Jogja, Kamu & Kenangan

Jogja, Kamu & Kenangan
Bercanda-canda


__ADS_3

*


*


“Anak papa ayo keluar...”


Tak secuil pun aku setuju dengan omongan Dominic yang santai dan berseri-seri.


“Nggak semudah kamu bujuk aku nikah, Dom. Kamu pikir mudah?” Tanganku menggapai jas abu-abunya dan mencengkeramnya seperti hendak berkelahi. Dominic menyeringai seraya mencium keningku dengan takut-takut dari tepi ranjang pasien.


“Ini sakit banget, apa nggak ada yang lebih mudah... Masuknya sedikit keluarnya besar, aku nggak kuu...attt...” Kami berdua sama-sama mendelik ketika desakkan yang aku rasakan begitu kuat.


“Kukumu bikin punggungku lecet, Ras. Jangan jadi macan dong!” Dominic hendak mengigit telingaku saking gemasnya dengan situasi genting yang terjadi.


”Cuma punggungmu doang yang lecet Dom..., punyaku sobek!” desisku mangkel.


“Huehehe..., Sorry mi amor.” Ia mengecup seluruh pipiku seraya menggenggam tanganku dengan erat. Matanya menikam mataku yang berkaca-kaca. Antara takut dan bahagia, antara pingin kesurupan reog Ponorogo atau jadi Cinderella. Tapi situasi ini yang jelas membuatku uring-uringan. Tak kuat.


“Ini cuma soal kekuatan dan waktu yang pas untuk melakukannya, Ras. Di saat kamu siap dan yakin semuanya bakal mudah... Tarik napas, dorong, tarik napas, dorong, ikutin instruksi dokter, ya?” Dominic mengusap-usap perutku.


“Dia hebat, wong anak kita. Gak ada keturunan traveler yang lemah, apalagi keturunan Dwayne. Budiman cuma bercanda-canda sekarang, Ras.”


“Bercanda-canda gundulmu...” Aku mencengkram kuping Dominic dengan air muka yang mengeras. “Gak ada yang namanya bercanda sekarang, Dom. Sinting kamu, urusan melahirkan anak kok bercanda, asem tenan!”

__ADS_1


Diiring kekehan Dominic yang berangsur-angsur seperti ledekan. Dokter menekuk lututku seraya melebarkannya, ia mengintai sesuatu yang aku rasakan mulai tidak sabar melihat dunia.


“Dalam hitungan ke lima ibu dorong sekuat tenaga setelah menarik napas dalam-dalam. Saya mulai...”


Aku mengeratkan dekapanku sampai Dominic benar-benar membungkuk dan kesusahan bernapas lega. “Ini terlalu susah untuk keluar, tapi kalo ngga keluar seisi rumah bisa mirip mesin bemo. Yungalah, Ya Tuhan... keluarlah kamu Budiman.”


Sekuat tenaga aku mendorong calon laki-laki idaman wanita seperti pengharapan bapaknya ke dunia. Tangisan yang di tunggu-tunggu sekeluarga mengisi suasana bersama tangis Dominic yang hanya ku ketahui sendiri sementara dokter serta perawat-perawat lainnya mulai membersihkan anak kami dan membersihkan diriku.


“Cengeng.” kataku serak sembari mengusap air matanya, cengengesan Dominic menatapku sambil tersenyum lebar di tengah banjir air mata yang tetap mengalir.


“Ini luar biasa, Ras. Susah di ungkapan lewat kata-kata.”


“Halah, ngomong aja kamu terharu.” sahutku dan kembali mengusap air matanya. “Udah kali, ntar di kira aku menganiaya kamu, Dom.”


Dominic menegakkan tubuhnya, mengamati hal-hal yang baru terjadi di ruangan ini seraya tersenyum bahagia. Indah kataku, sebuah ruang yang menjadi saksi dimana setiap ibu yang pernah menempatinya bersungguh-sungguh dalam mengeluarkan jabang bayi yang di nanti-nanti dengan perasaan campur aduk. Aku mungkin beruntung bertemu Dominic yang memiliki segala-galanya, dan semoga ibu-ibu yang melahirkan seorang anak pun begitu.


“Terus?” Aku menyipitkan mata ditengah rasa nyeriku yang masih menjalar di mana-mana.


Dominic tak langsung menjawab, pertimbangan tergambar di wajahnya.


“Terus aku biasa-biasa aja, aku sering babak belur gara-gara kamu.”


“Uhhh dasar...” Aku menguncupkan bibir seraya melihatnya gugup menerima bayi kami yang di bedong dengan selimut dari sang dokter. “Silakan bapak beri adzan sebelum imd.”

__ADS_1


Dominic tersenyum hangat lalu tertawa lepas. Alih-alih memberi sentuhan rohani di awal mula kehidupannya setelah menatap anak kami.


“Budiman Edoardo Dwayne... Yungalah nenek, perpaduan nama itu nyaris sama seperti wajah anak ini. Sempurna, setengah njawani setengah bule. Eksotis seperti aku tapi banyak jawanya.” Dominic terkekeh-kekeh lalu menyerahnya padaku bayi itu.


Dia melantunkan ayat-ayat suci yang sanggup kudengar dengan merdu dan lancar sebelum kami di perbolehkan pindah ke ruang rawat inap.


Nenek dan Marisa, Pak Tedy dan Mbak Iyah bergantian melihat isi box bayi. Si mungil sedang terlelap nikmat setelah belajar menyusu dini dari arahan bapaknya yang serupa pelatih sepak bola di ruang bersalin.


”Geser ke kanan boy, maju sedikit, nah... nah... buka mulutnya sedikit, nah... itu dia, mantap bukan gunung mama!” Seisi ruang bersalin kontan terkekeh-kekeh sambil membuang muka. Aku yakin persoalan itu akan di ingat mereka seumur hidup selama bekerja di sini.


Nenek dan Marisa, mereka tersenyum bahagia sembari menatapku dan Dominic.


“Kerja bagus. Kalian bisa beristirahat sebentar biar mama yang tunggu cucu manis ini.”


Dalam hati aku mengucap syukur meski dengan sadar mataku tak benar-benar bisa terpejam dengan rapat. Aku memikirkan bayi itu dan Dominic yang nampaknya tidak bisa diam untuk mengekspresikan rasa tidak percaya sudah memiliki anak dari sahabatnya sendiri. “Keren banget dia, Jo. Mirip aku banget.” Dan sekali lagi, rombongan Paijo dkk dan bapak ibuku di tambah personil baru Bulik dan Paklik hadir datang ke Malang. Memeriahkan pesta kelahiran Budiman yang terjadi secara besar-besaran.


Tak cuma keluarga, kolega-kolega juga mampir membawa hadiah dan saweran.


“Aku yakin nggak sampai setahun usia Budi, keluargamu sudah pingin cucu lagi, Dom. Jadi rebutan serumah sampai aku nggak di anggap ibunya.” ucapku sembari melepas gaun panjangku, asi merembes keluar membuat gaunku basah.


Dominic menarik resleting di belakang gaunku yang baru seraya mencium ubun-ubunku dan memelukku. “Itu sudah pasti, Rastanty. Hidup kita harus tambah meriah dari hari ini dan tambah bahagia pasti. Aku yakin, percayalah.”


Aku menarik kedua sudut bibirku dan menerima keinginan-keinginannya yang penuh sensasi seraya melupakan ketakjuban pada kenyataannya jika ia sangat senang memiliki anak dariku.

__ADS_1


“Merci, mon amour.”


...🖤...


__ADS_2