
Tapi menurutku Dominic memang pintar. Dia mengetuk hatiku dengan serius bertahun-tahun tanpa sedikit pun melunturkan kesabaran menghadapiku yang ndableknya minta ampun.
Aku suka dia, mendadak rasa sayang ini yang dulu hanya sekedar sayangku kepada sahabat menjadi lebih dari segala-galanya yang ada di seluruh isi dunia ini.
Sekarang aku tidak perlu mendaki gunung untuk sekedar menepi, melihat bintang di daratan, lautan awan yang serupa kasur empuk tiada tara atau mengalami badai yang mematahkan frame tenda.
Aku sudah punya Dominic dan Budiman. Yang mematahkan semangatku untuk sekedar beranjak dari kasur, yang membuatku terus mengalami badai kasih sayang di tempat yang benar-benar empuk dan tidak sekedar aku kagumi dari jauh.
Berkat Dominic yang telah memberikan satu bintang cemerlang di kehidupanku aku langsung jatuh pada pesonanya yang sangat wah-wahan.
Tidak ada keraguan lagi kepadanya. Satu cintanya yang sabar telah mengugurkan kelakuan sahabatnya yang penuh rahasia-rahasia yang tersimpan. Aku sudah tidak peduli lagi akan masa lalu ini toh karma sudah di bayar tuntas.
Aku bahagia... setidaknya ndablekku ini cukup membuat Dominic gemas dan tertantang, coba kalau aku manja, sedikit-sedikit minta di rayu, ih bosan dia.
Termangu di kursi taman. Budiman sudah enam bulan, sedang belajar merangkak di atas rumput di temani suster dan eyang buyut yang tak lagi berambut silver, rambutnya di cat hitam dua bulan setelah Budiman lahir..
Konon dari apa yang kudengar, eyang buyut tambah semangat di masa tuanya. Itulah alasan uban yang selama ini slalu ku anggap warna asli rambutnya dia ubah.
“Ngelamun, Ras?”
Dominic menangkup wajahku seraya menundukkan kepalanya. Kecupan demi kecupan berlabuh di wajahku, menghantarkan sensasi hangat seperti biasa dan pemandangan seperti ini sudah lumrah di saksikan seluruh anggota keluarga.
Reno sampai muak katanya, sementara Michelle pergi ke Jogja, menemui si tangan kapalan, Paijo.
“Kenapa? Nggak ada kerjaan bos, cuma leha-leha?” selorohnya dengan wajah usil sembari duduk di sampingku.
“Emang siapa yang jadi bos?" Aku menguncupkan bibir. ”Enak aja, orang aku lagi kerja.”
Dominic terbahak sambil mengalungkan lengannya di leherku.
“Kerja apa? Kok nggak kelihatan susah gitu, apalagi keringetan?”
__ADS_1
“Otakku yang kerja.”
Kali ini Dominic tidak lagi terbahak, ia menatapku heran dan terlihat secuil kecemasan di sorot matanya.
”Mikir apaan? Pingin main? Naik gunung? Off road? Hamil lagi? atau—”
“Aku cuma lagi mikir, kapan bisa ajak Budiman ke Jogja. Ke rumahku, mudik seminggu gitu. Aku kadang-kadang rindu rumah. Rindu jajan kaki lima di alun-alun kidul.”
Sambil mengangguk kecil, Dominic membalas ucapanku. “Mau kapan pulangnya?”
“Aku nunggu kamu punya waktu luang.” kataku lembut sambil menggenggam tangannya. “Kamu kan nggak cuma aku doang yang memiliki. Karyawanmu, Stacy, Marinda, Budiman, keluargamu. Aku cuma pelengkap di hidupmu yang sudah sempurna, Dom.”
“Kamu Ras yang menyempurnakannya.”
Semilir angin mengantarkan aroma bunga kantil yang tertanam di halaman belakang. Entah kenapa harus bunga itu yang tertanam di samping kolam renang. Padahal... Tetapi nggak masalah, jika suster sibuk menjaga Budiman yang kadangkala malas bercanda-canda denganku aku sibuk membersihkan daun dan bunga kantil yang terombang-ambing di permukaan air tenang.
Aku tersenyum. ”Kamu bisa aja, pasti ada maunya.” tukasku sambil mencubit hidungnya.
Dominic menyeringai dan menggesekkan hidungnya di hidungku.
Aku tersenyum sambil mengepalkan tanganku dan meninju perutnya.
“Ya kali, Budiman anak kita yang rupawan masih belajar merangkak, asiku saja masih lumber-lumber, badanku yang melebar ini juga belum mengecil. Kamu sudah mau cetak anak lagi? No way.” Aku menggerakkan jari telunjukku di depan wajahnya.
“One way, plis.” Dominic merayu.
Aku mengangguk. “Five minute?”
Tiba-tiba saja Dominic menonyor keningku. “Lima menit! Ah males, Rastanty nggak seru.” gerutunya sebelum pindah ke rumput. Menggendong Budiman yang langsung ia sayang-sayang.
“Ayo ke kamar.”
__ADS_1
“Kau ini, bersihkan dulu lutut dan tangan Budi, Dominic!” seru nenek.
“Yes, eyang buyut, alright.” kata Dominic menirukan suara bocah.
Nenek mendengus, aku yang mengikutinya masuk ke dalam rumah terkikik geli.
“Mau kamu ajak ke mana Budi kita, Dom?”
Ia menoleh sembari melepas pakaian Budiman yang tertempel tanah dan rumput kering dengan sinis.
“Jangan panggil aku Dom, Dom, Dom saat bersama Budi, mami. Aku papi Domi.” katanya tegas.
“Papi...” Aku terbahak-bahak lalu memeluknya dari belakang. Kesibukan Dominic membersihkan telapak tangan dan kaki Budi terhenti. Dia mematung meski tetap menahan tubuh Budi agar tidak jatuh dari meja tinggi.
“Terima kasih sudah berarti dan mendenyutkan hidupku sejauh ini, Dom. Aku pasti akan berdenyut untukmu selama kau mau.”
Dominic mengeratkan genggamanku dan terbahak... “Terserah kamu Ras, yang jelas aku pingin kamu selama-lamanya. Nggak cuma lima menit, apa itu lima menit? Kita bukan pacar lima langkah yang dikit-dikit bisa ketemu. Kita sibuk.”
Sibuk apa?
Aku menjulurkan lidah dan memutar bola mata. “Akan aku sanggupi.”
*
*
*
Menjelang jam tiga pagi aku mulai letih, Budiman tak henti-hentinya menyerap air kehidupan. Dominic menemani meski ia hanya menepuk-nepuk pantat anaknya agar segera terlelap sambil sekali dua kali menguap.
Di ujung kesadaranku, tidur adalah istirahat yang sebenar-benarnya setelah memiliki anak. Tetapi bagi Dominic tidurnya anak kami adalah kesempatan untuk menjalin hubungan antar ragawi hingga saling memenuhi.
__ADS_1
Budiman terlelap, seringai di bibir Dominic terlihat. Pada akhirnya rutinitas mencari waktu yang tepat untuk saling menghargai dan menjaga spirit kewarasan dengan baradu desah rindu adalah hal-hal yang membebaskan diri dari penatnya rutinitas sehari-hari. Sederhana, hanya effort-nya saja yang tidak biasa.
...🖤...