
Ucapanku mendorong Dominic melabuhkan beberapa kecupan di bibirku sampai tubuhku menempel erat di tembok. Tulang belakangku lurus, dadaku naik turun.
“Udah woi, kesambet setan apa kamu!” kataku sambil memukul punggungnya yang ku peluk.
“Ini gerakan otomatis kalau aku lagi di rayu, Ras. Kamu wajib terima!”
“Kamu mau aku di guyur bapakku lagi setelah mojok begini?”
Dominic menyeringai, alih-alih mundur dan membuat jarak dia justru membelai bibirku sambil menatapku lekat. Membuat pandanganku hanya berisi wajahnya.
“Kamu takut kehilanganku sebagai sahabat atau tunanganmu, Ras?”
“Semuanya. Kamu yang teristimewa buatku, Domi. Paket komplit. Aku takut kehilanganmu. Kamu emangnya gak takut aku hilang darimu?” tanyaku dengan napas tersekat, getaran di jantungku bertambah cepat.
Dominic tertawa kecil, bibirnya dia kembalikan lagi ke wajahku. Ia mencium kening.
“Aku sama sepertimu, Ras. Bedanya aku sudah pernah kehilanganmu waktu Pranata mengambilmu dariku dan dia kembalikan bunga perawanku dengan keadaan hancur lebur, layu, pemarah, dan susah move on. Kalo sekarang aku kehilanganmu setelah mati-matian aku rawat, aku akan menjomblo seumur hidup!” ucapnya penuh keyakinan.
“Yakin? Ntar kita nongkrong di beach club kamu lirik sana-sini, goda cewek-cewek di sana yang pakai bikini tali setengah inci dengan matamu yang indah itu?”
“Mataku yang indah itu?” sahutnya dengan ekspresi tercengang. “Kejujuran apa ini, Ras. Oh wow?” kata Dominic sembari menahan daguku ketika hendak berpaling dari wajahnya.
“Mataku indah, Ras? Serius?” Ekspresi Dominic melunak, rasa geli dan keterkejutannya berubah menjadi kelembutan ketika aku mengangguk.
“Matamu indah, aku suka tatapanmu.”
Dominic menarik daguku ke bawah sampai bibirku terbuka. “Kamu serius bilang itu atau cuma basa-basi?” tanyanya sembari mencondongkan tubuh.
“Mukaku emangnya lagi ngelucu!” Aku memelototinya galak.
Bibirnya menyapu bibirku dengan lembut. “Nggak.” Dominic mengucapkannya sangat dekat di telinga, panas tubuh dan aroma rambutnya melingkupiku, menambah getaran yang menjalar di seluruh tubuh hingga aku nyaris menggigil cemas. “Kamu serius, aku tahu, sekarang coba lihat mataku lebih baik, lebih dekat.” pintanya seraya bersila.
“Nggak mau.” Aku menggeleng.
“Coba dulu, daripada cuma kagum, aku malah pasrah kamu mau lihat mataku dari dekat!”
“Iuhh, mau selesai jam berapa kita ini? Daritadi nggak selesai-selesai. Keburu bapak pulang ronda terus marah lagi kita pulang malam!”
“Namanya juga ngebet, Ras. Buruan lihat mataku.” Dominic menaruh kedua telapak tanganku di pipinya.
“Lagian aku heran, kamu masih ingat bener aku pernah ngomong bikini tali setengah inci. Ternyata diam-diam aku menyusup di kepalamu. Coba Ras kamu juga punya, pasti bakal tak goda dengan mata indahku.”
__ADS_1
“Maksudmu gimana, ha?” Aku mencubit kedua pipinya dan mendelik ke matanya. Dominic menyeringai. Perhatiannya beralih ke mataku setelah dia memandangi bibirku.
“Seneng kamu sama bibirku? Daritadi kok maunya nyosor terus sampai capek aku ngurus bibirmu. Nggak bosen kamu?”
“Lho... aku baru seneng-senengnya kok bosen, jelas nggak dong, Ras. Nyosor kamu sejam aja aku mampu.”
“Oh pernah berarti nyosor mantan-mantan kamu sampe sejam! Bangga kamu bibirmu kamu taruh dimana-mana?”
“Ampun, ampun... masa laluku berasa salah terus di matamu, Ras. Cemburu ngomong terus...”
Aku memandang matanya dengan jarak yang sangat dekat. Detail-detail semburat iris matanya tampak abstrak dan saling menjalin melingkupi pupilnya yang tajam dan indah. Semakin dalam aku memandangi matanya semakin terlihat mataku memantul di matanya. Mengalirkan perasaan lekat yang lebih besar dari sekedar memandang.
Aku menjauh agar cukup untuk menatap keseluruhan wajahnya yang mengenaskan dengan mata yang perlahan menjadi nanar sebelum memejamkan mata sembari menyapukan bibirku ke bibirnya.
Dominic tersenyum, lengannya melingkari pinggangku saat aku menciumnya dengan lama dan amatir, memberi sedikit kebebasan untuk mencuri kehendak, menuntaskan tapi aku takut ketika ciuman kami lebih mesra kesenangan fisik akan membawa kami pada hal-hal yang tak terduga.
Aku menarik diri dan menyembunyikan wajahku di lehernya dengan sisa-sisa napas yang tak beraturan. Dominic merenggangkan kaki, membuatku lebih nyaman bersandar di tubuhnya dan tak seperti sengaja ambruk ke badan seseorang.
“Hoki juga aku hari ini, Ras. Tumben.” Dia mengusap punggungku, “Malu sekarang, nggak mau tatapan-tatapan?”
“Iyalah, urat maluku belum putus, lagian itu tadi khilaf. Aku cuma kebawa suasana.” kataku memberitahu.
“Oh khilaf, aku pikir karena pingin ketemu bibirku dan mesra-mesraan.”
“Iya... ya, tapi walaupun kamu kuper kita cuma adu bibir, bukan adu skill. Masih aman lah.”
Aku meremas pinggangnya. “Aku tahu kamu senang, tapi udah bahas itunya. Aku masih... terlalu kaku.” kataku gugup.
“Ras...”
Aku mendongak. Dominic tersenyum hangat.
“Tahunan aku berharap kita bisa seperti ini, Ras. Berharap kamu keluar dari hidupmu yang penuh air mata dan sanggup lihat aku jauh lebih dari seorang sahabat. Malam ini, tanpa perlu aku mendengarmu mengatakannya, aku melihatmu memberi sentuhan lain di hidupku, Ras. Terima kasih.”
Aku memindahkan tangan ke pipi Dominic. “Terima kasih.”
Senyum lega menyembul di wajahnya. Bola matanya turun ke parasku. “Kita pulang.”
Kami beranjak meninggalkan balkon yang ketumpahan kopi dan saat sadar ini sudah pukul setengah satu pagi, aku bersandar di kusen pintu. Dominic memakai celana jins dan kemejanya di kamar mandi lalu menyunggingkan senyum.
“Mau mandi sebelum pulang?” tanyanya.
__ADS_1
“Bisa nggak kita pulangnya pakai taksi atau mobil sewaan hotel?”
“Manja bener mantu Marisa satu ini.” gerutunya sambil mengaitkan ikat pinggang. “Ntar aku ngebut, Ras. Hotelnya dekat rumah. Tenang.”
“Aku masih takut keluar malam jam segini. Kalau bapak nggak marah nginep di sini lebih baik daripada ketar-ketir di jalan.”
Dominic menarik sudut bibirnya sembari menyugar rambutnya. “Nggak, Ras. Pesonaku sebagai calon menantu satu-satunya Pak Budi yang bisa diandalkan dan dipercaya bisa ambyar gara-gara aku tidak mengindahkan pesannya.”
“Enak ya jadi kamu, terasa nggak pernah salah padahal sumpah aku kena batunya juga gara-gara kamu!”
“Seger banget pasti di mandiin bapak tadi siang. Kasian, udah besar masih dimandiin.” ledeknya ceria sambil mendorong bahuku keluar kamar mandi.
Aku menyahut tas selempang dan key card di meja seraya mendengus. “Berasa lihat komedi tragis, iya? Berasa terhibur? Hebat banget kamu nggak ketahuan bapak tadi siang.”
“Namanya juga mantan playboy cap kadal, banyak akal. Jadi posisiku harus di fase aman biar usahaku tetap jalan!” Aku mendesis. Kami gegas keluar kamar seraya melakukan check out di meja resepsionis.
“Atas nama Dominic Prambudi Dwayne, saya menitipkan kartu kredit kepada marketing manager yang bekerja tadi sore.” ucapnya pada resepsionis shift malam.
Kami menunggu sebentar sebelum si resepsionis ini mengucapkan jumlah tagihan yang harus Dominic bayar. Dia melirikku sekilas setelah mengetahui makanan apa saya yang aku pesan.
“Maaf.” kataku setengah manja. Dominic memutar matanya seraya memencet pin ATM.
Si resepsionis tersenyum formal dan membeberkan informasi mengenai reservasi pernikahan kami.
“Saya akan kembali nanti siang untuk meeting berkaitan dengan pernikahan kami, tapi sekarang saya ingin menyewa mobil operasional hotel untuk mengantar tuan putri kost-kostan pulang ke rumah.” Dominic menarik dompet kulit dari saku celananya.
“Ini kartu nama saya dari anggota Dwayne Grup.” Si resepsionis menatap kartu namanya lalu ke Dominic.
“Dengan sopir atau tidak?” tanyanya sopan.
“Tidak.” Dominic merangkulku. Gesture itu menjawab pertanyaan resepsionis bahwa Dominic ingin berdua saja.
Si resepsionis tersenyum formal sembari menyerahkan kartu kredit Dominic. Tangannya mempersilahkan ke arah barat daya.
“Mobil akan di siapkan sepuluh menit lagi, silakan bapak dan ibu Dwayne menunggu di ruang tamu lobby. Terima kasih dan selamat pagi.”
Aku menatap Dominic dengan kecurigaan yang sarat dengan rasa penasaran di pintu lobby.
“Dwayne Grup? Bapak? Ibu? Hellow...”
“Udah deh, Ras. Yang penting pulang pakai mobil, gak tahu terima kasih!” Dominic menjentikkan jarinya di telingaku.
__ADS_1
“Tapi sorry to say, Ras. Calon suamimu bukan orang biasa. Jadi jangan heran kalau aku banyak di puja-puji.”
Aku memunggunginya sembari menggerutu terus.