
Berdasarkan usul ibuku yang mulai terganggu dengan ocehanku tentang mobil dan motor peninggalan Pranata. Segumpal keberanian dan ide cemerlang ia sampaikan agar segera melenyapkan kendaraan yang sering menggores cerita di sepanjang jalan Jogjakarta bersama Pranata.
“Ras..., ibu sama bapak pergi ke pasar cari butuh.” seru ibuku dari ambang pintu, “Kamu jadi satpam.”
Aku berdehem hingga sewaktu motor bapakku yang memiliki suara khas menjauh dari halaman rumah, aku menjauhkan selimut yang menutupi tubuhku segera.
“Semoga bapak nggak curiga.” Aku meringis kegirangan sambil mengeluarkan kunci mobil dan motor Pranata dari kantong celanaku. Gegas aku keluar kamar menghampiri Romi di dapur.
“Rom, ayo.” kataku menggebu.
Dia menyesap kopinya hingga beberapa seruputan sebelum mengangguk.
“Beres.”
Aku menyerahkan kunci motor Pranata kepadanya. “Kita iring-iringan, tapi kalau kamu mau cepat duluan aja. Ntar ketemu di depan parkiran Puro Mangkunegaran. Rumahnya nggak jauh dari sana.”
Romi menanggapi ucapanku dengan cengiran lebar sama sewaktu mendengarku curhat sampai tengah malam. Tapi begitu kami sudah berada di atas kendaraan, duniaku kembali pada satu titik bernama kenangan. Aku mengepalkan tangan berulang kali di balik kemudi sedan merah. Mobil ini sering membawa kami ke tempat-tempat romantis. Tapi sayangnya mobil ini juga sering membawa Hetty ke beragam tempat yang tidak aku ketahui dimana.
Dalam semestaku, dulu... Pranata adalah pria romantis yang berambisi. Setiap ambisinya yang terucap, slalu ada was-was yang langsung menyusup ke dadaku. Hanya saja keputusan untuk menyambut baik Hetty adalah yang paling sukar aku terima.
Lebih jauh dari itu, hubungan mereka di atas hubunganku seolah adalah pengkhianatan yang terorganisir. Pengkhianatan, satu kata yang mati-matian aku tampik kala Dominic menceritakan kepadaku kisah mereka sewaktu kami kembali ke Malang tempo hari. Aku terluka, aku benci kenyataan itu dan masih susah aku telaah lebih baik, Pranata tega melakukan potensi menyakitkan itu. Bertubi-tubi.
Melewati Klaten, detak jantungku semakin meningkat. Aku, sendiri, tanpa seseorang yang tahu betul kisahku dengan Pranata akan mengunjungi rumahnya yang belum aku ketahui bagaimana rupanya. Bagaimana reaksi mereka setelah bertahun-tahun tidak menggubris peninggalan anaknya. Bermodal bensin yang membakar rasa luka dan cengkraman untuk membahagiakan pilihanku cukup mahir membawaku ke sana.
“Rom, ngekor mobil.” teriakku tanpa berminat keluar dari mobil. Ia yang berhenti di pinggir jalan di tempat yang aku sebutkan membuang rokoknya dan menggeber motornya di belakangku.
Setengah jam, setengah jam lagi aku mengembalikan barang-barangnya ke rumah priyayi tulen yang memiliki rumah dengan sebagian arsitektur Jawa dan modern, sejuknya pohon rambutan melindungi tanaman-tanaman hias yang berjejer rapi di bawahnya.
Aku menjatuhkan punggungku ke sandaran jok sedan merah, lukaku menganga, satu petak bangunan yang memanjang ke belakang dengan pagar-pagar tinggi yang melindunginya telah mengintimidasi terlebih dulu sebelum wajah-wajah penghuni rumah ini menampakkan diri.
Aku menarik napas panjang-panjang sewaktu Romi mengetuk kaca mobil.
“Aman, Ras?”
“Tremor.”
Cengiran Romi melebar, “Masih bisa jalan sendiri kan? Kalau nggak ngesot gih, aku males cari masalah sama cewek yang udah tunangan.”
Semprul. Aku menapak lengannya sebelum menutup pintu mobil. Tapi rupanya kedatangan kami di sadari penghuni rumah, kami tiba di depan pintu jati yang berukir rumit bersamaan dengan pintunya yang terbuka perlahan.
Mataku melebar, tubuhku tersentak ke belakang, amarahku memudar, napasku tersekat, seseorang di depan mataku menyedotku lebih lama ke belakang.
Pranata.
__ADS_1
Dadaku seperti diremas melihat wujudnya di mataku hingga rasa itu rontok seketika. Romi menyenggol-nyenggol lenganku dengan sikunya sewaktu uluran tangan dari siapa dia... Kenapa matanya seperti milik Pranata, hidungnya, senyum penasaran yang tercipta di sudut bibirnya, dan perawakannya aku abaikan.
“Ras!” Bugh ...
“Janc...” Aku tersentak, punggungku sakit, Romi meringis sambil mengarahkan dagunya ke si empunya rumah.
Aku menyunggingkan senyum rikuh. “Maaf,” Aku mengatupkan tangan. “Maaf, benar ini rumah Pak Herlambang dan Bu Indri?”
Lelaki itu mengangkat sebelah alisnya. “Kalian siapa?”
Aku ternganga sambil melirik Romi. Bantu woyy, bantu jawab! kataku lewat sorot mata. Mulutku terlalu kaku untuk menjawabnya.
“Kami dari Jogja mas, saya Romi, ini Rastanty. Dia anak ibu kost-kostan yang dulu sempat ditinggali almarhum Pranata.”
“Almarhum Pranata, Jogja?” Mata laki-laki itu terlihat langsung mengingat sesuatu. Cepat-cepat dengan gesture sopan ia mempersilahkan kami masuk ke rumah.
Aku menggeleng samar. “Kami tidak akan lama mas.”
“Lho, saya pikir kalian ingin bertamu untuk silaturahmi barangkali kangen dengan adik saya.” ucapnya lebih luwes.
“Adik?” Aku mengernyit.
Uluran tangannya kembali terangkat ke udara.
“Ras, buruan!”
Aku manggut-manggut, telapak tangan ku menyentuh telapak seseorang bernama Kendranata.
“Kendranata.” ulangku dalam hati.
“Silakan duduk.”
“Tidak.” Aku menggeleng, aku berhenti sejenak, mengambil keputusan untuk memberikan jawaban jujur atau tidak.
“Maaf sebelumnya, ada apa ya kenapa tiba-tiba datang mencari orang tua saya? Apakah alm. Pranata masih punya hutang di kost-kostan, Rastanty?”
“Bukan, bukan itu mas.” sahutku menggeleng.
Air mukanya menunjukkan penasaran. “Duduklah sebentar saja, perjalanan dari Jogja pasti cukup melelahkan.” desaknya sambil menarik kursi kayu. “Saya masuk ke dalam sebentar.” pamitnya sopan.
“Ya, ya, yang lama juga boleh mas. Silakan.” kataku mengusirnya.
Kendranata tersenyum. Ampun, jangan, jangan beri aku senyuman. Jangan mas. Gawat.
__ADS_1
Aku terpaksa duduk setelah Romi menyeretku ke kursi sewaktu Kendranata sudah masuk ke dalam rumahnya yang wangi dan resik.
“Mukamu kenapa, Ras?” tanya Romi.
“Dia mirip Pranata, Rom. Ambyar, ini di luar ekspektasi. Padahal aku sudah nyiapin mental kalau ketemu bapak ibunya.” Aku mencengkram rambutku.
“Terus kamu jadi ingat mantanmu?”
“Jelas.”
Dalam perkataan singkat itu, aku menunduk, Kendranata membalas apa yang merebak di dadaku. Rasa rindu yang tak pernah terbalas. Kini sesuatu darinya mencuri sedikit perhatianku. Kenapa keberadaannya tidak pernah Pranata ceritakan dan Dominic sembunyikan.
Aku menghela napas. Enyahlah.
“Silakan di minum.” Kendranata membawa dua minuman dingin beraroma coco pandan dan toples nastar seraya duduk di depan kami.
“Di minum, Ras. Terus balik.” desak Romi.
Tenggorokanku mengalir air dingin yang menyegarkan dahaga. Aku menarik napas sebelum menatap wajah Kendranata. Mirip, seperti kembar.
“Maaf ini.” Aku menyerahkan kunci mobil Pranata, diikuti kunci motornya ke atas meja. “Mobil dan motor itu milik Pranata, kami ke sini untuk mengembalikannya.”
“Untuk apa di kembalikan setelah sekian lama adik saya tiada?” Kendranata menatapku heran.
Aku kembali meneguk minumanku dan menghela napas. “Aku akan melanjutkan hidup, milik Pranata harus kembali di tempat asalnya.”
Buru-buru aku beranjak sambil menarik tangan Romi yang hendak mencomot nastar di meja. “Balik.”
Empat nastar masuk ke mulut Romi sebelum mengunyahnya dengan tersenyum kikuk lalu meneguk minumannya buru-buru. Dia beranjak lalu mengulurkan tangan ke depan Kendranata.
“Saya ada jam kuliah mas, pamit dulu.” ucap Romi.
“Saya antar ke stasiun.”
“Boleh mas!”
Aku melotot sembari menginjak kaki Romi. “Makasih mas, kita pakai taksi aja!”
“Jangan, tunggu sebentar.”
Kendranata melesat ke dalam rumah, sementara kakiku menjadi kaku setelah seseorang wanita baya keluar dari rumah dengan menggunakan kursi roda.
...🖤...
__ADS_1