
Dalam persahabatan yang kompetitif dan penuh suka duka ini, kami kerap berbagi isi kepala yang berbenturan, cita-cita di masa depan yang penuh perbedaan namun kami mempunyai kasih yang terburai dengan canda tawa serta perhatian sederhana yang terus menjadi kenyamanan yang kekal.
Aku merasa isi kepalaku panas, rusak isi hatiku dengan apa yang terjadi sekarang. Terlebih siangnya kami harus pergi reuni ke gedung ikatan alumni mahasiswa demi memenuhi sebuah janji temu kangen yang sudah lama di gadang-gadang sebagai ajang silaturahmi yang meriah, menggebu-gebu penuh rindu sekaligus ajang pembuktian dari titel sarjana strata satu yang kami miliki.
Aku terduduk lemas di tepi kasur. Apa yang harus aku banggakan nanti? Kisahku dan Pranata berakhir sad ending. Membekas di hati kawan-kawan dan meninggalkan perasaan kasian padaku. Pacarku yang baru? Dominic, si playboy yang nanti pasti bertemu dengan mantan-mantannya. Oh sial... Apes banget hari ini. Apa aku perlu di ruwat biar tidak apes terus. Atau aku pura-pura meriang saja? Tidak usah reuni?
Bagaimana ini pemirsa?
Muka ini sudah loyo tanpa senyum semringah khas orang-orang yang ingin jumpa kawan lama. Make up yang cantik tak ada gunanya menutupi turunnya semangat hati ini di tambah perutku masih mules-mulesan. Aku layu sebelum pamer keadaanku yang jauh lebih baik dari kemarin.
Aku merebahkan diri di kasur, aku sudah siap pergi sebenarnya. Kakiku sudah memakai sepatu baru dari Dominic, pakaianku sudah yang paling bagus. Tetapi apa aku harus pergi bersama Dominic? Atau aku berangkat sendiri saja? Kenapa pacaran sama sahabat susah-susah gampang. Aku sulit merayunya sebab masih tersisa pergolakan ketidaknyamananku merayu sahabatku sendiri, aneh gitu sebab aku terbiasa di rayu sedangkan aku kini yang salah.
Aku memejamkan mata. “Pra, ini gimana? Kamu nitipin aku sama Dominic, tapi belum apa-apa kita sudah tempur. Apa kita nggak serasi, apa aku perlu manja seperti denganmu dulu.” Lama nian aku memejamkan mata, aku berusaha menata pikiran dan hatiku yang kacau sebelum memutuskan aku akan pergi ke reuni.
Serba salah rasanya menjadi Rastanty, tapi untungnya aku Rastanty, bukan Rinjani. Ribet lagi nanti urusannya.
Aku beranjak, menata kembali riasanku di depan cermin lonjong, lalu menyisir rambutku. Lalu demi meningkatkan semangat, aku mengeluarkan foto Pranata dari balik KTP-ku di dompet.
“Aku sebenarnya geli manja-manjaan dengan Dominic, tapi demi kamu. Demi janjinya padamu dan demi kesalahanku sendiri. Aku akan berjuang, Pra. Jangan ketawa, kamu tahu aku gimana.” Foto Pranata yang sudah lecek kusimpan lagi di balik KTP. “Kalau suatu hari nanti, kamu sudah nggak ada di sini, jangan marah. Itu tandanya aku sudah merelakanmu dan kita patut berbahagia.”
__ADS_1
Aku memastikan penampilanku sekali lagi sebelum menghela napas panjang. Kakiku melangkah, meninggalkan kenyamanan yang melindungiku. Aku menurunkan gagang pintu seraya keluar kamar bersamaan dengan Dominic. Kami saling menatap tanpa mengeluarkan pujian.
Aku takjub melihatnya memakai setelan tiga potong. Rambutnya ia tata rapi sedemikian rupawan ditambah matanya indah tampak sendu memancing haru. Dominic memakai celana kain press body dengan kemeja putih yang di masukan ke dalam celana serta rompi kotak-kotak berbahan flannel membuat badan atletisnya terlihat menarik. Sepatu barunya berkilat, setiap langkah kakinya terdengar lantang di telinga meski dia tidak menghampiriku. Dia keluar dari pintu bangunan kost-kostan tanpa mengajakku. Wow... aku tercengang.
“Sekarang jual mahal terus mau tebar pesona lagi.” batinku seraya keluar rumah. Dominic membuka penutup mobil Pranata yang masih sering bapak servis sebulan sekali sambil sesekali bapak pakai jalan-jalan lalu menghidupkan mesinnya.
Maksudnya apa ini? Kenapa dia mengeluarkan sedan merah Pranata ketimbang menghidupkan motorku. Mau apa? Mukaku merah seperti udang dibakar kelamaan sampai gosong. Alamak... Dominic masuk ke mobil itu lalu menutup pintunya dengan gebrakan kencang.
Sepasang mata kami bertubrukan dari jarak tiga meter. Oke, aku memahaminya. Dia sedang marah, dia sedang ingin melihat usahaku meluluhkan hatinya, tapi hidupku seolah-olah sedang diguncang dengan semua hal-hal yang baru aku ketahui tentang Dominic dan perasaannya. Aku sulit menghadapinya, aku butuh waktu. Oleh sebab itu, aku memilih naik ke motorku karena aku juga tidak yakin Dominic mengajakku berangkat bersama—mulutnya yang membisu nampak enggan berisik.
Kami keluar dari rumah bergantian, aku melaju di depan sedan merah yang di kemudikan Dominic. Sesekali aku menoleh, sesekali dia memberi klakson. Kami bagaikan sepasang kekasih yang tak ingin berdekatan tapi juga tak ingin berjarak.
Aku mengangkat daguku lebih angkuh dalam rute saban hari ke kampus. Hujan, panas, mendung, lapar, marah, dan bahagia pernah aku lewati bersama Pranata di jalan ini. Sekarang bersama Dominic, aku mengawalinya dengan situasi marah.
Sekujur tubuhnya menegang, kurang dari dua kilometer dan beberapa belokan gedung-gedung kampus mulai terlihat di depan mataku. Aku bahkan sempat mengurangi laju kecepatan motorku sampai Dominic memberi klakson tanda peringatan.
Dadaku tersentak, kendati begitu aku tetap menggeber motorku walau kini aku yang membuntuti sedan merah.
Memasuki area parkir. Banner besar yang menampilkan seluruh alumni menyambut kedatangan kami. Aku terpukau pada senyum tulus dan mata indah yang berdiri di belakangku. Dominic dan Pranata berlomba-lomba bergeming di belakangku saat pengambilan foto berlangsung setelah kami mengadakan bakti sosial. Tangan-tangan mereka juga menyentuh bahuku sementara mereka berangkulan.
__ADS_1
Sekilas, aku dihadapkan pada pilihan yang sukar di cerna. Aku ingin menangis dan aku membutuhkan Dominic.
Dia keluar dari sedan merah, Paijo sebagai ketua kordinator sekonyong-konyong menyambutnya setelah memberi sapaan akrab pada yang lain. Mereka berpelukan. Sementara sekejap yang memancing heran berlebihan, dia menatapku yang masih bergeming di atas motor lalu bertanya pada Dominic.
“Kok berangkat sendiri-sendiri, bukannya kamu bilang kemarin resmi jadian sama Rastanty, Dom? Wah, ngapusi sampean.” ujar Paijo dengan gurauan.
Tatapanku kubuang ke konblok. Aku tak habis pikir, Dominic sudah woro-woro ke Paijo kita jadian. Lalu apa kabar dengan hatinya sekarang, masih mengakuiku sebagai pacarnya tidak sementara Putri dan satu persatu mantan-mantan Dominic terlihat bergerak dari sembarangan arah ketika aku menaikkan tatapanku.
Mereka mendekati Dominic sembari mengangkat tangan. “Baby...”
Baby?
Oh, wow. Panggilan sayang. Aku turun dari motor seraya mengibaskan rambutku. Tatapanku ke arah Putri sudah ingin menerkamnya bulat-bulat.
Dominic mengulurkan tangan sebelum bercipika-cipiki dengannya, satu mantannya lagi, terus mantannya berambut panjang dan terakhir si Karmila. Janda satu anak yang dia bawa ke kost-kostan kala aku dan Pranata merayakan ulang tahun dengan nasi kuning yang dia komentari kuno.
Aku muak, perutku bergolak. Tanganku memegang perut dan aku buru-buru mencari toilet.
...🖤...
__ADS_1