
Pesta yang luar biasa. Aku berdecak dalam hati di kursi pengantin yang bagai raja dan ratu. Seumur-umur aku tidak pernah bermimpi akan punya suami seorang Dominic dan menjalani suatu perjalanan penuh gemerlap lampu kristal dengan orang-orang perlente yang terlibat obrolan serius dalam mencetak banyak uang.
Aku mengusap kedua lenganku, semakin malam pesta semakin sepi, udara sejuk leluasa menjamah kulit, oksigen yang berbaur dengan alkohol tak lagi menjadi barang mahal yang direbutkan di tengah-tengah pesta ngunduh mantu.
Sekarang hanya tersisa segelintir orang yang menuntaskan makan, minum dan mengobrol di meja-meja yang sebagian makanannya sudah tak bersisa. Gelas-gelas sisa anggur berjejeran, menanti untuk di pungut dan di bersihkan.
“Mau pergi, Ras?” Dominic melepas jasnya lalu menyampirkan di bahuku setelah terlibat obrolan dengan Michelle dan Irish di kursi yang lumayan jauh dari kursi pengantin. Durasi kesendirian aku gunakan untuk makan dan minum sembari mengamati Dominic.
Pria idaman. Sekarang ia menjulang di depanku sembari menangkup pipiku dengan telapak tangannya yang dingin sembari memberikan senyum sedih. “Sebel?”
“Untuk masalah apa?” jawabku ketus. “Aku capek, bisa kita pulang ke rumah sekarang?”
“Ada kamar kita di atas.” Dominic mendongak ke atas, ada ekspresi penuh harap di wajahnya, di kamar-kamar hotel yang sebagian dipenuhi keluarga Dwayne dan Prambudi.
“Bolehlah, ayo kita kemping di atas,” Aku menggapai tangan yang ia ulurkan, “tapi bukannya kita nggak ada baju ganti?” tanyaku cemas, jangan sampai aku tidur pakai gaun yang ada batu-batunya. Itu tidak adil.
“Ada, Ras. Kalem dong, Mbak Iyah yang packing tadi bareng nenek.” Dominic menyeringai.
Jemariku mencengkram lengannya untuk mencari keseimbangan sementara tangan kiriku melepas sepatu dan menjinjingnya.
“Aku yakin pasti yang di pilih baju kurang bahan.” Aku berdecak. “Apa aku nggak bisa mendapatkan kebebasan untuk memilih baju tidurku, Dom? Kamu jangan iya-iya terus dong, kesenangan!” Aku memencet tombol lift setelah ia menyebutkan lantai berapa kamar kamu berada. Lantai 11.
Dia memeluk pinggangku dari belakang. “Bisa, Ras. Bisa banget pokoknya suka-suka kamu asal kamu pintar-pintar bersandiwara waktu nenek tanya.”
“Lagian aku heran, Dom. Lagi baru berapa hari kita nikah sudah harus bunting, bukannya nggak segampang itu? Sorry to say ya, sebagai sahabat kamu pasti tahu ngurus satu kucing aja aku males. Terus kita harus punya anak banyak. How do you feel?”
Dominic mengalungkan tangannya di leherku. “Aku yakin kamu bisa kena bipolar beneran kalo terus tertekan seperti ini, Ras.”
“Nah.”
“Gimana kalo kita kabur dari rumah? Honeymoon gitu alasannya?”
“That's right! Honeymoon?” Aku mengerutkan wajah tiba-tiba. Itu mah sama saja cetak bayi alasannya tapi nggak masalah selama kami di luar rumah Prambudi kami bebas menjadi diri sendiri. “Tapi aku yakin nenek kita yang berambut silver itu tidak bisa tinggal diam.”
Dominic tergelak sembari membenturkan pelipisnya dipelipisku. “Itu uban, Rastanty. Yaaaa ampun, pinter banget kamu!”
Aku terkekeh, itu pujian paling sarkasme yang sering aku dengar, tapi aku tidak peduli. Lamanya waktu persahabatan kami telah membuat kalimat-kalimat pujian bertajuk ejekan menjadi wajar di dengar.
“Aku emang pinter banget, saking pintarnya aku nggak perlu bikin kamu jatuh cinta!”
Dominic tergelak sampai napasku tertahan karena ciumannya yang rakus. “Percaya aku, Ras. Percaya... tapi emang sih dari banyaknya pria di kampus terus dikost-kostanmu, kok cuma aku dan Pranata yang naksir kamu. Apa jangan-jangan kamu...”
“Apa?” sentakku langsung sambil mendelik.
“Kamu pemilih, tahu aja cowok-cowok ganteng kayak aku gini.”
__ADS_1
Aku tertawa sembari mengikutinya berjalan menuju kamar. Mataku mendelik. Tak seperti dugaanku yang menganggap kamar pengantin sepi dari bunga karena sudah ada malam pertama. Sekarang di depan mataku kasurnya justru seperti pemakaman baru.
Dominic terbahak alih-alih berdecak kagum atas apresiasi yang diberikan untuk kami dari keluarganya.
“Sumpah, aku nggak ngerti kenapa harus ada bunga-bunga di malam pengantin. Di makan nggak bisa, di simpan nggak mampu, dijadikan alat untuk menambah kemesraan apalagi.” cerocosnya sembari menyibakkan handuk berulangkali sampai kasur terlihat bersih dari kelopak mawar merah.
Dominic terengah-engah seraya merebahkan diri setelahnya. “Capek aku, Ras. Pijitin...”
“Ha...”
Aku memutar mata. Dalam kasus persahabatan kami yang penuh adrenalin tidak ada yang namanya pijat-memijat meski saling lelah dan sangat-sangat pegal. Kami hanya sering meminta pertolongan untuk menempelkan koyo penghangat di punggung aku mengobati luka dengan obat merah. Ini minta pijet. Wow...
“Boleh, Dom. Boleh banget, bentar.” Aku menurunkan resleting gaun yang ada di bawah ketiak. Sekarang hanya dengan memakai celana pendek ketat dan kemben. Aku berjongkok, melepas tali sepatu Dominic yang membuatnya menegakkan tubuh.
“Heh... ngapain?” Mata Dominic melebar.
“Lepas sepatumu lah, terus baru aku pijet. Gitu aja tanya.” sahutku mangkel.
“Sekalian ikat pinggang terus celana, gitu dong jadi istri. Peka!”
Malak. Aku mendesis seraya tetap melanjutkan kegiatanku. Melepas sepatunya, kaos kakinya yang bau terasi, terus ikat pinggangnya dan celananya dengan wajah Dominic yang tersipu-sipu dan senyum yang dikulum lama.
Sial bukannya romantis malah jadi lawakan. Yang salah siapa to sebenarnya, mesra dikira lucu, cuek nggak perhatian. Kenapa perempuan selalu ditempatkan pada istilah serba salah.
“Sekarang aku sebel lihat kamu pakai boxer doang, Dom.” kataku sembari melepas kancing kemejanya. Tak jarang aku berpikir, akankah dia akan melakukan hal yang sama jika berhadapan dengan wanita lain. Akankah Dominic bersedia menjaga perasaanku yang mulai menebal kepadanya.
“Kenapa?” Dominic mengangkat badannya untuk mempermudahkanku melepas kemeja.
“Aku suka lihatnya, tapi nggak suka lihat kamu pakai ini doang di luar kamar. Di rumah.” kataku sambil menarik kolor boxernya. “Kamu terlalu seksi.”
Dominic memalingkan wajah dengan pipi merona. Tetapi di atas segalanya yang aku ungkapan aku geli harus menjadi Rastanty yang ketempelan jalangg genit.
“Makasih pujiannya, Ras. Malam ini kayaknya kamu siap menyambutku lebih bagus dari malam-malam sebelumnya.”
“Oh tentu, mi amore.” Aku hampir keselak sewaktu menyebutkannya sampai aku hanya bisa menyembulkan senyuman yang menular ke bibir Dominic.
“Tiduran gih!” Ia menepuk sisinya. Aku merebahkan diri di kasur besar dan empuk yang masih menebarkan sisa wangi bunga mawar.
“Aku mulai menyebalkan kayaknya, Dom. Sumpah. Rasanya aneh harus kayak gini tapi aku... aku takut kejadian itu menyusup di antara kita.”
“Soal apa dulu, Ras?”
Kami saling memandang serius lalu kembali melihat langit-langit kamar. Tak ayal membuat suasana menjadi hening dan tegang.
“Soal perasaanku ke kamu, hubungan kita yang... yang biasanya kita bisa bilang semuanya sampai ke urusan pribadi, sekarang aku harus memfilter beberapa. Aku takut nyakitin kamu. Kamu gitu nggak, Dom?”
__ADS_1
Terbit sebuah senyum di bibirnya begitu aku memiringkan tubuh untuk menatap Dominic lebih baik.
“Aku mungkin akan jauh lebih cerewet dan galak dari sebelumnya, Dom. Aku nggak berani menghadapi situasi tanpa kamu sendirian, aku akan egois, aku takut kejadian dengan Pranata terulang dengan kamu yang baru aku tahu sebagai laki-laki idaman dan tahu segalanya celah tentang aku. Karena rasa-rasanya aku dibayangin pengkhianatan itu terus-menerus walaupun kamu sangat berbeda dengan Pranata.”
Aku menghela napas lalu memejamkan mata. “Aku lebih takut kehilanganmu.” kataku kesekian kalinya.
“Udah curhatnya?” Dominic mengernyit.
“Aku takut kamu muak karena kepanjangan.”
“Rastanty, Rastanty...” Dominic mendekapku sambil tersenyum bodoh. “Justru karena aku tahu celah lebar untuk menyakitimu, aku justru senang menghindarinya.” Secepat angin berembus, kami berdua duduk di tepi kasur, bersila dan berhadap-hadapan.
Gelenyar emosi terpampang di wajahnya yang ngantuk, elusan tangan mendarat pada kepalaku.
“Sulit di terima namun bukan berarti tidak bisa, Ras. Pranata, dia sayang sama kamu—”
“Coba kita bicara tentang kita, Dom!” timpalku. “Gak usah dialah, aku tadi cuma membicarakan ketakutanku kalo kamu tiba-tiba melakukan hal seperti dia. Bukan bahas itunya, aku nggak mau!”
“Oke, tapi jangan berpikir terlampau panjang dulu.” Dominic tersenyum ringan. “Aku ngerti semua tentangmu, seluruhnya, dan ketika ada yang tidak nyaman di kamu, aku ngerti, Irish...”
Mataku membeliak. “Ada apa sama dia?” tanyaku setengah kikuk.
“Kamu cemburu.”
“Gak juga.”
“Bohong.”
Aku melipat kedua tanganku sambil mendengus. Dominic langsung memperoleh jawabannya ketika aku meliriknya galak seraya berdecak sebal.
“Aku cuma kurang suka, dua tahun ini kamu cuma milikku terus rasanya aneh akrab sama cewek lain.”
Dominic menutup mulutnya sambil tersenyum lebar sebelum tawanya pecah. Dia kegirangan bukan main. Tetapi aku lekas-lekas mendorong bahunya. Tawanya surut melihat reaksiku.
“Nggak ada yang lucu, Dom. Aku seratus persen serius. Dua tahun kita saling memiliki!”
“Lah, kok, tiba-tiba kamu yang mengakui, Ras. Udah pasti cinta banget sama aku sekarang. Gemes ya Allah, akhirnya... ada yang takut aku hilang dari muka bumi ini. Syukurlah.” Dominic mencubit kedua pipiku.
“Kita teman masa kecil. Ketemu lagi baru sekarang, Ras. Nggak jauh lebih dari itu, dia takut sama mama dan nenek.”
“Terus dia bilang apa sama kamu kemarin? Kamu tumbuh dengan baik dan tampan?”
“Bukan tampan, Ras. Tapi eksotis.”
Aku menguncupkan bibir sebagai tanda tak setuju, tapi Dominic memang eksotis, segala-galanya yang terpampang jelas di depan mata nampak sempurna untuk sekedar di nikmati sambil lalu. Tapi jauh lebih dari itu dia eksotis tanpa sehelai benang pun terlebih sewaktu berkeringat.
__ADS_1
Benakku tersandung pada kesempurnaan ragawi dan hatinya yang harus aku beri tanda secepatnya.
...🖤...