
Demi mempercepat misiku untuk kabur dari sini, aku menyalami perempuan yang terduduk anteng di kursi roda dengan menekuk kedua lututku di depannya.
“Selamat siang Tante.” Aku mencium punggung tangannya sebelum menarik tangan Romi untuk mengikuti hal yang sama. Dia menyeringai lalu ikut berlutut seolah kami sungkem kepada pinisepuh.
“Siang, Tante.” Romi tersenyum lebar. Aku yakin dia batin yang tidak-tidak. Tapi terserahlah, bodoh amat, sudah terlaksana kesepakatan bersama. Dia wajib manut sama aku.
“Kalian siapa? Ada keperluan apa datang ke sini?” tanya beliau yang memakai terusan daster bunga-bunga. Lalu tatapannya beralih pada sedan merah yang terparkir di halaman rumahnya.
Tangannya mengepal di pangkuan. Wajah ramahnya sirna. “Siapa kalian? Kenapa ada mobil Pranata di sini.”
“Saya. . .” Aku membasahi bibirku dan menghela napas. Harusnya aku merenungi ucapan bapak lebih cerdas jika waktu tak akan menghapus kekecewaan ibu ini kepada kenangan buruk yang menimpa Pranata.
“Saya Rasta, dari Jogja.” kataku gugup.
“Pergi!!!” sergahnya dengan nada tinggi.
“Pergi dari sini!!!”
“Pergi!!!”
Aku dan Romi tersentak ke belakang dengan wajah terperangah sewaktu tangan beliau mengusir kami dengan uluran tangan yang menapak lengan dan kepala kami.
Kendranata buru-buru membantu kami berdiri. “Maaf, maaf... lebih baik kalian—”
“Pergi!!!” Indri memekik keras ditambahi dengan pukulan di kursi rodanya.
Sejenak aku menatap Kendranata untuk terakhir kalinya dengan mata berkaca-kaca sembari berusaha menggapai tangannya dan menaruhnya di pipiku.
“Prana... ”
“Balik.” Romi menarik lenganku dengan cengkraman penuh. “Jangan dongo, ibunya frustasi lihat kamu, Ras!” cetusnya galak.
Terseok-seok aku menjauh dari teras rumah diiringi dengan teriakan marah dari beliau. Begitu sampai di gerbang depan, aku berbalik.
“Pranata.”
Kendranata mengibaskan tangan sambil tersenyum samar.
“Eling, Ras. Kamu udah punya tunangan lho, eling.” Romi menasihati sambil menarik jaketku menjauh dari gerbang depan.
Aku melangkah dengan lemah, mengikuti Romi dari samping di ruas jalan pedesaan di bawah teriknya matahari.
__ADS_1
Wajah Kendranata mengganggu ketenanganku. Betapa bergairahnya aku saat menemukan sisa-sisa peninggalan Pranata di mata Kendranata. Namun nyatanya, benci itu masih ada di hati Bu Indri yang tertekan melihatku sampai depresi.
Di warung pertigaan. Aku dan Romi berhenti untuk membeli air minum. Kami mengistirahatkan kaki di bangku bambu setelah menempuh perjalanan kurang dari setengah jam.
“Bangke, kayaknya aku benar-benar kualat ngelawan bapak.” gerutuku sambil mengusap peluhku dengan lengan kemeja. “Betisku bisa seksi kalo jalan kaki terus sampai ke stasiun, Rom. Cari taksi gih.”
“Lah, bukannya traveler blogger punya jiwa petualang? Gini aja peyok.” Romi mencibirku dengan tawanya yang hambar.
“Masalahnya bukan pekerjaanku, Rom. Tapi ... munculnya Kendranata membangkitkan beribu-ribu rindu yang pernah mati, bukan, tapi sengaja aku kubur dan tadi bangkit.”
“Bangkit dari kubur?”
“Anjir, lambemu asal jeplak, Rom.” Aku berdecih lalu tergelak, “Aku jadi kangen sama Dominic, dia pasti bakal sedih tahu kepalaku di keplak tadi. Sakit nggak, Ron?” tanyaku penasaran.
“Sakitlah, ***. Kalo bukan ibu-ibu sepuh udah tak ajak duel. Lah berhubung sepuh daripada kualat mending ingah-ingih ajalah.” dengus Romi sambil mengelus kepalanya.
Aku tergelak. “Maaf kamu kena getahnya, Rom. Lagi-lagi ini di luar ekspektasi ku.”
“San... taii...” Tatapan Romi berpindah mengamati mobil yang baru saja berhenti mendadak di pertigaan sebelum berkelok memasuki lahan di samping warung.
“Mas Kendra, duduk-duduk...” Pemilik warung mempersilakannya bergabung dengan raut wajah semringah nan sopan.
Aku terkesima sewaktu ia mendaratkan pantatnya di kursi plastik di depanku.
“Mari saya antar ke stasiun.”
Aku menutup telingaku, suaranya menyusup bagai simfoni asing yang kembali hadir setelah sekian lama mati di pendengaranku.
Pranata.
Kendranata.
Pranata.
“Makasih mas, tidak perlu repot-repot. Kami sudah pesan taksi.” Suara Romi terdengar samar dan penolakannya kurang canggih sewaktu pemilik warung ikut mendesaknya menerima penawaran itu.
“Batalkan saja, sekalian saya harus minta maaf atas tindakan ibu. Beliau... masih depresi.”
Sorot mataku terangkat, “Kenapa?” tanyaku tiba-tiba.
“Kamu, Pranata... Ibu meracau banyak, tapi bukan kapasitas saya untuk mencampuri sekarang. Sudah lama, ibu hanya belum rela anak kesayangannya jauh darinya.” Kendranata tersenyum kecil. ”Kalian baik-baik saja?”
__ADS_1
“Kalau mau visum juga boleh mas.” sahut Romi yang ditanggapi kekagetanku dan Kendranata langsung. “Bercanda... he... kebetulan tegang banget di sini. Panas.” Romi mengipasi wajahnya dengan kardus bekas panganan.
Aku menyunggingkan senyum kecut. Dimana mana kok banyak orang nyindir. Aku memutar mata.
“Jadi mau saya antar ke stasiun?” tanya Kendranata setelah membeli air minum.
“Boleh mas, semakin cepat sampai rumah, semakin bagus. Saya ada kuliah siang, sumpah.” sahut Romi telak.
Kendranata menatapku canggung. “Jujur saya tidak tahu ada mantan Pranata yang masih menyimpan sedan merah itu, bapak ngomong, mobil itu sudah dijual waktu saya pulang dari Kalimantan.” Dia membuka pintu mobil penumpang, “Pranata dan saya kembar, kami pisah waktu kuliah dan pulang waktu Pranata tiada.”
Aku mengangguk dan masuk ke mobilnya. Sekujur tubuhku digerayangi beragam tanda tanya. Kendranata kembaran Pranata. Fakta itu ditutupi dengan rapat oleh Dominic selama ini.
“Kapan-kapan saya ke Jogja untuk ziarah ke makam Prana. Saya yakin makamnya tidak terawat karena keluarga saya jarang ada yang datang. Ibu takut ke Jogja, klitih kabarnya semakin menjadi-jadi.” ucap Kendranata sembari mengemudi.
Aku mengambil ponselku dari tas seraya mengirim pesan untuk Dominic.
Aku perlu kamu, Domi. ( ˘ ³˘)♥
Aku tersenyum geli sembari menunggu balasannya. Dia pasti terbahak karena emoticon itu.
“Bagaimana Rastanty, kamu bersedia menemani ke makam Pranata?”
Aku mendongak, tatapanku bertemu dengannya di spion kabin. Jantungku bertalu-talu. Setengah jiwa yang dimiliki Pranata ada di tubuhnya.
Aku membuang muka ke arah jalanan. “Aku—aku, dua tahun aku belum sanggup ke sana.” kataku jujur.
“Deep condolance.” Kendranata tersenyum tipis. “Saya paham, biar saya datang sendiri ke sana. Tapi alamat rumahmu masih sama?”
Aku jawab dengan senyumku. Lalu mendadak, “Alamat rumah?” cetusku tiba-tiba.
“Wajahmu mengingatkan saya pada gadis pecinta alam yang dua tahun ini cukup di kenal sebagai traveler blogger yang digemari pria-pria. Selain mandiri, tangguh juga cantik. Pantas Pranata memilih dimakamkan di dekatmu ketimbang keluarganya.”
Aku tercekat bersamaan dengan getarnya ponsel di genggamanku.
“Dom—”
“Sayangnya pria-pria tadi harus patah hati jika tahu idola mereka akan segera menikah.”
“Ras... Hei, lagi sama siapa?” tanya Dominic setelah jeda sesaat.
Aku memejamkan mata sembari menggigit bibir bawahku dengan cemas. Ini gimana kalau ketahuan, sial.
__ADS_1
...🖤...