
Dari kejauhan tergambar jelas Dominic mengobrol dengan Irish pagi-pagi sekali di lorong hotel ketika aku tergesa-gesa mencari lelaki yang kembali mencari kepuasan ragawi semalam.
Aku bergeming sambil menerka, pembicaraan apa yang ingin mereka sampaikan sampai-sampai tak sabar menunggu sarapan bersama. Lalu isyarat apa yang mereka gunakan untuk bertemu di pagi ini. Debar jantungku berpacu. Firasatku mengatakan tiada kata eksotis tanpa kekaguman yang mendasari sebuah perasaan.
Atau apa ini maksudnya, satu pria berulah pria lainnya kena getah.
Yang jelas bila aku masih menjadi sahabatnya, aku tidak akan terlalu kaku seperti ini dan mencampuri urusannya dengan ramah serupa mawar yang tidak mempropagandakan harumnya namun diterima di mana saja tak terkecuali kuburan.
Aku merasa ketakutan dan tak henti-hentinya menarik rambut sembari menunggu dengan resah. Perosotan macam apa ini yang sedang aku telusuri pagi-pagi, atau sebenarnya aku terlalu berlebihan mendalami perasaanku sekarang?
Detik berganti detik, Dominic seolah tidak memahami aku tak jauh di belakangnya. Menunggu ia selesai bercakap-cakap dengan lirih diselingi tawa yang terdengar merdu di telinga.
Aku pertaruhkan hatiku sambil melangkah lebih dekat, bergerak bagai cahaya yang tidak disadari indra peraba kecuali penciumannya yang tak asing dengan aroma parfumku.
Dominic berbalik, dia memberikan beragam ekspresi sebelum tersenyum kepadaku. Tangannya menyelipkan rambutku di belakang telinga, dan aku tersenyum dalam ragu yang aku wajarkan terlihat baik-baik saja.
“Aku cari kamu.” ucapku lalu memaku tanpa kata dengan hati yang memberontak pasca Dominic mengecup keningku seraya merangkul pundakku.
“Kenalan sekalian pamitan, Ras. Irish mau balik ke Singapur duluan.”
Aku mengangguk seraya mengucapkan hati-hati sambil menyalaminya dengan sopan.
Irish menyunggingkan senyum lalu mengangguk, “Itu sudah pasti.” Irish menatap Dominic sejenak dengan wajah penuh harap sekaligus tersiksa seolah sedang memendam cinta yang tak terungkap.
Aku membuat jarak dengan Dominic seraya memegang perutku, udara langsung terkontaminasi oleh kandungan nitrogen sulfida dan merkaptan yang di kelola oleh bakteri dalam perutku.
“Aku kayaknya harus ke toilet, Dom. Aku tinggal sebentar.” Aku menyentuh bahu Dominic, menatapnya dengan senyum murung seraya mengucapkan selamat tinggal pada Irish.
Kekalutanku kubawa perlahan-lahan ke kamar. Langkah-langkah gontai tercipta sedang kakiku tetap ingin memasang jangkar di samping Dominic. Kepalaku sesekali menoleh ke belakang menanti pisahnya dua sahabat lama yang bertemu kembali. Naasnya, Irish yang nampak elok kembali merajut obrolan dengan Dominic.
“Ini yang paling aku nggak suka dari jatuh cinta sama sahabat sendiri, mau marah tapi gengsi, mana jatuh cintanya waktu sudah nikah. Parah banget keselnya.”
Tak sengaja aku membanting pintu untuk melampiaskan suasana hatiku. Dan perut ini benar-benar terpanggil untuk menyatu dengan alam lewat toilet duduk di hotel lantai 11.
__ADS_1
Setengah jam berlalu, aku yang sudah menyelesaikan misiku di kamar mandi dan sudah berpakaian lengkap dan wangi menghidupkan televisi, mencari film yang layak di tonton dan pilihanku jatuh ke film, ‘Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck’.
Aku menanti datangnya Dominic seperti Hayati yang menanti engku Zainudin dengan segenap cinta yang tulus dan kesabaran yang tamak. Tapi aku Rastanty, yang tidak sabar apalagi segenap cinta yang baru tumbuh ini menyusahkan.
Aku menyahut tas selempangku dari hasil seserahan yang berlogo H seraya keluar kamar. Di sana dua manusia itu masih terlibat obrolan serius sampai tidak menyadari keluarnya mantan preman dari kamar.
“Kok lama, Dom? Ngobrolin apa?” tanyaku cepat-cepat, tanpa basa-basi di tengah-tengah mereka yang terkejut.
“Ngobrolin kerjaan sama teman-teman lama, Ras.” Dominic berkata.
“Aku mau ke bawah, sarapan, kalian juga kalo selesai nyusul udah pada kumpul tuh sanak keluarga dan nenek cari kita, Dom!” kataku mangkel seraya melengos pergi.
Satu pengumuman telak itu sanggup membuat Dominic melangkah seraya meraih tanganku. Padahal aku cuma bohong, aku memanfaatkan ketakutan Irish pada nenek agar mereka menyudahi obrolan itu.
“Tenang, Ras.” ucapnya hati-hati. “Kita ke kamar dulu.” Dominic memiting lenganku dan menyuruh ke dalam kamar setelah lift melongo sia-sia. Irish tersenyum simpul saat tatapan kami tertumbuk di matanya.
“Aku rekam pembicaraanku dan Irish di hp, kamu bisa dengar.” Dominic meraih ponselnya di dasar kantong celana jinsnya seraya memberinya padaku.
“Kamu dengar, aku mandi.” Dominic tersenyum sabar sembari mengusap pipiku dengan ibu jari. “Kamu pasti bingung cari aku tadi, maaf Ras.”
Aku sumpek Ya Allah, cinta gini amat, nggak cinta nanti dia hilang. Dan aku teringat semalam, dia akan menggenapi ku dengan baik.
Di tikungan sebelum ke restoran hotel, aku memastikan ekspresiku seperti biasanya di depan cermin. Muka datar biar kelihatan judes.
“Selamat pagi semuanya. Maafkan pengantin baru baru turun dari singgasana cinta.”
Marisa meringis sembari mencari-cari Dominic melewati bahuku.
“Mas Domi masih mandi mama, maklum kerja keras.” kataku tanpa urat malu. Padahal males banget aku bilang Dominic kerja keras, orang saya yang giat.
Marisa dkk yang sudah hafal betul kegiatan itu tersenyum lebar. “Kamu sarapan terus setelah ini kita jalan-jalan ke kebun apel.” katanya cepat sembari menarik kursi di dekatnya.
Aku duduk dengan anggun yang kupelajari terus-terusan. Di seberangku adalah bapak mertua. Dia tersenyum sambil meletakkan sendoknya.
__ADS_1
“Bapak terima lamaran kerjamu, Ras. Lusa bisa kita mulai.”
Aku mengacungkan jempolku seraya mengangguk dan mengedipkan mata.
Bertepatan dengan itu, Dominic hadir dengan rambut yang masih basah dan tidak di sisir.
Aku mendengus, gitu aja keren. Apalagi di sisir rapi tidak pakai kaos dan celana pendek urakan. Emang goblok aku tidak tahu bagaimana tampannya dia kemarin-kemarin. Giliran sekarang...
Dominic mencium ubun-ubunku sebelum mengungkapkan kalimat sambutan kepada keluarganya sebelum Irish juga ikut bergabung dengan membawa tas jinjingnya.
Bapak dan Marisa menatap kami bertiga bergantian sementara ibu bapakku menikmati hidup. Enjoy, chill, and comfort.
“Duduk sarapan. Kau juga Irish. Baru setelah ini pak Tedy antar kamu ke rumah.” ucap Marisa serius.
Irish mengangguk, Dominic langsung melakukan hal-hal yang diminta ibunya. Dia sarapan di dekatku dengan lahap sementara aku boro-boro makan. Ngemil sandwich yang tersedia saja males.
“Rastanty, makan!” Grandma bicara dengan bahasa Inggris seraya memencet tombol kursi rodanya, beliau pindah ke sisiku belakangku setelah di dorong menantunya.
“Budi, kau ambilkan makan untuk anak menantumu biar mama suapi!” ucap Grandma.
Aku menggeleng cepat-cepat bersamaan dengan kepala Dominic yang menoleh. “Biar aku makan sendiri, nenek. Aku sudah besar.”
“Nenek saja yang menyuapi, Rastanty. Dominic terlalu sibuk dengan makanannya.”
Dominic mengambil piringku seraya menaruh beberapa makanan khas sarapan orang Jawa. Ia tersenyum di depan neneknya seraya menaruh piring itu dengan hati-hati ke pangkuan neneknya.
“Thank you, Grandma.” ucap Dominic setenang mungkin.
“Sure.” Grandma menyeringai seperti kelakuan Dominic sekarang yang kembali menyantap sarapannya dengan tatapan yang tertuju pada bapaknya.
Aku melebarkan mulutku seraya menerima suap demi suap porsi makan di piring seperti porsi kuli. Dan tanpa aku duga, aku bersendawa dengan lincah tanpa beban.
Grandma tertawa lepas. ”Kau pasti kenyang sekali, Rastanty. Itu bagus, kau akan sehat dan penuh semangat.”
__ADS_1
Sehat? Gemuk kali yang bener. Dasar nenek. Suka banget bikin aku seperti anak kecil yang lagi gemes dan polos-polosnya.
...🖤...