur siangku lewat dari sejam.


“Puas?” tanyanya sambil mengelap iler di sudut bibirku dengan tisu.


Aku mengangguk seraya menguap lebar-lebar. “Udah lama apa baru aja?” tanyaku sembari menggaruk kepalaku. “Kamu kelihatan seneng, Dom? Kenapa?” tanyaku memandangnya dengan rasa ingin tahu.


“Di bawah lagi rame.” nadanya terdengar geli. “Banyak sodara mama dan kerabat jauh. Mereka penasaran dengan pengantin baru yang ternyata lagi enak-enakan tidur daripada melakukan penyambutan.”


“Alamak, lupa.” Ekspresiku langsung menyesal. “Aku tadi mikirin yang lain sampe kebablasan, Dom." jelasku gugup.

__ADS_1


“Kira-kira mama sama bapak marah nggak Dom aku nggak sopan?" Aku menegakkan badan, menjauh dari Dominic.


Ia menelengkan kepala seolah memahami kebingunganku dia tersenyum sambil merapikan rambutku yang kusut.


“Belum terlambat untuk dibilang nggak sopan, Ras. Mandi bebek terus dandan sebisamu. Aku pilihkan bajunya.” Dominic menawarkan dengan pesona yang tenang dan gegas aku pergi ke kamar mandi.


Mandi bebek katanya, bukan tapi mandi kucing takut air.


Tak sampai lima menit, hanya dengan berbalut handuk aku menghampiri Dominic di ruang ganti yang memiliki dua lemari berhadapan.


“Pakai gaun ini.” Dominic menyerahkan white cotton long dress yang sebagian kainnya terlihat transparan di bagian paha bawah sampai mata kaki.


Aku mengangguk, sebab tak ada pilihan tempat dan waktu aku langsung memakai seluruh pakaian di belakang Dominic yang mendesis tajam.


“Mulai berani sekarang?” cibirnya sembari menyisir rambutku sementara aku mulai memakai bedak dan pewarna bibir di depan cermin.


“Aku kepepet, Dom. Namanya mepet pasti nggak peduli dengan situasi.” bantahku selagi masih bisa menjadi Rastanty si preman insyaf. Di bawah nanti aku siap menghadapi peliknya canda dan tanya yang mengaduk-aduk lambung serta isi kepalaku.


“Perfect, mi amore.” Dominic memutar tubuhku. “Waktunya pamer bojo...” Ia menggandengku dengan kebahagiaan yang tak terperikan.


Aku menahan pergelangan tangan sebelum menuruni anak tangga. Dominic menoleh.


“Enjoy ajalah, Ras. Mirip teman jauh, di bawah juga ada keluargamu.”


“Tapi ini bukan soal itu, Domi.” Aku langsung menceritakan yang terjadi bersama Michelle tadi. “Aku nggak siap di lihat aneh mama dan bapak dengan senyum geli mereka.”


Dominic mengulum senyum ketika gelombang kejujuranku berakhir dengan bibir yang menguncup dan senyum yang hilang.


“Terus masalahnya apa sekarang? Kamu malu jadi bahan pembicaraan serumah?”


“He'eh.” Aku mengangguk seperti bocah yang ketahuan, nyaliku menciut. Aku bukan lagi si macan galak, aku kelinci manis. Elah... Pikiranku mengembara.


Dominic menggeleng, tangannya menjewer telingaku alih-alih memberiku satu kekuatan yang luar biasa menghancurkan rasa tidak percaya diriku.


Dominic menghela napas. “Itu cara termudah membahagiakan mereka, Rastanty. Membahagiakan aku. Gitu aja malu.”


Aku menuruni anak tangga dengan muka sebal. Di lantai dua, Dominic menghalangi langkahku.


“Senyum dulu kalo perlu meringis lebar!” ucapnya tegas namun ada sentuhan geli yang membuatku nurut.


Aku memamerkan gigiku yang setengah menguning di depan wajahnya.


“Nah, pertahankan seperti itu kalo ada yang bercanda!”

__ADS_1


Mataku melotot. Setengah gila dan tertekan.


...🖤...


__ADS_2