Jogja, Kamu & Kenangan

Jogja, Kamu & Kenangan
Bait Ke-24


__ADS_3

Aku mencoba menghibur diri di toilet dengan menatap foto Pranata di dompetku. Aku jelas kebanyakan sambal waktu sarapan dan sekarang aku tidak bisa menerka apa yang terjadi di halaman gedung ini.


Dominic dikerubungi mantannya yang entah masih ada rasa atau tidak. Selama ini aku tidak peduli dengan urusan pribadinya dengan kekasihnya yang lama. Hidupku terlalu egois, aku memikirkan diriku sendiri sementara Dominic jelas mengalami banyak pergolakan yang tidak ia ceritakan kepadaku karena enggan membebaniku.


“Aku jahat, Pra.” gumamku sedih. “Dominic menderita karena kita.”


Tok


Tok


Tok


Aku menutup dompetku seraya memasukannya ke tas. Gegas aku mengguyur toilet sebelum mengeluarkan parfum. Aku menyemprotkannya ke udara diiringi ketukan yang makin tak sabar menggunakan toilet umum ini.


Aku membuka daun pintu dan tidak bisa menyembunyikan keterkejutanku. Dominic melipat kedua tangannya di depan mataku dengan alis mengernyit.


“Ngapain di toilet lama-lama?”


“Ngapain lagi kalau bukan panggilan alam!” sahutku ngegas.


Dominic kontan tak bersuara, dia menatapku dari atas ke bawah sebelum menyentuh perutku tiba-tiba. Aku tercekat dan memalingkan wajah. Aku diam seribu bahasa. Dia masih perhatian dan bayangkan betapa wanginya dia sekarang meski pipinya sudah murahan.


“Bibirmu pucat, banyak gas di lambungmu.” urainya seolah seorang dokter. “Udah minum obat?” tanya serius.


Aku menurunkan tangannya dari perutku yang berubah menjadi rangkulan di pinggang dari depan. Dominic menghela napas dengan responku ini.


“Biasa aja, nanti juga sembuh sendiri.” ucapku datar.


“Masih aja keras kepala, dan angkuhmu apa nggak bisa dikurangi saat bersamaku, Ras? Sedikit aja aku—”

__ADS_1


Aku mengangkat sebelah tangan, menyetop rentetan kalimatnya.


“Kita udah lama bareng-bareng tapi untuk status kita yang baru aku masih canggung, Dom. Aku butuh waktu.”


“Maka ubahlah caramu memandangku!” tandasnya, Dominic masuk ke kamar mandi, dia membasuh muka lalu berdiri di depanku dengan tetesan air yang membasahi rompi dan lehernya.


“Hapus airnya kalau kamu nggak suka cewek-cewek tadi cium aku dan kamu sebagai pacarku cemburu!”


Mataku membesar. Mulutku terbuka. Dadaku tersentak. Sementara tanganku gemetar di sisi tubuh.


“Ras, kita gampang jadi sahabat tapi susah jadi pacar. Maka berubah lah sedikit saja, manja lah seperti yang kamu lakukan dengan Pranata.” urainya emosional.


Aku menaikkan kedua tanganku ke udara, menghapus sisa-sisa air di wajahnya dengan mata yang berkaca-kaca. Aku tidak tahu seperti apa maunya, tapi aku melakukannya. Menyentuh wajah Dominic yang kerap aku lihat namun jarang aku rasakan. Kini di telapak tanganku dan jemariku basah sesuatu yang kusebut air mata. Hangat. Menyentuh dadaku.


Dominic memeluk pinggangku dengan kedua tangan saat aku mendaratkan kepalaku di dadanya dan mengatakan maafkan aku. Sungguh-sungguh dengan perasaan menyesal.


“Lupakan tadi malam.” Ia menyudahi marahnya dan menarik diri. Kelekatan hilang di pelukanku. Dominic tersenyum samar saat menatapku di lorong kamar mandi perempuan yang bermandikan cahaya dari jendela samping. “Di luar ada sahabatmu. Temui dia biar aku cari obat dulu sebelum acara di mulai.”


Di sana, di detak tiang listrik. Priska bergeming dengan senyum manisnya dan perut buncitnya. Priska hamil, anak siapa?


Aku mengangkat tangan seraya memanggil. Priska melambaikan tangan sambil memanggilku histeris.


“Bumil... Gemoy banget.” Kami berpelukan sampai bahu kamu bergoyang-goyang. Aku bahagia menemukannya di tengah maraknya mantan Dominic yang menjamur di sini. “Gemes banget kamu, Ris. Anak siapa?” tanyaku antusias setelah kami mengurai pelukan.


“Ada deh, bukan hal penting dibicarakan.” Priska menyeringai.


“Yah,” Aku menguncupkan bibir. “Gak nyampe undangannya ke rumahku!” Bahuku kontan di dorong olehnya.


“Gak nyampe gimana, aku sendiri yang datang ke rumahmu. Bu Yati bilang kamu di Malang, di rumah Domi. Eh...” Priska menatap Dominic yang baru saja keluar dari parkiran dengan motor temannya sambil tersenyum lebar.

__ADS_1


“Kamu jadian sama Domi, Ras?” bisiknya hati-hati. “Beberapa kali aku ke rumahmu, bapak ibumu bilang kamu belum pulang-pulang. Aku penasaran kamu ngapain aja sama Dominic sampe lengket terus sampe sekarang.”


Pipi kiriku berkedut-kedut dan senyumku terlihat aneh. Terlebih air mukaku sehabis menangis pasti terlihat tambah membangkitkan rasa penasaran Priska.


Aku mengelus perutnya dan merasakan tendangan bebas dari janin yang ada di perutnya. Dan getaran itu membuatku tersenyum.


“Panjang ceritanya, Ris. Kapan-kapan aku main ke rumahmu. Curhat.”


“Rastanty... Rastanty, tapi kamu udah baik-baik aja to? Aku sempat khawatir dulu kamu—”


“Hampir masuk rumah sakit jiwa?” sambungku. Priska tersenyum sedih sambil mengelus pipiku. “Dominic pasti kerja keras buat nemenin kamu, Ras. Aku lihat tadi dia nyusul kamu ke toilet. Lama, kamu sakit? Oh, atau cemburu banyak mantannya di sini?” guraunya membuatku mengulum senyum.


“Asam lambungku naik.” akuku.


“Halah sampean ini mengkambinghitamkan asam lambung!” cetus Priska sambil menyenggol bahuku. “Ngaku aja cemburu Dominic ketemu mantan-mantannya, sekarang toh dia nyamperin kamu, Ras. Bawa apa itu? Kresek putih.”


Aku mati gaya saat Dominic mengulurkannya kepadaku. “Di minum terus masuk ke gedung, aku sama Paijo isi acara.”


Aku menyembunyikan senyumku di balik kresek putih sebelum Priska melihatnya. Kok aneh ya Dominic tiba-tiba berubah. Dia tidak lagi menjadi burung yang berkicau merdu dan panjang namun sesekali mengganggu. Dia seolah menjadi Pranata dalam bentuk yang belum pernah aku kenali semasif ini.


Priska menyambar kresek putih dan melihatnya isi di dalamnya. “Ya Allah beneran obat asam lambung!” cetusnya kegirangan. “Kamu banyak pikiran apa susah makan lagi, Ras?”


Aku mendengus. Asam lambung menjadi penyakitku setelah Pranata tiada. Selain aku susah makan, aku banyak kepikiran, semenjak itu aku menjadi pilih-pilih makanan dan Dominic adalah pengkritik pilihanku sedangkan tadi pagi adalah kekacauan.


“Di minum terus masuk ke dalam, kita lihat Domi sama Paijo duel. Aku kangen sama kekonyolan mereka, Ras.” Priska mengeluarkan teh hangat pahit, obat asam lambung dan diare dari kresek putih.


Aku memejamkan mata. Aku muak dengan obat itu sementara rasa sepat dari teh pahitan membuatku menelan ludah berkali-kali.


“Udah, Ras. Santai. Dominic itu setia ditempat yang tepat, wong dia dulu juga pernah deketin aku terus janji bakal setia tapi aku nggak mau...”

__ADS_1


Duduk di kursi yang berjajar rapi, semua alumni nampak memasang aneka rupa ke arah panggung tempat Dominic dan Paijo berduel obrolan. Ya, sebagai anggota BEM, mereka dan Pranata adalah tombak keceriaan, kesolidan dan kecerdasan di angkatan kami. Aku sempat bangga ada di antara mereka—kecuali Paijo—dan rasanya aku seperti merasakan Pranata juga hadir di sini. Di dalam tubuh Dominic yang menatapku penuh hangat dan senyum yang meluluhkan hati sekali jadi.


...🖤...


__ADS_2