
Dominic keluar dari mobil seraya merenggangkan otot-ototnya seraya membuka pintu samping pengemudi untuk menurunkan Grandma. Ia membopong neneknya untuk di pindah ke kursi roda yang telah di siapkan Pak Tedy.
Sopir khusus aku dan Dominic itu nampaknya urung mengantar Irish ke Bandara sebab ia memilih untuk kembali bersama yang lain. Aku jelas menyesali tertundanya pulang ke kampung halaman, tetapi apa boleh protes? Aku sedang diharuskan menjadi malaikat di samping Dominic yang manis, ramah senyum, ceria dan sebenarnya ide gila yang Dominic berikan tidak perlu diseriusi.
Aku turun dari mobil sambil menahan kuap karena lelah. Pagi bahkan belum beranjak ke siang tetapi aku sudah malas untuk beraktivitas di kebun apel yang dihujani cahaya matahari dan buah-buahnya yang hijau dan beberapa ada semburan merah merekah bergelantungan nampak menggoda untuk di petik. Akan tetapi sejuknya tempat ini serta perasaan yang sedang tak karuan sama besarnya. Aku ingin istirahat.
Aku mengikuti Dominic yang mendorong kursi roda Grandma di atas aspal berkerikil ke arah bangunan reservasi tiket masuk.
“Kemungkinan nenek nggak turun ke kebun, Ras. Medannya terjal itu.” ucap Dominic sembari menoleh sebentar, tangan kirinya menyeka keringatku sambil tersenyum.
”Bisa aku temenin, aku kebetulan lagi males. Aku masih capek banget.”
“Tidak Rastanty, kau ke kebun saja, aku di temani mantuku yang tidak suka panas.” timpal Grandma. Mataku langsung menemukan ibu-ibu yang memakai topi pantai lebar dan kaca mata hitam serta masker. Ia bergeming di bawah kanopi yang sana-sini besinya sudah berkarat.
“Itu kebetulan sekali grandma, kita sama, aku sedang tidak suka panas. Wajahku sering gosong dan belang-belang.” Aku melirik Dominic yang ikut melirikku setelah kalimatku selesai.
“Gampang, kau perawatan saja dengan Marisa setelah dari sini. Kau minta uang Dominic, tidak usah malu, nenek sudah menghadiahinya uang yang cukup besar.” Grandma tersenyum lebar.
Aku langsung tertawa semringah. Gawat Rastanty, nenek ini tidak main-main. Dia akan memberi kenyamanan sekaligus menagih cicit sementara setiap hari setiap kali aku menurunkan celanaku, aku slalu berharap tidak ada bercak-bercak merah.
Dominic menyerahkan neneknya kepada bibinya yang langsung sigap membawanya ke teras bangunan beratap rendah.
Dominic merapatkan jemarinya di jemari kananku. “Mau sewa payung?”
Sudut bibirku langsung terangkat sebelah. “Sejak kapan aku takut matahari? Aku cuma males jalan-jalan, aku capek!”
Senyuman Dominic seperti payung yang menambah teduh suasana tetapi ia tetap menyewa payung dan lima karpet plastik yang keseluruhannya di bawa pegawai kebun apel terkecuali payung.
Dominic memayungiku sembari berjalan menuruni anak bukit ke arah ratusan pohon apel yang rindang tanpa mengeluarkan sepatah kata.
“Mas, tikar satu, yang lain antar ke pak Budi.” kata Dominic tiba-tiba.
“Oh... nggih mas.”
Di bawah pohon apel manalagi, satu tikar bergambar kartun anak-anak di gelar.
__ADS_1
Dominic mengatupkan payung seraya menggantungkan cangkolannya di dahan pohon seraya duduk di depanku yang sudah bersandar di dahan pohon setelah mengambil satu apel dan membersihkannya.
“Kamu dengar ada cuit-ciut burung nggak, Ras?”
Aku mengangkat bahu seraya mengigit apel di tanganku.
“Terdengar dekat, tapi nggak tahu dimana. Mirip kita.” Dominic berkata sembari meraih apel di tanganku. Dia mengigitnya lalu memiringkan kepala.
“Kita dekat, tapi pikiranmu nggak di sini. Mungkin mirip burung itu!” Dominic menyeringai.
“Omong kosong.” Aku membuang tatapanku pada langit kota Batu melewati sela-sela ranting pohon apel. Awam berderet-deret menutupi langit. Sejuknya udara di sini pun mengingatku bagaimana pernah pada suatu hari aku dan Dominic menghabiskan waktu di camping ground di gunung Andong.
Dominic berdiri, meraih beberapa apel yang kontan ia kumpulkan di depanku seperti menata bola biliar.
“Ini apel yang sudah kita gigit, ini cewek-cewek yang ada di sekitarku.” Dominic menunjuk apelku dan kumpulan apelnya.
“Mereka yang mendekat itu penasaran, apanya yang menarik kok sampai kenapa ini yang di pilih. Kenapa bukan ia yang lebih dulu kenal dan berkembang bersama. Ketertarikan seperti itu kadang membahayakan, tapi masih bisa di atasi kalo apel yang kita pilih memang yang terbaik.”
“Kamu mau bicara apel apa nyindir aku? Yang los ajalah, kayak bicara sama karyawan anak sekolah.” sahutku sambil melipat kedua tangan.
“Kenapa emangnya? Dia naksir kamu sejak SD? Cinta monyet?” tebakanku langsung membuat Dominic memanyunkan bibirnya.
Kendati begitu, dia lalu tersenyum lepas.
Aku membersihkan apelku seraya menggigitnya lagi. “Nggak mungkin pagi-pagi kalian ketemu kalo nggak ada janji dulu! Di belakangku, nggak ngomong dulu? Bagus banget apalagi di awal mula aku mulai ngerti kamu!” pujiku seraya tersenyum mangkel.
Dominic mengangguk kecil, mengakui fakta itu seraya memberikan cengiran rasa bersalah.
“Aku baru akan bilang kalo selesai ngobrolnya, Ras. Ini bukan sesuatu rahasia besar. Makanya aku rekam pembicaraanku dengan Irish. Tahunya reaksimu meledak seperti gunung Semeru. Sorry.” Ia menghela napas dan hendak membelai pipiku.
Aku memalingkan wajah, melihat aktivitas para bule yang sedang memetik apel dengan keranjang bambu dan mataku tertuju pada Irish, wanita seumuran Dominic yang memakai pakaian santai dan topi baseball.
“Terus apa keputusanmu?” tanyaku males.
“Nggak ada keputusan apa-apa, Ras! Untuk apa aku memutuskan. Udah jelas aku milih kamu!” sahut Dominic tegas. “Kita cuma bicara hal-hal masa kecil yang pernah terjadi lalu kehidupan kita sekarang. Udah... Gak ada sentuhan fisik, aku bisa kasih bukti kamu dengan minta rekaman cctv hotel.”
__ADS_1
“Dari kelakuan kalian dan gestur yang dia lakukan, dia suka sama kamu. Bener?”
“Cinta monyet!” Dominic berkata lemah.
Aku menghela napas seraya memejamkan mata. Wajahku sekarang pasti seperti lorong kost-kostan yang belum di sapu, halaman penuh dedaunan berserakan dan sampah yang bertumpuk-tumpuk.
Aku cukup lama terdiam sebelum berkata. “Aku nggak suka kamu sembunyi-sembunyi gitu, bilang aja kek mau ketemu Irish. Mau bahas-bahas cinta monyet, cinta simpanse, apa cinta gorila, terserah. Aku bukan sipir yang atur hidup kamu, tapi kamu ngomong dulu biar pikiranku nggak kelayapan nggak tentu, Dom. Nggak enak jadi aku!” Aku menandaskan.
Sesuai permintaan, Dominic mengiyakan dengan anggukan kepala. Tak sedikit pun ia membahas tentang Irish di detik-detik berikutnya. Lelaki itu hanya sesekali tersenyum kepadaku sambil mengunyah apel yang dia petik.
“Kamu beneran takut kehilanganku, Ras?” sekali lagi dia mempertanyakan hal itu setelah semalam dia bertanya sebelum tidur.
Aku membuang biji apel ke rerumputan sembari menghela napas.
“Untuk membuktikan cinta nggak harus bilang i love you setiap hari kan, Dom? Untuk takut kehilangan kita juga nggak harus pergi tanpa kabar. Kita bukan bocah SMP yang perlu menekankan kalimat untuk membuktikan cinta itu ada atau memuat pertanyaan yang meragukan.”
“Cieilehh... Ngeri juga bojoku kalo udah cinta.”
“Lumrah,” Aku menjulurkan lidah dengan malas, ”dan harusnya kamu tahu, sekalinya kamu bikin nyaman Irish dia jadi kepikiran. Jauh-jauh deh. Daripada aku ngadu sama mama dan nenek kalian tadi ketemuan.”
Dominic terlihat bisa tidak tersenyum. “Oh mulai ngatur-ngatur sekarang, mulai posesif?”
“Aku udah bilang tadi malam kalo aku bakal egois.” Bibirku mengerucut.
Dominic memalingkan wajah sembari tersenyum geli. “Aku ngerti sekarang, masing-masing dari kita mulai seimbang dalam mencintai. Kamu yang mulai mengelola dukamu menjadi sikap yang meledak-ledak kepadaku. Tidak masalah. Aku tidak akan pernah angkat tangan menghadapimu. Mengalirlah, Ras. Nggak usaha berpikir dua kali buat menyemprotku karena ketakutanmu itu toh isi kepala kita emang kadang bersebrangan dan dinamika itu perlu.”
Detik itu juga jarak di antara kami putus. Apel-apel menggelinding ke samping. Aku memeluk lehernya dengan senyum puas yang Dominic berikan.
“Aku tahu kamu sudah bisa kehilanganku, Ras. Aku milikmu.” Ia berbangga.
“Itu benar, Dom. Kamu milikku.” sambungku. Namun sebagian perasaan abstrak masih melekat di benakku.
“Terus kalo ada cinta monyet, cinta kita ini cinta jenis monyet yang mana, Dom?”
Dominic nyengir sembari mengangkat bahu. Dan ketika curiga perlahan luntur, aku bisa menggali lebih baik. Kedatangan Irish mengangkat perasaanku yang cetak menjadi lebih tampak dan nyata.
__ADS_1
...🖤...