
Tidak ada yang lebih menegangkan dibandingkan hari ini. Dominic yang hanya memakai boxer dan kaos tetapi wajahnya mengeras seperti batu.
Secangkir kopi hitam yang menjadi penengah di antara kami tak mampu mengendorkan otot-otot di wajahnya yang kadang menyerah di hadapan secangkir pembuka keakraban. Tapi malam ini dia berbeda. Ketegangan menghinggapi wajahnya setelah makan malam berakhir.
Aku memindah secangkir kopi yang mulai dingin dan merapatkan tubuhku di sisinya.
“Bisa kita mulai?” tanyaku hati-hati.
Dominic memberi isyarat agar aku mengisi celah-celah jemarinya dengan membuka telapak tangannya.
“Ini juga berat buat kamu, aku ngerti. Tapi bukannya kita perlu ngobrol soal itu?”
Ragu, Dominic mengangguk. Jemarinya dari bawah mengerat.
“Aku lepas kamu baru beberapa hari, tapi masalah yang kamu timbulkan cukup besar sampai aku mikir lho Ras, kok bisa yo kamu berbuat seperti itu tanpa ngomong dulu ke aku. Hmm...” Dominic melirikku. “Lagi usaha apa kamu saat nggak ada pengawasanku?”
Dalam kesunyian malam di balkon hotel, aku menggerakkan rahangku berulang kali untuk menemukan jawaban mana yang aku pilih.
“Jawab, Ras.” Dominic mendesak.
Aku meliriknya tajam. Nggak sabar banget ini orang. Lama-lama aku benar yakin, aku harus bawa karet ke mana pun!
“Lidahmu kaku atau gimana? Mau aku bantu lemesin?”
Instruksi Dominic membuatku mengangguk, eh. “Enggak.” Aku menggeleng cepat. “Nggak, Dom.”
“Ngomong makanya, susah banget.”
“Maaf...”
“Terlalu banyak pertimbangan, terlalu banyak yang kamu jaga! Sementara aku nggak perlu itu, Ras. Aku butuh kamu ngomong, apa adanya!”
“Iya...”
“Jawab!”
Aku menggaruk pipiku dengan tangan kiri, aku geli wajahku bersemu dan ia gede rasa.
“Aku lagi usaha buat... jaga perasaanmu. Makanya aku buang semua barang Pranata, nggak bener-bener di buang semua, anak-anak kost sebagai ambil barangnya cuma itu jauh lebih bagus daripada kamar di sebelahku jadi kamar hantu.”
__ADS_1
Dominic mengerutkan kening. “Terus, bapak tadi sempat ngomong sama aku kalau mobil dan motor Pranata kamu kembalikan pakai jasa mobil angkutan kendaraan, kamu bohong sama bapakmu?”
“Jelas aku bohong,” Aku tersenyum kecut. “bapak udah wanti-wanti buat nggak balikin mobil itu sendiri. Tahunya, aku jadi tahu semuanya. Tapi sekarang aku jadi takut sendirian, pikiranku ke mana-mana. Aku takut kamu kenapa-kenapa. Aku takut pulang. Aku takut kejadian itu terulang.”
Aku menggigil. Dominic menjatuhkan punggungnya ditembok sembari menghela napas.
“Cukup!”
Tangan kami terlepas. Aku menekuk lututku dan menyembunyikan wajahku di sana. Keheningan malam semakin mengental, tak ada yang berbicara bahkan desir angin tak mengusik ketegangan yang terjadi.
Dominic mendekapku dari belakang. “Lihat aku, Ras.”
Mataku menemukannya dengan kegelisahan yang sama seperti saat aku terpuruk seorang diri di kamar.
“Ada aku.” Dominic menenangkan dengan sabar tubuhku yang menggigil dari dalam. “Udah, tenang.”
Aku menatap dagunya dan enggan menjauh dari tubuhnya. “Nggak usah di pinggit gimana? Itu nyusahin aku.”
Wajah Dominic berseri-seri, senyumnya dia kulum sendiri seolah tidak mau bagi-bagi bahagia yang sedang menimpanya.
“Lihat nanti, toh aku di sini seminggu. Dan cuma butuh sepuluh hari untuk kita bisa bareng-bareng lagi, seterusnya. Harusnya kamu sanggup.”
Dominic membuang wajahnya ke atas, senyumnya merekah untuk bulan sabit yang samar-samar terlihat dari balik awan abu-abu.
“Aku harus izin bapak kita dulu, kalau di acc kita nggak usah di pinggit.” Aku mengangguk setuju. “Kamu udah lebih tenang?”
“Lumayan.”
Dominic mengelus rambutku dengan kelembutan yang terlatih. Entah rambut perempuan mana yang sering dia jadikan tempat latihan hingga pintar seperti ini tapi aku merasa ini jauh lebih baik.
“Pranata dan Kendranata kembar. Keduanya di didik sebagai kompetitor oleh Bu Indri. Dua anak itu bukan lagi sepasang anak kembar yang punya ikatan batin kuat, tapi saingan, Ras. Pranata ke Jogja, Kendra ke Jakarta terus kerja di Kalimantan. Mereka berkompetisi untuk menjadi yang terbaik dan menjadi anak kebanggaan. Hal itu juga dialami Bu Indri dan Bu Indira, kembarannya. Persoalan itu yang mendasari kenapa Pranata milih Hetty yang dibawa ke Surakarta. Dia mau orang tuanya senang dengan pilihannya sementara Kendra belum tentu bisa bawa cewek cantik, semlehoy, apalagi anak orang terpandang.”
Aku mengerucut bibir. “Terus, ada lagi.”
“Banyak, tapi mukamu udah keruh banget.” Dominic mengusap wajahku dengan telapak tangannya. “Senyum dululah, tunanganku masa gini. Jelek banget ”
“Nggak bisa senyum tahu!” kataku mangkel.
Dominic tergelak. “Oke lanjut...” Sisa tawanya membuatku gemas sampai aku tambah mengerucut bibir. Dominic menguncupkan tangannya di depan bibirku.
__ADS_1
“Soang baru.” ucapnya dengan nada.
“Domi!”
Ia menyeringai geli. “Pranata memang hanya berniat untuk memanfaatkan Hetty sebagai alat untuk memanasi-manasi Kendra dan menjadi anak kebanggaan orang tuanya, tapi kelamaan jadi witing tresno, bukan lagi memanfaatkan tapi menyelami!”
“Oh... Terus kemarin kan ibunya masih depresi, apa mungkin setelah tahu aku Kendra jadi cari-cari info dan balas dendam. Kata Paijo keluarga kalian jadi renggang?”
Dominic membuang napasnya dengan kasar. “Bukan renggang, tapi sengaja menjauh. Berkali-kali aku dan bapak sudah minta maaf dan berbelasungkawa, bahkan nggak sedikit yang diberikan bapak ke keluarga pak Herlambang. Tapi nggak pernah di respon permintaan maaf kami dengan legowo, terus kalo sekarang Kendra mau balas dendam. Jelas bakal aku ajar sampai ajur, masalahnya bukan sama dia!”
“Tapi ibunya stress, pasti jadi anak dia kepikiran terus to, Dom. Masa Kendra tinggal diam.”
“Terus memangnya cuma ibunya yang stress? Kamu lupa ambulan RSJ pernah mau jemput kamu di rumah? Bapak ibumu kamu tinggal, emang mereka nggak stress?” Dominic menatapku lekat. ”Itu sebabnya bapakmu larang kamu ke Surakarta, bapakmu nggak mau hal-hal yang sudah kalem bangkit lagi, kehilangan tidak terjadi dalam hidupmu saja. Bapakmu jadi galak karena masalahmu nggak selesai-selesai dan kelakuanmu bukan urusan sepele, Rastanty. Jo gae mumet wong tuwo terus!”¹ dengusnya mangkel.
Galak banget batinku tapi aku mengangguk kemudian.
“Cuma sekarang yang menghantuiku siang malam apa Kendranata bakal ke Jogja terus datang ke rumah, Dom. Waktu dia nganter ke stasiun dia bilang mau ziarah terus tanya rumahku masih sama seperti yang dulu nggak? Emang Kendra tahu rumahku, Dom?”
Dengan muka setengah marah, setengah gemas Dominic menangkup wajahku. Matanya mendelik hingga nyaris keluar dari tempatnya.
“Lama-lama aku pengen misuh-misuh² di depanmu langsung, Ras. Jelas dia tahu, gak mungkin enggak! Kendranata itu bisnisman, gampang kalau cuma cari alamat cewek yang pernah dia uber-uber untuk menjatuhkan Pranata!” ucapnya menggebu-gebu.
“Waduh... Aku harus kabur ke mana dulu ini biar nggak kena amukan bapak.”
“Hadapi dong, ringkih banget kamu jadi cewek traveler!” cibir Dominic sambil menonyor keningku.
“Tapi sama kamu! Aku suka pangling kalau cuma sendiri.”
Tangannya mencubit hidungku. “Gak akan mungkin Kendranata mau sama kamu, Ras. Seleranya tinggi. Kecuali kalo kamu kegatelan!”
Aku memutar mataku seraya mendongak. Bulan hilang di telan awan.
“Mereka pasti nggak akan jahat kan setelah tahu aku menikah dengan kamu, Dom? Aku takut kehilangan untuk kedua kalinya.”
...🖤...
¹ jangan buat pusing orang tua terus!
² mengumpat
__ADS_1