Jogja, Kamu & Kenangan

Jogja, Kamu & Kenangan
Ambyar


__ADS_3

Pada pasukan pagar bagus berderap-derap mengikuti sampai ke depan kamar honeymoon. Dominic tersenyum dan mengusir para teman baiknya dengan membungkukkan badannya.


“Besok pagi kumpul jam sembilan, bawa bunga kesukaan Pranata.”


Aku menundukkan wajah. Aku tak mengerti apa yang dikatakannya dan memilih mendengarkan sambil tetap menggandeng Dominic.


“Sekalian besok jadi hari terakhirku di Jogja sebelum balik ke Malang, jadi mungkin kalian semua harus minta izin libur kerja.”


“Gampang... sudah kita pamit Dom, Ras, pokoknya happy wedding, bahagia dunia akhirat, cepat-cepat dikaruniai keturunan, kita mau lanjut cari prasmanan di bawah.” Paijo dkk menyalami kami berdua dengan takzim sebelum berbalik seraya berseru dengan lantang. ”Puas-puasin naik gunung kembar, Dom. Capeknya dijamin sama!”


“Lambene.” gerutuku di tengah tawa yang berderai-derai. Dominic menyeringai. “Bercanda doang, Ras. Eh... tapi aku mendadak penasaran apa benar yo capeknya sama seperti kita mendaki gunung sungguhan?”


Dengan cepat aku membuka pintu kamar yang sudah di ubah menjadi kamar pengantin. Tidak ada alat make up dan pakaian pengantin yang berantakan. Di sini hanya ada kami berdua dengan segala kecanggungan dan kebebasan yang bertanggung jawab.


“Aku capek, pingin buru-buru mandi air hangat terus minum Tolak Angin.” kataku sambil menendang sendal selop beludru di depan lemari.


Dominic tersenyum sekilas. ”Iya boleh yang penting kamu seneng dan tenang.” Ia ikut melepas sendal selop di sampingku.


Aku mengernyit. Ucapannya manis sekali sekaligus licin. Dominic pasti takut aku ambruk sebelum perang terjadi dan manisnya kelakuannya sekarang bikin aku sekaku batang pohon.


“Kamu jangan macam-macam!” keluhku saat ia melepas satu persatu perhiasan dan kain-kain yang menempel di tubuhku.


“Aku cuma bantu Ras, biar kamu buruan mandi. Rambutmu juga ini susah di keramas. Makanya aku bantu. Pikiranmu terus-terusan mikir aku mau macam-macam.” Tiba-tiba Dominic menangkup wajahku. “Apa jangan-jangan malah kamu yang mikir nggak-nggak, Ras. Edan..., aku baru ingat pikiran kotormu sedang giat-giatnya kerja!”


Dominic melepas tawa kecil yang mengisyaratkan pernyataannya tidak bisa aku balas dengan candaan lagi.


Tanpa diejek dua kali, aku melanjutkan sendiri acara melepas busana resepsi sambil menghindari tatapannya.


“Jangan ngambek, kita sudah sering to ece-ecenan¹ gini, Ras.” cetus Dominic.


“Masalahnya aku sudah terlalu banyak menerima candaan hari ini, Dom.” kataku murung. “Aku nggak terbiasa jadi bintang baru di kalanganmu. Aku mau hidup yang biasa-biasa aja.” imbuhku sembari menunduk.


“Iya biasa-biasa aja juga boleh, Ras. Wong kamu juga baru kenal dengan duniaku dan aku nggak larang kamu buat jadi cewek petualang, tapi ada cuma-nya lho... Cuma kamu harus coba jadi pendampingku yang punya ahli.”


“Aku sudah punya!”


“Apa coba?”


“Bikin kamu pusing.”


Dominic menyorot mesra. Sebab sesuai hobiku, off-road sering membawa kami ke medan yang terjal dan sukar di tangkap nalar manusia rebahan. Kerap kali ia mendadak mual ketika jalanan yang kami melewati menghentak keras lalu berkelok tajam, berulang kali sampai kepala kami pusing tujuh keliling.


Dominic mengulurkan tangan dengan kaku untuk membelai keningku yang masih dihiasi paes hitam. “Kamu emang setega itu sama aku, Ras. Sekarang giliran aku yang setega ini sama kamu.”


Dominic membopongku seraya melemparku dengan hati-hati ke kasur yang di hiasi kelopak mawar merah yang dibentuk menjadi tulisan “Happy wedding.”

__ADS_1


“Kita kuat karena kita bersatu, Ras. Apalagi menyatu.”


“Heh!” Aku menahan wajah Dominic yang hendak menaungi wajahku. “Jangan cium-cium aku waktu pakai full make up!”


“Apa salahnya, Ras?” Dominic mendesis. “Rasanya sama.”


“Beda, huuu, pokoknya beda.” rengekku sembari memberontak. “Biar aku mandi dulu, kepalaku pusing terus-terusan pake konde, Dom. Kamu pikir nggak tegang apa ini rambutku di konde hampir setengah hari!”


“Yowes... yowes... yowes... Aku ngalah!” Dominic bersila sembari melepas satu persatu peniti yang menahan kain-kain yang menempel di tubuhku.


“Tinggal lepas kain jarikmu di kamar mandi, eh... Ras... Ras... Tapi kamu sadar nggak sih kamar mandinya transparan lho.”


Kepalaku langsung menoleh ke sembarang arah. “Ajur jummm....” Aku menutup wajahku dengan bantal, gimana ini belum apa-apa sudah terekspos dulu.


“Sengaja pasti kamu milih kamar mandi transparan!”


“Sembarangan...” Dominic menyahut bantal yang menutupi wajahku dan membuangnya jauh-jauh. “Kamar honeymoon ya gitu, Ras.”


Aku menguncupkan bibir. “Pokoknya aku mau mandi tanpa kamu, kamu keluar dulu.” usirku seraya mendorong bahu ya.


“Nggak bisa, aku capek.” Dominic tiba-tiba merebahkan diri di kasur seraya memejamkan mata.


“Sumpah, aku mending mandi di curug, atau nyangkul tanah dan nongkrong di hutan daripada harus berada di keadaan yang naif di depan matamu!”


“Ini nggak lucu!” Aku mendengus, dan mau tidak mau aku tetap masuk ke dalam kamar mandi dengan tetap menggunakan kain jarik.


Tubuhku mulai basah dengan air hangat. Mataku sesekali menoleh ke arah Dominic yang tetap merebahkan diri sambil menutup matanya dengan lengan.


“Semoga dia beneran, molor.” Aku menyeringai. Kalau boleh jujur aku sudah berkhayal tentang Dominic setiap kali sentuhannya di bibirku merangsang sesuatu yang ku anggap tidak wajar. Tapi sekarang ini benar-benar membuatku pusing seolah aku sanggup bertekuk lutut jika ia sudah memulai aksinya yang menimbulkan percikan hasrat.


Satu setengah jam berakhir, aku keluar dari kamar mandi berbalut handuk putih yang aku pakai cepat-cepat. Sambil berjinjit-jinjit karena takut membangunkan Dominic, aku membuka pintu lemari.


“Lho... Lho...” Mataku membeliak, kepanikan melandaku. Aku mengguncang pintu sampai menimbulkan suara gaduh. “Kok di kunci sih.” Tanganku mengepal memukul lemari.


“Berisik banget kamu, Ras!” cetus Dominic dengan suara serak.


Aku menunduk menatap lantai sejenak sebelum memberanikan diri mendongak menatap Dominic yang terbangun dari mimpinya.


“Mana kunci lemarinya?” tanyaku sambil menengadahkan tangan.


“Kunci apaan?” Dominic beranjak sambil mengernyit.


“Lemari, mi ayam!” dengusku kembali memukul lemari. “Nggak bisa di buka sementara aku harus pakai baju!”


Dominic menyeringai dengan wajah kantuknya yang masih sangat kentara. Lalu secara terang-terangan mengamatiku dari atas ke bawah.

__ADS_1


“Aku melewatkan sarapan malam pertama.” Sorot matanya menggelap perlahan dan terpaku pada ujung handuk yang aku selipkan di tengah dada.


“Kita sudah bikin kesepakatan, Dom.” kataku gugup.


“Aku ingat.” Dominic mengendikkan bahu. “Gak boleh maksa, lampu harus mati, harus tutup mata... Berarti boleh dong kalau senter di tasmu kita gunakan jadi pencahayaan.”


Mataku mendelik, ia menyentuh pipiku. “Aku masih ngantuk, tapi lihat kamu dalam potongan satu kain begini, rasanya aku jadi semangat.”


“Dommm...” panggilku serupa rengekan, “Aku mau bajuku, plis. Aku malu!”


“Oke...” Ia tersenyum misterius dan mengambil ponselnya di dalam laci. “Mam, please give me clothes.”


Sial. Aku memejamkan mata ketika Dominic mendorongku hati-hati dengan kilatan geli dan nakal di matanya.


“Aku tahu kamu gugup, Ras.” Aku menegang dengan suaranya yang berat. “Tapi kita sudah menikah.”


Aku mengangguk setuju sambil menahan dadanya dengan telapak tangan agar ia tidak sepenuhnya merapat di tubuhku.


Dominic menatapku dengan panas sebelum menguasai mulutku dengan ciumannya yang menggoda dan telapak tangannya yang membelai punggungku.


Tanganku mencengkram pergelangan tangannya ketika ciumannya sudah ke arah leher dan dadaku.


“Mandi dulu.” kataku pelan. “Kamu bau!”


“Oh... Ya.” katanya serak sembari memelukku. “Tunggu sebentar, aku nggak akan lama!”


“Emangnya aku terburu-buru?” Aku mendesis seraya menjauh dari kamar mandi dan Dominic tidak bergurau, dalam waktu sepuluh menit yang rasanya hanya sedetik, Dominic menghampiriku hanya dengan handuk putih yang melilit pinggangnya.


“Bukan aku yang kunci lemarinya, tapi mama. Soalnya dia curiga kamu bawa seluruh alat pendakian gunung untuk kabur sebelum malam pertama terjadi.”


“Astagaaaa....” Aku menendang tembok sembari bersedekap, meski tak lama kemudian bell kamar berbunyi. Dominic gegas mengambil satu tas pakaian yang di antara pegawai hotel dan langsung dia tuang ke atas kasur.


“Tuh bajumu dari mama.” Dominic melemparkan kain satin yang membuatku langsung menyambar kaos dan boxernya cepat-cepat. “Sorry, mending aku pakai ini daripada harus masuk angin pakai itu!”


“Oke... kalo kamu mau aku begini sampai pagi!” Dominic melepas handuknya dan membuatku langsung melempar pakaiannya dengan mata terpejam.


“Tuh pakai, buruan, jangan sampai aku mimpi basah gara-gara lihat teripang kamu.”


Dominic terbahak saat aku berbalik. Kehebohan yang terjadi perlahan hening, aku melirik ke belakang dan melihatnya justru sedang menunduk sambil mengernyit.


“Bagus begini dibilang mirip teripang, coba sini dilihat baik-baik. Matamu paling udah minus, Ras. Sini deh lihat bareng-bareng.”


“Ogah!”


...🖤...

__ADS_1


__ADS_2