Jogja, Kamu & Kenangan

Jogja, Kamu & Kenangan
My Love, Life and Laugh


__ADS_3

“Stacy... Stacy... Where are you...” Marisa berseru bak penyanyi paduan suara yang merdu. Tetapi bagiku yang dilanda was-was setelah kehadirannya di rumah. Aku langsung cemas.


Waduh.


Kakiku batal keluar kamar sementara suara si nenek gaul dengan cepat terdengar di depan kamar.


Marisa melongok di ambang pintu. Senyumnya nyengir dan seru. ”Rastanty, di mana my baby girls woghh... woghhh?”


“Jalan-jalan, Mam.” kataku sambil pura-pura menggendong Teja yang kebetulan menggeliat.


“Ya ampun, mama cari Stacy dulu sebelum gendong cucu mama nomer dua. Hebat.”


Slamet... Slamet... Aku mendesah lega seraya mengikutinya diam-diam selama pencarian anak bulunya yang tidak akan pernah ketemu.


”Di mana Stacy, Ras? Di mana dia?” Marisa berkacak pinggang sembari mengedarkan pandangannya ke tempat-tempat yang biasa anjing kesayangannya itu nongkrong dan rebahan.


Aku menatap Miranda yang kasian, keberadaannya tidak di anggap. Lolongan anjing itu tidak menyalak seperti biasa ketika menyambut Marisa pulang dari plesiran sekaligus pamer cucu kesayangan lewat omongannya yang jujurnya kelewatan.


Miranda mendengus dengan sorot mata yang meredup lalu ndelongsor di lantai.


Aku menatap bapak yang sedang menimang-nimang Teja tak jauh dari sangkar burung kutilang peliharaannya setelah mengambilnya dari gendonganku.


“Stacy ke mana, Ras?” Bapak menatapku penuh selidik.


Kok aku sih yang kena. Oh, Domi. Pulanglah dari kantormu sekarang juga, jelaskan kepada pemilik Stacy yang sesungguhnya bahwa anjingnya sedang plesiran ke Surabaya. Dan satu-satunya keterangan yang bisa aku katakan hanyalah, ”Stacy pergi dengan Dev dan Morgan, Ma.”


“Siapa mereka, Ras? Kenapa Miranda tidak ikut sekalian?” tanya Marisa penasaran.


Miranda yang sama tersiksanya sepertiku memutar tubuhnya, membelakangi Marisa.


Aku nyengir. Aku tersiksa. Tenggorokanku tercekat. Bagaimana ini padahal baru saja aku dan anak-anak menerima oleh-oleh dari Michigan dengan jumlah banyak. Tapi ya sudahlah, biarin aja, ngomong saja biar mereka yang memikirkan bagaimana akhir nasib Stacy.


Aku tersenyum kikuk sambil menautkan jari telunjukku di belakang badan.


“Tetangga kita, Ma. Stacy ketemu Dev di rumahnya sebelum Teja lahir, sekarang mereka lagi plesiran ke Surabaya bareng Morgan yang rumahnya di nomer 15A. Tetangga kita.”


Marisa sontak menatap cucunya dengan kernyitan yang membuat wajahnya semakin tua.


“Teja? Nama cucu mama Teja?” tanyanya meyakinkan sambil menatapku serius. “Teja, apa itu, Teja?”

__ADS_1


Aku meringis lebar dan dibuai rasa geli. Pasti Marisa proses, pasti. “Teja artinya senja bisa juga pelangi, mam. Aku dan mas Dominic suka senja.”


“OH MY GOODNESS.” Marisa terhuyung ke belakang dengan tangan yang menempel di keningnya. “Budiman and Teja? Kenapa bukan, Alejandro, George, atau David? Why Teja and Budiman.”


Marisa geleng-geleng kepala dan saking mendramatisir ocehannya yang kalap akan nama cucu-cucunya. Tumitnya membentur pinggiran kolam sampai terjungkal ke dalam kolam renang.


Prambudi ternganga, bukannya panik akan situasi yang terjadi pada istrinya. Ia terbahak-bahak tanpa sedikitpun membuat takut Teja yang masih ada di gendongannya.


Aku menggapai tangan Marisa dari tepi kolam sambil mendengar bapak bercerita.


“Malu dia, Ras.” Kekehan bapak menjadi-jadi. “Dulu waktu Dominic lahir juga begitu maunya, nama panggilan anaknya harus internasional. Nama bapak yang cuma Prambudi dia nggak mau... Tapi karena mama mertua ada, namaku wajib ada.”


Marisa terpogoh-pogoh mendekati suaminya dengan gaun musim panas yang melekat di tubuhnya.


Basah kuyup ia memandangi Teja yang mengerjapkan mata. Ia menyugar rambutnya seraya mengusap wajah.


“Satu bulan mama plesiran dan kalian memutuskan nama berdua saja?”


“Nenek tahu.”


”Ya Ampun, Pasty Dwayne! Cuaca tropis sepertinya ikut mengubah caranya berpikir.”


”Ada apa mam?” Dominic mencium pipiku seraya mencium pipi ibunya dengan tatapan terheran-heran. ”Keren bener kostum renangnya, mam, tumben irit laundry—”


“Dominicccxxx....” Marisa menjewer telinganya sampai tubuh anaknya condong ke samping. “Kamu harus bawa pulang Stacy anak mama paling garang. Mama nggak mau ngerti apa saja alasannya. Mama mau Stacy pulang dan tinggal di rumah ini.”


Dominic mengusap telinganya yang perih dan merah. Ia mendengus seraya memelukku dari belakang untuk meluapkan kesedihannya.


“Sakit, Ras. Tiup telingaku dong.” Dominic pura-pura tersedu-sedu sambil membenamkan wajahnya di rambutku. “Mama kdrt dan lebih memilih Stacy daripada aku!”


“Mama tidak kdrt, kamu yang asal buang Stacy. Kenapa tidak sekalian Miranda kamu usir dari rumah?”


Miranda menggonggong lantang dan panjang. Dia meraung lalu menggulingkan tubuhnya di lantai dengan nelangsa.


Dominic memegang pinggangku sambil mengistirahatkan dagunya di kepalaku.


“Stacy pergi dari rumah atas kemauannya sendiri, mam. Udahlah kalem, ntar mama sering-sering aja mampir ke rumah 15A. Tanya kabar Stacy dari mereka. Males banget kalo aku harus nyusul Stacy ke Surabaya.” Dominic mendengus. Ingatanku langsung mampir ke rasa cemburunya yang meletup gengsi kemarin-kemarin.


Aku menyeringai. “Yang punya Labrador jantan cakep banget, mam. Namanya Morgan.” imbuhku sengaja.

__ADS_1


“Rastanty!!!” Mama berkacak pinggang, sorot matanya terlihat kesal. “Kau bicara laki-laki lain di depan anakku?”


Aku mengiyakan dengan anggukan. “Soalnya mas Dominic cemburu sama dia, heu...”


“Oh my goodness... Jadi kau membuang Stacy hanya untuk mengurangi rasa cemburumu, Dom?”


“Yap.”


“Get out!!!!” Marisa menunjuk pintu rumah dengan mata mendelik. ”Cari Stacy, atau kamu beli rumah sendiri yang jauh dari rumah Morgan!” tegur mama.


Dominic mengambil Teja dari gendongan bapak. Dua pria itu saling berhadapan dengan senyum yang sulit aku pahami.


“Semua akan baik-baik saja, betul, Pak?" tanya Dominic.


Bapak mengangguk sambil menepuk pundaknya. “Sudah saatnya kamu punya kehidupan sendiri di luar rumah ini, Dom. Soalnya bapak dan mama harus menggembleng Reno dan Michelle. Pergilah, cari kebahagiaan dan kebebasanmu sendiri dalam berumah tangga.”


”Diusir kita, Ras.” Dominic menghela napas sambil memejamkan mata. Secuil kecewa terpampang di wajahnya sebelum tergantikan dengan sikap decak puas. ”Tapi aku seneng banget, akhirnya rek, kita bebas, Ras... Bebas.”


Dominic mengecup pipiku, lalu ibunya dan neneknya. Ia tersenyum bahagia, satu tangannya menahan Teja dengan aman, satu tangannya merangkul pundakku. Dominic menatap keluarganya satu persatu sambil memasang wajah santai dan puas di bawah terik matahari penghujung sore.


Suasana menjadi hening sementara aku memandangi Marisa dan Prambudi untuk menggali keseriusan ucapan mereka.


Bapak mengangguk samar. “Kami percaya kalian sanggup membina hubungan kalian tanpa campur kami.” Kudengar ada nada dan tatapan sedih dari bapak. Tapi tidak ada air mata atau kekecewaan yang berlebihan bahkan penyesalan dari mereka seolah ini sudah di perhitungkan matang-matang.


Dominic menoleh, memandangku. “Mau hidup di rumah baru?”


“Kita punya kecocokan dan beberapa hal yang slalu seirama. Terus kenapa tidak? Rumah baru, suasana baru, harapan baru, dan cinta yang istimewa?” Aku tersenyum.


Dominic menunduk dan menciumku dengan mesra. Kegembiraan terpancar dari sorot matanya. Ia menang atas tekad yang tak terbatas untuk meraihku ke dalam hidupnya yang sempurna dan aku benar-benar diuntungkan atas cintanya yang sabar.


Dominic tersenyum hangat kepadaku, lalu meringis lebar saat Budiman ikut bergabung dan mendorong lututnya untuk menjauhiku.


“Papi, no.” serunya sambil tetap mendorong Dominic yang sengaja bergeming.


Aku mengangkat tubuhnya seraya mencium pipinya yang gembul. “I love you, but papi is my life.”


Budiman mengistirahatkan kepalanya di bahuku seperti tingkah bapaknya yang lelah berjuang. Aku dan Dominic pun memberi senyum dan pamit untuk memulai hidup yang lebih hidup dan kebahagiaan yang begitu intim dan penuh tantangan di rumah baru yang jauh lebih sederhana dan hanya ada kami berempat serta Marinda yang menolak untuk hidup bersama Marisa lagi.


...TAMAT...

__ADS_1


Mari lanjut ke novel Rekah Hati ( Kendranata & Hetty dan Saat Bertemu Kamu ( Novelnya Paijo & Michelle 😁 )


__ADS_2