Jogja, Kamu & Kenangan

Jogja, Kamu & Kenangan
Bait Ke-39


__ADS_3

“Aku nggak tahu kenapa bapakku akhir-akhir ini senewen terus sama kelakuanku, Rom. Dikit-dikit tingkahku ini di anggap salah... Napas pun kalau mengganggu ketenangannya pasti di anggap salah. Emang dasar bapak...” Aku menghela napas. “Apa bapakku kurang perhatian dari ibu ya, Rom?” imbuhku lebih lirih.


Romi yang menemaniku ngepel dan mencuci keset akibat hujan lokal di lorong kost-kostan terpingkal-pingkal di atas motor seseorang.


“Wes wingi di keplak ndase, ndilalah saiki di gebyur banyu. Apes banget uripmu, Ras.”¹ Dia mengeplak stang motor seraya terdiam perlahan-lahan dengan mata membeliak.


“Aku nggak ngapa-ngapain lho mas.” Romi angkat tangan. “Aku cuma nemenin Mbak Rastanty, bukan aku yang ngeplak!”


Kepalaku menoleh ke belakang bersamaan dengan Romi yang turun dari motor. Mampus, seketika mataku ikut membeliak. Dominic nguping.


“Maksudnya apa, Ras?”


“Permisi, nyuwun sewu.”² Romi membungkuk dalam sewaktu melewati Dominic ke ambang pintu.


Dominic menarik ujung baju Romi sebelum remaja dua puluh tahun lenyap dari pandangannya.


“Jelasin maksudmu apa tadi?” tanya Dominic dengan wajah tak bersahabat.


“A... Anu... Mas...” Romi tergagap sambil menatapku minta tolong. “Pacarmu, Mbak.” ucapnya dengan nada melunak.


“Aku bisa jelasin, Dom.” Aku meraih lengannya. “Lepasin dia.”


Romi kontan ngacir dengan ekor tawa yang terdengar sampai di dalam kamarnya.


Dominic menatapku sambil menelengkan kepala. “Mau sampai jam berapa kamu mirip bocah habis hujan-hujanan. Nggak malu sama umur?”


“Bukan salahku!” Aku menantang tatapannya, “Kenapa? Mau prihatin apa mau ketawa. Heran aku dari pertama pulang ke rumah sampai sekarang ada-ada aja masalahnya. Aku capek.”


“Ras,” panggil Dominic, ”Mandi terus jalan keluar. Aku tunggu di ruang tamu.”


Aku bergumam pendek sembari mematikan kipas angin yang mengeringkan lantai di lorong kost-kostan sebelum masuk ke kamar.


Aku menatap refleksi diri sendiri di cermin. Ambyar. Kantong mataku semakin bebal pergi dari wajahku, rambutku lepek, antara keringat dan air sumur beradu, pakaianku kusut. Tanganku berkerut, cincin berlian ikut menikmati kubangan kotor saat aku mencuci keset di dekat sumur.


Aku mencengkram rambutku. Mana mungkin aku bicara dengan Dominic dengan kondisi seperti maling kebanyakan begadang dan habis kecebur peceren. Ampun, andai aku masih bisa menganggap Dominic sebatas sahabat, aku tak sepanik ini, aku takut dia ilfil.


*


*


*


Dominic mencium punggung tangan bapak yang tak menyangka calon menantu yang dia puji dengan beragam kejujurannya datang.


“Rasanya aneh pak, jauh-jauh dari Rastanty, kami juga harus foto prewedding dan memilih baju pernikahan. Mungkin saya akan di sini seminggu. Izin nggih, pak.”


“Beres, pokoknya tetap jaga Rastanty.” Bapak menepuk bahu Dominic, lalu menatapku galak. Aku mendesis, berasa anak tiri.


Dominic merangkul pundakku dan mengajakku ke parkiran.

__ADS_1


“Sebenernya aku atau kamu sih anaknya bapak? Kenapa sama aku dia galak banget.” gerutuku setelah Dominic menggeber motorku keluar rumah.


“Bukannya galaknya bapak turun ke kamu, Ras? Gak nyadar kamu?” balas Dominic datar.


Aku memeluknya dari belakang. “Sadar. Terus kamu suka aku galak apa kalem, Dom?”


Dominic hanya mengelus punggung tanganku sebentar tanpa bicara apa pun sampai kami tiba di parkiran sebuah rumah wedding organizer.


Tak sempat menemukan apa yang dia inginkan. Dominic kembali menggeber motor hingga sampai ke pelataran hotel. Aku terperangah sembari turun dari motor.


“Mau check in di sini kamu? Mau ngapain?” tanyaku heran.


“Mau cari tempat nikah, mau coba kasur honeymoon sekalian numpang tidur.” Dominic melepas helmnya.


“Terus aku gimana?” kataku sambil menunjuk dadaku. “Masa aku nunggu kamu tidur?”


“Keberatan?” Dominic menggandeng tanganku tanpa permisi. Sementara mukaku waduh, masuk hotel, berdua saja. Kok aku jadi ketar-ketir.


“Nunduk aja kalau malu, aku sadar kamu cukup terkenal.” kata Dominic ketika kami memasuki gedung hotel dan berjalan ke arah resepsionis.


Aku mengeratkan genggaman tanganku. Aku tahu semestinya hal-hal seperti ini wajar, tapi aku lagi-lagi cuma berpakaian santai, kami bahkan hanya memakai sendal jepit sellow warna kuning, sendal couple anti maling.


Di depan meja resepsionis yang berkilau dan resik Dominic mengutarakan niatnya dengan ramah. Resepsionis langsung mengoper kami ke ruang marketing manager.


Dengan sikap yang aku sukai bahkan membuat senyumku kesengsem. Dominic tampak berwibawa sewaktu berdiskusi dengan si manager.


“Kamu mau yang mana, Ras?” ucap Dominic sembari menggeser foto-foto yang berada di tablet si manager.


“Harusnya ini bukan tanggung jawabmu, Dom.” kataku pelan.


“Lah emang siapa yang mau bayar sekarang? Aku cuma cari tempat yang cocok untuk nikahan kita, Ras. Biayanya tetap bapak ibumu.”


Aku menyunggingkan senyum kecut. “Aku belum tahu berapa undangan yang akan di sebar keluargaku. Gimana kalau kita nikahnya di gor atau gedung serbaguna?” bisikku malu.


“Kenapa nggak sekalian di stadion Maguwoharjo, Ras? Siapa tahu satu kampung sama bapakmu mau di kasih undangan.”


Aku mencubit punggungnya. Dominic menaruh tablet itu di hadapan si marketing manager yang tersenyum lebar.


“Bagaimana mas? Apa ada yang menarik keinginan atau sesuatu yang ingin di kurangi atau ditambahkan?”


“Pack untuk tamu 200 orang, desain bunga putih dan pastel, siapkan beberapa makanan western, dan bonus kamar honeymoon.”


Si marketing manager mengangguk lalu beranjak. “Mari saya antar ke ballroom dan bonus kamar honeymoon.”


Tanganku kembali di gandeng Dominic, dia menyeringai setelah melihat wajahku kusut lemah.


“Bapakku harus jual kost-kostan untuk bayar pesta pernikahan kita, Domi.”


“Bapakmu punya banyak sawah, Ras. Jual sepetak aja nggak rugi. Dapat mantu setengah bule gini, kurang keren gimana coba?”

__ADS_1


Aku mencibir... Mestinya sudah aku sadari kedekatan bapak dan Dominic lebih dari seorang calon mantu dan mertua. Mereka sudah akrab, kadang-kadang badminton bersama, nonton pertandingan bola, kadang-kadang pula ngerokok sambil ngobrol-ngobrol mengalahkan waktuku bersamanya di teras rumah.


Kami bergeming di dalam ruang luas yang beralaskan karpet sambil mendengar si marketing manager menjelaskan bagaimana dekorasi nanti akan tercipta, setelah kelar menjelaskan dengan terperinci. Kami menaiki lift untuk menapaki kamar honeymoon.


Mendadak sesuatu menggelitik benakku. “Domi.” Aku menahan kemejanya sebelum kakinya masuk ke dalam kamar.


“Kenapa?”


“Aku nggak ikut masuk!”


“Kenapa lagi?” desisnya mangkel.


“Malu!”


Dominic menarik sebelah tanganku lalu membetot kedua bahuku dengan rangkulnya dari belakang. Langkahnya mendesak ku untuk bergerak maju.


“Sorry mas. Udah mau nikah masih kurang inisiatif calon istri saya ini. Gemes.” Dominic mencium pelipisku.


Si marketing manager tersenyum formal. “Silakan di lihat-lihat dulu, Mas, Mbak. Nantinya ruangan ini juga akan di dekorasi. Ada permintaan khusus?”


“Tidak ada.” Dominic melemparkan senyum nakalnya, “Permintaan saya cuma Rastanty dan privasi.”


Tangan kiri Dominic mengulurkan kartu kredit dari saku celananya.


“Atas nama Dominic Prambudi Dwayne. Saya akan mengurus semuanya setelah melihat-lihat kamar ini dan menjajal kasurnya, boleh?”


“Biar saya atur.” Si marketing manager tersenyum formal seraya menaruh key card di meja. “Selamat sore.”


Pintu tertutup, Dominic langsung menangkup wajahku. Sikapnya kembali pada saat ia tahu kepalaku di keplak seseorang.


“Siapa?” tanyanya tegas tapi tangannya mengelus kepalaku. ”Siapa yang melakukannya, Ras?”


“Aku tanya dulu, kamu nggak akan balas dendam kan?”


“Jawab!”


“Bu Indri.”


Rahang Dominic mengeras. Kedua tangannya mengepal di sisi tubuh sebelum bibirnya mencium ubun-ubunku.


“Istirahat.” Matanya mengarah ke ranjang king size dari fasilitas deluxe room.


...🖤...


Translate.


¹ Sudah kemarin di pukul kepalanya, sekarang di guyur air. Sial terus hidupmu, Ras.


² nyuwun sewu : minta seribu, dalam kearifan lokal masyarakat jawa artinya sama seperti permisi, biasanya sebagai awalan bertanya sesuatu atau melewati orang yang lebih tua.

__ADS_1


__ADS_2