
Diiringi lagu yang tak berkesudahan, di depan cermin aku diterpa kebingungan. Bisakah aku membuka hati untuk Dominic, sebab hari ini sudah aku pastikan aku kembali memintal cinta, dengan sahabatku, teman baik Pranata.
Aku bingung sambil menelaah segenap janji yang Dominic tepati dengan ketulusan dan kegilaan meletupkan arti keberadaannya di sisiku. Bisa saja dia bermain-main saja, bisa saja dia enyah ketika harus menghadapiku yang keras kepala selumrahnya gadis yang ditinggal mati kekasih hati, namun sejauh ini dia bukan hanya bayangan, Dominic nyata, janji yang telah disepakatinya dengan yang tiada mengambil sebagian luka yang terpatri di hati ini. Tak terhitung lagi pengorbanannya dan aku hanya bisa berdoa segera berakhirlah dan menghilang gumpalan rasa kehilangan Pranata.
Cobaan ini terlalu berat.
Kuatkanlah.
.
.
.
Pintu kamarku terpentang perlahan. Aku menyapa Dominic yang menantiku menyisir rambut sambil menyandarkan kepalanya di kusen pintu.
“Mau ke mana panas-panas gini, Ras. Tambah gosong kulitmu nanti.” ucapnya semenit kemudian setelah hening yang kami nikmati sambil bertatapan.
“Bagus kan. Biasanya bule-bule setengah lokal kayak kamu itu sukanya kulit cewek yang eksotis, kurang gimana kulitku sekarang?”
Dominic menyunggingkan senyum sampai pipinya merah. Dia mengusap pipinya yang kaku sebelum kembali ke sikapnya yang semula.
“Kamu ngecengin aku, Ras? Janganlah, aku bisa gila nanti.” Dominic menyeringai.
“Menurutmu?” Aku memakai jaket rajut berwarna hitam sebelum mengalungkan tali tas selempang miniku berwarna hijau tosca. “Aku pengen ke alun-alun kidul, Dom. Ke sana, mau?” tanyaku setelah berdiri di sampingnya.
Dominic mengalungkan lengannya di leherku. “Mau-mau ajalah, wong aku ini geleman!”
__ADS_1
Aku meringis lebar. Geleman bisa diartikan semuanya mau tanpa ragu, bisa ke konteks yang bagus dan tidak bagus tergantung konotasinya.
“Bukan aku lho yang ngomong kalau kamu geleman. Aku cuma jawab, kalo kamu nggak setuju kita bisa ke tempat lain. Itung-itung first date!” balasku riang.
Dominic tertawa dengan tersentak-sentak, aku senang melihatnya begitu, tetapi bagaimana jika tawanya palsu? Aku ingin menjadikannya wajar di sisiku, setidaknya itu adalah satu-satunya jalan untuk membuka hati.
“First date? Yang jelas kalau aku emang pacar barumu, first date harus malu-malu, Ras.” ungkapnya menggelikan. “Lagian ditawari buat menerima kamu setelah jadi milik Pranata aku mau Ras, apalagi cuma jalan-jalan ke alun-alun kidul, aku mau banget!”
Inginku tertawa, bagaimana mungkin kita sanggup bersikap malu-malu, toh kentutnya, ilernya, kolornya, dan kebiasaannya aku terima. Dan sekarang aku tidak menemukan kata pun terjebak di ruang keluarga dengan bapak ibuku yang mengernyitkan dahi.
Dominic mencium punggung tangan bapak ibunya sambil tersenyum bangga setelah menyebut aku adalah kekasihnya dengan teramat sudi. Menerima bekas Pranata, pun kenangan kami yang jelas dia ketahui keseluruhannya.
“Beneran kamu sama Domi pacaran, Ras?”
Aku tidak sanggup bersikap atas pertanyaan ngeri dari mereka sekarang. Aku terpaku tanpa kata. Namun kegigihan dari tatapan Dominic mengerek kepercayaanku untuk mengangguk.
“Bapak ikut senang dengarnya, wong selama ini bapak slalu kepikiran setelah Pranata pergi, apa kamu sanggup jatuh cinta lagi, Ras. Eh, malah cinta sama teman sendiri.” Tangan bapak terus mengusap punggung Dominic.
Aku tersenyum geli, belum juga sehari, bapak ibuku terlihat sudah ingin sekali melihatku duduk di kursi pelaminan bersama Dominic.
“Ayo, Dom. Budal. Keburu senja.” ajakku sebelum penuturan itu tersampaikan meski lewat sorot mata.
“Baiklah, pak, buk. Kami cukupkan pengumuman ini. Kami pamit mau pergi ke alun-alun kidul buat kencan pertama.” ucap Dominic sembari beranjak.
Ibuku tergelak. Entah apa yang lucu, tapi dia ibuku. Jelas semerbak kegilaan yang ada sekarang bisa dia serap tanpa perlu aku ucap.
Dominic mengalungkan tangannya di leherku sembari keluar rumah. Lima menit kemudian, kami sudah ada di atas motor. Berada di jalan raya, menikmati udara jalanan kota Jogjakarta seperti biasa dengan status yang berbeda. Rasanya canggung, aku menggenggam tanganku di tengah jok motor sementara sesekali dia mengusap-usap lututku saat di perempatan jalan.
__ADS_1
“Aneh, Ras?” ucap Dominic tiba-tiba ketika aku menopangkan dagu di bahunya.
Lampu merah berganti menjadi lampu hijau, Dominic menggeber motor, kami melewati tugu Pal Putih dari arah utara menuju jalan Pangeran Mangkubumi. Terus ke arah selatan, belok ke kiri lalu belok ke kanan, melewati bawah jembatan kretek kewek yang menjadi perlintasan kereta api dan di bangun saat era kolonial Belanda sebelum kami melewati Malioboro dan berhenti di perempatan titik 0 kilometer Yogyakarta.
“Dulu kita sering ke sini sama Pranata, ngopi gelasan, pulang-pulang kemalaman, untung bapak kita wajar cowok-cowok sering nongkrong malam, habis itu kamu di marahin ketauan ikut-ikutan.” Dominic tergelak saat tanganku mencubit perutnya.
“Ngakak aku, Ras. Habis itu kamu sama Pranata nggak boleh keluar bareng. Hohoho.... Di saat itu aku merasa senang. Gak perlu lihat kalian mesra-mesraan!”
“Bahas terus, bahassss...” cibirku, giliran sedang memulainya, Dominic menguapkan yang pernah terjadi begitu juga perasaannya sendiri.
“Ingat ya, Dom. Aku nggak akan menyerah!” kataku tegas.
“Sama kalo gitu!”
Motor kembali melaju, mengarah ke alun-alun Utara yang kini memiliki wajah baru. Aku tersenyum, aku juga harus begitu. Memiliki wajah baru setelah melakukan revitalisasi hati. Aihh, Dominic pasti ngakak jika mendengarnya dan aku serius. Aku tidak akan membicarakan itu, aku hanya perlu membuktikannya.
Tiba di Alun-alun kidul, Dominic melepas pengait helmku sambil tersenyum.
“Kalau dulu Pranata perhatiannya kecil-kecilan, perhatianku akan besar-besaran.”
Aku mengerucut bibir. “Biasa aja, aku nggak banding-bandingin kamu sama dia!”
“Cie, dia.” sahut Dominic seraya membayar parkir yang terletak di pelataran parkir bangunan bersejarah Sasana Hinggil Dwi Abad, bangunan tinggi yang menjadi sasaran empuk untuk berteduh kala suasana panas atau teduh hingga hujan.
Dominic memasang wajah jenaka ketika menggandeng tanganku. Sementara aku malu, dari banyaknya pasangan muda-mudi yang bertebaran di sini, tidak banyak yang bergandengan tangan kecuali mereka-mereka yang sedang mabuk kepayang.
Aku meringis. Semoga yang melihat harap maklum, Dominic sedang dilanda kesenangan yang sudah lama dia tunggu-tunggu. Dan sebenarnya aku tidak masalah jika ini terjadi, namun aku merasa dia yang tampan seringkali menyita perhatian publik terlebih senyum dan perangainya yang ramah sering membuatku terheran-heran. Tidak adakah gadis yang ingin dengan pacar baruku ini. Rasanya tak mungkin, Dominic susah lapak.
__ADS_1
...🖤...