
Durasi hari dan cuaca yang mendung panas membuat buket bunga segar yang kuambil di depan kamar di atas kursi plastik biru setelah menghadiri pesta pernikahan Setyo dan Putri cepat layu. Aku membawanya keluar kamar dengan hati-hati seolah membawa barang ringkih seraya mencari pemberi bunga gratisan ini ke kamarnya.
“Dom,” panggilku sambil melongok ke dalam kamarnya yang terbuka, laki-laki jangkung yang sering menggunakan kaos distro dan celana kolor kurang bahan itu sedang rebahan.
Kipas angin dinding di atas daun pintu menengok ke kanan ke kiri, memutar angin, memberi kamar ini tambahan perputaran udara meski jendela sudah terbuka. Kulit bulenya banyak ditumbuhi bulu yang membuatku usil mencabutnya seperti yang kulakukan sekarang.
Dominic menjeritkan namaku sembari melempar boneka bola. “Sakit yo, sini bulumu gantian aku cabut!” ucapnya berapi-api sambil mengelus bagian kaki yang kehilangan bulu.
“Emang berani?” Dominic mendengus seraya mengambil ponselnya lagi. Aku terbahak lalu duduk di kursi kerjanya. “Dom,” panggilku.
“Ngapa, Ras?” tanyanya sebelum menguap. Parasnya yang kucel belum mandi tidak mengurangi kesan gemilang yang terpancar dari wajahnya.
“Bunganya udah layu, mau dibuang apa di simpen?” tanyaku mencari musyawarah.
Dominic menarik diri dari nyamannya kasur lalu mengamati buket bunga yang kelopaknya berceceran dari kamarku sampai ke kamarnya. Alamat kalau ibu tahu, ‘Rastanty, sapuuuu...’ Huh, kebiasaan lama terulang kembali.
“Buang ajalah, ntar kalo kamu pengen lagi aku beliin yang baru.”Dominic membuka tempat sampahnya seraya mematahkan tangkai bunga dan membungkuk. Ia menjejalkan buket bunga itu ke dalam tempat sampah dengan cepat. “Ntar kamu tinggal buang ke tempat sampah depan, Ras.”
Dominic menepuk pundakku seraya kembali merebahkan diri di kasur dan memainkan ponselnya. Aku tidak tahu mengapa sikapnya menjadi dingin dan cuek selama beberapa hari ini setelah pesta pernikahan Setyo dan Putri kemarin. Padahal sudah kuterima bunganya walau di rumah.
“Lagi nggak mood, Dom?” tanyaku, menyilangkan kaki.
“Cuma males ngapa-ngapain, Ras.” katanya lesu.
__ADS_1
“Terus hasil rapat reuni tambahan kemarin gimana?” tanyaku penasaran, Dominic sama sekali tidak membocorkan rahasia apa yang mereka diskusikan dengan Paijo dkk. Dia hanya diam dan berubah. Sikapnya yang tengil berubah juga gangguan-gangguan yang dia ciptakan untukku berkurang.
Dominic tersenyum padaku walau wajahnya tak sebahagia kemarin-kemarin.
“Menyita bahagiamu bukan keinginanku, Ras. Selama Pranata masih hidup di hatimu, selamanya kamu nggak bisa melihat betapa besar arti keberadaanku bagimu saat ini.”
Kok jadi meloww begini to, kenapa harus bawa-bawa perasaan disaat aku pengen lihat senja di alun-alun kidul bersamanya pumpung hari ini cuaca sudah dipastikan tidak akan hujan.
“Terus?” tanyaku.
“Ntar habis reuni tambahan sama anak-anak, aku balik ke Malang. Packing baju-bajumu sama ngambil kucingmu. Udah saatnya kita move on sendiri-sendiri demi masa depan kita sendiri-sendiri.” Dominic menyunggingkan senyum lebih lama.
“Kamu tega sama aku?” Mataku menatapnya sedih.
“Bukannya tega, tapi kita perlu jeda buat mikirin hal apa yang kita inginkan dari persahabatan ini gitu Ras, nggak mungkin kita gini-gini terus sampe tuek. Toh aku sudah terlanjur malu, Paijo koar-koar aku suka sama aku, tapi ya memang itu kenyataannya. Aku suka sama kamu dan sejauh ini aku gak pernah membencimu atau Pranata. Aku justru senang dan ikut nelengsa. Tapi kalau seandainya suatu hari nanti kamu jadi milikku, ya aku kekep setiap hari!” guraunya lalu terkekeh.
Dominic... Alangkah mudahnya bagi kita untuk sama-sama melihat masa depan berdua jika aku sudah berdamai dengan kenanganku dan aku sedang memulainya, Dom. Aku sedang memulainya tapi kamu justru memilih pergi. Langkahku pasti terseok-seok tanpa adanya kamu di sisi.
“Sorry, Ras.” lanjut Dominic kemudian sambil menggapai tanganku yang berada di pangkuan. Dia menggenggamnya, sementara aku tak risi dia melakukannya. Aku hanya bisa tersenyum menanggapinya.
“Perasaan ini gak bisa aku cegah. Rasanya mirip rem blong, bablas terus sampai nabrak-nabrak, cuma aku sadar. Susah gantiin posisi Pranata.” Dominic menghela napas. “Cuma satu hal yang harus kamu tau—”
Dominic menjeda ucapannya untuk menambah rasa penasaranku.
__ADS_1
“Pranata nitipin kamu ke aku sebelum dia pergi... Aku gak ngerti malam itu harus gimana selain bikin dia pulang dengan tenang. Dia titip voice note yang nggak pernah aku sampaikan ke kamu. Aku takut kamu malah nggak terima keberadaanku. Jadi sebenarnya kamu ini antara sudah jadi pacarku atau belum aku juga nggak ngerti Ras. Makanya selama ini nggak punya pacar hanya untuk tidak mengkhianatimu atau Pranata.”
Tanpa sadar air mataku mengalir dengan sendirinya. Dadaku sangat nyeri, entah karena rasa sakit kehilangan Pranata atau rasa kasian kepada Dominic. Dua sahabat itu masih bersama-sama bahkan ketika aku dan Pranata masih bersama, melukai Dominic yang menyimpan rasa padaku.
Ya Allah, harusnya sejak awal aku sudah memperingati diri sendiri untuk tidak berlarut-larut dalam persahabatan ini, karena bagaimana mungkin ini adil bagi Dominic.
Aku tersenyum menyesal atas apa yang menimpa Dominic, aku pun tidak sanggup mengeluarkan satu kalimat paragraf untuk membalas ucapannya selain hanya memeluknya.
“Beri aku waktu, Dom. Biar aku sendiri yang mencarimu!”
Dominic terbahak sambil mengelus punggungku dengan lembut.
“Gak—gak usah, Ras. Kalau kamu udah siap, nanti telepon aku aja. Aku bakal ke sini bareng bapak ibuku terus ngelamar kamu!” ucapnya tanpa ragu.
Ganti aku yang terbahak di tengah tangisku yang terisak. Segampang itu? Nggak perlu pacaran juga? Terus maksudnya ini gimana? Pranata tahu Dominic suka sama aku terus dia menurunkan status pacarnya sama aku ke Dominic. Diam-diam sinting juga Pranata dan aku nampaknya ikut sinting karena mereka.
Aku meremas punggung Dominic. “Sebel. Ayo jalan-jalan aja, Dom!” Kami mengurai pelukan, Dominic menghela napas sambil mengusap air mataku.
“Jadi?” tanyanya dengan suaranya bergetar.
Aku memberi jeda sambil menghirup napas dalam-dalam dan mengembuskannya. Aku yakin Dominic akan sama sepertiku, susah move on jika saat ini, di hari yang cerah ini dan kami sudah seperti sejoli yang diam-diam berduaan di kamar kost-kostan aku menolaknya hanya karena kenanganku bersama Pranata.
“Kita coba.” jawabku sambil tersenyum. Dominic terbahak, “Rastanty, Rastanty... Cium dulu sini!”
__ADS_1
“Yeks!” Aku menonyor keningnya seraya keluar dari kamarnya. Enak banget, belum apa-apa main cium...
...🖤...